Bab. 11

Calvin melihat aneka masakan yang biarpun terlihat sederhana tapi sangat menggugah selera. Dia bukanlah tipe pilih-pilih makanan. Bahkan kalau boleh dibilang, ia lebih menyukai makanan rumahan dibandingkan masakan restoran. Tapi karena gaya hidup Anastasia, mau tidak mau ia pun mengikuti gaya hidup serta pola makannya. Anastasia sangat tak menyukai masakan rumahan. Bahkan ia tak mau masuk ke restoran biasa. Harus restoran mewah dan terkenal. Karena itu, meskipun Anastasia di rumah, ia tetap makan masakan restoran atau langsung pergi berdua ke restoran langganan mereka.

Calvin melihat ada sayur asam yang uapnya mengepul. Aromanya begitu terasa nikmat membuat perut Calvin keroncongan seketika. Ia sebenarnya gengsi untuk memakan semua yang terhidang di sana, tapi rasa lapar dan keinginan menyantet makanan itu ternyata lebih besar dari rasa gengsinya.

Gea bukan hanya memasak sayur asam, tapi ada juga ayam kremes, tahu goreng, berbagai macam lalapan seperti kemangi, mentimun, dan selada. Tidak lupa ada sambal yang membuat Calvin rasanya ingin meneteskan air liurnya.

"Ekhem, tuan, tuan kok bengong! Tuan mau makan? Ayo sini, silahkan duduk biar saya ambilkan!" ujar Gea memecah lamunan Calvin.

"Eh, itu, saya ... "

"Udah, ayo sini!" Tanpa ragu, Gea menarik lengan Calvin lantas mendudukkannya di kursi yang telah ia tari terlebih dahulu.

Kemudian Gea mengambilkan sepiring nasi dan menyodorkannya pada Calvin dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Ia memperlakukan Calvin seperti seorang istri yang memperlakukan suaminya.

Karena rasa lapar yang makin menjadi-jadi, Calvin pun mencoba menyendokkan sesendok nasi yang telah disiram kuah sayur dan diberi sambal ke dalam mulutnya. Mata Calvin mengerjap, perlahan Calvin mengunyah nasi di dalam mulutnya sambil merasai kenikmatan yang ternyata bukan sekedar aromanya saja.

Gea yang duduk di sebelah Calvin sambil bertopang dagu memperhatikan laki-laki itu dengan seksama.

"Bagaimana tuan? Apa rasanya enak?" tanya Gea dengan mata berbinar.

Calvin menoleh lalu memutar bola matanya malas, "biasa aja!" jawab Calvin acuh tapi sendoknya tak pernah berhenti menyendokkan nasi beserta sayur dan lauk-pauknya sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya. Melihat hal tersebut Gea berdecak sambil bersungut-sungut.

"Ckk ... bilang enak aja kayak gengsi banget. Dasar nyebelin!" omel Gea pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Calvin masih dapat mendengar omelan itu walaupun samar, namun ia hanya acuh tak acuh saja.

"Kenapa?" tanya Gea seraya memasang senyum malasnya saat Calvin menyodorkan piringnya lagi. "Sudah ya? Kalau begitu saya bereskan dulu ya, tuan!" ucap Gea sambil berdiri hendak meletakkan piring itu ke dalam wastafel membuat Calvin membelalakkan matanya.

Sebenarnya Calvin masih ingin makan, ia minta ambilkan nasi lagi, tapi Gea pikir Calvin telah selesai makan, jadi ia segera menyimpan piring kotor itu di wastafel.

Calvin menelan salivanya. Mau bilang nambah, tapi gengsi. Masakan Gea memang seenak itu, tapi ia terlalu gengsi untuk memujinya. Calvin pikir, Gea pasti akan merasa bangga bila ia memujinya. Namun ia tak menyangka, akibat kata-katanya itu, Gea berpikir ia tak mungkin ingin menambah.

"Kamu tidak makan?" tanya Calvin heran karena melihat Gea justru tidak ikut makan dengannya.

"Oh itu, saya ... tidak terbiasa makan jam segini tuan. Biasanya saya makan tunggu benar-benar lapar," ujar Gea sambil membereskan lauk pauk yang ada di atas meja.

"Kenapa?"

"Soalnya saya takut malamnya saya cepat lapar lagi tuan."

"Kalau lapar ya tinggal makan lagi aja. Gitu aja repot. Kalau malas masak, tinggal delivery order aja. Bukannya zaman sekarang enak, mau apa-apa gampang tinggal pesan aja, makanan datang," jawab Calvin santai.

"Itu mah tuan, kalau kami yang hidup dalam kemiskinan mana bisa begitu. Bisa makan 3 kali sehari aja sudah Alhamdulillah. Mau lebih dari sana, harus banyak yang dipikirin. Sebab yang harus kami pikirkan bukan cuma soal perut aja, tapi banyak hal yang lain. Beda dengan Anda yang terlahir dari keluarga orang kaya, tuan juga kaya raya, punya perusahaan besar yang penghasilannya pasti ratusan kali lipat dari penghasilan kami. Zaman sekarang emang makin canggih, lapar tinggal pesan, makanan datang, tapi uangnya? Tidak semua orang bisa melakukan seperti apa yang tuan katakan tadi. Duh, kok saya jadi banyak bicara ya! Maafkan saya tuan, kalau begitu saya nyuci piring dulu," tukas Gea sambil nyengir kemudian membalik badannya untuk mencuci piring bekas Calvin makan dan ia masak tadi.

Di meja makan, Calvin mengerutkan keningnya, hidupnya yang memang sejak kecil selalu berkecukupan membuatnya kurang mengetahui fenomena yang terjadi di sekitarnya termasuk kesulitan masyarakat kecil. Perkataan Gea tadi setidaknya membuka sedikit pikirannya bahwa tidak semua orang bisa seperti dirinya yang bisa melakukan apa saja tanpa merasa kekurangan.

Setelah setelah makan, Calvin masuk ke ruang kerjanya. Baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya, ponsel Calvin pun berdering. Melihat siapa nama pemanggil di ponselnya, ia pun tersenyum dan segera mengangkatnya.

"Hai honey, maaf aku baru sempat telepon!" sapa seorang perempuan dengan nada manjanya membuat Calvin tersenyum lebar.

"No problem my honey, aku tahu kesibukanmu."

Lalu Calvin melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam, "di sana baru jam 3 sore kah? Apa kau sudah makan siang?"

"Hmmm ... aku baru saja selesai makan. Honey, i Miss you."

"I Miss you too. Kapan kau kembali?"

"I don't know. Tapi setelah pekerjaan ku di sini selesai, pasti aku akan segera kembali."

"Okey! Jangan sering-sering terlambat makan. Aku tidak mau kau sakit," ucap Calvin penuh perhatian.

"Thank you, honey! Kau memang selalu memperhatikanku. Hal itulah yang membuatku sangat mencintaimu."

"Really?"

"Really, kau meragukanku?"

"Hmmm ... entahlah. Mungkin aku baru bisa benar-benar mempercayai mu kalau kau mau jadi ibu rumah tangga sesungguhnya atau minimal kau mau mengandung anakku," ucap Calvin sungguh-sungguh.

"Honey, please, jangan bahas itu lagi! Untuk saat ini aku belum bisa melakukannya, but aku janji, suatu hari nanti aku pasti akan mewujudkan semua keinginanmu," ucap Anastasia sungguh-sungguh.

"Kapan? Berapa lama lagi aku harus menunggu? Apa tak ada sedikit saja kau memikirkan bagaimana perasaanku yang selalu kau tinggal pergi? Aku kesepian, honey! Kau tahu, aku menikahimu supaya aku punya pendamping. Aku anak tunggal dan mama single parent. Mungkin dengan kehadiran anak dalam keluarga kita, itu akan membuat hidupku lebih berwar ... "

"Sorry honey, aku harus kembali bekerja. Bye!"

Tut Tut Tut ...

"Aaargh ... " Calvin menggeram kesal karena lagi-lagi Anastasia menghindarinya.

Awal menikah, Calvin memang setuju untuk menunda memiliki seorang anak sebab saat itu karir Anastasia baru beranjak naik. Tapi setelah 3 tahun dan karir Anastasia makin gemilang, ternyata Anastasia tak kunjung juga puas dan mengatakan belum siap untuk memberikannya keturunan, lalu sampai kapan? Calvin sudah berusaha untuk mengerti, tapi istrinya sepertinya tak pernah ingin mengerti perasaannya sama sekali.

Calvin memijit pelipisnya yang sedikit pening, lalu terdengar suara pintu diketuk, kemudian terbuka sebelum ia memberikan izin.

Gea masuk sambil membawa nampan yang entah apa isinya.

"Tuan, ini teh herbal untuk Anda. Teh ini bagus untuk kesehatan pencernaan, vitalitas, dan relaksasi. Dan ini kue buatan saya, semoga Anda menyukainya," ujar Gea dengan lemah lembut.

Alis Calvin naik ke atas, "sebenarnya apa tujuan ibuku mempekerjakanmu?" tanya Calvin penasaran.

"Nyonya hanya ingin Anda ada yang mengurus, tuan. Memastikan tuan baik-baik saja. Membantu menyiapkan segala keperluan tuan. Apalagi tuan hanya tinggal seorang diri di sini, beliau merasa tak tega. Tak ada yang mengurus tuan sebab istri tuan yang jarang ada di rumah. Anda juga tak menyukai ada orang lain yang berkeliaran di sekitar Anda walaupun itu hanya seorang asisten rumah tangga. Oleh sebab itu, nyonya mempekerjakan saya," ujar Gea seperti yang diajarkan Mega padanya.

Calvin tampak mengangguk lalu mengambil teh yang ada di hadapannya dan meminumnya sedikit demi sedikit. Seperti kata Gea, memang teh itu cukup membuatnya relaks. Bahkan rasa kesalnya tadi berangsur menghilang. Ia juga mencicipi kue buatan Gea dengan lahap tanpa banyak bicara lagi.

...***...

...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

tetap aja kelakuan istri seperti itu jangan dimanjakan dan Gea jangan terlalu dekat dengan suami orang gk baik

2024-06-15

0

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

Baru kali ini pelakor nya spek istri sedangkah istri nya spek ani ani 🤣

2024-03-20

1

🌸 Airyein 🌸

🌸 Airyein 🌸

Hayo gea maneh orang sunda nya?

2024-02-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!