Bab. 3

Tak butuh waktu lama, bahkan tak sampai 1x24 jam, akhirnya Mega berhasil mengumpulkan segala informasi mengenai Gea. Pertama-tama Mega menemui direktur rumah sakit itu untuk menggali informasi siapa gadis yang menangis di depan ruang UGD tadi. Karena Pak Sumitro kebetulan ikut mengawal kedatangan Nathalia, jadi ia bisa dengan cepat mencari informasi baik dari dokter maupun data pasien. Setelah itu, barulah Mega mencari tahu di sekitar tempat tinggal Gea sesuai alamat yang tertera di data pasien. Setelah mengumpulkan segala informasi tersebut, Mega pun segera melaporkan hasil pencarian informasi tersebut kepada atasannya.

"Ini, Bu! Semua informasi tentang nona Gea ada di dalam sana," tukas Mega seraya menyerahkan sebuah map berisi informasi mengenai Gea.

"Gea?" tanya Nathalia.

"Iya, Bu. Namanya Gea Morena. Ibunya bernama Martini sedangkan ayahnya Mardian Siswanto," ujar Mega membuat Nathalia membelalakkan matanya.

"Apa? Jadi dia?"

"Iya, Bu. Sesuai dugaan Anda," tukas Mega membuat Nathalia tersenyum tipis. Lalu ia segera membuka lembar demi lembar dokumen berisi data pribadi dan informasi mengenai Gea.

Nathalia menutup kembali dokumen tersebut dengan seringai di bibirnya. Ia tak menyangka, takdir begitu unik. Segala rencana telah tersusun rapi di otak cantiknya. Mega yang melihat raut wajah Nathalia, sampai bergidik ngeri sendiri. Entah apa yang direncanakan atasannya itu. Sepertinya, ia akan mendapatkan tugas lagi.

"Mega, tolong atur dan jadwalkan pertemuan saya dengan Gea! Saya minta sesegera mungkin. Tidak perlu sebutkan identitas saya. Cukup katakan kalau atasanmu ingin bertemu dengannya dan melakukan kesepakatan yang menguntungkan," tegas Nathalia.

"Baik, Bu," sahut Mega cepat.

Lalu Mega pun segera undur diri untuk melaksanakan tugasnya.

...***...

"Bagaimana keadaan ibu saya, dok?" tanya Gea dengan raut wajah khawatir. Wajahnya terlihat kuyu dengan mata dan hidung yang memerah. Penampilannya pun terlihat begitu berantakan.

Dokter itu berusaha memberikan senyum terbaiknya agar Gea sedikit tenang.

"Kondisi ibu Anda kurang baik. Ibu Anda membutuhkan donor ginjal sesegera mungkin. Kalau tidak, maka tubuhnya akan makin lemah. Hari ini baru kaki yang membengkak, besok-besok bisa bagian tubuh yang lain. Sementara hanya dengan cuci darah dengan frekuensi 3 kali seminggu yang bisa membuat pasien bertahan lebih lama, tapi entah sampai kapan. Sebab keadaan ginjal ibu Anda sudah sangat riskan," tutur dokter itu lembut.

Gea terduduk di kursi dengan wajah tertunduk lesu. Dadanya begitu sesak. Untuk cuci darah 2 kali dalam seminggu saja ia sudah ngos-ngosan. Harus mencuci pakaian dari satu pintu ke pintu lain, apalagi kalau 3 kali seminggu. Ia harus apa? Ia harus bagaimana? Kemana ia harus mencari uang yang banyak agar ibunya bisa berobat? Kalaupun donor ginjal berhasil ia dapatkan, bagaimana cara mengoperasinya? Uangnya dari mana? Ia yakin, biaya operasi itu tidaklah sedikit.

Kepala Gea mendadak berdentam sakit. Tubuhnya sudah begitu lelah banting tulang setiap hari dengan waktu istirahat yang minim. Kalau bukan demi ibunya, ia ingin rasanya beristirahat barang sehari saja untuk memulihkan tenaga dan staminanya yang terkuras tiada henti. Tapi ia bisa apa? Ia harus bagaimana? Ia tak memiliki pilihan lain. Keadaan ini sungguh menguras habis tenaganya. Jiwa dan. raganya begitu lelah.

Setelah mengatakan hal tersebut, dokter itupun permisi. Gea masuk ke dalam ruang perawatan sang ibu. Air matanya mengalir deras. Ditutupnya mulutnya rapat-rapat agar isakannya tak keluar dan didengar sang ibu.

Sungguh, dia benar-benar lelah. Tapi ia harus berusaha tampak kuat. Ia pun tak ingin melihat ibunya makin merasa bersalah saat melihatnya menangis seperti saat ini. Ia tak ingin ibunya makin sakit karena perasaan tertekan akibat melihat dirinya yang merasa kesulitan. Sungguh, ia sanggup melakukan apapun demi kesembuhan sang ibu. Ya, melakukan apapun. Sebab bagi Gea Morina, ibunya adalah segalanya. Prioritas utama dalam hidupnya.

...***...

Karena merasa tenggorokannya begitu kering, Gea pun keluar dari dalam kamar perawatan ibunya hendak menuju cafetaria rumah sakit. Ia tidak membawa air minum tadi, jadi ia bermaksud membeli air minum di cafetaria. Ia juga belum sempat makan siang. Menyantap mie instan di cafetaria sepertinya tak masalah pikirnya.

Baru saja Gea hendak masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Gea pun segera menoleh dan mendapati seorang perempuan yang sebenarnya cantik tapi super tomboi yang umurnya mungkin sekitar 30 tahunan. Mengapa Gea menilainya tomboi sebab selain dia memakai pakaian seperti kaum lelaki dengan celana bahan hitam dan kemeja hitam polos, rambutnya juga dicepak. Bibirnya merah alami dengan bulu mata lentik. Gea sampai terpaku merasa bingung apa dirinya tak salah dengar. Benarkah perempuan tomboi itu yang memanggil dirinya?

"Nona Gea," sapanya lalu tersenyum manis membuat Gea celingukan ke kanan dan ke kiri takut-takut salah kira. Jangan-jangan ada orang lain yang namanya sama seperti dirinya yang dipanggil perempuan tomboi itu.

"Anda memanggil saya?" tanya Gea memastikan sambil menunjuk dirinya sendiri.

Perempuan tomboi itu terkekeh kemudian mengangguk cepat.

"Iya, saya memanggil Anda, nona Gea Morina," ujarnya seraya menyebutkan nama panjang Gea.

"Eh, kok Anda tahu nama saya? Apa kita pernah berkenalan sebelumnya?" tanya Gea penasaran sebab ia merasa belum pernah bertemu perempuan itu sebelumnya. Tapi bagaimana perempuan itu tahu nama panjangnya kalau mereka memang belum pernah bertemu sama sekali?

Perempuan itu makin tersenyum lebar, "nona memang belum pernah bertemu apalagi berkenalan dengan saya tapi saya pernah melihat nona. Hari ini dan ini yang kedua kalinya."

"Hah!" seru Gea dengan wajah cengo yang membuat Mega terkekeh geli melihat tingkah polos Gea. "Kalau kita belum pernah bertemu sebelumnya apalagi berkenalan, lalu bagaimana anda bisa tahu nama panjang saya?" cecar Gea. Ia memasang sikap waspada. Bagaimana kalau perempuan yang memanggilnya ini merupakan sindikat penculikan perempuan untuk dijual pada mucikari atau dijual kepada pria hidung belang?

"Nggak usah takut. Saya tidak akan ngapa-ngapain nona yang cantik ini. Justru saya menemui nona ingin menyampaikan pesan atasan saya yang ingin menawarkan kerja sama yang menguntungkan," jelas Mega ramah. Biarpun gayanya tomboi seperti laki-laki, tapi sikapnya ramah.

"Kerja sama yang menguntungkan? Apa itu? Dan apa atasan kamu itu laki-laki?" Gea memundurkan langkahnya. Menjaga jarak aman istilahnya. Jadi, bila sewaktu-waktu perempuan yang bicara dengannya itu hendak berbuat macam-macam, ia bisa langsung menggunakan jurus langkah kaki seribu.

Mega tergelak melihat sikap waspada Gea pun ekspresi wajahnya yang bagi Mega sangat menggemaskan. Entah apa rencana atasannya itu sebenarnya? Dirinya sendiri tak tahu apa kerja sama yang hendak ditawarkan Nathalia pada Gea.

"Maaf, untuk soal kerja sama apa, saya tidak tahu. Tapi nona tenang aja, atasan saya baik kok dan bukan orang jahat. Dia perempuan. Saya yakin, nona tidak akan menyesal mengenal atasan saya. Bagaimana? Nona mau?"

Mendengar kalau yang hendak menemuinya itu adalah seorang perempuan, Gea lantas nampak menimbang.

'Kerja sama yang menguntungkan ya? Kira-kira apa ya? Apa aku coba saja? Siapa tahu gajinya gede jadi aku nggak perlu pusing lagi mikirin biaya pengobatan ibu. Apalagi aku sangsi kalau aku masih diterima kerja di Happy Mart setelah sering bolos kerja.'

"Baiklah, saya mau. Tapi ketemunya dimana? Boleh saya makan dulu soalnya saya sudah sangat lapar," ucap Gea polos yang diangguki Mega.

Lalu Mega meminta nomor ponsel Gea agar ia bisa segera menghubungi kapan dan dimana Gea bisa bertemu dengan atasannya. Setelah mendapatkan nomor ponselnya, Mega pun pamit undur diri seraya melambaikan tangan membuat Gea tersenyum lebar.

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Erlin

Erlin

Bertemu Gea

2024-05-25

0

Dwi Hartati08

Dwi Hartati08

ada hubungan dimasa lalu kah thor

2022-09-05

0

Denos.Aries

Denos.Aries

Nathalia kayanya tau sesuatu tentang keluarga Gea 😅

2022-07-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!