Bab. 19

Gea menggeliat dalam tidurnya. Kasur yang empuk, guling yang hangat merupakan perpaduan sempurna untuk membuat Gea makin terlelap dalam indahnya buaian. Gea bahkan sampai lupa dimana ia sekarang dan sudah jam berapa ini, yang ia tahu, tidurnya sungguh menyenangkan. Merasa nyaman, Gea justru makin membenamkan wajahnya ke sesuatu yang sangat harum, hangat, dan nyaman yang dikiranya bantal guling itu.

"Uhhh ... hangat dan nyaman. Aku baru tahu ada bantal senyaman dan sehangat ini," gumam Gea dengan mata terpejam. Merasa bantal itu begitu harum membuat sekujur tubuhnya rileks, Gea justru mendusel-dusel wajahnya seperti seekor kucing yang bermanja-manja dengan tuannya.

"Tapi kok bantalnya gede banget? Ah, mungkin bantal model baru. Jadi orang kaya enak banget ya, bisa punya semua yang berkualitas. Bantal aja bisa gede, hangat, nyaman, dan harum gini. Coba bantal ini bisa aku bawa pulang, aku pasti udah bawa untuk kasih ke ibu. Ibu pasti seneng," gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri.

Namun saat ia makin mengeratkan pelukannya dan menempelkan sebelah wajahnya di bantal, ia bisa merasakan suatu detakan yang sangat kencang.

"Kok kayak detak jantung ya?" gumam Gea.

Lalu Gea perlahan-lahan membuka matanya dan dalam hitungan detik Gea pun membelalakkan matanya saat matanya beradu pandang dengan mata sang atasan alias Calvin Alviano.

Gea mengerjapkan matanya berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa apa yang dia lihat tidaklah salah. Gea bahkan memberanikan diri mengusap pipi dan rahang Calvin untuk memastikan kalau yang di pelukannya kini benar-benar Calvin.

Gea menganga dengan mata membulat tak percaya, "tu-tuan ... ini ... benar-benar Anda?" cicitnya tak percaya kalau ia tengah saling berpelukan dengan Calvin.

Calvin justru tersenyum manis membuat Gea makin meleleh dibuatnya. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang. Darahnya berdesir hebat. Gea meringis sambil menggigit bibir saat baru menyadari ternyata ia tadi tertidur dalam pelukan Calvin.

"Jangan menggigit bibir seperti itu!" tukas Calvin sambil mengusap bibir Gea dengan ibu jarinya. "Kau bisa melukainya. Aku tidak ingin bibir indah ini terluka," imbuhnya lagi dengan suara berat namun terdengar begitu seksi di telinga Gea.

"Tu-tuan, ke-kenapa saya bisa tertidur di sini? I-ni dimana?" tanyanya sambil sedikit mendongakkan wajahnya agar netra mereka bisa saling melihat jelas.

"Ini masih di kantor. Ini kamar pribadi ku, ruang istirahatku saat di kantor," jawabnya santai seolah tak ada beban membawa gadis seperti dirinya masuk ke dalam ruangan pribadinya.

"Ta-tapi ... mengapa aku bisa berada di sini?" tanya Gea memberanikan diri berinteraksi lebih.

"Kau tadi tertidur di sofa. Pasti rasanya nggak nyaman kan jadi aku menggendongmu ke sini."

"A-anda menggendongku?" tanyanya dengan mata membola membuat Calvin tersenyum geli melihat ekspresi Gea yang menurutnya begitu menggemaskan.

"Kenapa? Kau tak menyukainya?" tanya Calvin penuh selidik.

"Bu-bukan begitu maksud saya ... "

"Baguslah. Ku pikir kau tak suka. Tak mungkin juga aku meminta orang lain menggendongmu."

"Memangnya kenapa kalau orang lain?" tanya Gea polos.

Calvin lantas mendekatkan wajahnya pada Gea membuat nafas hangatnya menerpa wajahnya pun aroma nafas dan tubuhnya menguar dan masuk begitu saja ke indra penciuman Gea membuat Gea terbuai sampai menelan ludahnya sendiri.

"Takkan ku biarkan orang lain menyentuhmu walaupun 1 senti," ucapnya lirih membuat Gea mengerutkan keningnya dengan mulut terkunci.

Keduanya tiba-tiba terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun saat menyadari dimana ia sekarang, tiba-tiba Gea merasa tak nyaman. Ini salah pikirnya. Ini tak boleh. Bagaimana bisa ia tertidur satu ranjang dengan seorang pria tanpa status yang jelas. Meskipun ia diperintahkan menjadi pelakor, tapi ia tak boleh melanggar batasan berlebih.

Ini jelas salah. Tidak dibenarkan seorang perempuan tidur satu ranjang dengan pria yang bukan pasangan halalnya. Apalagi status pria itu suami orang. Meskipun ia membenci Anastasia, namun tak lantas membiarkan dirinya terjerumus pada perbuatan yang dapat berakibat fatal. Satu yang ia syukuri, Calvin tidak mengambil kesempatan di saat ia sedang tertidur. Dapat dilihat dari pakaiannya yang tetap utuh seperti semula. Calvin hanya membawanya ke kamar lalu tidur bersama, tak lebih. Tapi tetap saja, menurutnya ini tak pantas.

"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Calvin sambil menarik dagu Gea agar menatapnya membuat lamunan Gea buyar seketika.

"Itu ... aku ... "

"Aku apa?" tanya Calvin lagi seraya merapikan rambut Gea yang sedikit berantakan.

"Tuan ... bukankah ini tak pantas," cicitnya membuat alis Calvin berkerut.

"Tak pantas, Maksudnya?" tanya Calvin bingung.

"Tuan ... saya ...saya hanyalah asisten pribadi, tuan. Bukan istri tuan. Bukankah tak pantas untuk kita tidur bersama seperti ini. Ya, walaupun Anda tidak melakukan apapun pada saya, tapi tetap saja, ini tak boleh. Ini dosa. Selain itu, Anda ... Anda sudah beristri. Apa kata istri Anda saat tahu suaminya tidur dengan perempuan lain? Apa kata orang lain juga bila tahu perihal ini. Bukan tidak mungkin aku akan dihina, dihujat, dicemooh, dan satu yang pasti aku akan di cap seorang pelakor. Aku ... " Gea menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca. Walaupun tugasnya memang menjadi pelakor, namun dalam hati kecilnya, ia sebenarnya menolak. Tapi mau bagaimana lagi, ia terpaksa. Selain itu, ia ada misi terselubung di balik semua ini. Namun, dicap orang banyak sebagai pelakor, tentu hal itu akan sangat memalukan. Bagaimana bila ibunya sampai tahu? Ia takut ibunya shock sehingga sakitnya makin parah.

Melihat Gea yang tampak begitu tertekan, membuat benak Calvin merasa tak nyaman. Lalu ia menarik Gea ke dalam pelukannya kemudian mengatakan sesuatu yang sukses membuatnya membelalakkan mata.

"Kalau kau merasa ini salah, bagaimana kalau kita buat hubungan ini menjadi benar."

"Maksud tuan?" tanya Gea yang masih belum bisa mengerti apa yang Calvin maksud.

"Aku ingin kau selalu di sisiku. Aku ingin menjadikan kau pantas di sisiku. Aku ingin setiap kedekatan kita menjadi lantas tanpa melanggar aturan ataupun larangan. Aku ingin mengikis batasan diantara kita. Aku ingin kau bukan hanya menjadi asisten pribadi ku. Aku ingin ... menikahimu. Jadilah istriku, Gea. Maukah kau menikah dengan ku?" ucap Calvin tegas tanpa keraguan di sorot matanya membuat Gea bungkam bingung harus menjawab apa.

"A-anda serius, tuan?" tanya Gea memastikan.

"Aku tak pernah seserius ini. Aku benar-benar serius ingin menjadikanmu istriku. Aku ingin bisa menyentuhmu tanpa batasan yang melarangnya. Bagaimana, apa kau bersedia jadi istriku?" tanya Calvin lagi.

"Tapi tuan, kau belum tahu siapa aku dan aku ini ... hanya seorang gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa. Apa pantas aku menjadi istrimu? Aku juga tidak memiliki keluarga lain selain ibuku yang sedang dirawat di rumah sakit, aku ... "

"Aku tidak peduli semua itu. Yang aku ingin pastikan hanyalah, maukah kau menikah denganku?" tegas Calvin lagi.

"Lalu bagaimana dengan istri Anda, tuan?"

"Itu urusanku dan Cia. Kau tidak perlu memikirkan hal apapun. Yang aku butuhkan darimu hanyalah ketersediaanmu menjadi istriku."

"Tolong beri saya waktu, tuan! Aku ... aku tidak bisa mengambil keputusan tiba-tiba seperti ini," ujar Gea yang diangguki Calvin.

"Tolong beri jawaban secepatnya! Aku menunggu."

...***...

...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Suci Dea

Suci Dea

misi nya apa ya kira2?

2025-03-23

0

Pisces97

Pisces97

aku yang mendengar nya sakit hati Calvin enak banget langsung mengajak wanita lain menikah ..
sebelum menikahi Gea ceraikan istrimu baru benar..
sama saja kamu dengan istrimu gk beda jauh kelakuan sama² munafik

2024-06-16

0

🌸 Airyein 🌸

🌸 Airyein 🌸

Sat set bgt vin 🤣

2024-02-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!