Tak terasa Hari demi hari telah ku lewati tahun demi tahun kian silih berganti. Bertambahnya usiaku membuat aku semakin dewasa akan hidup yang saat ini aku jalani walau rintangan tak pernah sirna dari hadapanku. Di usiaku yang ke 18tahun ini, seperti yang sudah-sudah Ibu tetap lah Ibu yang dulu, yang selalu benci padaku dan yang selalu tak pernah menganggap aku ada.
Dan hanya Niko lah Satu-satunya orang yang menganggap aku dan mau menerima kekuranganku dalam segi kasta, maupun aku yang bodoh karena aku adalah seorang anak tanpa berpendidikan. Lantas pekerjaan ku tetap sebagai simpanan Om-om jika ada yang membutuhkan karena di jaman yang sudah moderen mana ada lowongan pekerjaan tanpa menggunakan Ijasah. Dan jika kalian bertanya apa aku bisa berhitung, membaca, menulis, dan sedikit bahasa lainnya! maka jawabannya, aku bisa semua. mengapa bisa begitu? karena aku mempelajarinya dengan sungguh-sungguh hingga apa yang aku pelajari aku pun bisa menguasai semua itu walaupun secara otodidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat aku Baringan di kamar kos ku dengan memainkan gawai, namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara gedoran pintu yang sangat keras. Ya aku memutuskan untuk keluar Rumah dan pergi sejauh mungkin agar tak terlihat oleh Ibu, dan dua tahun ini aku tak pernah sekalipun pulang. Karena ibu tetap tak mau menerima aku, namun tidak dengan Bang Edi, Bang Edi berusaha mencari ku dan akhirnya menemukan lewat sosmed yang berlogo biru, ia menemukan ku lewat pertemanan ku dengan orang-orang.
"Nin, Aindiyah, buka pintunya!"
"Dasar budek! Nin, cepetan dong."
"Iya bentar, gak sabaran amat jadi mahluk astral lu."
Lantas aku bangun dari baringanku dan segera membuka pintu, pemilik suara cempreng itu tak lain adalah teman seperjuangan ku di Bar, sebagai pengantar minum di kota S.
"Ada apa sih siang-siang ganggu orang saja lu," kesalku padanya. karena baru saja aku merebahkan diri namun sudah di buat heboh oleh mahluk jadi-jadian. Aku memanggilnya dengan sebutan itu di karenakan dandanannya begitu menor dan melebihi batas.
"Ada kerjaan tambahan buat lu, lu mau gak?"
"Apaan memangnya," sambil menatap bingung aku bertanya padanya.
"Tadi ada orang share di FB, butuh teman jalan, lu mau kagak?" Intan menawariku pekerjaan tambahan dengan pikir-pikir aku pun belum mengiyakan.
"200, lu mau kagak?" tanya nya lagi.
"Iya dah, aku mau,"
"Giliran tarifnya sesuai aje lu gercep."
"Bodoh amat."
"Eh, lu dah makan siang belum?" tanya Intan padaku.
"Belum kenapa emang," keluar yok cari yang pedes-pedes, sekalian cari cowok biar gak jadi Jones alias (jomblo ngenes).
Memang temanku yang satu ini kalau ngomong suka somplak jadi kalian jangan kaget ya..
"Ngapain cari pacar, emang lu yakin kalau cowoknya mau sama kamu."
"Eh, lu kalau ngomong yang manis napa? dari dulu Itu mulut kebanyakan makan cabe ya, pedes amat kalau ngomong."
Awal aku kenal Anin, memang anaknya pendiam dan jarang berbaur kepada teman Satu kos, dan yah kalau bicara memang seperti itu pedes banget. Dan aku pernah memergokinya yang sedang melamun sambil sesekali mengusap air matanya. Saat aku bertanya dia hanya punya beberapa lembar uang saja untuk kebutuhan dalam beberapa minggu kedepan.
Dan kebetulan di tempat kerjaku sedang membutuhkan pelayan, namun iya menolak keras sebelumnya.
biarpun aku seorang yang kotor, namun tidak dengan kesucianku. Dari situlah aku mengerti biarpun dia seorang simpanan Om-om, namun iya masih perawan. Saat malam aku berubah menjadi kupu-kupu di tempat di mana aku mendapatkan sesuap nasi, lantas aku mencoba berbicara kepada Mami, dan menceritakan semua yang di alami Anin, tanpa ku tambahi. Hingga Mami pun iba padanya dan boleh bekerja di tempat ini sebagai pelayan! jika ada yang berusaha menggoda ataupun ingin memakainya maka Mami akan maju agar tak ada yang berusaha menggoda atau ingin di temani. Jadi Anin pun masih ting-ting. Dan aku berharap kelak ia akan mendapatkan pendamping yang mau menerima segala kekurangannya.
"Gimana mau gak?"
"Boleh deh, tapi tunggu bentar ya aku mau ganti baju dulu,"
"Pakai baju yang beneran dikit napa, jangan kek orang mau malak." Sergahnya padaku. Namun aku tak menghiraukan ucapannya dan memilih masuk kamar.
Aku dan Intan berjalan Kaki, di karenakan memang kami tak punya kendaraan yang bisa di buat untuk kemana-mana, mungkin sekitar 30 menit, barulah kita sampai di warung bakso langganan kami.
"Pak, seperti biasa ya!" teriak Intan pada Pak Mamat pemilik warung bakso tersebut.
"Siap Mbak, minumnya juga seperti biasa kan?" ujar Pak Mamat.
"Tentu dong." Yang di jawab Intan.
Saat aku hendak mencari duduk, namun pandangan ku menangkap sosok seseorang yang pernah ku lihat tiga tahun yang lalu.
Itu kan Erika, mengapa dia sampai di kota ini. Ah, biarlah mungkin dia lagi ada keperluan di sini. Batinku seraya ingin memastikan bahwa apa yang aku lihat tak salah.
Pesanan kami pun datang dua mangkok Bakso campur di tambah dua gelas es jeruk. Dan saat aku akan menyuapkan sendok ke mulutku tiba-tiba seorang berdiri di hadapanku.
"Jadi kamu benar Anin, dimana dulu pernah menamparku,"
ternyata dia masih ingat akan tamparanku yang sudah beberapa tahun silam. Lantas aku mendongakkan kepalaku keatas.
karena posisiku memang sedang duduk dan Erika pun berdiri.
"Apa kamu masih sakit hati akan tamparan yang sudah terjadi tiga tahun lalu,"
"Nin, kamu kenal sama orang ini?" tanya Intan, dan merasa kebingungan saat aku berhadapan dengan seseorang yang belum pernah di temui Intan.
"Iya, dia mantan Niko, dulunya karena nih cewek pacaran sama temannya ,Niko."
"Niko, kan ganteng kenapa pula mau sama Cewek modal gini ya," yang tiba-tiba ucapan Intan membuat mukanya Erika merah padam mungkin karena ia sangat kesal.
"Eh badut! lu gak usah ikut-ikutan ya karena ini bukan masalah kamu ngerti!" gertaknya pada Intan.
Lantas aku pun mencoba meredam amarah yang di peroleh dari diri Intan untuk tak emosi.
"Sudahlah Ntan, jangan kamu tanggapi ini cewek." belum selesai aku berucap namun sudah di potong oleh Intan.
"Tapi gue gak terima lu diginiin sama orang, "
"Sudahlah lebih baik kamu diem dulu," suruh ku pada Intan, agar masalah tak sampai merambat karena sifat emosinya yang begitu tinggi.
"Udah jangan banyak cincong kalian berdua." Dan byurrr..
"Eh, Sialan kamu! apa maksud kamu dengan menyiram Anin, hah."
Aku yang di siram namun sahabatku yang tak terima hingga ia berteriak sangat keras. Dan pada akhirnya semua pengunjung menoleh kearah kami semua.
"Hye, yang aku siram dia kenapa kamu yang sewot dasar."
"Hye kalian semua? pasti kalian bertanya mengapa aku menyiram ini cewek kan! ini cewek pernah nampar saya dan dia juga yang ngerebut tunangan saya sampai pada akhirnya kami tak jadi menikah semua itu karena dia!"
Huuuuu..
Dasar.
Huuu.. sukanya sama Laki orang.
Maka seperti Itulah riuhnya pengunjung yang sedang mengatai Anindiyah.
"Nin, kenapa lu diam. Itu semua gak bener kan." Namun aku hanya diam dan belum beraksi akan aksi brutal ku.
Dan ini lah saatnya memberi pelajaran untuk Perempuan yang berada di depanku.
Plak.."Satu untuk Niko yang kamu campakkan dengan kamu berpacaran dengan temannya Niko."
Dan .. Plak.." Ini untuk perbuatan kamu sekarang."
"Hye lu nampar gue lagi,"
"Itu memang pantas untuk kamu! jika mulut kotormu bisa kamu jaga maka semua ini tak akan terjadi."
"Lagian, kamu dan Niko belum tunangan jadi jangan ngelantur kalau bicara! apa perlu telepon orangnya langsung, dan ingat jika kamu ingin mempermalukan seseorang! sediakan payung sebelum hujan ngerti!"
Akh sial, niat mau ngebuat malu itu bocah tengil malah gue yang di buat malu, awas ya lu bocah songong. Batin Rika, dan sambil menghentak kan kakinya lalu iapun keluar dari kedai bakso itu.
"Dan apa kalian masih mengatai ku perebut laki orang, sedangkan sahabatku di selingkuhi olehnya."
Maaf Kak.
Kami minta maaf ya Mbak.
Kami tak tahu maaf ya Kak.
Begitulah orang-orang tadi yang sempat mencemooh ku, sekarang mereka pun meminta maaf.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jika kalian tak tahu apa yang terjadi maka diam! dan jangan lah kalian ikut menghakimi seseorang tanpa alasan yang jelas. Lidah tak bertulang membuat kata demi kata begitu sangat manis, dan tajamnya pisau tak sebanding dengan tajamnya lidah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
jika tak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yg tepat... 😎😁😅✌🏻
aku mampir lagi Nin...
semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
2022-11-10
0
auliasiamatir
keren Anin
2022-09-16
0