Tok..tok..tok.
"Siapa sih udah malam begini bertamu, kalaupun Intan, gak mungkin deh" sambil berjalan aku bergumam.
Tok..tok..tok..
"Ia bentar! gak sabaran amat jadi manusia." Makiku.
Ceklek.. "Kak Niko!" saat aku membuka pintu betapa aku terkejut dan menutup mulutku dengan kedua tanganku, bagaimana tak terkejut karena yang datang dan mengetuk pintu itu ternyata Niko.
"Udah ngelamunnya,"
suara Kak Niko, mampu membuat aku tersadar akan lamunanku dan masih dalam rasa terkejut saat ini. Dan semua ini bagiku cukup membingungkan, karena tanpa menelpon dan berkabar dulu sebelum datang dan menemuiku. Lah ini orang secara tiba-tiba sudah berada di depan mata seperti jalangkung saja batinku.
"Ada masalah apa? sampai-sampai Kakak, kemari?" tanyaku penuh dengan selidik.
"Kenapa gak boleh ya,"
"Aish, bukan gitu Kak, biasanya juga kalau mau kesini, musti telepon dulu kan." Sambil memonyongkan bibirku, karena sukses di buatnya kesal.
"Tiba-tiba kangen sama kamu,"
"Ihh, resek! sakit tau."
"Abisnya hidung kamu itu bikin gemes,"
"Terus aja di pencet." Sungguh kesal aku di buatnya.
"Mumpung masih sore kita keluar yuk cari makan,"
"Ya udah ayok, aku pun sebenarnya lapar sih."
Tak berapa lama kami pun sampai di tempat bakso milik Pak Mamat langganan ku.
"Loh, Mbak Anin, tumben sama Mas nya?"
Karena biasanya aku datang bersama Intan, namun karena besok aku meminta ijin untuk pulang. Makanya Mami menyuruhku untuk libur takut jika waktu di perjalanan pulang aku kecapean.
"Iya Pak! Intan kerja jadinya saya kesini sama temen lain."
"Temen apa temen ini Neng. Cie.."
"Temen Pak!"
"Bentar lagi jadi istri saya Pak, doain ya."
Yang secara tiba-tiba Kak Niko menyahuti ucapan dari Pak Mamat tersebut.
"Apaan sih, Kak!"
Bisa-bisanya orang ini berbicara seperti itu, huh sial amat. Gumam ku dalam hati.
Tak berapa lama bakso pun sudah terhidang di depan kami berdua. Untungnya Pak Mamat tau selera kita jadi tak perlu menunggu lama untuk memesannya.
"Silahkan di nikmati Mbak Anin, Mas Niko, Bapak langsung kebelakang ya."
"Iya Pak, makasih ya." Timpal kami kepada Pak Mamat.
"Oh iya, nanti Kak Niko seperti biasa tidur di penginapan?" tanya Anin, pada Niko, karena setiap kali Niko mengunjungi Anin, maka Niko selalu menginap di penginapan yang tak jauh dari Kosnya Anin.
"Gak!"
"Terus."
"Tidur sama kamu,"
Uhuk..uhuk..
"Minum dulu ini." Melihat Anin yang tersedak Niko pun dengan cepat mengambil teh yang berada di depannya lalu memberikannya pada Anin.
"Makasih."
"Makanya hati-hati kalau makan! lagian gak ada yang ngerebut bakso kamu, jadi yang tenang kalau makan." Celotehnya pada Anin.
"Aduh."
"Kenapa? apa ada yang sakit, coba mana Kakak lihat."
STOP... Teriak Anin pada Niko, karena Anin pun tak tahan melihat Niko yang sedari tadi mengoceh mirip burung Kutilang.
"Dari tadi Kakak mirip kek Mak-mak yang gak dapat jatah bulanan tau gak! kenapa Kakak jadi banyak omong sih, habis makan pisang sama kroto ya?" gerutu ku padanya, karena kesal akan ucapannya.
Hehehe..
Lah dia malah tertawa sambil menggaruk kepalanya yang kurasa tak gatal, dan seperti seseorang yang salah tingkah hingga aku pun geleng di buatnya.
"Kenapa?"
aku bertanya lagi karena dia belum juga memakan bakso yang di pesannya tadi malah senyum-senyum tak jelas, hingga membuatku bergidik ngeri.
"Gak papa, lagi seneng saja sih,"
"Habis jadian sama cewek ya? makanya itu muka terlihat bahagia banget."
Saat aku sedang bertanya entah mengapa wajah yang semula sumringah, kini berubah masam.
Apa hanya perasaan ku saja ya? karena mukanya berubah jadi cemberut. Gumam ku dalam hati dan entah mengapa pikiranku tertuju hanya pada wajahnya saja.
"Apa kamu senang jika Kakak punya cewek, dan menikah dengan seseorang?" pertanyaan macam apa ini yang di ucapkan, sungguh aku tak mengerti apa maksudnya. Sambil mengerutkan kening lantas aku mencoba menjawab pertanyaan yang menurutku tak masuk akal.
"Ya iyalah Kak, emang maunya kamu gak nikah ya Kak,"
"Apa kamu akan keberatan jika nantinya gue nikah, terus kita gak bisa ketemu lagi!"
Sejenak aku terdiam memikirkan tentang ucapan barusan. Sambil mataku berkaca-kaca ku pandangi lelaki yang saat ini berusia 22tahun, yang berada di depanku.
"Tanpa kamu bicara pun aku tau tentang perasaanmu saat ini, bukan kah jika kita sudah menikah dan mempunyai keluarga baru, maka kita tak lagi kumpul dan bisa bersama seperti ini lagi nantinya."
Entah darimana datangnya air mata ini, karena tanpa di pinta kristal bening ini pun lolos dari dalam mataku.
"Dan aku tau apa yang saat ini berada dalam hatimu, tak rela kan jika aku harus melupakan kamu."
Aku yang di tanya hanya bisa menangis sesekali menggeleng karena apa yang di katakan nya adalah benar.
"Sekarang beri tau aku agar aku tak melupakan kamu! dan beri tau aku agar tak sampai hati, memutuskan pertemanan yang kita jalin selama bertahun-tahun kan."
Semua yang terucap dari mulutnya adalah benar adanya, aku pun tak rela jika itu semua benar-benar terjadi padaku. Karena aku tak punya siapa- siapa lagi selain Niko, dan Intan.
Aku pun yang di tanya hanya bisa diam dan menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Karena aku pun di buat bingung karena ucapannya. Dan baru kali ini juga aku mendengarkan dia berbicara sangat serius, saat kami makan pun tak ada canda dan tawa yang seperti biasa kita lakukan.
"Aku pun sama seperti kamu Nin, tak mau kehilangan kamu, dan aku berusaha menjadi Kakak yang terbaik untuk kamu! namun kalau kita sudah berumah tangga maka tanggung jawabku berkurang untuk menjaga kamu."
"Apa artinya Kakak sudah gak mau lagi menjaga aku! dan aku berterimakasih tentang Kakak yang selama lebih dari dari lima tahun ini menjagaku dan berkorban demi aku!"
"Bukan jawaban itu yang aku mau Nin! sepertinya kamu masih belum mengerti apa yang aku mau dari dirimu,"
"Apa Kakak mau imbal balik dari aku, dan mau aku membalas semua jasa yang pernah Kakak berikan selama ini kepadaku?"
"Ya, itu yang aku mau! karena di dunia ini tak ada yang gratis paham kamu."
"Hitung lah hutang ku berapa Kak, nanti aku akan mencicil semua yang pernah Kakak berikan,"
"Apa terlihat seperti lelaki yang tak mampu, hingga kamu ingin mencicilnya dengan uang!"
"Lantas apa yang Kakak mau dari aku, aku hanyalah anak yang tak di anggap. Dan harus menjalani hidup seorang diri, dan jalan ku untuk bisa bertahan aku pun harus menjadi seorang Pendosa!"
Kami pun belum menyentuh makanan yang kami pesan karena antara aku dan Niko saling adu argumen.
Aku pun sadar semua tak ada yang gratis, setelah ku tawarkan untuk mencicil berapa hutangku Niko pun malah bertambah marah. Aku bingung apa yang dia ingin? apa jangan-jangan dia mau diriku. Itulah yang berada di benakku, kalaupun iya aku rela demi menebus jasanya selama ini yang di berikan padaku.
Aku rela Aku ikhlas melepaskan apa yang aku jaga selama 18 tahun itu ku berikan padanya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
nahh itu ngerti Nin, cuman Nuki gak sejahat itu buat rwnggut kesucian kamu tanpa ijab lebih dulu...
mampir lagi kak...
semangat terus ya 💪🏻💪🏻💪🏻
2022-11-12
0
Lina Zascia Amandia
Doanya Niko.
2022-10-02
0
auliasiamatir
anain, jangan salah sangka dong 😔 gemes deh
2022-09-24
0