Bab. 6

Mata Gea mengerjap beberapa kali. Setelah gelisah semalaman, pun menangis tak henti-henti membuat tubuh Gea terasa benar-benar tidak enak Kepalanya berdenyut nyeri karena kurangnya istirahat. Bahkan semalam ia melewatkan makan malam karena terlalu gelisah mengkhawatirkan kondisi kesehatan sang ibu. Syukurlah, dini hari tadi keadaan ibunya mulai membaik walaupun tak sepenuhnya. Bahkan pagi ini pun ibunya masih memejamkan matanya.

"Aduh," perut Gea terasa begitu perih. Ia sampai meringis memegangi perutnya. Ia teringat, semalam perutnya hanya ia isi dengan kopi tanpa makanan sedikit pun. Wajar saja perutnya terasa perih pasti ini karena magh nya yang kambuh.

Untung saja ia selalu obat magh di dalam tasnya. Selain itu, ia juga selalu sedia obat sakit kepala. Kelelahan dan kurang tidur sering membuat kepalanya mendadak sakit luar biasa. Jadi ia selalu sedia 2 macam obat itu untuk berjaga-jaga.

Gea pun segera beranjak menuju kamar mandi untuk memenuhi hasrat biologisnya dan mencuci muka serta berkumur. Setelah selesai, ia pun keluar. Setelah memastikan keadaan ibunya baik-baik saja, Gea membuka pintu dan menutupnya secara perlahan agar tidak menggangu tidur ibunya. Ia bermaksud ke cafetaria rumah sakit untuk membeli sarapan agar perutnya tak lagi lapar dan bisa segera minum obat.

Gea tampak menikmati sarapannya, mie instan dan sebuah roti coklat sudah cukup untuk menjadi amunisinya agar siap menjalani hari.

Karena kesibukannya menjaga ibunya, urusan cucian tetangganya ia serahkan pada bude Ita sementara. Untuk beberapa hari ini, tak dapat meninggalkan ibunya lama-lama. Seandainya ada yang bisa diajak menjaga ibunya secara bergantian, mungkin ia akan bisa meninggalkan ibunya dengan tenang. Sayangnya ia tak punya. Ibunya anak tunggal dan kedua orang tua ibunya juga anak tunggal dan mereka berdua juga telah lama tiada. Alhasil Gea hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk mengurus dan menjaga ibunya.

Setelah menyelesaikan santap paginya, Gea pun segera kembali ke ruangan ibunya. Ibunya ditempatkan di ruangan kelas 3 jadi tidak hanya ada ibunya di sana, tapi ada beberapa pasien lain. Jadi setidaknya ibunya tidak benar-benar ia tinggalkan sendirian karena ada orang lain di dalamnya.

Gea membuka pintu dengan hati-hati takut mengganggu pasien lainnya. Seorang ibu-ibu yang menunggui anaknya yang juga sakit tersenyum saat bersitatap dengannya.

"Ibu kamu tadi udah bangun jadi ibu segera panggil perawat untuk memeriksanya," ujar ibu itu ramah.

"Duh, terima kasih banyak, Bu! Maaf, merepotkan!" ucap Gea tulus.

"Nggak papa, nak. Tuh, barusan suster nganterin sarapan. Pasti ibu kamu kesulitan untuk makan sendiri," ujar ibu itu memberitahu.

"Oh, ya! Kalau begitu, sekali lagi terima kasih, Bu," ucap Gea lagi seraya permisi untuk menghampiri ibunya.

Dan seperti yang dikatakan Ibu tadi, ibunya memang saat ini sedang ingin memakan sarapannya namun karena adanya jarum infus yang menancap di lengan kanannya membuat Ibu Gea merasa kesulitan.

Dengan sigap, Gea segera meraih piring berisi bubur dan lauknya lalu menyendokinya ke mulut sang ibu.

"Ibu kok nggak tunggu Gea dulu kalau mau makan?" ujar Gea membuat ibunya tersenyum.

"Ibu pikir kamu bakal lama," sahut ibunya pelan.

"Gea cuma sarapan aja kok jadi nggak bakal lama."

Gea pun terus melanjutkan menyuapi ibunya dengan sabar. Tak peduli ibunya makan dengan begitu lambat. Masa' begitu saja udah protes. Ibu kita saja sanggup menyuapi kita dengan sabar saat kita kecil, jadi kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama pada ibu kita?

Gea baru saja hendak membereskan piring kotor yang di saat bersamaan sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Setelah melihat, ternyata panggilan itu berasal dari Mega. Mega menanyakan kapan Gea bisa bertemu atasannya kembali. Gea pun mengatakan sore ini ia bersedia bertemu, maka di sinilah mereka kini. Di dalam ruangan VVIP sebuah restoran mewah. Tampak Gea dan Nathalia duduk saling berhadapan, sedangkan Mega duduk di sofa single yang tak jauh dari posisi mereka.

Sama seperti tempo hari, kali ini pun Nathalia telah memesankan beberapa macam makanan dan meminta dia makan terlebih dahulu baru setelahnya memulai pembicaraan mereka.

Mata Gea berbinar cerah saat melihat aneka hidangan yang terlihat sangat enak dan mahal. Biasanya ia melihat hidangan ini di film-film atau acara memasak, tapi kali ini makanan enak ini justru terhidang di hadapannya. Restoran mewah, ruangan bagus, hidangan super nikmat nyaris saja membuat liurnya menetes.

Selesai makan, keduanya mengelap bibir mereka dengan tisu yang telah disediakan. Kemudian, mereka pun memulai pembicaraan sesuai dengan tujuan sebelumnya.

"Bagaimana, Ge? Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya Nathalia straight to the point.

Gea tampak meremas kedua tangannya. Ia sebenarnya ragu dengan apa yang ingin ia katakan, tapi ia tetap harus membuat keputusan.

"Sebelumnya saya minta maaf Bu, saya tidak bisa. Penawaran ibu memang menggiurkan, tapi saya tidak ingin merusak rumah tangga orang lain. Istimewanya rumah tangga ibu saya pun rusak karena orang ketiga. Saya sangat membenci orang ketiga atau yang lebih tren sekarang sebutannya pelakor. Dengan mata kepala saya sendiri saya melihat betapa hancurnya Ibu saya akibat ditinggalkan ayah saya yang direbut oleh seorang pelakor. Karena itu, saya tidak ingin menjadi penyebab hancurnya rumah tangga orang lain. Maaf, Bu, saya menolak penawaran ibu," ucap Gea tenang.

Memang sangat disayangkan melewatkan kesempatan langka seperti ini. Namun, bila sampai ibunya tahu ia menjadi pelakor demi biaya pengobatan dirinya, ibunya pasti akan marah dan kecewa.

Nathalia diam mendengarkan segala penuturan Gea. Ia suka dengan sikap Gea dan ia pun sebenarnya telah menyadari Gea akan memberikan jawaban seperti ini. Namun, ia tak mau menyerah begitu saja.

Nathalia lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya ke hadapan Gea. Gea awalnya tak paham saat melihat Nathalia meletakkan sebuah foto di hadapannya. Namun saat melihatnya, pupil Gea melebar. Nathalia tersenyum penuh arti.

"I-ini ... " nafas Gea tiba-tiba tercekat setelah melihat foto itu.

Lalu tanpa pikir panjang, Gea pun langsung menerima penawaran Nathalia membuat wanita itu tersenyum senang. Rencananya telah satu langkah di depan. Tinggal melancarkan langkah selanjutnya.

Sebenarnya Gea benar-benar penasaran, apa sebenarnya alasan Nathalia menjadikannya pelakor di dalam rumah tangga anaknya sendiri. Bukankah artinya Nathalia berencana menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri, tapi apa alasannya. Tak mungkin kan Nathalia melakukan hal tersebut tanpa alasan. Namun sayangnya, Nathalia tak ingin menjelaskan sama sekali alasannya. Katanya, ia akan tahu sendiri nanti setelah berhasil masuk ke dalam rumah tangga putranya. Dari foto, Gea dapat melihat putra Nathalia sangatlah tampan pun istrinya juga sangat cantik. Tapi apakah ia bisa menjalankan misi dari Nathalia? Gea sedikit ragu memikirkan perbedaan yang sangat mendasar antara dirinya dan istri dari lelaki yang harus digodanya itu.

Seolah dapat membaca kekhawatiran di wajah Gea, Nathalia pun menjelaskan apa-apa yang harus ia lakukan nanti dibantu oleh asisten pribadinya, Mega.

...***...

...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

haduh gea mau² saja jadi pelakor 😏
aku benci lho kata pelakor 😠

2024-06-14

0

fatma

fatma

🧐

2022-12-01

1

rain🔥asa

rain🔥asa

apakah menantunya nathalia anaknya pelakor ibunya gea?

2022-11-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!