Bab. 9

Tok tok tok ...

"Masuk!" seru Calvin dari dalam ruangannya. Lalu pintu pun terbuka, dari sana masuk seorang gadis cantik sambil membawa baki di tangannya. Di atas baki itu tampak secangkir kopi dengan uap yang mengepul. Aromanya begitu nikmat hingga memenuhi ruangan Calvin.

Calvin yang melihat Gea masuk dengan anggun, menyipitkan matanya tak senang. Ia berdecak saat melihat Gea berusaha tersenyum ramah padanya sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.

"Silahkan diminum, tuan!" ujar Gea lembut.

Satu sudut bibir Calvin tertarik ke atas. Lalu ia segera mengangkat cangkir kopi itu dan menyesapnya.

Prang ...

Calvin menghempaskan cangkir itu ke atas piring tatakannya dengan cukup kuat hingga sedikit memercik ke tepian. Lalu matanya memicing tajam seakan hendak menelannya hidup-hidup.

"Kau ingin membakar lidahku, hah? Buat kopi saja tidak becus. Bahkan pekerjaan OB lebih bagus dari dirimu," desis Calvin sinis namun hanya ditanggapi Gea dengan senyum manisnya.

"Maafkan saya, tuan. Kalau begitu, saya akan membuatkannya lagi. Permisi!" pamit Gea dengan sopan lalu ia pun segera undur diri meninggalkan Calvin yang menatapnya sambil mendengus.

...***...

"Eh, bukannya nona baru saja membuatkan pak Calvin kopi, kenapa sekarang sudah buat lagi? Emang pak Calvin ada tamu?" tanya seorang office girl yang baru saja masuk ke ruang pantry. Tadi saat ingin membuatkan kopi untuk karyawan lain, ia melihat Gea sedang membuatkan kopi, tapi kenapa sekarang sudah membuatkan kopi lagi?

Gea tersenyum simpul, "kopi yang tadi kata pak bos terlalu panas jadi aku buatin lagi yang baru," ujar Gea ramah sembari mengaduk kopi Arabika buatannya.

"Hah? Aneh! Biasanya pak Calvin tidak pernah protes kayak gitu kecuali kopinya kemanisan. Justru kami selalu membuat kopi dengan air yang baru mendidih sebab pak biasanya kalau lagi bekerja Pak Calvin sampai lupa waktu, kopi sampai dingin, bahkan sering lupa diminum," tukas office girl bernama Ira itu.

"Benarkah?" tanya Gea berusaha meyakinkan.

Ira pun mengangguk pasti. Tadi memang mereka sudah sempat berkenalan. Awalnya Ira agak sungkan sebab dari pakaiannya saja, Ira bisa melihat Gea bukanlah karyawan sembarangan. Di kantor itu banyak orang-orang seperti Gea yang justru bersikap sombong dan enggan beramah tamah pada mereka yang hanya seorang OB. Tetapi melihat bagaimana Gea menyapa bahkan tak sungkan berkenalan dengannya, membuat penilaiannya seketika berubah. Ternyata Gea bukan hanya cantik, tapi juga ramah dan baik. Ira sampai berdecak kagum busa berkenalan dengan Gea.

Gea menyeringai tipis, kemudian menyerahkan kopi buatannya pada Ira dan membuat lagi yang baru, sama seperti kopi sebelumnya, full air panas. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Calvin. Entah mengapa ia berpikir Calvin sengaja melakukan itu agar ia merasa tak betah bekerja menjadi asisten pribadinya.

Setelah kopinya jadi, Gea pun kembali melangkahkan kaki menuju ruangan Calvin untuk mengantarkan kopi yang baru untuknya.

"Ini kopinya, tuan," ujar Gea lembut dengan senyum tak surut dari bibir merah muda miliknya.

Calvin melirik kopi tersebut dan menyesapnya. Lagi-lagi ia menghempaskan cangkir kopi itu ke atas piring tatakan dengan alasan kopinya terlalu manis.

Gea tak dapat menyembunyikan senyum gelinya membuat Calvin mendengus sambil melotot.

"Kenapa kau tersenyum, hah? Mau menggodaku? Jangan mimpi! Aku takkan mungkin tergoda oleh perempuan seperti dirimu!" ketus Calvin membuat Gea justru makin menyunggingkan senyuman manisnya.

"Ah, apakah saya terlihat seperti hendak menggoda Anda tuan?" tanya Gea dengan memasang wajah polos. Ekspresinya yang seperti itu justru terlihat lucu dan menggemaskan.

"Kau ... " Calvin menggeram tertahan. Ia ingin marah, tapi melihat ekspresi Gea justru membuat emosinya seketika meredup.

"Sudahlah, keluar sana!" usir Calvin pada Gea. Gea hendak mengangkat cangkir kopi itu kembali tetapi Calvin mencegahnya. "Tak perlu buat yang baru. Mubazir jika dibuang begitu saja," imbuh Calvin bernada ketus membuat Gea diam-diam menyeringai.

'Aku yakin aku bisa menaklukkanmu tuan Calvin Alviano,' desis Gea dalam hati.

...***...

"Hai, karyawan baru ya?" sapa seorang pria pada Gea saat masuk ke dalam pantry.

Gea pun tersenyum ramah, "hai juga. Iya, saya karyawan baru. Perkenalkan, Gea Morina," ujar Gea seraya mengulurkan tangannya.

Pria itu pun tersenyum kegirangan, lalu ikut mengulurkan tangannya.

"Dito," ujarnya. "Dari divisi apa?" imbuhnya.

Gea menggeleng membuat Dito mengerutkan keningnya.

"Saya tidak bekerja di divisi manapun sebab saya bekerja sebagai asisten pribadi si bos," ujar Gea membuat Dito membulatkan matanya.

"Wow, hebat! Baru mulai bekerja sudah jadi aspri. Tapi tumben pak bos pake Aspri, biasanya nggak pernah. Malah selama aku kerja di sini, baru kali ini pak bos pake Aspri," gumam Dito merasa aneh.

"Heh, Dito, kenalan cewek cantik nggak ngajak ngajak lagi," sergah rekan kerja Dito. "Hai, gue Heru, salam kenal," serunya seraya mengerlingkan sebelah matanya.

"Ck ... ganjen amat loe, Her! Aspri bos tuh. Jangan macam-macam!" seru rekan kerja Heru dan Dito membuat Gea terkekeh.

"Seriusan? Si bos pake Aspri?" seru Heru membuat Gea tak dapat menyembunyikan tawanya membuat para karyawan Maxxon Group berjenis kelamin laki-laki mulai memenuhi pantry.

"Astaga, senyum aja cantik, apalagi lagi ketawa kayak gini. Bisa gue bawa pulang nggak sih Aspri si bos?" celetuk seorang karyawan laki-laki membuat Gea menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenalin, aku Gea. Salam kenal semuanya," seru Gea lalu rekan-rekan kerja Maxxon Group pun mulai berkenalan dengannya bergantian satu persatu.

"Ada apa ini ribut-ribut?" seru suara bariton dari luar pantry membuat semua karyawan yang memenuhi pantry tiba-tiba menegang.

"Kenapa semuanya tiba-tiba diam?" tanya Calvin lalu matanya tampak memperhatikan ke sekeliling hingga matanya tiba-tiba bersirobok dengan mata Gea yang begitu indah.

"Maafkan kami tuan. Kami hanya sedang saking berkenalan," ujar Gea menjelaskan dengan sopan.

Mata Calvin memicing, "sebentar lagi waktu istirahat habis, segera kembali ke tempat kalian masing-masing," serunya yang diangguki karyawannya. Mereka pun segera membubarkan diri sambil menarik nafas lega

Setelah semua orang pergi, Calvin pun meninggalkan pantry tanpa berbicara sepatah kata pun. Calvin memperlakukan Gea dengan dingin berharap Gea segera mengundurkan diri. Bagaimana pun ia tak mau memicu kesalahpahaman dan pertengkaran dengan istrinya yang bisa datang kapan saja.

"Tuan, ini makan siang Anda," ujar Gea seraya menghidangkan makan siang yang telah ia pesan dari restoran kesukaan Calvin.

"Apa aku memintamu menyiapkan makan siangku?* seru Calvin geram.

"Tidak, tuan. Tapi sudah kewajiban saya melayani tuan sebaik mungkin. Apalagi saat ini sudah masuk jam makan siang dan sepengetahuan saya, Anda lebih suka makan siang di ruang kerja Anda," tukas Gea dengan tangan tetap cekatan menyiapkan makan siang Calvin.

Calvin membungkam, sebab apa yang dikatakan Gea memang benar. Kalaupun ia makan di luar, ia tak mau sendiri. Biasanya ia pergi makan dengan Anastasia ataupun temannya. Dengan terpaksa, Calvin pun menikmati makan siang yang telah disiapkan Gea. Apalagi makanan yang terhidang merupakan makanan kesukaannya.

...***...

...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Mariani SPd

Mariani SPd

gpp lah jadi pelakor, lagian istri pak bos gak mau urus suami sendiri dan juga mumpung belum punya anak.
semangat Gea.....

2024-12-23

0

Pisces97

Pisces97

aku sedikit jijik ya gea tingkah mu seperti pelakor pada umumnya pelakor sok baik hati hahahhaha 🤣🤣🤣

2024-06-15

0

Samsia Chia Bahir

Samsia Chia Bahir

🤔🤔🤔🤔🤔

2022-10-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!