Gea tampak tercenung di kamar rawat ibunya. Ia telah meminta waktu pada Nathalia untuk memikirkan terlebih dahulu. Ia tak mau sembarangan mengambil keputusan. Ia bingung harus mengambil keputusan apa.
Sebenarnya tawaran itu terdengar begitu menggiurkan. Akan tetapi, ia tak ingin menjadi penyebab hancurnya rumah tangga seseorang. Ia tak ingin menjadi seorang pelakor. Ia takut ketulah dengan perbuatannya sendiri.
Istimewanya, keluarganya dahulu pun hancur karena orang ketiga yang kini lebih dikenal dengan istilah pelakor. Toh walaupun sebenarnya itu bukan murni kesalahan sang wanita yang masuk ke dalam rumah tangga orang tuanya lalu merebut ayahnya. Sebab tanpa andil ayahnya, mau bagaimana pun pelakor berusaha, mau memutar langit jadi bumi, bumi jadi langit, semua takkan pernah terjadi. Rumah tangga orang tuanya takkan hancur dan kandas.
Akibat iman ayahnya yang lemah, ayahnya pun terjerumus pada tipu muslihat sang rubah betina. Demi seorang janda, ayahnya tega menjandakan ibunya serta menelantarkan dirinya. Hati ibunya sakit, pun dirinya sebagai seorang anak kecewa berat. Ayahnya merupakan cinta pertamanya, tapi cinta pertamanya justru menghancurkan hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil yang bisa tertiup angin kapan saja.
Dan kini, ia ditawari menjadi seorang pelakor. Sesuatu yang sangat ia benci sampai ke sumsum tulang. Gea terkekeh sumbang. Merasa lucu, pelakor pun kini sudah merambah menjadi sebuah pekerjaan. Kata orang tak perlu pendidikan tinggi untuk menjadi seorang pelakor, yang penting gatal.
Gatal ya di garuk atuh, bukan jadi pelakor. Lagian, bagaimana caranya menjadi seorang pelakor, menggoda pria saja ia tak pernah. Seumur hidupnya hanya didedikasikan untuk mencari pundi-pundi rupiah. Baik itu untuk memenuhi kebutuhan ia dan ibunya, maupun untuk pengobatan ibunya. Mana ada dia dekat dengan lelaki satu orang pun. Semasa sekolah memang banyak laki-laki yang mencoba flirting-flirting dengannya, tapi tak ada satupun yang ia tanggapi. Menurutnya, merajut kasih dengan lawan jenis hanya akan membuang waktunya, menguras konsentrasinya baik dalam hal belajar maupun bekerja, membuatnya abai akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak.
Hah, sungguh idelis sekali pola pikirnya!
Saat sedang melamun, tiba-tiba Gea teringat belum meminta izin pada pemilik minimarket tempatnya bekerja. Ia pun segera berpamitan dengan ibunya yang masih terbaring lemah untuk meminta izin beberapa hari pada atasannya. Walaupun dalam hati, ia telah pesimis akan diizinkan. Bukan hanya tidak diizinkan, tapi kemungkinan besar ia akan diberhentikan. Namun, ia tak boleh berlaku tak sopan. Ia masuk ke tempat itu dengan baik-baik. Bu Ratih pun menerimanya dengan baik-baik. Jadi untuk meminta izin pun harus ia lakukan dengan baik-baik. Kalaupun akhirnya ia harus diberhentikan dari tempat itu, ia harus bertemu dengan pemiliknya baik-baik. Ia tak mau dicap karyawan tak tahu diri karena keluar tanpa pemberitahuan ataupun sekedar berbasa-basi.
"Hati-hati ya, nduk!" ucap ibu Gea sendu.
Sungguh ia prihatin melihat putrinya harus pontang-panting banting tulang setiap hari demi dirinya. Kenapa juga penyakit ini harus menggerogoti tubuhnya. Sudahlah hidupnya menderita karena ditinggal suami, kini harus terbaring lemah tak berdaya karena penyakitnya yang sulit pulih. Ya, sulit pulih, bukan tidak bisa. Seandainya ia memiliki uang yang banyak, tentu ia akan dengan mudah berobat saat awal penyakit itu mampir di tubuhnya. Namun, keterbatasan biaya, membuatnya kerap abai untuk berobat. Alhasil, penyakitnya kian parah membuat Gea harus banting tulang siang malam demi biaya pengobatannya. Sungguh malang nasib gadis kecilnya.
"Iya, Bu. Kalau begitu, Gea pergi dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Gea yang tetap berusaha tersenyum lebar.
"Wa'alaikum salam, nduk," sahut ibu Gea sambil memandang punggung gadis kecilnya yang begitu tegar menghadapi berbagai macam ujian hidupnya.
...***...
"Ta, ada Bu Ratih?" tanya Gea pada Lita yang sedang menyusun produk baru di etalase. Produk-produk baru itu disusun sesuai kategorinya untuk mempermudah pelanggan mencari barang yang mereka inginkan. Harga-harga juga ditempel dengan jelas untuk mencegah pembeli merasa tertipu karena kadang ada minimarket yang asal menempelkan harga. Kalau harga barangnya saat dibayar jauh lebih murah sih mereka oke saja, tapi kalau alai jadi lebih mahal, mereka pasti akan protes dan marah. Dan yang pertama kali akan kena sembur tentu saja bagian kasir.
"Ada. Tuh di dalam," ujar Lita yang sudah menghentikan pekerjaannya. "Kamu mau langsung kerja atau gimana?" tanya Lita.
"Belum, ibu aku masuk rumah sakit dan kondisinya masih belum stabil jadi belum bisa pulang. Jadi aku mau izin dulu," tukas Gea yang diangguki oleh Lita.
"Semangat ya! Sebenarnya aku tuh was-was lho, Ge! Dari tadi Bu Ratih diem aja udah kayak lagi PMS. Eh, tapi apa Bu Ratih masih PMS ya? Atau jangan-jangan udah menopause," ujarnya polos membuat ia mendapatkan satu jitakan dari Gea.
"Husst, nggak boleh ngomong gitu! Didengar bu Ratih, bisa panjang urusannya," sergah Gea membuat Lita nyengir lebar.
Setelah itu, Gea pun segera berlalu menuju ruangan Bu Ratih. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ia pun diizinkan masuk ke ruangan Bu Ratih.
Gea terlihat rikuh saat Bu Ratih menatapnya dengan sorot tak terbaca.
"Ada apa Gea? Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Bu Ratih datar dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Ini Bu, saya ... saya mau minta izin beberapa hari soalnya ibu saya ... ibu saya sakitnya kambuh jadi ... beliau harus mendapatkan perawatan di rumah sakit," ujar Gea terbata membuat Bu Ratih menghela nafas panjang.
"Ge, bukannya ibu mau kejam sama kamu, bukan. Tapi ... kamu tahu sendiri kan karyawan minimarket kita ini cuma 6 orang dengan pergantian shift 3-3. 2 kasir, 2 pegawai. Dan kalau kamu sering nggak masuk kerja, kasihan rekan kamu lainnya. Kalia kerja bertiga saja suka keteteran kalau lagi ramai, apalagi kalau kamu sering masuk gini," ujar Bu Ratih dengan sabar membuat Gea tertunduk lesu. Ia sudah mewanti-wanti hal ini akan terjadi. Jadi ia sudah siap lahir dan batin. Entah apa ini pesimis atau optimis, yang pasti ia benar-benar memahami maksud dari kata-kata Bu Ratih.
"Maafkan saya Bu karena tidak bisa bekerja dengan baik selama ini. Dan terima kasih atas segala kebaikan ibu telah menerima saya di sini. Kalau begitu, saya mohon undur diri. Assalamu'alaikum," ujar Gea seraya tersenyum pasrah dan ikhlas.
"Wa'alaikum salam. Tapi tunggu Gea," panggi Bu Ratih seraya mengambil sesuatu dari dalam lacinya. "Ini, terimalah," imbuhnya sambil menyodorkan sebuah amplop coklat yang Gea tahu benar apa isinya.
"Ini ... "
"Anggap aja itu pesangon kamu selama bekerja di sini. Ibu berdoa, semoga ibumu lekas pulih dari sakitnya. Semangat ya anak cantik. Kamu gadis yang baik. Insya Allah kebahagiaan akan segera menghampirimu," ujar Bu Ratih seraya mengusap surai panjang Gea.
Mata Gea memanas. Setitik bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Ia terharu dengan kebaikan Bu Ratih. Biarpun kerap bersikap cerewet dan ketus, sebenarnya bu Ratih sangatlah baik. Ini buktinya. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia memperoleh gajinya, tapi hari ini ia sudah mendapatkan gaji alih-alih pesangon seperti yang dikatakan Bu Ratih.
Setelah berpamitan dengan Bu Ratih dan Lita serta seorang rekan lainnya, Gea pun bergegas mencari angkutan umum untuk kembali ke rumah sakit. Baru saja Gea menginjakkan kakinya di trotoar, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Panggilan itu ternyata dari rumah sakit yang mengabarkan kalau ibunya kembali kritis. Kaki Gea sontak melemas bagai jelly. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan segera kembali ke rumah sakit. Ternyata keadaan ibunya kian lemah. Obat-obatan yang diperlukan kian banyak dan harganya pun tak murah. Kepalanya sontak saja pening luar biasa membayangkan dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu sebab ia yakin biaya pengobatan ibunya pasti akan membengkak, sedangkan tabungannya saja tidak lagi banyak.
'Cobaan apa lagi ini, Tuhan?' lirih Gea dalam hati.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
kalaupun benar istri dari anaknya bu natalie adalah anak pelakor tetap saja itu gk baik walaupun kita pernah dizolimi atau diperlakukan tidak baik jangan sekali²nya dendam malah menjadi pelakor 😁
maaf ya gea biasanya aku dukung tokoh utama tapi walaupun kamu malang jadi pelakor gk tak dukung sih 🤭
2024-06-14
0
rain🔥asa
paling benci sama laki2 yg menjandakan istrinya demi janda gatel.
& meyatimkan anak kandung demi anak org.
smpai mati pun kalo bisa jangan dimaafin
2022-11-21
6
Samsia Chia Bahir
🤔🤔🤔🤔🤔🤔
2022-10-21
0