"Mau nambah lagi? Atau kita pesan cemilan aja ya?!" tawar Caca ketika makanan mereka sudah habis.
"Boleh. Aku masih lapar nih!" aku Azhar.
"Oke. Aku pesankan. Mas mau mandi dulu? Mas selalu bawa baju ganti di mobil 'kan?" tanya Caca seraya memesankan satu loyang pizza beserta cemilannya.
"Iya, bawa."
"Mau aku ambilkan?" tawar Caca.
Azhar melihat penampilan Caca saat ini. Dirinya merasa tak rela jika ada yang melihat tubuh Caca yang seksi. Bagaimanapun Caca adalah istrinya. Cukup dirinya yang melihat, tak boleh orang lain.
"Biar aku saja yang ambil." ujar Azhar.
"Oke. Aku siapin handuk dan alat mandi buat Mas ya!"
Azhar mengangguk lalu pergi ke parkiran untuk mengambil baju ganti yang memang sengaja ia siapkan. Saat hendak kembali ke apartemen Caca, ponsel Azhar berbunyi.
Sayangku Calling
Azhar mereject panggilan Julie dan melanjutkan langkahnya. Julie tak putus asa. Kembali ia menghubungi Azhar, membuat Azhar makin kesal dan akhirnya mematikan ponsel miliknya.
Azhar kembali ke apartemen Caca. Perlengkapan mandinya sudah Caca sediakan, termasuk handuk dan sikat gigi baru.
"Bath up sudah aku isi air hangat. Mas bisa berendam langsung. Aku juga sudah menuangkan aromatherapy. Semoga Mas suka ya!"
Azhar tersenyum. Pilihannya ke apartemen Caca adalah pilihan yang tepat. Selain ada teman yang menemani juga ia merasa dimanjakan berada di sini.
"Makasih ya, Ca. Aku mandi dulu!"
"Oke!"
Caca kemudian menyemprotkan pewangi ruangan agar saat Azhar keluar, apartemennya harum dan membuat Azhar betah. Azhar harus sering menghabiskan waktu dengan Caca jika Caca ingin merebut hati Azhar dari Julie.
Selesai mandi, Azhar hanya memakai kaos dan celana pendek. Rambutnya basah dan harum tubuhnya sehabis mandi sangat Caca suka.
"Mau aku bantu keringkan?" tawar Caca.
"Boleh."
Caca mengambil hair dryer lalu mulai mengeringkan rambut Azhar. "Rambut Mas bagus. Hitam, lurus dan tebal." puji Caca.
"Rambut kamu juga bagus kok, Ca. Lurus dan panjang. Banyak wanita yang bersusah payah meluruskan rambut, kamu tak perlu melakukan itu."
"Iya. Aku bersyukur punya rambut panjang. Mas pegal tidak? Mau aku pijat bahunya sambil menunggu pizza kita datang?" Caca mematikan hair dryer dan menyimpannya. Tak makan waktu lama mengeringkan rambut pria yang pendek.
"Aku-" Azhar baru mau menolak tapi saat tangan lembut Caca memijat bahunya yang memang terasa pegal, ia kembali tak kuasa menolaknya.
"Kalau terlalu sakit, bilang ya Mas!" ujar Caca seraya tersenyum. Ia tahu awalnya Azhar mau menolaknya namun urung karena suka saat ia pijat. Kak Baim dulu juga bilang kalau pijatan Caca enak dan pas, meski tubuh Caca tidak terlalu besar namun pijatannya cukup bertenaga.
"Enggak. Enak kok!" jawab Azhar malu-malu.
"Kalau di kantor nanti, jika Mas mau aku pijat boleh kok. Aku 'kan sekretaris merangkap istri Mas Azhar. Sudah kewajibanku melayani Mas."
Deg...
Jantung Azhar berdegup dan wajahnya memerah mendengar perkataan Caca.
"Melayani?" batin Azhar.
"Iya. Aku 'kan sekarang sudah menjadi istri Mas. Aku akan menjadi istri yang baik dengan melayani suaminya sepenuh hati." Caca terus melanjutkan memijat Azhar.
"I... Iya sih. Tugas kamu sih ya." Azhar kikuk mau berkata apa.
Baru kali ini Azhar merasa dilayani dan sangat diistimewakan oleh Caca. Bersama Julie, selain permainan ranjang yang hot sisanya Julie sangat cuek.
Memasak, sudah ada asisten rumah tangga yang lakukan. Membersihkan rumah pun demikian. Julie biasanya sibuk dengan yoga, pilates dan perawatan di salon. Mana pernah memijatnya dan bahkan menyuapi Azhar seperti yang Caca lakukan hari ini.
Benar-benar full service!
Telepon Caca pun berdering. Ia diberitahu oleh security bawah kalau ada delivery pizza atas namanya.
"Baik. Saya turun ke bawah ya, Pak. Terima kasih."
Baru saja Caca menutup teleponnya, Azhar sudah berdiri dari duduknya. "Aku aja yang ambil ke bawah. Kamu sudah bayar belum?"
"Udah. Tapi-"
"Aku enggak mau kamu keluar dengan pakaian seperti itu. Ingat, kamu sekarang istri aku! Aku enggak mau tubuh kamu menjadi tontonan orang lain selain aku!" ujar Azhar dengan tegas. Menyuarakan apa yang tadi ingin ia katakan.
Caca tak bisa membantah. Setelah Azhar keluar dari apartemen, Caca pun terduduk lemas. Caca memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Mati aku! Mati! Jangan sampai aku jatuh cinta dengan pesona Azhar! Aku enggak boleh jatuh ke perangkap yang aku buat sendiri!" Caca memukul pelan dadanya seraya berbicara sendiri, "Hei jantungku! Plese! Atur ritme kamu! Jangan sebentar-sebentar berdegup kencang! Kamu harus kuat. Kamu harus melawan pesona suami kamu sendiri! Ingat, masih banyak yang harus kita lakukan!"
Caca mengendalikan dirinya. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis.
Tak lama Azhar datang dengan menenteng kardus pizza yang Caca pesan. "Pizza time!" ujar Azhar seraya tersenyum lebar dan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Yey! Bagaimana kalau kita sambil nonton TV? Kita nonton film seperti di bioskop dan mematikan lampu! Mas setuju?"
Azhar menganggukkan kepalanya. "Setuju! Ayo kita buat bioskop mini!"
Caca lalu mematikan lampu dan memilih aplikasi nonton film di TV. Pilihan mereka adalah film action.
"Aku suka deh sama pemerannya. Ganteng!" puji Caca sambil memakan pizza yang sudah diolesi saus.
"Oh ya? Gantengan mana sama aku?!" goda Azhar.
"Mm... Gantengan... James Bond dong ha...ha...ha...."
Azhar memanyunkan bibirnya. "Tapi dia enggak nyata, Ca. Kalau aku tuh real."
"Mas cemburu aku pilih James Bond?" goda Caca.
"Hmm... Enggak juga sih. Soalnya aku tahu, dia palsu dan aku asli."
"Yang ada badaknya dong?" ledek Caca.
Azhar lalu melingkarkan lengannya pada Caca agar Caca tak bisa pergi, "Nakal ya, suami sendiri dibilang badak? Hah?" Azhar lalu menggelitiki tubuh Caca.
Caca tertawa karena tak kuat menahan geli akibat kelitikan Azhar. "Ha...ha...ha... Ampun, Mas! Ha...ha...ha... Ampun...." Azhar makin menggelitiki Caca.
Caca sampai tiduran di lantai. Posisi mereka begitu ambigu saat ini. Azhar yang berada di atas tubuh Caca.
Keheningan pun tercipta di antara keduanya, saat menyadari posisi mereka saat ini.
Mata Caca dan Azhar pun bertemu. Caca bisa melihat dari dekat betapa tampannya Azhar, begitu pun sebaliknya. Azhar bisa melihat betapa cantiknya sekretaris yang kini sudah menjadi istrinya tersebut.
Caca melingkarkan kedua tangannya di leher Azhar, seakan memberi kode pada Azhar kalau dirinya membuka diri dan mempersilahkan Azhar melakukan sesuatu atas dirinya.
Sayangnya, Azhar malah mengurungkan niatnya. Ia teringat Julie, istri sahnya yang ada di rumah. Ia pun melepaskan tangan Caca dan kembali duduk. Pandangannya menatap kosong layar TV, tak lagi tertarik seperti sebelumnya.
Caca kecewa. Ia merasa telah ditolak oleh Azhar. Caca sadar, masih ada nama Julie di dalam hati Azhar yang membuat Azhar mengurungkan niatnya.
Caca jelas-jelas melihat sendiri bagaimana sorot mata Azhar yang begitu menginginkannya namun masih menahan diri karena Julie. Caca mengepalkan tangannya dan menahan rasa kesal di balik senyum palsu. Jangan sampai Azhar jadi tak betah berada di dekatnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ani surani
caca gitu loh 😅😅😅
2024-11-17
0
Wanda Revano
slooooooow ca sabar atur strategi jitu okey baby rubah yg menggemaskan dan punyak otak licik yg super duper wow warbiyasahhhh
2023-04-07
2
Imas Masripah
kita sahati ca pierce Brosnan adalah aktor paporit ku juga,diantara semua film James Bond yg dia bintangi yg paling aku suka,makin tua makin hot😍😍
2022-12-16
0