Caca dan Azhar berjalan memasuki ruang meeting. Seorang CEO tampan sudah menyambut kedatangan mereka dengan senyumannya yang ramah namun tetap saja berkharisma. Khas keluarga Kusumadewa yang terkenal memiliki banyak bisnis.
"Selamat pagi, Bapak Richard!" sapa Azhar seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Senyum Azhar mengembang, melupakan masalahnya untuk sejenak dengan Julie. Bisnis yang utama, Julie bisa belakangan.
"Selamat pagi, Bapak Azhar! Senang bisa bertemu Bapak!" ujar Bapak Richard Kusumadewa dengan ramah dan penuh senyum.
"Maaf jadi menyita waktu Bapak untuk berkunjung di kantor mungil milik saya!" ujar Azhar merendah.
"Oh jangan bilang begitu! Tak masalah kantornya kecil asal laba perusahaannya besar! Daripada kantornya besar namun malah rugi, benar begitu?" ujar Richard.
"Tentu saja! Ha...ha...ha...." tawa Azhar. "Mari silahkan duduk, Pak. Kita meeting dengan sersan saja ya, Pak. Serius namun santai. Jangan terlalu formal seperti perusahaan kebanyakan!" Azhar duduk di kursi pemimpin rapat kebesarannya.
"Iya dong! Yang terpenting 'kan kesepakatan bisnis kita bisa terus berjalan, bukan begitu?" Richard kembali duduk di kursinya. "Saya sudah santai banget malah, Pak. Datang disuguhi cemilan enak. Kebetulan saya belum sarapan. Ditambah kopi buatan sekretaris Bapak, beuuuh... mantap! Rasanya pas!"
Richard melirik ke arah Caca yang menunduk malu sambil tersenyum mendengar pujian dari CEO perusahaan besar seperti Richard Kusumadewa.
"Tentu, Pak. Sekretaris saya serba bisa. Handal pokoknya! Satu paket lengkap lah!" Azhar ikut memuji Caca, membuat Caca makin besar kepala saja.
Caca lalu membagikan materi meeting hari ini yang sudah ia copy kepada Richard dan print asli pada Azhar. Caca kemudian menampilkan layar proyektor di dinding agar Azhar mudah presentasinya.
"Oke! Kita mulai saja ya, Pak!" ujar Azhar yang dijawab dengan anggukan oleh Richard.
"Rencana pengembangan salah satu unit bisnis kami adalah...."
Azhar menjelaskan rencana bisnisnya dengan lugas, tegas dan penuh keyakinan. Berbeda sekali saat meeting bersama Bapak Zaky dulu. Mungkin karena kali ini Azhar sudah mempelajari materinya jadi bisa presentasi dan menjawab pertanyaan yang Richard ajukan dengan penuh keyakinan.
Caca semakin kagum saja dengan kemampuan berbisnis Azhar. Kliennya tak main-main, Kusumadewa Group! Perusahaan yang banyak diidamkan semua orang agar bisa bekerja di dalamnya.
Akhirnya kesepakatan bisnis pun disepakati oleh kedua belah pihak. Setelah membaca isi kontrak, mereka pun menandatangani perjanjian di atas selembar materai. Kedua pimpinan tersebut lalu berjabat tangan dan berharap kalau bisnis yang akan mereka jalankan nanti akan berhasil.
Azhar mengantar Richard sampai ke lobby kantor, salah satu bentuk penghormatan yang ia berikan kepada pemimpin besar seperti Richard Kusumadewa. Setelah mengantar Richard, di dalam lift Azhar mengeluarkan kebahagiaannya pada Caca.
"Aku berhasil, Ca! Berhasil!" ujar Azhar seraya meraih tangan Caca dan mengguncang-guncangkannya dengan penuh senyum bahagia.
"Iya, Mas! Mas memang hebat!" puji Caca.
Azhar tersenyum, senang rasanya membagi kebahagiaan bersama istri sirinya. Merasa didukung dan dihargai usahanya.
Azhar melepas tangan Caca dan keluar lift dengan senyum di wajahnya. Namun senyumnya mendadak hilang saat melihat Julie masih menunggunya selesai meeting.
"Bagaimana Sayang meetingnya? Lancar?" sambut Julie sambil mengikuti Azhar dan membantunya melepas jas.
"Iya." jawab Azhar singkat. Azhar pun duduk di kursi miliknya.
Julie yang sejak tadi mengatur siasat pun mulai melancarkan aksi-aksinya. "Aku pijat ya Sayang! Biar otot kamu tidak tegang."
Azhar membiarkan Julie melakukan apa yang ia mau. Julie pun mulai memijat Azhar. Pijatannya tanpa tenaga, tak seperti pijatan Caca yang terasa enak sekali di tubuh Azhar.
Yang membuat berbeda adalah selain memijat, Julie juga meraba-raba tubuh Azhar. Mencari titik sensual yang membangkitkan gairah suaminya.
Julie tahu dan ia hafal betul dimana letak titik tersebut. Mudah membangkitkan sesuatu yang menjadi kelebihannya.
Azhar yang sejak semalam menahan gairahnya karena melihat tubuh Caca yang seksi, tak kuasa menahan godaan Julie. Azhar merasa tak masalah jika melampiaskan gairahnya pada Julie.
Julie mulai duduk di pangkuan Azhar. Mencium leher Azhar yang menjadi titik kelemahan suaminya. Julie mengangkat wajahnya lalu mencium Azhar dengan rakus. Azhar berusaha mengimbangi permainan istrinya yang memang agak liar tersebut.
Julie sadar, masalah Baim mengirim buket bunga dan cokelat tak akan mudah selesai jika tidak memberikan pelayanan pada Azhar. Julie melepaskan ciumannya, sambil tangannya menelusuri kemeja Azhar, ia pun mulai berjongkok dan hendak memberikan service yang tak akan mungkin sanggup Azhar tolak.
Ya, Caca melihatnya. Azhar lupa menutup tirai jendela dan sejak tadi Caca menjadi penonton. Melihat suaminya bermesraan dengan istri pertamanya.
Caca tak bisa tinggal diam. Usahanya akan sia-sia jika Julie dan Azhar kembali baikkan. Caca memutar otak, waktunya sempit. Yudi tak bisa dimintai tolong untuk saat ini. Sepupunya tersebut sedang sibuk.
"Mikir, Ca! Mikir! Jangan sampai mereka baikkan! Hancur semua rencana yang sudah dilakukan, ulang dari awal! Mikir! Ya Allah, Kak Baim... Caca harus apa?" batin Caca resah.
Caca teringat Kak Baim.
"Ya! Kak Baim bisa menolong aku!" batin Caca.
Cepat-cepat Caca menghubungi kantor dengan simcard milik Baim yang ada di Hp miliknya. Ia menelepon ext-nya sendiri.
Julie sudah berada di bawah kolong meja, hendak melakukan service untuk Azhar. Cepat-cepat Caca mengetuk pintu. Mengganggu kegiatan intim yang Julie dan Azhar lakukan.
Tok...tok...tok...
Azhar panik. Cepat-cepat dijauhkannya Julie dan ia menutup resleting celananya. Tak mau Caca sampai melihat apa yang ia lakukan bersama Julie.
"Masuk, Ca!" ujar Azhar yang diiringi tatapan kecewa dari Julie.
"Maaf, Pak. Saya mengganggu!" ujar Caca seraya menyembulkan kepalanya.
"Oh enggak kok. Kita enggak lagi berbuat apa-apa." elak Azhar. "Ada apa?"
Caca pura-pura ragu untuk bicara, Azhar menangkapnya. "Tak apa-apa, bicaralah!"
"Em... Itu... Ada yang menelepon mencari Ibu Julie, Pak." ujar Caca seraya berpura-pura mencari dimana keberadaan Julie, padahal Caca tau kalau Julie sedang berada di bawah kolong meja Azhar.
"Siapa?" mata Azhar melirik ke bawah. Tatapannya penuh curiga. Selama ini tak pernah ada yang mencari istrinya ke kantor. Kenapa tidak menghubungi ponselnya langsung?
"Bapak Baim. Eh Ibrahim atau Baim ya?" Caca berpura-pura lupa, agar lebih meyakinkan lagi.
"Baim?" Azhar mengernyitkan keningnya dalam. Ia kembali teringat inisial B yang sudah mengirim buket bunga dan cokelat untuk istrinya. "Sambungkan ke ext saya!" perintah Azhar dengan tegas.
"Baik, Pak!" Caca pun kembali ke tempatnya. Ponsel masih dinyalakan, sengaja untuk lebih meyakinkan Azhar.
Julie keluar dari kolong meja dan menatap Azhar takut-takut. "Aku enggak kenal, Sayang!"
Azhar tak peduli. Ia lalu mengangkat telepon miliknya yang berdering. "Hallo! Anda siapa? Kenapa mau berbicara dengan istri saya?!"
Caca mendengarkan suara Azhar sebentar dari ponsel lalu mematikan ponsel miliknya.
"Hallo! Hallo! Hallo!" Azhar menutup teleponnya dengan setengah membanting. Ia kesal. Ia marah. Ia tahu kalau dari sorot kekhawatiran di wajah Julie, istrinya memang mengenal Baim.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ani surani
iya in aja deh. pokknya serba caca yg the best 😅😅
2024-11-17
0
ani surani
zuzu nya
2024-11-17
0
Wanda Revano
sumpah gue gedek bgt.nih yg lakinya bnrnya baik sih tapi kog y dpt istri macam Juli yg gk punya hati.sbnrnya klo dibilang kasian y kasian sih sama Juli tapi klo inget dia sampai bikin Baim mati karena cinta butanya kjulie y ikutan marah.modelan kek Juli gk pantes dicintai Sampek sebesar itu olh baim
2023-04-07
3