Bab. 2

Dddrrttt ...

Melihat nama pemanggil di layar ponselnya, Gea pun segera meminta bantuan temannya agar menggantikan dirinya sementara di meja kasir.

"Li, tolong gantiin aku sebentar ya! Ada telepon nih, kayaknya urgent!" ucap Gea dengan memasang wajah memelas.

Lita yang melihat raut wajah khawatir pada Gea pun menganggukkan kepalanya.

"Oke! Buruan gih!" ucap Lita seraya berganti posisi dengan Gea.

Gea pun segera mencari tempat yang cukup sepi untuk mengangkat panggilan itu.

"Halo," ucap Gea saat panggilan itu telah ia angkat.

"Ge, pulang sekarang nak! Ibu kamu, ibu kamu pingsan di depan kamar mandi. Kakinya membengkak," ujar bude Ita panik.

Mendengar penuturan bude Ita, sontak saja membuat Gea panik bukan kepalang. Ia pun bergegas mendekati meja kasir meminta tolong Lita agar menyampaikan izinnya pada pemilik minimarket saat datang nanti.

"Ta, tolong sampaikan sama Bu Ratih, aku izin pulang lebih awal ya! Ibuku pingsan. Aku takut kenapa-napa dengan ibuku," ujar Gea seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan wajah memelas menahan tangis.

"Sorry Ge, bukannya aku nggak mau nolong. Tapi kamu udah keseringan kayak gini. Aku takut Bu Ratih marah lagi. Kamu ingat kan ancaman terakhirnya tempo hari, kalau kamu pulang sebelum waktunya lagi, kamu bakalan dipecat," tukas Lita mengingatkan kejadian beberapa waktu yang lalu.

"Tapi Ta, aku takut terjadi sesuatu pada ibuku. Aku harus segera memlbawa ibuku ke rumah sakit. Andai ada yang bisa aku andalkan, aku nggak mungkin sepanik ini," ucap Gea sambil menahan isakannya. Air matanya tumpah karena terlalu mengkhawatirkan keadaan sang ibu. Sebenarnya ini bukan salah Bu Ratih. Bu Ratih sudah sering mengizinkannya pulang lebih awal. Tapi beberapa bulan ini kesehatan ibunya memang makin menurun. Alhasil, ia jadi lebih sering meminta izin pulang lebih awal, lebih sering dari sebelum-sebelumnya. Andai ia memiliki uang yang banyak tentu ia akan memilih merawat ibunya di rumah sakit saja agar bila terjadi apa-apa pada sang ibu ada tenaga medis yang siap menanganinya.

Lita menghela nafas panjang, ia pun iba melihat bagaimana khawatirnya Gea. Bila ia mengalami apa yang Gea alami sekarang, tentu ia akan berbuat hal yang sama. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga kasihan pada Gea bila sampai harus dipecat dari pekerjaannya. Sedangkan kebutuhan untuk hidup dan berobat ibunya saja pasti membutuhkan uang yang banyak. Sedikit banyak, ia tahu tentang Gea yang harus merawat ibunya yang sakit-sakitan seorang diri. Kalau ia dipecat, bagaimana ia bisa membiayai pengobatan ibunya yang tidak sedikit. Apalagi tidak mudah untuk mencari pekerjaan di zaman seperti ini.

"Ya udah, entar aku sampaikan dengan Bu Ratih. Tapi ... aku nggak bisa bantu kalau Bu Ratih marah lagi ya, Ge. Aku juga butuh pekerjaan ini untuk biaya sekolah adik-adik aku," ujar Kita yang diangguki Gea seraya tersenyum memaksa. Gea pun mengucapkan terima kasih dan segera mengambil tas selempannya. Kemudian ia segera ke tempat parkir mengambil sepeda dan mengayuhnya ke rumah.

...***...

"Bude, bagaimana keadaan ibu?" tanya Gea panik setibanya di rumah kontrakan mereka.

"Ibu kamu masih pingsan, Ge. Badannya juga mulai dingin. Tadi bude datang mau lihat ibu kamu sudah makan atau belum, pas bude masuk ke dalam rumah sambil panggil-panggil ibu kamu, tapi ibu kamu tidak menyahut sama sekali. Bude cari di kabar nggak ada. Pas ibu cari ke belakang, tahunya ibu kamu udah tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan," jelas bude Ita menjelaskan.

Gea terisak pilu melihat keadaan ibunya.

"Bu, bangun! Jangan bikin Gea takut kayak gini!": ujar Gea sambil menggerak-gerakkan tubuh ibunya.

Lalu Gea segera meraih ponselnya dan memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Sembari menunggu kedatangan taksi online yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit, Gea pun segera menyiapkan keperluan sang ibu. Setelah taksi online yang dipesan telah datang, Gea segera memapah ibunya ke dalam mobil dibantu bude Ita. Setelah berada di dalam taksi, Gea segera berpamitan dengan bude Ita, tetangganya. Kemudian mereka pun segera berangkat menuju ke rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, ibu Gea segera mendapatkan penanganan. Gea terduduk di depan ruang UGD sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tergugu dan terisak seorang diri. Tangisannya terdengar sangat memilukan. Bagaimana ia tak menangis saat melihat keadaan ibunya yang sangat mengkhawatirkan. Di dunia ini, hanya ibunya saja penguat dirinya. Tempatnya bersandar dan berkeluh kesah. Ia tidak memiliki keluarga lagi di dunia ini. Hanya ibu. Tak ada yang lain.

...***...

Karena terlalu larut dalam kesedihan dan kekhawatiran, Gea sampai tak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah kesehatan dan kesembuhan sang ibu. Hingga tak lama kemudian, lewatkan sekumpulan orang berpakaian super rapi dengan seorang wanita paruh baya ban cantik berada paling depan sekali dan beberapa orang dokter di belakangnya yang turut mengikuti.

Mata wanita paruh baya itu sempat mengamati Gea yang tergugu. Gea menurunkan tangan yang menutupi wajahnya kemudian menyeka air mata yang membasahi pipi membuat wanita paruh baya itu bisa melihat wajah Gea yang cantik dan manis tanpa sentuhan produk kecantikan apapun. Asisten wanita paruh baya itu sampai turut mengikuti gerak mata sang atasan. Apakah gerangan yang mencuri perhatian atasannya itu? Batinnya bermonolog.

Setibanya di ruangannya, wanita paruh baya itu langsung duduk di kursi kebesarannya. Dia adalah Nathalia, pemilik rumah sakit dimana ibu Gea dirawat. Ia duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sang asisten pun hanya bisa berdiri sambil menerka-nerka hingga tiba-tiba ia melihat Nathalia tersenyum. Senyum itu tampak aneh dan misterius. Membuat asistennya makin bertanya-tanya.

"Mega," panggil Nathalia pada perempuan berambut cepak seperti laki-laki tersebut.

"Iya, Bu," sahut Mega sembari memasang sikap siaga. Ia yakin, atasannya itu akan memberikan tugas yang lain dari biasanya.

"Kamu masih ingat kan gadis yang sedang menangis di depan ruang UGD tadi?" tanya Nathalia memastikan.

"Iya, Bu. Saya masih ingat," sahut Mega tanpa ragu.

"Bagus. Coba kau cari tahu semua hal tentang gadis itu. Termasuk keperluannya di rumah sakit ini. Jangan sampai ada yang terlewatkan satu pun! Kau mengerti!"

"Saya mengerti, Bu. Kalau begitu, saya permisi. " ucap Mega seraya berpamitan untuk undur diri.

"Aku tunggu informasimu dalam 1x24 jam. Tidak boleh terlambat satu detik pun," tegas Nathalia membuat Mega membulatkan matanya.

'Apa? Yang benar aja? Nggak boleh telat 1 detik pun. Ya ampun!' batin Mega menggerutu kesal. Namun apalah daya, dirinya hanya bawahan yang harus mematuhi segala perintah atasannya.

...***...

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

@Tie

@Tie

neng ghea blm pny bpjs ya

2023-12-29

0

Yani Cuhayanih

Yani Cuhayanih

Ini seperti rencana ingin menolong bin syaratnya memaksa bin terjebak kepepet

2022-10-11

0

Dwi Hartati08

Dwi Hartati08

semangat ya gea

2022-09-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!