Aku berjalan kaki kurang lebih dari satu jam. Perjalanan dari rumah menuju gudang dimana tempat aku bekerja. Dan aku berjalan menyusuri trotoar, karena jalanan yang penuh dengan padatnya pengendara di kerena kan memang jalan satu-satunya jadi di pastikan tak pernah sepi, dengan kendaraan yang lalu lalang. Namun tak satu pun di antara mereka yang berinisiatif untuk menumpangi ku. Dan begitulah setiap harinya, dan rasa lelah, Letih, capek, telah menjadi satu yang kini telah hilang bersama dengan rasa hormatku pada Ibu, namun aku tetap menganggapnya ia sebagai Ibu! karena biar bagaimana pun dia lah yang menghadirkan aku ke dunia ini.
Sesampainya di gudang.
"Kamu jalan lagi Nin?" tanya Niko.
"Menurut kamu bagaimana?"
"Ck..Ck.. Di tanya kok malah tanya balik kamu itu,"
"Meskipun aku tak menjawab kamu pun sudah tau jawabannya kan."
Jawabku pada Niko.
Ya lewat Niko lah aku bisa bekerja di gudang tempat produksi lollipop, lantas siapa yang mau menerima aku, sementara ijazah TK pun aku tak punya. Aku pun bersyukur memiliki teman seperti Niko yang tak memandang kasta orang.
"Kamu sih di jemput gak mau?"
"Arah kita kan berbeda nanti kasian kamu nya kalau harus jemput gue,"
Memang sering kali Niko, meminta aku untuk menunggunya di rumah karena dia ingin menjemput ku, namun aku yang tak enak hati lantas aku pun sering menolaknya.
"Lain kali nurut lah sama gue."
Sungguh aku tak tega melihat Anin setiap hari harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh kalau menurutku. kerap aku meminta Anin untuk menunggu ku agar aku bisa menjemputnya, namun sayang bukan Anin namanya jika harus berpangku tangan. Aku tau dari lubuk hatinya sebetulnya ia rapuh namun dia berusaha tegar dalam menghadapi hidup di usianya yang masih 15 tahun.
Sedang di rumah Anin.
"Dasar itu anak ya, belum selesai sudah main kabur saja. Awas kalau pulang nanti aku kasih pelajaran itu anak biar gak seenak jidatnya!"
Ibunya Anin begitu marah kala melihat dapur masih berantakan dan ada juga lauk yang di masak oleh Anin belum ada yang jadi.
"Bu! Masak apa aku lapar?" suara Abangnya Anin yang sedang kelaparan saat itu dan menanyakan ada masakan apa di dapur, namun dengan cepat Ibunya Anin menjawab.
"Daripada kamu teriak-teriak gitu lihat lah saja dan jangan banyak tanya, Ibu udah pusing melihat dapur yang berantakan akibat ulah Adik kamu,"
pusing melihat dapur yang seperti kapal pecah di tambah Edi, ini lagi Sulaiman teriak minta makan. Gerutunya dalam hati karena benar-benar kesal dan marah, dan terpaksa Bu Indah yang membersihkan dapur serta mengurusi sulaiman.
"Bu," panggil Sulaiman Kakak kedua Anin yang mempunyai kebutuhan khusus.
"Sebentar Ibu ambilkan ya,"
Sulaiman pun mengangguk.
Sulaiman hanya tak bisa berjalan karena memang sudah bawaan dari lahir, jadi dia hanya bisa meminta, dan jika ada yang mau memberikan apa yang ia mau karena keterbatasannya yang membuatnya seperti itu di usianya yang ke 18 tahun. Dan selisih hanya 3 tahun dengan umur Anin saat ini.
Akhirnya dengan rasa dongkol, Bu Indah mau tak mau menyelesaikan pekerjaan yang sempat terbengkalai, karena saat pagi tadi Anin belum sempat membersihkan karena akibat silat lidah dengan Ibunya.
"Duh capek banget berasa mau patah ini pinggang, awas saja kalau dia pulang nanti" gerutu Bu Indah sambil merebahkan badannya di tempat tidur yang terbuat dari bambu tanpa ada kasurnya, dan hanya beralaskan karpet yang sudah tak layak pakai.
Pukul 12 siang di gudang tempat Anin bekerja.
"Nin!" teriak salah satu temanya yang bernama Nisa.
"Iya ada apa Mbak?"
Sesaat Anin langsung menoleh dari sumber suara yang memanggilnya dengan keras hingga Anin mendengar teriakannya.
"Kamu gak rehat, ini sudah jam 12."
"Sebentar Mbak."
Ucap Anin karena saat ini dia tengah mengepak barang yang akan di kirim ke luar Kota.
Akhirnya Nisa pun menghampiri karena dia tau bahwa Anin tak akan makan karena memang ia tak pernah membawa bekal dari rumah.
Anin pun sesungguhnya merasa lapar, dan ia mencoba untuk menahan rasa laparnya dan itu terjadi setiap hari, terkadang Nisa dan Niko lah yang sering memberikan ia Makanan berupa roti untuk mengganjal perutnya. Karena dia harus berhemat. Demi memenuhi kebutuhan keluarganya, jika saja ia tak memberi jatah pada Ibunya maka kemarahan yang ia peroleh dan dan kerap lontaran Anak durhaka yang kerap kali ia dengar dari mulut Ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hidup dalam kemiskinan bukan lah berat bagi Anin, namun yang membuat ia harus menelan pil pahit adalah keluarganya yang tak menganggap ia ada. Hidup dalam lingkaran dengan keluarga seperti itu membuat Anin ingin sekali pergi dari rumahnya, namun ia tak cukup nyali karena kekurangannya untuk bisa mendapatkan pekerjaan , karena ia sadar bahwasannya dia hanyalah gadis bodoh dan tak mempunyai skill apapun. Jadi itulah alasannya mengapa ia bertahan meski Ibunya kerap memarahinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
kasian banget kamu Nin, semangat terus kak 💪🏻💪🏻💪🏻
2022-10-25
0
Dewi
Sikap Bu indah udah kayak majikan sama pembantunya aja mengharuskan Anin untuk mengerjakan pekerjaan rumah selalu, moga aja Bu indah cepat sadar dan berubah
2022-10-21
1
Inru
Mayan ya satu jam, berapa KM ya itu?
2022-09-26
0