Selesai sarapan, Calvin pun beranjak untuk mengambil tasnya yang telah ia letakkan di atas sofa ruang tamu. Saat selangkah lagi ia sampai di sofa itu, tiba-tiba Gea telah berdiri di depannya. Calvin mengerutkan keningnya, bingung apa yang ingin dilakukan Gea sebenarnya.
Apalagi saat tangan Gea terulur ke depan tubuhnya membuat Calvin reflek mundur selangkah membuat Gea berdecak. Namun Gea tetap melanjutkan apa yang ingin ia lakukan yang ternyata ingin membenarkan dasi Calvin. Calvin berusaha menepis tangan Gea, namun Gea justru melotot. Bola matanya yang bulat, iris hitamnya yang pekat, dan bulu matanya yang lentik bukannya terlihat menyeramkan, tapi sebaliknya, menggemaskan. Tanpa sadar Calvin terkekeh membuat Gea seketika terpana. Jantungnya berdebar kencang dengan kelopak mata yang enggan berkedip. Gea terlalu terkesima dengan pemandangan di depannya.
Hidup yang kaku dan monoton, hanya diisi dengan usaha dan upaya untuk bertahan hidup dan menghidupi ibunya membuatnya nyaris tak pernah berinteraksi secara berlebih dengan lawan jenis. Bahkan memandang mereka lebih dari 10 detik pun tak pernah meskipun itu saat ia bekerja di minimarket. Jadi jangan heran bila Gea sontak salah tingkah saat melihat wajah Calvin yang sangat dekat dengannya. Rahang yang tegas, alis yang hitam dan tebak, bulu mata yang tebal meski tak lentik, bola mata hitam mengalahkan pekatnya malam, hidung bangir yang kokoh, bibir merah agak tebal tapi seksi, ahhh Gea benar-benar terpana saat ini. Bolehkah ia menghentikan waktu sejenak untuk bisa menikmati rupa yang begitu indah dan sedap di pandang mata itu?
'Astaga, kenapa wajah tuan Calvin tampan banget sih? Bikin hatiku jedag-jedug nggak karuan aja!' batin Gea bermonolog seraya merapikan dasi Calvin yang kurang rapi.
"Selesai," seru Gea dengan senyum mengembang.
'Aku bisa gila bola gadis ini terus memperlakukanku seperti ini! Cia saja tidak pernah melayaniku seperti ini. Bahkan setiap aku hendak pergi kerja, ia selalu saja masih bergelung dengan selimut. Ah, ada apa dengan diriku? Mengapa aku justru membandingkan Cia dan Gea? Tentu saja mereka berbeda. Gea sengaja dibayar mama untuk melayaniku, sedangkan Cia itu itu istriku. Lagipula aku seharusnya maklum mengapa Cia bersikap seperti itu sebab ia terlalu kelelahan setelah melakukan banyak hal. Dia wanita karir dengan segudang kegiatan. Bukankah itu memang janjiku untuk membantunya jadi designer yang sukses sebelum menikah denganku. Jadi sudah sepantasnya aku mendukungnya meskipun aku harus mengorbankan waktu kami yang begitu minim. Maafkan aku Cuma karena sudah membandingkanmu dengan gadis lain,' batin Calvin bermonolog.
Calvin menghela nafas panjang. Ia berusaha mengusir pikiran-pikiran yang mulai mengusik ketenangannya.
"Terima kasih," ucap Calvin datar dan dingin membuat Gea bergeming di tempatnya. Baru saja ia bisa melihat senyum manis Calvin, tapi dalam sekejap saja senyum itu pudar berganti ekspresi dingin dan datar.
Gea menghela nafasnya dan mengikuti langkah Calvin yang masuk ke dalam mobilnya. Setelah Calvin duduk di balik kemudi, Gea pun segera menyusul dan duduk di samping Calvin. Calvin sampai menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Keluar!" desis Calvin dingin membuat tubuh Gea menegang. Melihat ekspresi itu cukup membuatnya takut, namun ia tak boleh kalah. Ada ibunya yang membutuhkan biaya yang besar untuk perawatan dan pengobatan. Apalagi biaya transplantasi ginjal yang biayanya mencapai 300 juta. Meskipun mereka belum menemukan pendonor yang cocok, tapi tetap uang itu sebisanya harus sudah tersedia sehingga bila waktunya tiba, operasi bisa segera dilakukan.
Gea berdecak sambil menggelengkan kepalanya, "ternyata tuan agak pikun ya! Kan saya ini asisten pribadi Anda dan nyonya Nathalia telah mempekerjakan saya untuk melayani Anda kapanpun dan dimana pun Anda membutuhkan," tukas Gea tegas membuat Calvin berdecak malas.
"Yayaya, terserah asal kau tidak menggangu pekerjaanku," ketus Calvin akhirnya menyerah. Gea membuang pandangannya ke samping jendela. Bibirnya mengulas senyum. Sebenarnya Calvin tidaklah jahat, ia tahu itu. Ia hanya menjaga jarak. Bagaimana pun, Calvin lelaki beristri jadi tidak pantas rasanya bila kemana-mana ia didampingi seorang perempuan terlebih tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, inilah tugasnya. Ini lah pekerjaannya. Ia hanya berharap, misinya berhasil agar ia tidak mengecewakan Nathalia yang sepertinya menaruh harapan yang besar padanya.
Sedikit banyak, ia kini mulai memahami mengapa Nathalia mempekerjakan dirinya sebagai pelakor alih-alih asisten pribadi sebab setelah mengenal dan mengetahui keseharian Calvin, ia tak urung iba. Ia laki-laki tapi semuanya harus melakukan sendiri. Ia memiliki istri tapi seperti seorang duda tanpa anak. Ia memiliki istri tapi tak ada yang melayaninya. Hari-harinya begitu sepi.
Dalam hati, Gea menaruh kagum pada Calvin, Calvin merupakan lelaki yang tampan dan mapan. Tidak sulit baginya untuk menarik perempuan manapun untuk menemaninya seperti kebanyakan lelaki kaya lainnya. Pasti banyak perempuan yang rela merangkak naik ke atas tempat tidurnya setelah mengetahui siapa dirinya dan apa yang ia punya. Tapi Calvin tidak melakukannya. Ia sungguh setia. Ia ternyata tipe lelaki yang sangat setia Bolehkah ia berharap berharap benar-benar berhasil meluluhkan hati Calvin dan mendapatkannya? Hanya untuknya?
Brakkk ...
"Astagfirullah. Si tuan ngagetin aja!" gumam Gea sembari mengelus dadanya karena terkejut saat Calvin menutup pintu mobil dengan kasar. Ternyata dia telah sampai di perusahaan Maxxon Group.
Baru saja langkah Gea memasuki lobby kantor, terdengar seruan yang memanggil namanya membuat Gea reflek menoleh.
"Gea," panggil seorang laki-laki.
Gea pun segera menoleh ke arah sumber suara, "kak Randi," seru Gea dengan senyum sumringah.
"Ini ...benarkan kamu kan, Ge? Kakak nggak lagi salah orang kan!" ujar lelaki bernama Randi itu dengan mata berbinar.
Gea menyunggingkan senyumnya, "ini benar, Gea kak! Kakak apa kabar? Bu Ayu juga apa kabar? Wah, Gea belum ngomong nih sama Bu Ayu nggak bisa lagi bantu cuci baju soalnya Gea udah dapat kerjaan lain. Gea belum sempat soalnya sambil ngontrol ibu di rumah sakit," ujar Gea yang telah sedikit menepi agar bisa ngobrol santai dengan Randi, anak pelanggan cuciannya.
"Bude Ita udah sampein kok, nggak perlu khawatir. Dan kabar aku baik. Kabar ibu juga baik. Cuma aku nggak nyangka banget bisa ketemu di sini. Kamu kerja di sini? Sejak kapan?" cecar Randi.
"Iya kak, Gea kerja di sini baru juga berapa hari. Jadi asisten bos jutek," ujar Gea dengan kalimat yang terakhir setengah berbisik membuat Randi terkekeh.
"Awas, entar ada yang dengar terus disampein ke bos! Di sini, dinding juga ada telinga, jadi hati-hati kalau ngomong. Bahkan telinganya bisa memutarkan balikkan fakta dan kalimat dari A jadi B," tukas Randi memperingatkan.
"Oh ya?" Gea bertanya polos dan Randi mengangguk pasti kemudian tergelak karena ekspresi Gea yang menurutnya sangat lucu. Ini juga merupakan pertama kalinya mereka berbincang sedikit lama. Biasanya Gea hanya menyapa atau membalas sapaannya saja saat gadis itu tengah mengambil dan mengantarkan cucian.
"Kak Randi juga kerja di sini?" tanya Gea.
Randi mengangguk, "iya, udah 2 tahunan."
Saat mereka sibuk berbincang, ada sepasang mata yang sejak tadi mengamati dengan ekspresi tak terbaca. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, hanya dia dan yang Kuasa lah yang tahu.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Erlin Sylviana
heleh sok sok an lu ,,, jeng autor
2024-09-04
0
Pisces97
gk salah sih memuji istri itu tanda suami baik bed lagi dengan memuji wanita lain didepan istri
2024-06-15
0
🌸 Airyein 🌸
Asik nih kayanya bakal ada cinta bercabang
2024-02-28
0