Sepanjang malam, Calvin tak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Setiap ia memejamkan mata justru wajah polos Gea saat sedang tertidur yang mampir di benaknya. Dan itu terjadi hingga berkali-kali membuat Calvin frustasi sendiri.
"Ada apa denganku? Astaga, baru saja siang hingga sore tadi aku kesal bukan kepalang dengan Cia sampai aku mabuk-mabukan sendiri, tapi malamnya justru aku perempuan lain. Sepertinya otakku sudah mulai tak beres," desah Calvin sambil meraup wajahnya frustasi.
Calvin menghembuskan nafas kasar, semakin ia mencoba melupakan wajah Gea, maka bayangnya makin mengusik pikirannya.
Calvin mengakui, Gea memang cantik, lembut, dan perhatian. Anastasia memang sangat cantik dan seksi. Bahkan ia lebih cantik karena memang Anastasia sangat merawat kulit dan tubuhnya. Ia juga selalu menjaga penampilannya. Ia selalu ingin tampil sempurna di setiap situasi. Tapi Anastasia tak pernah memperhatikan dan melayaninya sebagaimana Gea begitu memperhatikan dirinya. Namun, ia harus ingat, Gea melakukan itu semata-mata karena itu adalah pekerjaannya.
"Seandainya Gea itu Cia, pasti aku akan menjadi suami paling bahagia di dunia," gumamnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala sebagai bantalan.
Calvin membayangkan Gea adalah istrinya. Setiap pulang kerja disambut dengan senyuman. Saat siang, Gea tiba-tiba datang membawakannya makan siang. Menghabiskan malam dengan senda gurau berdua. Menceritakan apa yang dialami seharian serta berkeluh kesah. Membagi kehangatan, menyalurkan kerinduan, dan menyatukan raga dalam binar cinta yang bergelora.
"Astaga, lama-lama aku benar-benar gila! Bagaimana bisa aku malah membayangkan Gea itu Cia?"
Calvin sudah terduduk dengan wajah dan rambut yang super berantakan. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa aneh dengan pikirannya yang bisa-bisanya membayangkan Gea sebagai Cia.
Tring ...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Calvin pun segera beranjak mengambil ponsel yang sedang ia isi daya di atas nakas dan memeriksa pesan itu.
Awalnya Calvin tersenyum. Ia pikir itu mungkin Anastasia yang mengirimkannya pesan permohonan maaf, tapi ternyata itu bunyi notifikasi pesan sari salah seorang sahabatnya.
Aditia : Bro, sudah tidur belum?
Calvin : Ada apa? Tumben malam-malam kirim pesan.
Aditia : Hehehe ... Boleh minta nomor Aspri loe nggak?"
Calvin sontak saja membelalakkan matanya saat melihat pesan dari salah seorang sahabatnya menanyakan nomor ponsel Gea.
Calvin : Untuk apa?
Aditia : Ck ... kepo juga nih orang. Ayolah, minta nomor Gea, please! Bantu kek sahabat loe yang lagi cari calon bini ini.
Calvin : Ogah bantu playboy cap kadal buntung kayak loe!
Aditia : Hei, gue udah tobat ya? Dan sekarang sedang benar-benar cari calon istri dan kayaknya Gea cocok buat gue jadiin istri. Secara dia itu hmmm ... kriteria istri idaman banget. Ayolah, jangan pelit! Loe kan udah punya Anastasia tuh, nah Gea mau gue jadiin calon gue.
Calvin : Nggak usah macam-macam ya! Gue nggak mau kinerja Gea kacau gara-gara loe!
Aditia : Anjirrr, posesif amat jadi bos! Gimana kalau jadi bini entar!
Calvin berdecak kesal lalu melemparkan ponselnya asal di atas tempat tidur. Ia baru saja hendak beranjak dari atas kasur, tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk. Ia kira itu pesan dari Aditia karena ia tidak membalas pesannya, tapi ternyata pesan itu berasal dari Barly. Sama seperti Aditia, Barly pun ternyata menanyakan nomor ponsel Gea. Ia mengatakan tertarik dan ingin mencoba mendekati Gea. Entah mengapa, mendadak hati Calvin terasa panas. Ia khawatir, Gea nanti justru sibuk dengan kedua laki-laki itu hingga mengabaikan dirinya. Ia sudah terlanjur nyaman dengan keberadaan Gea yang selalu ada dan melayaninya dengan begitu baik layaknya seorang istri idaman.
Tiba-tiba Calvin tersenyum, wajar saja Aditia dan Barly tertarik pikirnya. Benar kata Aditia, Gea memang memiliki kriteria istri idaman.
...***...
Bukan hanya Calvin, Gea pun ternyata tidak bisa memejamkan matanya. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, namun ia tak kunjung bisa tertidur. Setiap memejamkan mata, Gea justru terbayang wajah Calvin yang tadi begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan ia bisa merasakan deru nafasnya yang menerpa wajahnya. Hangat dan aromanya khas. Tidak harum, bukan juga bau, namun begitu khas hingga mampu membuat darahnya berdesir hebat.
Wajah Gea memanas, ia tangkupkan kedua telapak tangannya di pipi dengan bibir menyunggingkan senyum tipis saat teringat lembut dan hangatnya saat bibir Calvin menyentuh bibirnya. Entah itu termasuk kategori ciuman atau bukan, yang ia tahu, ia merasakan jantungnya berdegup kencang saat bibir mereka bertemu. Apalagi itu merupakan ciuman pertamanya. Ia seperti tersengat aliran listrik tepat di bibirnya. Biarpun ia setengah sadar, namun ia tetap bisa merasakannya dengan jelas bagaimana saat bibir Calvin singgah di bibirnya.
"Astaga, kok bisa-bisanya tuan Calvin cium aku sih? Apa dia sudah mulai tertarik padaku?" gumamnya seraya tersenyum lebar.
Tak dapat dipungkiri, Gea sebenarnya sudah mulai tertarik dengan Calvin. Namun, sebisa mungkin ia menekan rasa itu. Ia harus sadar, ia melakukan ini karena dibayar. Ia sedang bekerja untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga Calvin. Pekerjaan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Walaupun awalnya ia ragu, namun makin kesini ia makin menikmati perannya membuatnya makin bertekad ingin menjadi pelakor untuk merebut Calvin dari Anastasia. Gea tak rela, Anastasia merasakan kebahagiaan dan mendapatkan semua yang ia inginkan. Apalagi Calvin terlalu baik untuk perempuan egois seperti Anastasia yang hanya mementingkan kesenangan dan kehidupannya sendiri.
Sedangkan di belahan bumi lain, tampak seorang perempuan cantik baru saja turun dari dalam pesawat dengan beberapa kru dan rekan yang bekerja sebagai modelnya. Sebelum ke Milan, pesawat yang ditumpangi Anastasia lebih dahulu melakukan transit di Dubai. Bila di Jakarta saat ini sedang pukul 2 dini hari, maka di Dubai jarum jam baru menunjukkan pukul 11 malam sebab kota terpadat di Uni Emirat Arab itu lebih lambat 3 jam dari Jakarta.
"Mari aku bawakan kopermu, Ana!" tukas Christian menawarkan bantuan. Christian adalah model yang telah lama bekerja sama dengan Anastasia. Bahkan mereka telah saling mengenal semenjak bangku kuliah.
"Thanks, Chris!" ucap Anastasia seraya tersenyum lebar.
"Kau tidak menghubungi suamimu? Bukankah katamu dia sedang marah padamu?" tanyanya sambil melangkahkan kaki menuju mobil jemputan mereka yang sengaja disediakan pihak hotel tempat mereka menginap.
"Hmmm ... Ah, kau tak perlu khawatirkan itu! Dia tak marah lama-lama denganku. Sudah aku katakan bukan kalau dia itu bucinku," ujar Anastasia sombong sambil tergelak.
"Sombong!" ejek Christian seraya terkekeh. "Hati-hati Ana, jangan lengah, kau tahu suamimu itu tampan dan mapan, tidak sulit baginya untuk mendapatkan seorang wanita. Apalagi laki-laki yang sudah tahu nikmatnya bercinta, bukan tidak mungkin ia akan mencari pelampiasan di luar sana," ujar Christian yang kini telah masuk ke dalam mobil dan duduk berdua dengan Anastasia di dalamnya.
Anastasia justru terkekeh, " kalau Calvin memang seperti itu, sudah sejak dulu ia lakukan. But see, dia tetap setia. Sudah aku bilang, dia itu bucinku jadi takkan mungkin dia akan mencari perempuan lain untuk pelampiasan karena dia hanya milikku," ujar Anastasia pongah.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
kalian bertiga menurutku sama² munafik sih
yang Calvin sok setia padahal baru ada Gea saja sudah terpikat sekali buaya tetap buaya
dan Gea itu wanita munafik yang sok² gak amu jadi pelakor tapi nyatanya dia gk rela Calvin dimiliki istri sahnya yang katanya egois padahal dia sendiri juga merangkap egois juga kn senang aja jadi pelakor ...
dan Anastasia juga sama saja selain egois dia terlalu sombong jadi diantara kalian bertiga gk ada sisi baik nya menurut padangan ku
2024-06-16
0
🌸 Airyein 🌸
Sombong amat
2024-02-28
0
Rika Khoiriyah
percaya diri sekali anda 😏😏, siap" jadi janda ya, karena dirumah Calvin sedang sama cewek lain yg lebih lebih segalanya daripada dirimu 🙄🙄🙄
2022-12-13
1