Senyum di wajah Mommy pun mengembang. "Mommy sudah duga! Terima kasih kamu sudah membuat Azhar sedikit berpaling dari Julie. Mommy akan merestui hubungan kalian karena Mommy lebih suka kamu sebagai menantu Mommy daripada wanita jahat itu. Namun ada satu syarat!"
Caca yang semula senang karena mendapat dukungan dari Mommy kembali cemas. "Syarat apa ya? Apakah aku bisa memenuhinya?" batin Caca.
"Syarat apa, Bu?" tanya Caca takut-takut.
Mommy kembali tersenyum, "Syaratnya mudah kok. Cukup kamu memikat hati Azhar agar ia melupakan wanita itu. Mudah bukan? Kamu bisa memiliki Azhar seutuhnya dan Mommy akan membuat Azhar menikahi kamu secara resmi! Kamu bisa?"
Caca menghela nafas lega. Tanpa Mommy suruh juga ia akan melakukan hal itu. Memang tujuannya menikahi Azhar adalah untuk merebut satu-satunya milik Julie yang paling berharga.
"Iya, Bu. Aku akan berusaha agar Mas Azhar menyukai aku sepenuhnya." jawab Caca dengan yakin.
"Bagus. Satu lagi, kamu bisa panggil saya Mommy. Tentunya saat hanya ada kita berdua, kamu setuju?"
Caca mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, My!"
Mommy lalu mulai bertanya pada Caca bagaimana ia bisa dinikahi oleh Azhar. Caca pun menceritakan kejadian malam itu dengan Azhar.
"Anak itu masih punya rasa tanggung jawab juga rupanya. Setidaknya masih ada sisi manusiawi dalam dirinya. Tidak dirubah semua oleh iblis betina itu!" terlihat sekali Mommy begitu membenci Julie. Caca mau bertanya kenapa namun ia menahan diri. Akan ada waktunya nanti.
"Kedua orang tua kamu masih ada, Ca?" selidik Mommy yang mulai menanyakan tentang keluarga Caca.
"Masih, My. Papa dan Mama masih ada."
"Tinggal dimana? Kamu punya saudara?" Mommy meminum teh buatan Caca dan langsung menyukai racikan menantunya tersebut.
"Tinggal di Jakarta juga, My. Di daerah Timur. Anak Mama dan Papa hanya tinggal aku seorang."
Percakapan Caca dan Mommy mulai membahas tentang kehidupan Caca. Mommy benar-benar ingin mengenal lebih jauh menantunya tersebut. Sampai Caca harus pamit karena telepon di tempatnya berdering terus. Ia harus kembali bekerja, Mommy maklum itu.
Siang hari Azhar menepati perkataannya. Memesankan Caca makanan dan memintanya makan di tempat sementara dirinya makan bersama Mommy.
Caca tersenyum melihat beraneka makanan ada di atas mejanya. Azhar benar-benar melarangnya pergi keluar, padahal Caca hanya menggodanya saja namun Azhar terlihat tak rela dirinya bersama cowok lain.
Azhar kembali dari makan siang dengan wajah senang, tak lagi terlihat kesal karena harus mendengar ceramah Mommy tentang Julie. Caca tak banyak bertanya. Ia sibuk membalas email dan mengerjakan tugasnya.
"Kamu enggak makan di luar 'kan?" tanya Azhar.
Caca tersenyum. "Enggak dong, Mas. Aku tuh orangnya nurut. Kamu suruh aku makan di tempat, ya aku turutin."
"Bagus. Kayaknya malam ini aku harus pulang ke rumah, meski aku agak malas sih. Kamu enggak apa-apa 'kan? Tenang saja, aku antar kok kamu pulang sampai apartemen."
Caca sedikit kecewa karena Azhar akan pulang dan bertemu Julie. Ia takut Azhar kembali melunak dan malah memilih Julie pada akhirnya.
"Kamu tahu bukan kalau aku dan Julie sedang ada masalah? Aku tak bisa menghindar terus! Aku sudah mengabaikan semua pesan dan telepon Julie, aku tak bisa selamanya begini-"
"Iya, Mas. Aku mengerti kok. Pulanglah!" Caca memaksakan senyum di wajahnya. Membuat Azhar makin tak enak hati saja.
"Maafin aku ya, Ca!"
****
Caca dan Azhar harus lembur malam ini. Rupanya ada masalah di pabrik dan mereka harus menyelesaikannya jika mau tidur dengan nyenyak.
Caca masuk ke dalam mobil Azhar dan menunggu Azhar menaruh laptop miliknya di kursi belakang.
"Capek ya Mas?" tanya Caca seraya memberikan minuman dingin yang tadi sempat ia ambil dari pantry.
"Banget, Ca! Maunya pulang dan langsung tidur. Lelah banget!" Azhar menerima minuman dari Caca dan menghabiskannya.
"Mau aku pijitin?" tawar Caca.
Ini yang sebenarnya Azhar butuhkan. Pijitan Caca yang sudah terbukti enak di tubuh Azhar. Namun Azhar malu mengakuinya.
"Mana yang pegal? Tangan? Bahu?" Caca berinisiatif memijat telapak tangan Azhar.
"Bahu." jawab Azhar malu-malu.
"Yaudah, Mas berbalik badan ya biar aku pijat bahunya." Azhar pun menurut. Caca mulai memijat bahu Azhar. Pijitan Caca memang obat lelah Azhar. "Enak?"
Azhar mengangguk. Ia menikmati setiap pijitan yang Caca berikan. Benar-benar membuat dirinya rileks dan rasa pegalnya hilang. "Iya. Kamu jago memijat!"
Caca tersenyum, Azhar sudah mengganti kemejanya tadi. Tak ada lagi bekas lipstik miliknya tadi. Harus segera dibuat baru. "Bom atom harus dilepaskan. Rumah tangga Azhar dan Julie harus retak dan hancur tak berkeping!" batin Caca.
Caca memijat kepala Azhar, membuatnya makin merasa nyaman saja. Rasa pusingnya hilang dan terasa segar. "Sekarang Mas balik badan lagi. Aku pijat kening Mas."
Azhar kembali menurut. Kini mereka berhadapan. Caca memijat kening Azhar. Kali ini Azhar menatap wajah cantik Caca dengan lekat. Melihat kalau istri sirinya begitu konsentrasi memijatnya.
"Jangan diliatin terus dong, Mas! Aku malu!" ujar Caca seraya tersenyum.
"Kamu multi talent banget. Semua serba bisa. Aku salut sama kamu!" puji Azhar.
"Mas bisa saja! Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri saja." Caca kini balas menatap Azhar. Kedua alis Azhar yang lebat dan wajah Azhar yang membuatnya terpesona. "Mas tampan."
"Benarkah?" tanya Azhar seraya menatap bibir Caca yang tadi sudah ia rasakan.
Caca tak lagi memijat Azhar. Tangannya tetap di wajah Azhar namun kini hanya membelai dengan lembut.
Caca memajukan dirinya dan mencium pipi Azhar. "Tampan sekali!" puji Caca lagi.
Suasana di antara mereka sudah berubah. Tak lagi lelah sehabis bekerja, namun romansa sepasang kekasih yang sudah mulai ada ketertarikan satu sama lain mulai tercipta.
Tangan Caca menyentuh bibir Azhar, disusul dengan dirinya yang mencium Azhar. Lembut dan penuh perasaan. Membuat Azhar membalasnya sepenuh hati.
Ciuman pun sudah mulai berubah menjadi panas. Azhar menarik tubuh Caca semakin mendekat. Caca dengan sigap berpindah tempat dan kini sudah duduk di pangkuan Azhar.
Bibir mereka saling berpagutan. Mereka terbuai dengan kenikmatan dan lupa sedang berada di parkiran saat ini.
Azhar pun mulai menelusuri tubuh Caca, membuat Caca tersadar apa tujuannya merayu Azhar. Caca melepas pagutan mereka dan membenamkan ciumannya di leher Azhar.
Caca menempelkan jejak lipstik miliknya di kerah baju Azhar sebelum kesadarannya hilang dan terbuai dengan sentuhan Azhar. Lelaki itu sudah menyentuh dua buah sintal miliknya seperti malam itu.
Azhar kembali mencium Caca, membuat Caca kehilangan kontrol atas dirinya. Ia mau Azhar. Ia rela menyerahkan dirinya pada Azhar. Lupakan balas dendam, toh mereka sudah menikah! Saat ini waktunya bersenang-senang!
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Wanda Revano
Lo yg goyah duluan ternyata ca.ati2 itu bisa buat Lo sakit ca.lo menyimpan bom atom buat diri Lo sendiri
2023-04-07
0
Telik sandi Megantara
wealah ca... kebobolan nanti loh ya
2023-03-03
0
❤️⃟Wᵃf✰͜͡ᴠ᭄ᴇʟᷜᴍͣuͥɴᷤ✪⃟𝔄⍣⃝కꫝ🎸
Wah waaah Caca makin di atas angin karna ibunya Azhar merestui mereka...
Makin g sadar z tu si Azhar... sampai di kasih stempel cinta z dia g tau. bakal rame bentar lagi rumahtangga mereka
2022-09-16
2