Pagi-pagi sekali Gea sudah tampak cantik sekali. Walaupun masih mengenakan baju santai sebab ia harus menyiapkan sarapan terlebih dahulu, tapi tetap saja ia terlihat begitu cantik dan mempesona.
Dengan langkah anggun, ia masuk ke kamar Calvin tampak mengetuk pintu. Gea tersenyum melihat Calvin yang masih bergelung dalam selimut tebalnya. Sepertinya ia masih asik terbuai dalam mimpi indah sehingga jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saja, ia masih memejamkan mata.
"Tuan, tuan, ayo bangun tuan!" panggil Gea dari sisi kanan tempat tidur.
Namun Calvin tak bergeming sama sekali. Ia tak juga terjaga. Lalu Gea pun duduk di sisi tempat tidur sambil menepuk-nepuk lengan Calvin. Namun, bukannya bangun, Calvin justru menarik lengan Gea dan memeluknya.
"Iya, sebentar, honey! Aku masih mengantuk," ujar Calvin dengan suara serak karena belum benar-benar terbangun dari tidurnya.
Gea sontak saja membulatkan matanya saat tangannya dipeluk Calvin. Bahkan Calvin mencium tangannya mesra membuat jantung Gea seperti dipompa. Beberapa saat kemudian, Gea lantas terkekeh karena baginya melihat sikap Calvin yang seperti ini sungguh sangat menggemaskan.
"Tuan, bangun! Ini aku, Gea. Bukan istri Anda," ujar Gea sedikit berbisik tak jauh dari daun telinga Calvin. Pelan-pelan ia menarik tangannya yang dipeluk Calvin.
Mendengar hal tersebut, sontak saja Calvin membuka matanya. Karena jarak yang cukup dekat membuat keduanya terpaku. Calvin menelan ludahnya saat melihat wajah cantik Gea yang begitu jelas masuk ke netranya.
Merasa diperhatikan, Gea pun segera menarik diri dan menjauh. Ia kembali berdiri lalu tersenyum.
"Tuan, silahkan mandi! Biar saya siapkan pakaian Anda!" ujar Gea yang segera membalikkan badannya kemudian membuka lemari pakaian Calvin dan memilihkan kemeja, jas, celana bahan, berikut ********** lalu meletakkannya di atas kursi yang ada di depan meja rias.
Dari tempat tidurnya, Calvin sudah duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan segala gerak-gerik Gea. Dalam hati Calvin mendesah, seharusnya ini pekerjaan istrinya, tapi kini justru perempuan lain lah yang mengerjakannya. Apakah dirinya salah bila mengharapkan istrinya melayaninya seperti itu? Apakah dirinya terlampau egois bila meminta istrinya mengurangi kegiatannya di luar agar dapat sedikit fokus melayani dan mendampinginya?
"Tuan, apa ada yang salah?" tanya Gea saat melihat Calvin justru melamun di tempatnya.
"Oh, tidak! Terima kasih. Kau keluarlah. Saya akan segera mandi," ujar Cavin seraya menegakkan tubuhnya kemudian segera masuk ke kamar mandi.
Gea pun segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah berkutat hampir 30 menit, Gea dengan segera masuk ke kamarnya dan mencuci muka. Setelah itu, ia segera berganti pakaian dan memakai riasan tipis agar wajahnya lebih fresh. Setelah selesai, ia pun segera mencangklong tas selempangnya dan berjalan keluar.
Setibanya di dapur bersamaan dengan munculnya Calvin. Calvin ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan membuat roti bakar seperti kebiasaannya. Selama 3 tahun ini, begitulah sarapannya. Tak ada yang menyiapkan jadi ia hanya makan seadanya. Berbeda bila ia berada di rumah orang tuanya dahulu yang segalanya disiapkan. Entah mengapa reaksi mereka kali ini justru sedikit canggung, Gea pun segera mempersilahkan Calvin untuk duduk sarapan.
Mata Calvin berbinar saat melihat di meja makan telah terhidang sarapan. Sungguh ini pertama kalinya meja makannya berisi menu sarapan. Bagaimana ia tidak terkejut, ternyata pilihan mamanya untuk mempekerjakan Gea tidaklah salah. Ia merasa begitu diperhatikan membuatnya jadi lebih bersemangat.
"Ini kau yang menyiapkannya sendiri?" tanya Calvin saat sepiring nasi goreng lengkap dengan udang, sosis, bakso, dan telur mata sapi di atasnya telah terhidang di hadapannya. Aromanya sungguh lezat membuat perutnya meronta ingin segera diisi.
"Menurut Anda?" tanya Gea sedikit mencibir. Sudah tahu tak ada orang lain di sana jadi siapa lagi yang memasaknya, coba!
"Kan bisa saja kau membelinya di luar," jawab Calvin santai.
"Beri tahu saya, dimana ada penjual nasi goreng yang sudah buka jam segini?" tantang Gea yang sudah mulai berani.
Calvin terdiam, "bisa saja kau membelinya semalam dan memanaskannya pagi ini," sahut Calvin tak mau kalah dengan mulut penuh nasi goreng.
"Ck ... berhenti bicara selagi makan. Minimal telan dulu nasinya, nanti Anda tersedak!" peringat Gea membuat Calvin tanpa sadar menyunggingkan senyumnya. Namun senyum itu sangat tipis sampai Gea tak menyadarinya.
Baru saja Gea menyendokkan nasi goreng untuknya, tapi Calvin sudah menyodorkan piringnya lagi.
"Anda cepat sekali makan? Seperti sudah seminggu tidak makan!" cibir Gea sambil menerima piring yang isinya telah tandas tanpa menyisakan sebutir nasi pun.
'Itu karena semalam aku belum kenyang tapi kau sudah meletakkan piringku di dalam wastafel,' gumam Calvin dalam hati.
Baru saja Gea hendak meletakkan piring itu di wastafel seperti semalam, tapi Calvin lebih dahulu mencegahnya.
"Mau kau apakan piringnya?" tanya Calvin sambil melotot.
"Ya mau dimasukin wastafel, kan tuan sudah selesai makan," jawab lembut padahal dalam hati ia berdecak kesal.
Tolong deh, dia pun sudah lapar dan ingin makan. Kapan lagi bisa makan nasi goreng isinya lengkap kayak gini kalau tidak saat bekerja. Bahkan menikmati pentol bakso dan sosis yang enak saja hanya saat baru kali ini. Ia baru tahu rasanya ternyata cukup enak. Soalnya tadi setelah memasak ia sempat icip-icip dahulu karena penasaran. Apalagi di dalamnya juga ada udang yang terlihat begitu nikmat. Warna merahnya begitu memikat seolah memanggilnya untuk segera disantap. Selama ini, boro-boro mau beli udang, mau beli telur saja kadang hitung-hitungan. Kecuali saat dia ke pasar dan melihat udang murah, baru ia beli. Itupun hanya sedikit.
"Siapa yang bilang sudah selesai? Aku menyerahkannya padamu karena aku mau nambah. Cepat isi piringku. Bisa-bisa aku kesiangan kalau terus meladeni mulutmu yang cerewet," ujar Calvin seraya mendelik tajam.
"Yeee, tuan yang nggak jelas, aku yang disalahin. Makanya bilang, Gea saya mau nambah, gitu aja susah banget!" ejek Gea sambil menyendokkan nasi ke dalam piring dan menyerahkannya pada Calvin.
"Kau berani menjawab omonganku!" Calvin mendelik tajam membuat Gea menundukkan wajahnya.
'Waduh, gimana kalau tuan marah dan nggak mau aku kerja lagi! Bisa kacau dong! Sebenarnya Bu Nathalia memintaku menggoda dan memikatnya, tapi bagaimana caranya. Aku cuma bisa kayak gini," Gea merutuki dirinya sendiri karena terlalu santai menghadapi Calvin padahal sudah tahu dia siapa. Bagaimana ia bisa memikat dan menggodanya kalau Calvin justru marah padanya.
Diam-diam Calvin tersenyum tipis melihat Gea yang tiba-tiba bungkam. Walaupun kadang Gea tampak cerewet, tapi ia justru menyukainya sebab rumah itu jadi tampak lebih hidup dan tak sepi seperti biasanya. Ia merasa seperti kembali ke masa-masa sebelum menikah dulu. Saat ia masih berada di rumah orang tuanya. Biarpun ia tidak memiliki saudara, tapi karena ibunya yang kerap mengomeli segala apa yang dilakukannya, ia jadi tidak pernah kesepian.
Setelah itu, mereka pun segera melanjutkan makan dalam diam. Hanya ada bunyi denting sendok yang beradu dengan piring terdengar di ruangan itu dan ekor mata yang diam-diam saling memperhatikan.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
tidak perlu menggoda jika tidak bisa menjadi pelakor lakukan apa adanya sejatinya menjadi pelakor itu dosa
2024-06-15
0
🌸 Airyein 🌸
Yahhahahah makany jgn gengsi di gedein 😭
2024-02-28
0
sherly
ini mah bukan pelakor tp calon istri pengganti...
2023-08-25
1