Azhar semakin didera oleh perasaan bersalah yang melingkupinya. Mata Caca yang bengkak seakan menjadi bukti kalau ia sudah merusak anak polos dan lugu seperti Caca. Tak tahu saja dia betapa nakalnya Caca!
Azhar terlihat menghela nafas berat. Ia bimbang, keputusan apa yang akan ia ambil nantinya?
"Maafin aku, Ca. Sekali lagi aku minta maaf! Kamu tahu sendiri aku banyak minum malam itu. Suasana pesta semakin tak terkendali. Aku harus menyambut tamu yang hadir menggantikan Julie. Aku...." Azhar tak mampu lagi berkat-kata.
Caca mulai meneteskan air mata buayanya.. "Tak apa, Pak. Aku mengerti."
Lagi-lagi Caca membuat Azhar semakin merasa bersalah. "Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan aku malam itu sama kamu?"
Caca menjawabnya dengan menggelengkan kepala. "Tak perlu, Pak. Kita 'kan teman."
"Teman bukan berarti saling menyakiti seperti itu, Ca! Aku salah! Bagaimana kalau aku belikan kamu barang yang kamu mau? Kamu mau apa? Berlian? Mobil? Tas?"
Caca menatap Azhar dengan tatapan penuh rasa kecewa. Kali ini tanpa akting dan tanpa dibuat-buat. Andai saja malam itu benar-benar terjadi sesuatu di antara mereka, akankah Azhar membayar Caca dengan barang mahal hanya demi menghilangkan rasa bersalahnya?
"Oke! Kalau kamu bisa mengganti rasa bersalah kamu dengan mengeluarkan uang, akan aku buat kamu semakin merasa bersalah!" tekad Caca.
"Tak perlu, Pak. Aku memang tak ingat apa yang terjadi malam itu, namun aku mengabaikannya karena menganggap Bapak adalah teman aku. Bukan berarti Bapak bisa membayar apa yang terjadi malam itu dengan uang yang Bapak miliki! Aku pergi dulu, kalau ada yang Bapak butuhkan cukup telepon aku saja!" Caca pergi dan tak membiarkan Azhar menjelaskan sesuatu padanya.
"Ca! Bukan begitu maksud a-" pintu ruangan Azhar ditutup oleh Caca. "Ku..."
Azhar menghembuskan nafas kasar. "Kenapa malah jadi kayak gini sih? Azhar bodoh! Kesannya aku malah mau membayar jasa Caca malam itu! Pantas saja Caca marah dan kecewa sama aku! Azhar bodoh!"
Seharian Azhar dicuekki oleh Caca. Sekretarisnya tersebut hanya datang ke ruangannya untuk mengambil dokumen lalu pergi tanpa sepatah kata sama sekali. Caca benar-benar kecewa. Caca tak menyangka kalau dirinya akan dibayar dengan materi.
Keesokan harinya, Caca masih bersikap sama. Ia terlihat dingin dan irit bicara. Membuat Azhar semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Esok harinya pun demikian. Azhar tak tahan lagi, sebelum Caca keluar ruangan, ia menarik tangan Caca. "Aku mau bicara sama kamu!"
"Mau bicara apa?" tanya Caca dengan acuh.
"Kenapa kamu bersikap dingin sama aku? Kamu marah sama aku, Ca? Aku kan sudah bilang, aku minta maaf! Aku bahkan mau menembus kesalahan aku!"
"Dengan cara membayar aku gitu? Maaf Pak, aku lebih baik nggak usah dibayar! Bukannya aku semurahan itu, tapi kalau sampai Bapak membayar aku, aku Justru lebih murahan lagi! Setidaknya, apa yang terjadi malam itu adalah kekhilafan kita berdua karena di bawah pengaruh alkohol. Udah. Aku nggak mau perpanjang lagi!"
"Tapi aku nggak bisa kita seperti ini! Aku nggak bisa menahan rasa bersalah dalam diri aku. Kamu perempuan baik-baik, Ca. Aku yang sudah merusak kamu! Terlepas malam itu kita beneran melakukan hal itu atau enggak, Aku enggak peduli. Tapi aku sudah meninggalkan jejak kepemilikan di tubuh kamu! Itu saja sudah membuat aku merasa bersalah. Kamu gadis baik, kamu sahabat aku. Aku nggak mau menyakiti kamu!"
Air mata Caca tak kuasa untuk ditahan lagi. Ia pun menangis. Timbul perasaan tak tega dalam dirinya untuk menyakiti hati lelaki sebaik Azhar. Lelaki yang sudah ia manfaatkan demi kepentingan pribadinya. Melihat wajah Azhar yang terlihat begitu merasa bersalah, membuat Caca semakin didera keraguan.
Rupanya, Azhar menafsirkan air mata Caca dengan sudut pandang yang berbeda. Ia pikir, Caca merasa dirinya sudah kotor dan tak suci lagi. Membuat Azhar semakin bertekad untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan malam itu.
"Aku yang salah! Aku yang sudah merusak hidup kamu! Kamu tak perlu menangis lagi!" Azhar menghapus air mata di wajah Caca dengan kedua tangannya.
Caca mengangkat pandangannya dan menatap langsung ke dalam mata Azhar. Perkataan Azhar berikutnya membuat Caca membelalakkan matanya karena tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku akan menikahi kamu! Aku akan bertanggung jawab dengan menjadi suami kamu!" ujar Azhar dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Menikah?! Bapak nggak perlu berbuat sejauh itu! Bagaimana dengan Ibu Julie nanti? Nggak, itu gila!" Caca berpura-pura menolak ajakan Azhar, padahal dalam hatinya ia meloncat kegirangan. Ia sudah melangkah jauh mendekati rencana yang ia susun.
"Aku serius, Ca! Aku akan menikahi kamu! Kamu akan menjadi istri aku meski... Untuk sementara kita masih menikah siri!"
Caca menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Azhar. "Nikah siri? Rencana gila macam apa itu?!"
"Aku tahu rencana ini gila! Aku tahu kamu pasti kecewa karena aku hanya berniat menikahi kamu secara siri. Namun percaya sama aku! Aku akan pelan-pelan menjelaskan kepada Julie tentang hubungan kita. Jika nanti Julie sudah bisa menerima keputusan aku, maka aku sendiri yang akan mendaftarkan pernikahan kita secara resmi. Kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas hidup kamu!" Azhar memegang kedua bahu Caca dan berkata dengan serius.
Caca memikirkan tawaran yang Azhar berikan padanya. Meskipun bukan pernikahan resmi yang didaftarkan di Kantor Urusan Agama, dinikahi secara siri juga sudah merupakan kemajuan pesat dalam rencana yang ia susun.
Tak lama lagi, Azhar pasti akan semakin masuk dalam perangkap dirinya. Dia yang akan membuat Azhar memilih dirinya dibanding Julie dan melihat wanita itu menderita kehilangan lelaki yang sangat ia cintai. Sama seperti keluarganya yang menderita karena kehilangan Baim.
"Please, Ca. Tolong terima lamaran aku! Meskipun bukan lamaran resmi seperti orang lain, tapi kamu akan tetap menjadi istri aku yang akan aku bahagiakan."
Apakah Caca akan menolak kesempatan bagus ini? Tentu saja tidak!
"Baiklah. Aku bersedia untuk Bapak nikahi. Maukah Bapak datang ke rumah aku secara resmi untuk meminta kepada kedua orang tua saya secara langsung?" Caca pun mengajukan syarat yang langsung diiyakan oleh Azhar.
"Tentu! Aku akan datang besok saat makan siang! Kamu silahkan beri tahu kedua orang tua kamu tentang niatku untuk menikahi kamu. Aku akan bertanggung jawab, kamu jangan sedih lagi ya!" Azhar menarik Caca dalam pelukannya. Caca pun membalas pelukan Azhar.
"Yess! Sebentar lagi lelaki baik ini akan menjadi milikku!" batin Caca seraya tersenyum penuh kemenangan. Sekarang tinggal meyakinkan Papa dan Mama untuk mau menikahkan kami!
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ani surani
dasar loe Ca .... 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2024-11-17
0
anonim
wuuaaahhh Caca bener2 niat banget ngehancurin Julie
2023-12-27
0
Nanda Lelo
ruwaaarrrr biyazaaaaaah y ca
2023-05-15
2