Karena sudah masuk jam kerja, Randi dan Gea pun saling undur diri untuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Begitu juga Gea yang langsung bergegas menuju pantry untuk membuatkan kopi seperti biasanya. Setelah selesai, Gea pun segera mengantarkannya ke ruangan Calvin.
Tok tok tok ..
Ceklek ...
Seperti biasa, Gea pun langsung masuk begitu saja setelah sebelumnya mengetuk pintu dahulu. Tiba-tiba Gea membulatkan matanya saat melihat di ruangan itu tidak hanya ada Calvin seorang diri.
"Ah, ma-maaf tuan, saya tidak tahu Anda sedang ada tamu," ucap Gea terbata saat melihat 3 orang pria yang kini sedang duduk santai di ruangan itu. Berbeda dengan Calvin yang menatap Gea dengan tatapan dinginnya, kedua pria lainnya justru menatap Gea dengan sorot mata penasaran.
Gea pun bergegas meletakkan kopi hitam atasannya di meja, kemudian segera berbalik untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, seruan seseorang membuat Gea menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Kau tidak menawarkan kami kopi juga, nona? Ah, kau sungguh kejam," seloroh salah satu lelaki membuat Gea menghentikan langkah dan membalik badannya menghadap ke tiga orang itu.
"Anda mau kopi juga tuan?" tanya Gea dengan senyuman ramah membuat kedua pria itu terkesima dengan senyumannya. Berbanding terbalik dengan Calvin yang justru mendengkus.
"Kalau kau tidak keberatan tentunya," sahut pria berkemeja putih sambil melemparkan senyum manis.
"Dengan senang hati aku menunggu," timpal lelaki berkemeja biru seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Calvin yang melihatnya merasa jengah. Keduanya sebenarnya mengenakan jas, tapi jas keduanya justru tersampir di sisi masing-masing.
"Ah, baiklah kalau begitu! Mohon tuan-tuan tunggu sebentar!" tukas Gea dengan senyum manis dan ramah di bibirnya.
Selepas kepergian Gea, kedua teman Calvin pun segera mencecar Calvin mengenai siapa Gea.
"Vin, siapa tuh cewek? Cantik banget? Sekertaris kamu? Bukannya kamu anti sekretaris cewek ya?" cecar teman Calvin bernama Aditia.
"Iya, Vin. Parah banget kamu punya sekretaris cewek secantik dan sebohay itu. Gue akuin, Anastasia itu cantik, tapi yang ini, kayak mana ya gambarinnya ... cantik, manis, smart, menarik, nggak berlebihan juga dari gaya sampai make up, ramah, ah pokoknya plus-plus lah," timpal Barly yang diangguki Aditia.
Mendengar cecaran pertanyaan dan pujian kedua temannya pada Gea, sontak saja membuat Calvin mendengus dengan wajah masamnya membuat kedua temannya saling pandang. Merasa aneh dengan sikap temannya.
"Atau ... dia itu selingkuh kamu, Vin?" imbuh Aditia membuat Calvin membulatkan matanya.
"Jangan sembarangan bicara kalian," hardik Calvin kesal. "Dia itu asisten pribadi ku. Mama yang mempekerjakan dia untuk melayaniku," imbuh Calvin membuat keduanya berseru dengan mata membulat.
"What!!!"
...***...
Calvin tampak sibuk dengan pekerjaannya. Saat tengah fokus dengan berkas-berkas di hadapannya, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengarlah suara seseorang yang sangat ia rindukan. Mata Calvin berbinar cerah saat melihat kedatangan istrinya.
"Cia," seru Calvin dengan mata berbinar.
"Hmmm ... hai, honey! I Miss you," seru Anastasia yang segera saja berhambur duduk di pangkuan Calvin.
Calvin pun segera memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu dan menciumi seluruh bagian wajahnya.
"Kenapa tidak bilang kau sudah kembali? Kan aku bisa menjemputmu di bandara," tukas Calvin seraya mengusap pipi mulus Anastasia dengan sayang.
"Kan surprise. Kalau aku bilang, bukan surprise namanya," ucap Anastasia manja. Ia bahkan menempelkan wajahnya di dada bidang Calvin seraya memainkan jemarinya di dada bidang Calvin membentuk pola-pola abstrak membuat Calvin menggeram.
"Jangan menggodaku sekarang, honey!" desis Calvin yang hasratnya sudah mulai terpancing.
"Memangnya kenapa kalau sekarang? Kau tidak mau, honey? Bukankah kau merindukan, honey, so tunggu apa lagi?" goda Anastasia dengan suara sedikit mendesah dan mendayu-dayu.
"Kau ... " desis Calvin menggeram menahan sesuatu yang sudah memberontak di bawah sana.
Anastasia tersenyum girang, apalagi saat Calvin mulai menyatukan bibir mereka dan merengkuhnya dalam gendongan, membawanya ke ruangan khusus yang tertutup lemari buku untuk menuntaskan sesuatu yang lama ia tidak rasakan karena kesibukan sang istri.
...***...
Calvin dan Anastasia kini sedang terbaring bersisian dengan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Anastasia mengusap rahang kokoh Calvin yang sedang memejamkan mata.
"Honey, sore ini aku akan langsung terbang ke Milan, kamu nggak papa kan?" tanya Anastasia membuat Calvin membuka mata dan mendudukkan tubuhnya. Ia memutar sedikit tubuhnya agar saling berhadapan dengan istrinya itu.
"Tapi kau baru saja kembali, Cia. Bagaimana kau ingin pergi lagi," protes Calvin seraya berdecak kesal.
"Tapi aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini. Aku mendapatkan undangan langsung untuk mengikuti parade busana di Milan. Ini kesempatan besar untukku agar namaku kian bersinar di kancah internasional," ucap Anastasia lembut seraya membujuk. Anastasia bergelung manja di lengan Calvin agar Calvin mengijinkannya pergi ke Milan.
Tapi Calvin menepis tangan Anastasia dan segera berdiri kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai, ia pun bergegas memakai pakaiannya kembali.
"Honey, please!" bujuk Anastasia lagi.
"Terserah kau mau melakukan apa di luar sana. Terserah. Aku tak peduli," sinis Calvin yang segera beranjak keluar dari dalam ruangan itu meninggalkan Anastasia yang hanya bisa menghela nafas panjang. Calvin benar-benar kesal dan marah. Bagaimana bisa istrinya lebih mementingkan karir daripada dirinya, suaminya sendiri. Ia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami.
"Honey, kau marah?" lirih Anastasia yang kini telah berdiri di belakang Calvin sambil memeluk lehernya.
"Kalaupun aku marah, apa aku bisa menghalangi mu untuk tetap pergi?" desis Calvin membuat Anastasia bungkam.
"Maafkan aku. Setelah selesai, aku pasti akan segera kembali," bisik Anastasia. Lalu ia mencium pipi Calvin sebelum keluar dari ruangan itu.
...***...
Setelah kepergian Anastasia, Calvin pun segera kembali ke rumah dan mengurung diri di ruang kerjanya. Amarahnya kini benar-benar sulit ia kendalikan.
Gea yang baru saja pulang dari rumah sakit, mengerutkan keningnya saat melihat mobil Calvin telah terparkir di depan rumah. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan untuk mencari keberadaan Calvin.
Gea mencari ke kamar Calvin tapi laki-laki itu tidak ada di sana. Jadi ia mencoba mencari ke ruang kerjanya. Dan benar saja, ia berada di dalam sana. Melihat kedatangan Gea, seolah menemukan tempat untuk melampiaskan amarahnya, ia pun menegur gadis itu karena telah menghilang tanpa meminta izin padanya.
"Tuan, kau sudah pulang?" tanya Gea seraya mendekat ke arah Calvin yang sedang bersandar di sofa.
"Kemana saja kamu ? Ingat, tugasmu itu melayaniku, bukannya kelayapan dan sibuk tebar pesona dengan semua karyawan kantor ini," ketus Calvin saat melihat kedatangan Gea ke ruangannya.
Gea mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang dimaksud tuannya itu.
"Saya tadi ... "
"Sudahlah, keluar sana! Tinggalkan aku sendiri!" usir Calvin sambil mengibaskan tangannya.
Dengan patuh, Gea pun segera undur diri dan kembali merapatkan pintu seperti semula.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Pisces97
harusnya sebagai istri itu paling utama suami baru pulang bukanya menyenangkan suami malah buatnya marah dn merendahkan harga diri hanya pulang buat menuntaskan hasratnya
2024-06-16
0
Rika Khoiriyah
tapi kapan waktu selesainya???🙄🙄🙄
2022-12-13
0
Samsia Chia Bahir
😇😇😇
2022-10-21
0