Caca sudah selesai memunguti alat tulis yang berantakan, menaruhnya kembali ke atas meja. Saat Caca hendak membuang sampah, Caca tertegun. Ada banyak bekas tisu di tempat sampah. Berisi jejak-jejak hubungan yang mereka lakukan.
Tak lama Azhar datang bersama Rima yang baru kembali dari ruang HRD. Hari ini Rima terakhir bekerja.
"Sudah dibersihkan?" tanya Azhar.
"Sudah, Pak." jawab Caca.
"Good! Terima kasih ya!" ujar Azhar.
"Rima, tolong kamu ke bagian produksi dan minta mereka koreksi laporan sesuai coretan yang sudah saya buat!" Azhar mengambil dokumen yang sudah ia periksa.
"Ikuti semua yang sudah saya koreksi! Kamu sendiri saja, ada tugas yang akan saya berikan pada Caca!" Azhar memberikan dokumen tersebut pada Rima.
"Baik, Pak." jawab Rima.
Azhar menunggu Rima keluar ruangan lalu menutup pintu. Ada hal rahasia yang akan Azhar katakan pada Caca.
"Caca, kamu harus hafal beberapa orang yang kurang saya sukai di perusahaan ini. Cukup kamu yang tahu, Rima tak perlu tahu." ujar Azhar seraya berjalan mendekat ke arah Caca.
"Baik, Pak."
"Di perusahaan ini banyak penjilat yang ingin perhatian dari saya. Tugas kamu adalah membuat mereka mengurungkan niatnya. Usahakan bagaimana caranya kamu mempersulit mereka untuk bertemu saya."
"Boleh saya tahu siapa saja orangnya Pak?" tanya Caca seraya mengangkat buku catatannya.
"Jangan kamu catat, tapi kamu hafal!" larang Azhar.
Caca menaruh kembali buku catatannya. "Baik, Pak."
"Oke. Pertama, kepala bagian produksi Bapak Irwan. Orangnya tinggi dengan kepala plontos. Kamu akan saya suruh menemuinya seperti Rima tadi. Kalau ia datang memberi dokumen, cukup kamu keep dan berikan saya nanti. Jangan sampai ia menghadap saya langsung. Mengerti?"
Caca mengangguk patuh. "Baik, Pak."
"Yang kedua adalah manager store, Bu Sari yang tak lain adalah istri Pak Irwan. Mereka satu kubu. Yang terakhir bukan penjilat, melainkan Mommy saya sendiri. Usahakan saat beliau datang, kamu kirim pesan kepada saya dan ikuti instruksi yang saya berikan. Kamu mengerti?"
Caca mengangkat wajahnya dan menatap Azhar. Caca terpesona dengan ketampanan yang Azhar miliki. Rambutnya yang hitam, hidungnya yang mancung dengan bulu mata lentik yang jarang dimiliki oleh kaum Adam.
"Mengerti, Pak."
Lalu mata Caca menangkap sesuatu. Caca berjalan menuju meja kerja Azhar dan mengambil selembar tisu. Ia lalu menuangkan air dari gelas Azhar dan berjalan mendekati bosnya tersebut.
Dengan berani Caca mendekatkan dirinya dan berjinjit agar dapat menggapai Azhar. "Ada bekas lipstik di kerah baju Bapak."
Caca membersihkan lipstik di kerah Azhar tanpa permisi terlebih dahulu. Jarak mereka sangat dekat. Caca bahkan bisa mendengar degup jantung Azhar bertalu dengan kencangnya.
Azhar hanya membeku diam, ia bisa melihat sekretarisnya yang cantik dari dekat. Hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik dan manik cokelat matanya yang indah. Azhar bahkan bisa mencium parfum beraroma vanila yang dipakai oleh Caca.
Azhar membiarkan Caca, entah kenapa ia suka dengan kedekatan mereka kali ini. Caca memiliki pesona yang membuat orang yang baru dikenalnya tergoda.
Caca mengangkat wajahnya, mereka saling tatap dengan tangan Caca yang masih membersihkan kerah baju Azhar. "Mau saya bantu cuci di washtafel, Pak? Bapak bisa lepas dahulu kemejanya."
Azhar terus menatap sekretaris barunya. Sekretaris ini agak berbeda dibanding Rima atau sekretarisnya yang lain.
Caca bertindak spontan dan tak memikirkan status dirinya yang hanya menjabat sebagai seorang sekretaris saja. Hal yang tentu saja membuat Azhar tak siap menghadapinya namun terlalu sayang menolak pesonanya. Sekretarisnya kali ini memang cantik, Azhar akui itu.
Untunglah kesadaran Azhar segera kembali. Ia tak mau terlalu berdekatan dengan Caca yang baru dikenalnya.
"Ehem." Azhar mundur selangkah sambil berdehem untuk menguasai dirinya. "Tidak perlu. Saya ada baju ganti. Saya akan pakai baju ganti saya saja. Terima kasih atas perhatian kamu."
Sikap Azhar berubah canggung.
Caca menggantung tangannya di udara. Ia pun malu sendiri dengan sikap agresif yang ia tunjukkan di hari pertama bekerja.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud kurang sopan. Saya hanya tak mau ada karyawan lain yang melihat noda lipstik di kemeja Bapak. Maaf sekali atas perbuatan saya, Pak. Tolong jangan pecat saya, Pak." mohon Caca. Ditundukkannya kepalanya, tak berani menatap Azhar lagi.
Mendengar keluguan Caca dan ketakutannya akan dipecat, Azhar tak kuasa untuk tertawa. "Pecat? Saya enggak akan pecat kamu. Tenang saja. Saya tahu kok niat kamu baik. Justru saya mau berterima kasih sama kamu. Karyawan saya yang lain pasti akan membicarakan saya di belakang, bukannya menegur seperti yang kamu lakukan tadi."
Caca mengangkat kepalanya mendengar ucapan Azhar. "Benar, Pak? Terima kasih, Pak. Saya akan banyak belajar agar tidak mempermalukan Bapak dan membuat Bapak bangga sama saya!" ucap Caca dengan penuh antusias.
Azhar kembali tersenyum, rupanya sekretarisnya kali ini lumayan menyenangkan. "Tentu! Kamu harus tunjukkan kehebatan kamu sama saya. Coba ulangi lagi siapa yang harus kamu hindari untuk bertemu saya?"
Caca menyebutkan semuanya dengan lancar dan hafal di luar kepala.
"Betul sekali! Pintar kamu! Saya akan puji HRD yang menerima kamu bekerja untuk saya!" puji Azhar.
Caca pun memberikan senyum terindahnya. Sengaja membuat Azhar terpukau seperti para mahasiswa yang selalu mengejar cintanya selama ia kuliah.
"Oke. Saya rasa kamu sudah mengerti. Kamu bisa kembali lagi ke ruangan kamu!" perintah Azhar yang mulai salah tingkah karena jantungnya tak bisa tenang melihat senyum indah Caca.
"Maaf, Pak. Kemejanya mau saya cucikan sekalian tidak?" tawar Caca, semakin berani saja.
"Tidak perlu! Biar istri saya yang mencucinya nanti di rumah!" jawab Azhar seakan membanggakan istrinya di depan Caca.
"Baik, Pak. Permisi!" Caca keluar ruangan dengan sedikit rasa kecewa.
"Sabar, Ca. Sabar! Jadilah pelakor yang bermain mulus, jangan terlalu kentara!" ujar Caca pada dirinya sendiri.
****
Keesokan harinya Caca datang ke kantor dengan pakaian yang berbeda. Rok yang dikenakan ketat dan lebih pendek dari sebelumnya.
Kemeja yang dikenakan pun sengaja ia pilih warna merah maroon. Senada dengan lipstik yang dikenakan. Tak ada Rima, ia akan bebas melancarkan aksi menggoda sang bos, Azhar.
Caca menyapa kedatangan Azhar dengan senyum terbaiknya. "Pagi, Pak!"
"Pa...gi, Ca. Ceria sekali penampilan kamu hari ini!" puji Azhar.
Caca mengikuti Azhar masuk ke dalam ruangan. Azhar menaruh tas miliknya di atas meja lalu berbalik dan terkejut saat Caca begitu dekat dengan dirinya.
Caca membuka jas milik Azhar seraya tersenyum menggoda. "Biar saya bantu bukakan jas Bapak ya?" ujar Caca dengan suara lembut. "Maaf, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya."
Azhar pun kembali menuruti keinginan Caca. Azhar benar-benar tak bisa menolak Caca. Sekretarisnya terlalu agresif dan sayang untuk ditolak.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ani surani
walah nglunjak kamu ca 🤣🤣🤣 blm sehari kerja udh berani bgt 👍👍🤣🤣🤣
2024-11-17
0
ani surani
good caca, permainan dimulai 👍👍
2024-11-17
0
anonim
judulnya.... M U L A I T E R G O D A
2023-12-26
0