Julie terbangun dan terkejut saat mendapati dirinya berada di atas tempat tidur di rumah mungil miliknya. Ia memeriksa dirinya dan ternyata ia tak memakai sehelai benang pun!
"Im! Baim!" panggil Julie.
Tak ada jawaban.
Julie melihat pakaiannya sudah berserakan di lantai, berpikir kalau dirinya sudah melakukan sesuatu dengan Baim semalam. Lantas kenapa ia tak ingat?
Julie mengambil pakaiannya lalu memakainya. Ia pun keluar kamar dan mencari keberadaan Baim. Tak ada sama sekali.
"Im!" Julie kembali memanggil nama Baim namun tak ada.
Tak ingin berlama-lama berada di rumah mungil miliknya, Julie pun segera pulang. Ia harus menyiapkan alasan kalau Azhar menanyakan kenapa dirinya baru pulang di pagi hari.
Julie lalu memberhentikan taksi dan meminta supir taksi mengantarkannya ke rumah Azhar. Sepanjang jalan Julie terus memikirkan alasan yang akan ia katakan pada Azhar karena tak pulang semalam.
"Aku akan bilang kalau aku semalam pulang ke rumah dengan alasan mau merayakan ulang tahun seraya mengenang kedua orang tuaku. Pasti Azhar akan menerima alasanku. Azhar 'kan baik dan mudah merasa kasihan." batin Julie.
"Lalu pergi kemanakah Baim? Apa yang sudah kulakukan semalam dengan Baim? Apakah ia masih belum melupakanku?" batin Julie.
Taksi pun sampai di sebuah rumah megah milik Azhar. Julie membayar taksi lalu turun ke rumah. Ternyata mobil Azhar tak ada di garasi. "Apa Azhar sudah pergi pagi-pagi sekali?" batin Julie.
Julie pun masuk ke dalam rumah dan bertanya pada asisten rumah tangganya dimana suaminya?
"Bukannya ibu dan bapak semalam pergi berdua? Bapak belum pulang, Bu." jawaban asisten rumah tangganya tentu saja membuat Julie kaget. Kemanakah suaminya pergi?
"Saya ke atas dulu! Kabari kalau Bapak sudah pulang ya!" Julie masuk ke dalam kamar miliknya, setelah membersihkan dirinya ia menunggu suaminya pulang.
"Kalau Azhar tak pulang semalam, berarti aku tak perlu susah-susah mengarang alasan kenapa aku tak pulang semalam?! Tapi kemana perginya Azhar?"
Suara mobil yang terdengar memasuki garasi rumah membuat Julie yang sedang membaca majalah turun untuk menyambut suaminya pulang. Azhar masih memakai baju yang semalam.
"Sayang kamu-" belum selesai Julie berbicara, Azhar sudah memotong perkataannya.
"Aku semalam mabuk! Bahaya menyetir kalau mabuk, aku putuskan menginap saja di hotel." ujar Azhar sebelum Julie bertanya lebih lanjut.
"O... Oke! Kamu mau mandi sekarang? Biar aku siapkan pakaian kamu!" ujar Julie dengan suaranya yang dibuat semanis mungkin.
"Aku saja yang ambil. Aku pusing! Bisa kamu tolong buatkan sup untuk menghilangkan pusing aku?!" sengaja Azhar menyuruh Julie memasak. Ia tak mau Julie melihat tubuhnya yang banyak jejak Caca semalam.
"Tentu. Aku buatkan dulu ya!"
****
Caca pulang ke rumah yang tak lagi menjadi sebuah 'rumah'. Mama masih saja suka melamun dan bersedih. Papa yang merasa bersalah malah sekarang jarang pulang dan memilih bekerja lembur. Hanya Caca yang mengurus Mamanya di rumah, sesekali meminta tolong pada tetangga sebelah rumahnya untuk mengecek keadaan Mama kalau dirinya sedang bekerja.
Namun hari ini Mama terlihat tidak melamun. Ya, semua karena Yudi. Mata Mama terlihat hidup hanya karena melihat keponakannya yang begitu mirip Kak Baim, tak lagi kosong.
"Tante harus makan! Harus punya semangat hidup lagi! Baim pasti tak mau Tante sedih. Maaf Yudi baru bisa datang sekarang. Yudi janji, akan sering-sering datang menjenguk Tante. Tapi, Tante harus jaga kesehatan ya!" bujuk Yudi.
Caca yang sudah selesai membersihkan diri lalu bergabung bersama Yudi dan Mama, menyimak obrolan keduanya. "Andai Baim masih ada... Kalian memang bagai pinang dibelah dua. Tante bisa melihat Baim lagi kalau ada kamu! Tante sedih, Yud. Kenapa Baim tega meninggalkan Tante?" Mama kembali menangis sedih.
"Ini sudah takdir Allah, Tan. Tante harus kuat menerimanya. Tante tentu tak mau Baim bersedih di sana karena melihat Tante seperti ini bukan?" bujuk Yudi.
Mama mengangguk. Mama mulai menghapus air mata di wajahnya. Sudah tidak sesedih biasanya.
"Sekarang Tante makan ya! Biar Yudi suapi!" Caca melihat Yudi yang sangat perhatian pada Mamanya. Ia menunggu Yudi selesai dengan Mama baru mengajaknya berbicara di teras.
"Bagaimana semalam?" tanya Yudi.
"Ya... Hampir berhasil. Umpan sudah aku tebar, semoga saja ia terpancing. Jujur Bang, aku tak tega sama Azhar. Bosku itu lelaki baik, istrinya saja yang kelakuannya seperti setan!" kata Caca dengan emosi.
"Aku yakin akan berhasil kok. Meski aku tahu apa yang kamu lakukan salah, namun setelah melihat keadaan Tante aku jadi mendukung kamu. Dia sudah aku tinggalkan di rumahnya dalam keadaan tanpa busana. Teman kamu yang mengurusnya. Pasti ia akan berpikir kalau Baim masih hidup."
"Iya. Julie memang tak tahu kalau Kak Baim sudah meninggal. Ia bahkan tak peduli bagaimana keadaan Kak Baim setelah ia mencampakkannya." Caca menghapus air mata yang kembali lolos dari wajahnya. "Terima kasih Bang sudah membantu aku!"
Yudi mengusap kepala sepupunya. "Dengan senang hati. Abang harus pulang sekarang. Tak bisa lama-lama di Jakarta. Kabari Abang kalau kamu butuh bantuan Abang lagi!"
****
Keesokan harinya sengaja Caca datang ke kantor agak siang. Ia semalaman menangis karena teringat Kak Baim, membuat matanya terlihat bengkak. Caca bahkan menangis bersama Mama dan mereka sampai tertidur karena lelah menangis.
Azhar sejak tadi menunggu kedatangan Caca dengan cemas. Biasanya sekretaris cantiknya itu sudah hadir pagi-pagi sekali dan menyapanya dengan senyuman. Namun pagi ini hanya bangku kosong yang menyapanya, pemiliknya sendiri datang dengan wajah sedih dan mata bengkak.
Azhar menekan ext Caca dan memintanya masuk ke dalam ruangannya. "Ca, ke ruangan aku sekarang!"
"Baik, Pak."
Caca mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah Azhar mempersilahkan. Azhar melihat Caca yang terlihat sedih dengan mata bengkak. Hatinya makin merasa bersalah.
Azhar pikir Caca menangis karena apa yang ia lakukan kemarin. Apa yang terjadi saat ia mabuk sampai sekarang masih belum ia ingat. Mungkin karena ia sangat mabuk sampai tak ingat apapun.
"Kamu sakit, Ca?" tanya Azhar penuh perhatian.
"Saya tidak apa-apa, Pak. Bagaimana keadaan istri Bapak?" sikap Caca yang bahkan sangat perhatian dengan istrinya membuat Azhar semakin merasa bersalah.
"Julie... baik-baik saja. Kenapa kamu datang agak siang? Biasanya kamu datang pagi?" tanya Azhar sambil menyelidik wajah Caca. Meski datang dengan mata bengkak namun tak mengurangi kecantikan yang Caca miliki. Azhar jadi teringat tubuh mulus Caca yang kemarin sempat dilihatnya. Benar-benar menggoda jiwa lelaki dalam dirinya.
Azhar mengusir pikiran-pikiran mesum dalam kepalanya. Ia harus fokus. Tak boleh berpikir yang lain.
"Saya tidak bisa tidur, Pak." jawab Caca jujur. Semalam ia memimpikan Baim. Mungkin karena terlalu mengenang kakaknya jadi terbawa mimpi.
"Karena... Memikirkan kita?" tanya Azhar dengan hati-hati.
"Kita? Jangan katakan Azhar berpikir mataku bengkak karena menangisi malam itu? Kesempatan bagus dong! Akan kumanfaatkan kesempatan ini dan membuatnya menikahiku!" batin Caca.
"Jujur saja... iya."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Wanda Revano
dih bener2 nih bocah pinter bgt baca situasi dan memanfaatkannya.otak Lo y ca bnr2 deh licik sumpah😂
2023-04-07
1
adik imut
ini kenapa pada dukung pelakor.... tapi aku juga .....
2022-10-03
1
Yuhandari Putu
habis baca cowok2 nackal lanjut baca cewek nackal
2022-09-12
0