Bab. 10

Karena merasa tidak ada yang harus ia kerjakan lagi, Gea pun berpamitan pada Calvin untuk pulang terlebih dahulu. Sebenarnya ia ingin mengunjungi ibunya di rumah sakit, barulah kemudian pulang ke rumah Calvin. Atas titah Nathalia, mulai hari itu Gea akan tinggal di rumah Calvin. Calvin hanya tinggal berdua dengan istrinya. Bila istrinya tidak ada, maka ia hanya akan sendirian di rumah besar miliknya. Pembantu yang dipekerjakan Calvin hanya bekerja mulai pukul 5 pagi hingga tengah hari. Biasanya untuk makan malam, Calvin lebih suka memesan dari restoran langganannya. Bila ada sang istri, barulah ia makan berdua di luar. Hanya penjaga rumah yang bekerja seharian. Penjaga rumah itu tinggal di paviliun belakang rumah Calvin. Ia tinggal dengan istrinya yang bekerja sebagai pembantu di rumah itu juga.

Tok tok tok ...

"Masuk!" titah Calvin datar l.

"Kamu? Mau ngapain lagi kamu ke ruangan saya? Saya tidak butuh apapun, keluar sana!" usir Calvin dengan memasang wajah dingin dan angkuh.

Gea tersenyum manis. Ia abaikan tatapan dingin dan ucapan ketus Calvin yang ia sadari itu karena ia tak menyukai keberadaannya.

"Maaf tuan, saya hanya ingin berpamitan untuk pulang terlebih dahulu!" ucap Gea lembut tapi justru dibalas Calvin dengan dengusan.

"Mau pulang ya pulang aja! Gitu aja kok repot!" ketus Calvin yang tangannya kembali sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya.

"Terima kasih, tuan," ucap Gea tetap dengan sopan santunnya membuat Calvin berdecak karena sikap Gea yang sepertinya sulit ia provokasi.

...***...

"Ibu udah lama tidurnya, sus?" tanya Gea pada suster yang bertugas menjaga ibunya sesaat setelah masuk ke ruang perawatan itu.

"Belum lama, Bu," jawab suster itu.

"Suster tadi udah makan siang?" tanya Gea ramah. Ia takut karena terlalu fokus menjaga ibunya, suster itu sampai mengabaikan makan siangnya.

"Alhamdulillah udah, kalau ibu?"

"Alhamdulillah udah juga. Oh ya, jangan panggil ibu lah sus, kayaknya umur saya masih di bawah suster deh. Panggil nama aja, Gea," tukas Gea seraya menghempaskan bokongnya pada kursi yang ada di samping ranjang sang ibu. Kini ibunya menempati ruangan VVIP rumah sakit itu. Ruangannya lebih luas dan privasi, bahkan ada sofa yang bisa dijadikan tempat istirahat bagi yang menemani pasien. Ada televisi yang tergantung di dinding tepat di seberang tempat tidur sehingga Martini bisa menonton televisi untuk mengusir kebosanannya. Gea bersyukur, Nathalia memberikan perawatan terbaik pada ibunya di rumah sakit itu. Oleh karena itu, Gea akan melakukan tugasnya dengan sepenuh hati agar tidak mengecewakan orang yang sudah berbaik hati pada ibunya itu.

Dengan seulas senyum, suster bernama Indira itu mengangguk setuju.

"Gea mau kopi atau teh mungkin? Sekalian saya mau buat," tawar Indira.

"Nggak usah sus, terima kasih. Entar aku kebanyakan minum manis malah jadi diabetes, soalnya di tempat kerja tadi aku udah 2 kali buat, kopi terus teh," ujar Gea menolak secara halus.

Indira mengangguk lalu ia pun segera membuat teh untuk dirinya sendiri dengan air panas dari dispenser yang memang disediakan di ruangan itu.

"Keadaan ibu saya hari ini baik-baik aja kan sus? Makannya gimana?"

"Alhamdulillah, ibu kamu baik-baik aja. Makannya juga tadi lumayan banyak. Semoga ibu kamu segera sehat ya, Ge?"

"Makasih sus. Titip ibu ya sus selama saya pergi. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya," tukas Gea yang diangguki Indira seraya tersenyum.

...***...

Calvin mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota. Sesekali ia melirik jarum jam di pergelangan tangannya, senja mulai menyapa, awan putih kini telah mulai berganti menjadi keemasan, namun mobil yang dikendarai Calvin belum juga tiba di rumah karena kemacetan. Setelah berjuang hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil Calvin masuk ke pekarangan rumahnya yang memang cukup besar dan mewah.

Baru saja Calvin turun dari dalam mobilnya, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Seulas senyum terbit di bibir tebal berisi miliknya. Ia pikir, itu pasti istrinya.

"Apa Cia sudah pulang? Kenapa dia tidak bilang-bilang? Pasti mau buat kejutan," gumamnya bahagia.

Namun baru saja kakinya naik ke undakan tangga yang menuju teras rumahnya, ia justru melihat sosok perempuan lain membuat senyumnya seketika redup berganti rahang yang mengeras. Mungkin inilah yang disebut harapan tak sesuai ekspektasi sebab ia pikir istrinya lah yang menyambut kepulangannya seperti yang selama ini ia impikan, tapi justru perempuan lain yang menyambutnya.

"Tuan sudah pulang?" sapanya seraya tersenyum manis. Gea mengulurkan tangan untuk mengambil tas yang Calvin tenteng tapi Calvin justru menjauhkan tangannya.

"Ngapain kamu di sini?" seru Calvin dengan wajah dingin dan sorot mata tajamnya.

"Kalau-kalau Anda lupa, bukankah saya adalah asisten pribadi Anda, tuan. Jadi sudah kewajiban saya melayani segala kebutuhan Anda?" ucapnya lembut dengan senyum yang tak kunjung surut dari bibir indahnya.

"Mama memang mempekerjakan mu sebagai asisten pribadi ku, tapi bukan berarti kamu bisa masuk ke dalam rumahku sesuka hatimu!" bentak Calvin namun tak membuat Gea bergeming.

"Saya hanya menjalankan tugas dan kewajiban saya tuan. Kalau Anda tidak suka, silahkan Anda bicarakan pada nyonya Nathalia. Silahkan masuk tuan! Sebentar lagi Maghrib," ujar Gea dengan senyum merekah membuat Calvin geram.

Calvin pun segera beranjak dari tempatnya, masuk ke dalam rumah. Ia pikir percuma saja berdebat dengan Gea, toh yang memiliki kuasa memang ibunya.

Baru saja Calvin berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Calvin menghentikan langkahnya dan berbalik, "kau bertugas melayaniku kan?" ujarnya yang diangguki Gea dengan cepat, "apakah kau juga bertugas melayani ku di atas ranjang?" lanjutnya seraya menyeringai membuat Gea membeku dengan wajah yang memucat.

Calvin tersenyum kemenangan saat melihat wajah Gea yang tampak pias.

"Cih, pura-pura polos padahal pasti kau sama seperti perempuan lainnya! Murahan," desis Calvin seraya melangkahkan kakinya naik ke lantai atas.

Gea yang mendengar itu lantas mengerutkan keningnya, "enak aja! Gue masih ting-ting ya!" decak Gea saat punggung Calvin telah terlihat menjauh.

...***...

"Aroma apaan ini? Harum banget. Apa ada yang masak di dapur? gumam Calvin yang saat itu sedang memeriksa pekerjaannya di laptop.

Merasa penasaran, Calvin pun segera turun dan menghampiri dapur. Mata Calvin membelalak saat melihat sosok yang tengah berkutat di dapur itu ternyata Gea.

"Ngapain kamu di situ?" ketus Calvin membuat Gea tersentak.

"Astagfirullah, tuan ngagetin saya aja," pekik Gea seraya mengusap dadanya. "Tuan nanya saya lagi ngapain? Ya masaklah tuan, mata tuan masih normal kan? Masa' lagi main monopoli, tuan ada-ada aja deh!" celoteh Gea yang kembali berkutat dengan wajan dan spatula.

"Iya, saya juga tahu kamu lagi masak, tapi kenapa? Emang di rumah kamu nggak ada dapur sampai numpang masak di sini?" ketus Calvin seraya membuka kulkas lalu menenggak air putih dari salah satu botol yang ada di dalamnya.

"Ck ... tuan ini aneh deh! Kan nyonya besar udah bilang kalau saya itu asisten pribadi Anda dan tugas saya melayani Anda termasuk menyediakan makanan yang lezat, sehat, bergizi, dan higienis. Untuk itu, mulai malam ini saya akan tidur di sini, sekarang Anda sudah jelas kan tuan Calvin Alviano?" ucap Gea tegas membuat Calvin meraup wajahnya kasar, tak menyangka ibunya akan bertindak sejauh itu.

...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

idihh ya jelas lah kamu Dimata Calvin wanita murah mana ada wanita satu rumah sama bos mu mentang² kamu asisten pribadi 😏

2024-06-15

0

🌸 Airyein 🌸

🌸 Airyein 🌸

Sekarang aja mara2 awas aja ntar

2024-02-28

0

Nia Yoyo

Nia Yoyo

👍👍👍👍👍

2022-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!