Senja mulai menyapa, membuat Gea teringat pada jemurannya di rumah. Melihat kondisi sang ibu yang cukup stabil, Gea pun berniat pulang sebentar untuk mengangkat jemurannya dan menyetrika. Bagaimana pun, ia tetap harus bertanggung jawab untuk mencuci dan menyetrika pakaian-pakaian tetangganya itu.
"Sus, saya titip ibu saya sebentar ya! Saya ada kerjaan, bisa kan sus?" tanya Gea pada seorang suster yang kerap memeriksa keadaan sang ibu.
Suster itu pun mengangguk seraya mengulas senyum pada Gea.
"Iya dek. Tapi jangan pulang terlalu malam ya, soalnya shift saya hanya sampai jam 8 malam," ujar suster itu yang diangguki Gea.
"Siap sus. Makasih ya, sus," ujarnya lalu ia menghampiri sang ibu dan mencium keningnya.
"Gea pulang dulu ya, Bu. Gea mau angkat jemuran Bu Ayu sama Bu Devi dulu," pamit Gea pada sang ibu yang masih terpejam karena efek obat.
Dengan menaiki angkutan kota, Gea pun pulang ke rumah kontrakannya. Setibanya di sana, bude Ita langsung menghampiri Gea dan menanyakan keadaan sang ibu.
"Syukurlah ibu kamu segera dapat penanganan. Ya ampun, tadi Bude sampai gugup setengah mati. Bude takut ibu kamu kenapa-napa. Kamu yang sabar ya, Ge. Bude selalu berdoa semoga ibu kamu bisa sehat kembali," ujar Bude Ita berusaha memberi dukungan dan menguatkan Gea.
"Terima kasih, bude. Kalau nggak ada Bude, Gea nggak tahu lagi gimana ... " ucapan Gea terjeda. Gea kembali terisak membayangkan ibunya
"Udah, Ge, jangan sedih lagi. Nanti cantiknya hilang lho! Oh ya, jemuran kamu udah bude angkatin tadi."
"Wah, makasih sekali lagi bude! Bude baik banget sih!" ujar Gea memaksakan tersenyum walau air mata masih mengalir dari sudut matanya.
"Duh, anak ini, bude sampai kenyang tau nggak dengar kata-kata terima kasih kamu yang udah entah berapa ribu kali kamu ucap. Bude pulang dulu ya! Udah mau Maghrib," ucap Bude Ita seraya melambaikan tangan pada Gea.
Setelah bude Ita pulang, Gea pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya untuk menyetrika pakaian-pakaian langganannya. Setelah selesai, ia menyusunnya dalam sebuah kantong yang memang ia beli khusus pakaian yang sudah dicuci bersi6dan disetrika.
"Uuukh, lelahnya!" desah Gea sambil beranjak mengambil handuk untuk segera mandi. Setelah mandi, ia pun gegas bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Setibanya di depan rumah sakit, Gea melipir ke penjual nasi goreng yang ada di seberang rumah sakit.
Ciiiiitttt ...
"Aaaakh ... Aduh!" pekik Gea saat ada mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di hadapannya. Mobil itu melaju sangat kencang membuat Gea hampir saja tertabrak. Untung saja pengemudinya segera mengerem, kalau tidak mungkin dia sudah jadi salah satu penghuni rumah masa depan yang berukuran 1,2x2,2 meter persegi.
"Kamu nggak papa?" tanya seseorang yang baru saja turun dari dalam mobil. Jantung Gea berdetak dengan kencang karena terlalu terkejut.
"Ah, saya ... saya tidak apa-apa. Saya hanya sedikit terkejut tadi," sahut Gea setelah berhasil meredam detak jantungnya yang sempat jumpalitan.
"Maafkan saya, saya tadi terlalu terburu-buru," ujar laki-laki berperawakan tinggi, gagah, rapi, wangi, dan tampan itu.
"Tidak apa-apa, tuan. Kalau begitu, saya permisi," ujar Gea seraya membalikkan badannya untuk segera pergi dari hadapan laki-laki itu. Laki-laki itu mengernyit, bila perempuan lain yang bertemu dengannya langsung ingin berkenalan, tapi perempuan itu justru tidak dan memilih mengabaikannya.
...***...
Keesokkan siangnya, Gea tampak tengah bersiap untuk bertemu dengan Nathalia. Sebelumnya, Mega telah menghubunginya dan menanyakan kapan Gea bersedia bertemu dengan atasannya. Setelah menimbang beberapa saat dia pun setuju untuk bertemu dengan Nathalia siang ini di sebuah cafe yang telah ditentukan oleh Mega.
"Bu, Gea pergi sebentar ya!" pamit Gea pada sang ibu.
"Mau kemana, Ge?" tanya Martini lemah.
"Gea ada kerjaan sebentar. Ibu nggak papa kan Gea tinggal sebentar?"
"Ibu nggak papa, Ge. Maafin ibu ya nduk selalu nyusahin kamu," ucap Martini sendu.
"Ibu apa-apaan sih! Ibu nggak pernah nyusahin Gea kok. Perjuangan ibu saat hamil, melahirkan, dan membesarkan Gea itu lebih besar nggak sebanding dengan apa yang Gea lakukan selama ini," ucap Gea seraya tersenyum lebar. "Kalau begitu Gea pamit dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikum salam."
...***...
Kini Gea telah berada di cafe yang ditunjuk Mega. Gea tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Mega, tapi ia tak kunjung melihatnya.
"Ada yang bisa saya bantu kak?" sapa seorang karyawan cafe.
"Ah, begini, saya ada janji bertemu seseorang di sini, tapi saya belum juga melihatnya," ujar Gea menjelaskan.
"Kalau boleh tahu, siapa nama orang yang kakak cari?" tanya karyawan cafe itu.
"Namanya ... "
"Nona Gea." Terdengar suara seseorang menyerukan namanya membuat Gea menoleh ke sumber suara.
"Ah, itu dia orangnya! Makasih ya kak!"
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," pamit karyawan cafe itu.
"Ayo, ikut saya! Bu Nathalia sudah menunggu kedatangan Anda di ruang VVIP cafe ini," ujar Mega menjelaskan. Gea pun mengikuti kemana langkah kaki Mega membawanya.
Setibanya di ruangan yang dituju, Gea tak bisa berhenti merasa takjub. Sebab ruangan itu cukup besar dan terlihat begitu mewah dan berkelas. Bila di luar kursinya terlihat biasa saja, maka di ruangan itu kursinya berupa sofa mahal dan terlihat begitu empuk.
"Nona, perkenalkan, ini Ibu Nathalia, atasan saya," ujar Mega memperkenalkan.
"Gea Morina," ucap Gea sedikit gugup. Bagaimana ia tak gugup. Penampilan Nathalia begitu anggun dan berkelas. Semua pakainya terlihat sangat mahal. Nathalia juga sangat cantik dengan paras yang sempurna. Wajahnya kencang, putih mulus, tanpa cela membuat Gea merasa insecure sendiri. Padahal ia yakin, usia Nathalia ada berada di atasnya, tapi ia masih terlihat sangat muda.
"Nathalia. Ayo, silahkan duduk!" ujar Nathalia ramah.
Gea pun segera duduk tepat di hadapan Nathalia. Gea benar-benar gugup. Baru kali ini ia berhadapan dengan seseorang yang nampak sekali bukan orang biasa. Ia benar-benar penasaran, sebenarnya apa yang ingin ditawarkan Nathalia padanya. Kerja sama apa yang menurut Mega akan menguntungkannya. Ia yakin, ini bukan sembarangan pekerjaan, tapi apa ia tidak bisa membacanya sama sekali.
Baru saja Gea duduk, dari arah pintu masuk, seseorang masuk sambil mendorong troli yang di atasnya berisi berbagai macam makanan dan minuman yang membuat Gea nyaris saja meneteskan air liurnya. Kehidupannya yang sulit membuatnya tak pernah sama sekali menikmati makanan enak dan mahal. Apalagi masuk ke dalam cafe seperti ini, ini merupakan pengalaman pertama dirinya.
"Ayo Ge, dimakan dulu! Kamu pasti belum makan kan!" ujar Nathalia ramah.
Awalnya Gea tampak ragu untuk menyantap makanan itu. Nathalia yang mengerti lantas mengambil berbagai macam makanan dan meletakkan di atas nasi Gea. Gea sampai membulatkan matanya.
"Udah, ayo makan! Nggak usah malu-malu. Saya nggak mau membuat orang kelaparan," tukas Nathalia. Lalu dengan malu-malu, Gea pun menikmati makan siang itu dengan lahapnya. Nathalia sampai tersenyum geli melihat Gea yang tampak begitu lahap.
Setelah selesai makan, Nathalia pun membuka pembicaraan mereka dan menyampaikan tujuannya ingin bertemu Gea.
"Gea, saya tahu ibu kamu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk perawatan dan pengobatannya. Karena itu, saya mengajakmu bertemu hari ini ingin menawarkan kesepakatan yang akan saling menguntungkan," ucap Nathalia tenang.
Gea tampak mendengarkan dengan seksama apa yang hendak Nathalia sampaikan.
"Kesepakatan apa itu, Bu? Ibu tidak bermaksud menjual saya ke mucikari kan?" tanya Gea polos membuat Nathalia tergelak. Pun Mega yang duduk tak jauh dari mereka berdua, tak bisa menahan tawanya.
"Apakah aku terlihat seperti wanita yang suka menjual sesama wanita?" tanya Nathalia gemas.
Gea tersenyum kikuk. Syukurlah kalau tidak, batinnya.
Nathalia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Saya bersedia membiayai semua biaya baik itu perawatan maupun pengobatan. Bahkan saya akan membantu mencari pendonor ginjal asalkan kamu mau bekerja sama dengan saya."
"Be-benarkah? Kesepakatan apa itu? Anda ingin memberikan saya pekerjaan apa?" tanya Gea antusias.
Nathalia tersenyum lebar, "jadilah pelakor dalam rumah tangga anak saya," ucap Nathalia tegas tanpa keraguan sama sekali. Berbanding terbalik dengan Nathalia, Gea dan Mega justru membelalakkan matanya.
'Pekerjaan apa itu?' batin keduanya bermonolog sebab Mega pun tak tahu rencana apa yang ada di otak cantik atasannya tersebut.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
kalau aku jadi gea walaupun butuh banget anti mau jadi pelakor karena itu perbuatan dosa ..
2024-06-13
0
Bunda'nya Rifky
pengalaman pribadi'q,dimintai tolong menjadi pelakor di dalam rumah tangganya sendiri,dan bodoh'nya AQ,karena kasian mau membantu dan setelah berhasil ??????
mungkin pengalaman hidup'q bisa di jadikan cerita novel x y😂😂
2024-03-02
0
🌸 Airyein 🌸
Calvin kah?
2024-02-28
0