Aku tak perduli bahwa usiaku masih di bawah umur, itu semua tak penting bagiku. Yang terpenting adalah dengan pulangnya aku ke rumah dan membawa beberapa lembar uang, bisa di pastikan Ibu akan senang dan tak memarahiku lagi tentunya.
Dan sebisaku bertahan! kalaupun aku sudah lelah dan merasa tak sanggup maka disitulah aku menyerah.
Sedikit demi sedikit aku mulai menikmati peranku sebagai gadis pengikat Om-om. Dan sudah berapa kali itu pun tak terhitung olehku, dengan aku berjalan dengan mereka. Namun Ibu dan Bang Edi, sama sekali tak pernah menanyakan aku mendapatkan uang dari mana, dan setiap hari keluar kemana, sama sekali tidak! dan aku pun sudah terbiasa maka dari itu aku tak memperdulikan . Yang ia pedulikan Uang dan uang yang berada di kepala mereka.
Kehidupan seperti ini lah yang memaksaku menjadi dewasa dalam keseharian ku, cukup bekerja dan bekerja tanpa memikirkan sesuatu. Terkadang aku ingin marah kepada sang pemilik hidup! karena tak adil bagiku? namun aku juga tak boleh egois akan hidup ini. Entah kehidupan seperti apa yang ia berikan kelak kepadaku jika aku bisa melewati di fase saat ini.
Drtt..drtt..Suara dering Gawai nya membuat ia menoleh kearah sumber suara. Lekas Anin pun melihat siapa gerangan yang menelpon. Dan setelah ia mengecek ternya sahabatnya Niko yang menelponnya.
["Halo Kak, ada apa?"] tanya Anin di balik telepon yang ia tempelkan di telinganya.
["Nin, keluar yuk,"] Ajak Niko pada Anin.
["Kemana?"]
["Ya pokoknya kita Jalan kemana kek? bosen di rumah mulu,"]
["Baik, Aku siap-siap dulu ya."] Setelah aku mengiyakan ajakannya, aku langsung mematikan Gawai yang berada di genggaman ku saat ini.
"Parah nih Bocah! main matiin gitu aja" gerutu Niko yang berada di kamarnya dan ia bersiap-siap juga untuk menjemput Anin, di rumahnya.
Tiiinnn...tiiinn
"Ah, itu pasti Kak Niko dari bunyi klaksonnya seperti di depan rumah" gumam ku. Lantas aku berlari kecil untuk memastikan kalau dugaan ku benar. Belum juga aku keluar pintu, mamun suara Ibu yang nyaring membuat aku langsung berhenti.
"Ada ,Bu?" Jawabku.
"Minta uang buat beli Nasi goreng, perut Ibu lapar,"
Uang dan uang yang di benaknya, padahal tadi pagi sudah minta namun malam ini masih meminta, apa tak tau betapa susahnya aku mencarinya. Namun Anin hanya bisa membatin apa yang terjadi saat ini.
"Sudah bengong nya? cepat buruan mana uang nya lelet amat jadi orang."
"Huf.." Aku hanya bisa menghela Nafasku dalam-dalam tanpa membalas setiap kata yang du ucapkan nya. Lantas tanganku merogoh Saku celana dan kebetulan ada 20ribu di dalamnya.
Lalu aku menyodorkan tanpa berucap sama sekali.
"Sudah pergi sono! bikin mata sepet saja." Maka seperti itulah jika apa yang dia ingin sudah di dapatkan. Dan tanpa pamit aku langsung keluar rumah lantaran malas jika aku harus di ocehi. Karena pernah suatu malam aku pergi dan pamit pada beliau, bukan kata Hati-hati yang di ucapkan namun kata yang menyakitkan yan di lontarkan.
"Ibu kamu minta uang lagi?" Suara Kak Niko membuat aku langsung mengernyitkan keningku karena bagaimana ia bisa tau?
"Sok tau." Jawabku enteng.
"Alah gak bisa kamu Bohong sama Kakak, lagian gue juga denger kok. Ibu kamu minta uang lagi sama kamu iyakan ngaku saja kamu,"
"Iya Kak, entahlah yang bersarang di dalam kepalanya hanya ada uang dan uang, selain itu tak ada lagi." Dengan senyum yang ku paksakan aku membuka kejelekan Ibu pada Niko.
"Kita ngobrolnya sambung nanti lagi ya? sambil kita ngopi." Lalu aku hanya mengangguk.
"Udah siap,"
"Siap ,Kak." Kami berdua pun pergi dan meninggal kan rumahku. Hembusan angin di malam ini, membuat aku sedikit kedinginan karena terpaan angin yang berusaha masuk lewat pori-pori yang berada di kulitku.
Sssst huuu..
"Kenapa Nin, kek seperti orang lagi kepedesan gitu?" Tanya Niko padaku.
"Dingin Kak, lupa gak bawa jaket," aku pun menimpali ucapan Kak Niko.
"Loh, ngapain berhenti Kak?" kataku, karena tiba-tiba saja sepeda yang kami tumpangi berhenti di pinggir jalan.
"Nih pakai biar kamu gak dingin,"
"Kalau jaketnya buat aku, lantas Kakak gimana?"
"Kekuatan laki-laki itu lebih tinggi di banding perempuan, jadi kamu tenang saja,"
"Baik lah kalau gitu."
Mesin Sepeda motor pun di nyalakan, dan kami melanjutkan perjalanan lagi sambil aku memakai jaket darinya.
Tak berapa lama kami pun sampai alun-alun, dan sepeda motor di parkir kan lalu kami menuju warung kopi yang berjejeran yang berada di trotoar, dan terlihat sangat ramai akan pengunjung. Karena bukan kopi saja yang di jual di sini namun hampir semua makanan serta minuman pun lengkap.
Di sinilah aku bercerita dan meluapkan segala rasa yang tersimpan di hati ini. Dan aku mengeluarkannya agar tak sesak. Ibarat kentut jika sudah di keluarkan dari huniannya maka perasaan menjadi lega, dan itu persis yang aku alami..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepertinya Niko menyimpan sesuatu terhadap Anin, Apakah Niko menaruh rasa pada sahabatnya dan bisa di bilang suka terhadap bocah itu.. Karena Niko rela melakukan apapun demi sang sahabat. Terlihat pula dari pancaran wajahnya serta pandangan matanya yang terus menerus mengarah ke gadis belia itu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Dewi
Aku kok merasa Anin seperti menjalani kehidupan berulang ya, kasian jadinya
2022-11-18
0
Dewi
Ada typo kak
2022-11-18
1
mom mimu
udah tembak aja Ko Anin nya,biar dia resmi jadi milik kamu😁😁
2022-11-06
0