Sepanjang pulang kerja, Calvin tak juga keluar dari ruang kerjanya. Padahal hari sudah beranjak sore, tapi ia justru terus-menerus mengurung diri seraya meratapi mengapa rumah tangganya tidaklah seindah impiannya. Ia sangat ingin seperti orang tuanya dahulu, yang hidup bahagia, saling mencintai, dan harmonis. Kendati Nathalia juga sibuk dengan karirnya sebagai pemimpin di rumah sakit miliknya, tapi Nathalia tak pernah abai akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri maupun ibu. Ia sangat senang melihat bagaimana ibunya yang melayani ayahnya dengan sepenuh hati. Walaupun jarang memasak, tapi saat makan Nathalia akan melayani ayahnya dengan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya. Menyiapkan pakaian kerja, mengantarkan sampai ke ambang pintu saat ayahnya akan pergi bekerja, duduk bersama sambil bercengkrama, tempat berbagi suka suka juga keluh kesah, hal itulah yang mendasarinya ingin segera mempersunting Anastasia sebagai seorang istri.
Dulu, Anastasia hanya seorang asisten designer tempatnya bekerja. Keinginan Anastasia menjadi seorang desainer handal membuatnya menerima pinangan Calvin dengan syarat Calvin mau mendukungnya menjadi seorang desainer. Dengan senang hati, Calvin mewujudkan segala impian Anastasia. Apapun Calvin lakukan demi mendukung Anastasia mengembangkan diri dan potensi hingga akhirnya masuk tahun ke empat pernikahan mereka, Anastasia berhasil mewujudkan segala impiannya.
Dulu, Calvin pikir meskipun bekerja, Anastasia pasti tetap akan mengutamakannya, seperti ibunya yang mengutamakan anak dan suaminya.
Dulu, Calvin pikir Anastasia hanya akan menunda memiliki seorang anak sebab saat itu ia benar-benar sibuk karena karirnya yang baru saja merangkak naik, tapi siapa sangka hingga 3 tahun lebih bahkan hampir 4 tahun pernikahan mereka, Anastasia masih dengan pendiriannya yang belum ingin memiliki seorang keturunan.
Jadi kapan pikirnya?
Kapan Anastasia akan memikirkan keinginannya?
Kapan Anastasia akan mewujudkan impiannya?
Kapan Anastasia lebih banyak waktu untuknya?
Atau jangan-jangan Anastasia hanya memanfaatkannya saja untuk mewujudkan mimpi-mimpinya?
Calvin menggeram marah memikirkan hal tersebut. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian membuka pintu sebuah lemari kecil tempatnya menyimpan beberapa botol minuman beralkohol. Ia memang menyimpan minuman tersebut untuk diminum saat-saat ia sedang memiliki banyak masalah dan beban pikiran seperti ini. Ia tidak memiliki tempat berbagi. Ia bukanlah orang yang mudah terbuka tentang segala apa yang ada di hati dan pikirannya. Meskipun dengan teman-temannya, ia tak mau menceritakan perihal masalahnya. Apalagi dengan sang ibu. Ia tak mau makin membebani ibunya dengan masalah rumah tangganya. Dan alkohol adalah tempat pelampiasannya. Ia tidak suka datang ke bar hanya untuk memuaskan dahaganya dengan minuman keras tersebut. Ia lebih suka minum seorang diri untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Calvin membuka botol minuman itu dan melemparkan tutupnya asal. Kemudian ia menenggak minuman itu langsung dari botolnya. Entah berapa banyak yang ia minum, yabg ia tahu kini kepalanya mulai terasa ringan. Ia meracau sambil terkekeh sendiri.
"Kau sangat jahat, Cia! Kau kejam. Tidakkah kau pernah memikirkan perasaanku, hah? Kau selalu memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya memikirkan karir dan kebahagiaanmu. Aku tidak hanya butuh tubuhmu, tapi aku butuh kehadiranmu. Keberadaanmu. Tapi kau hanya datang untuk memberikan tubuhmu kemudian pergi seolah aku ini hanya tempat pelampiasanmu saja. Seolah aku ... hanya butuh tubuhmu saja."
Calvin terus meracau membuat Gea yang baru saja masuk ke ruangan itu merasa iba. Sebenarnya Gea masuk ke ruangan itu untuk memeriksa keadaan Calvin, tapi yang dilihatnya justru keadaan Calvin yang begitu kacau. Kemejanya terbuka semua kancingnya. Dasinya entah dilempar kemana. Jasnya tersampir di atas sofa. Tidak ada Calvin yang senantiasa tampil rapi dan perfeksionis. Yang ada adalah Calvin yang begitu kacau dengan racauan yang mengungkapkan kegelisahan hatinya.
"Tuan, ini saya, Gea," ujar Gea sambil mencoba memapah Calvin untuk duduk di sofa sebab Calvin justru duduk di lantai dengan punggung bersandar di tepi sofa.
"Cia, kenapa kau jahat? Kenapa kau tega? Cia, apa aku tak ada artinya di hatimu?" racau Calvin sambil menggenggam tangan Gea yang disangkanya Anastasia.
"Tuan, ini saya Gea, bukan nyonya Cia," ujar Gea dengan lembut. Tapi Calvin menggeleng, tidak, kau ... "
Lalu mata Calvin tampak memindai dan memperhatikan Gea dengan seksama.
Karena sedang mabuk, penglihatan Calvin sedikit mengabur. Namun Calvin tetap berusaha memfokuskan pandangannya. Perlahan-lahan, wajah yang dikiranya Anastasia tadi berubah menjadi Gea.
"Gea ... "
"Iya tuan, ini aku Gea. Mari, saya antar tuan ke kamar!" ujar Gea sambil berusaha membantu Calvin berdiri dan memapahnya menuju kamar.
"Cia, dimana dia?" tanya Calvin sambil celingukan, belum sadar kalau sejak awal tak ada Anastasia di sana.
"Nyonya Anastasia tidak ada di sini, tuan. Dia belum kembali," sahut Gea yang belum tahu kalau tadi siang Anastasia sempat datang ke kantor.
Calvin mendesah lirih. Gea kesulitan untuk memapah tubuh Calvin yang lebih besar dari tubuhnya. Tinggi Gea hanya sebatas dagu Calvin, tentu saja Gea akan kesulitan memapahnya. Untung saja ruang kerja Calvin juga di lantai 2 sama seperti kamarnya jadi ia tidak perlu memapah menaiki tangga.
"Duh, badan tuan kok besar banget sih! Overdosis vitamin ya tuan! Mana berat banget," seloroh Gea sambil tertatih memapah tubuh Calvin.
Calvin terkekeh geli. Entah kemana rasa kesalnya tadi menghilang. Padahal ia masih dikuasai mabuk, tapi ia sudah bisa sedikit melupakan kekesalannya.
"Saya itu bukan overdosis vitamin tapi kamunya aja yang kekurangan vitamin dan kalsium," balas Calvin membuat Gea memberengut kesal.
"Yayaya, gimana ya, bukan salah saya dan ibu juga tuan. Saya orang miskin, mana mampu beli vitamin mahal kayak tuan terus beli susu yang mahal-mahal gitu. Bisa-bisa kami nggak makan kalau beli vitamin sama susu yang kayak tuan minum," omelnya yang kini sudah berada di kamar Calvin. Gea membantu Calvin duduk.
"Tuan tunggu di sini, biar aku ambilkan pakaian ganti," tukas Gea yang segera beranjak mengambil baju kaos dan celana pendek yang sekiranya nyaman untuk Calvin kenakan.
Calvin hanya terdiam sambil memperhatikan Gea dengan setengah kesadarannya. Lalu Gea segera kembali dan membuka satu persatu kancing baju Calvin dan membukanya.
Jantung Gea berdebar kencang sebab ini pertama kalinya ia membuka baju seorang pria dan melihat dada bidangnya. Gea sampai kesulitan menelan ludahnya.
"Astaga, tuan membuat mata perawan saya ternoda saja melihat dada tuan yang sandarable kayak gini," seloroh Gea membuat Calvin menarik sudut-sudut ujung bibirnya.
"Memangnya kau masih perawan?" entah sadar atau tidak, pertanyaan itu terlontar saja dari bibir Calvin.
"Iyalah, tuan. Masih ting-ting, original, no kw-kw," jawab Gea bersungut-sungut lantaran kesal.
"Bukannya zaman sekarang susah cari perempuan yang masih perawan ya? Kebanyakan perawan rasa janda. Mending janda kembang, pas dicoba kayak janda anak 5," seloroh Calvin sambil tergelak membuat Gea berdecak.
"Anda sudah benar-benar mabuk ternyata," ledeknya. "Tuan, buka sendiri celananya bisa kan?" Ujar Gea sambil menyodorkan sebuah celana ke depan Calvin, sedangkan baju sudah ia bantu pasangkan.
Calvin menggeleng, "cuma bisa lepasin," jawabnya polos sambil membuka kaitan celana kemudian menurunkan resletingnya membuat Gea reflek menutup mata.
Tapi dari sela-sela jarinya, Gea justru mengintip. Gea membelalakkan matanya saat melihat apa yang terpampang di depannya. Ia bahkan sampai menelan ludahnya lagi.
Ternyata di dalam celana bahan yang ia pakai, Calvin mengenakan celana bokser tapi yang membuatnya terperangah adalah gundukan besar yang terpampang di balik celana itu.
"Astaga, mata perawan ku lagi-lagi ternoda!" racau Gea kesal. Gea sudah enggan mengganti celana itu, toh Calvin juga mengenakan celana bokser.
Mata Calvin kian berat lalu Gea membantu membaringkan Calvin setelah menyeka wajah dan lehernya terlebih dahulu agar Calvin merasa nyaman saat tertidur. Tak lupa Gea menutupi tubuh Calvin dengan selimut. Baru saja Gea ingin beranjak keluar dari kamar, Calvin justru menggenggam erat tangan Gea membuatnya terpaksa duduk di lantai dengan tangan kanannya yang ada dalam genggaman Calvin. Suara nafas yang berhembus secara teratur menandakan Calvin sudah lelap dalam tidurnya. Karena terlalu lelah, akhirnya Gea pun ikut tertidur dengan kepala yang berada di sisi tempat tidur.
...***...
Hari telah cukup larut saat Calvin membuka matanya.
Calvin bingung, seingatnya ia sedang minum di ruang kerjanya, tapi mengapa ia justru berada di dalam kamar?
Hangatnya genggaman tangannya membuat Calvin melirik, tangan siapa yang begitu hangat yang ada dalam genggamannya itu. Mata Calvin terperangah, saat tahu tangan Gea lah yang sedang ia genggam, sedangkan gadis itu sedang tertidur sambil duduk di lantai dan kepala berada di tepi kasurnya.
Melihat wajah Gea yang menurutnya begitu cantik meskipun tanpa polesan membuatnya cukup terpesona. Hingga entah dapat keberanian dari mana, Calvin memajukan wajahnya dan mengecup bibir merah Gea yang sedikit terbuka.
Sontak saja hal tersebut membangunkan Gea yang tengah tertidur. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Calvin tadi. Tapi sebisa mungkin ia mengendalikan diri dan bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tak ingin merasa GR dengan apa yang Calvin lakukan. Bisa saja ia melakukan itu karena belum benar-benar sadar atau mengira dirinya adalah Anastasia seperti semalam.
Gea pun segera berdiri dan berpamitan untuk menyiapkan makan malam mereka yang tertunda. Gea bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, berbanding terbalik dengan Calvin yang sedikit salah tingkah.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
dasar laki² buaya masih punya istri bisa² mencari ciuman wanita lain...
sekalipun istrimu buruk gk baik melakukan hal dibelakang istrimu 😏
2024-06-16
0
🌸 Airyein 🌸
Ekhemm udh mulai curi2 nyosor
2024-02-28
0
🌸 Airyein 🌸
Nah. Thats the point man!
2024-02-28
0