Azhar masih megap-megap karena kepedesan. Caca tak tega juga. Diambilkannya air hangat dan memberikan pada Azhar.
"Minum air hangatnya. Biar hilang pedasnya." ujar Caca.
"Enggak air es aja? Syrup gitu?" protes Azhar.
"Enggak, Mas. Air hangat bagus untuk menghilangkan pedas. Kalau sudah tidak pedas lagi, aku traktir jajan es krim. Mau enggak?" rayu Caca.
"Mau! Oke, aku minum!" Azhar pun meminum air hangat dan perlahan hilang pedasnya.
Caca tersenyum, "Hmm... Ternyata level pedas Mas cuma level 1 ya? Oke, aku catat. Nanti aku buatkan sesuatu yang manis-manis."
"Kok kamu tahu aku suka manis?"
"Nebak aja! Udah hilang pedasnya?" tanya Caca.
Azhar pun mengangguk. "Udah. Ayo kita beli es krim!"
"Ayo!" Caca langsung berdiri namun tangannya ditarik oleh Azhar.
"Ganti baju dulu!"
Caca memanyunkan bibirnya, "Kenapa sih kalau aku enggak boleh pakai baju seksi keluar rumah, sementara Bu Julie boleh?"
"Jangan sebut nama Julie hari ini. Aku masih kesal! Sudah cepat ganti baju! Aku tunggu!" wajah Azhar berubah kesal kala mendengar nama Julie.
"Iya, Mas!"
Caca masuk ke dalam kamar dan mengganti celana hot pants miliknya dengan celana panjang, lalu menutupi tanktop yang dipakainya dengan cardigan. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Caca. Cepat-cepat ia menghubungi sahabatnya Handy.
"Aku mau makan es krim di tempat dekat rumah kamu! Tolong ambil foto aku dan Azhar lalu kirim ke nomor Kak Baim!" pesan Caca sambil berbisik.
"Sekarang?" tanya Handy.
"Iya! Sepuluh menit lagi aku sampai!" untunglah apartemen Caca tak jauh dari rumah Handy. Anak itu pernah cerita kalau ada kedai es krim enak di dekat rumahnya dan beberapa kali berbicara di group chat sampai Caca bosan.
Caca memutuskan sambungan telepon dan keluar kamar. Azhar menatapnya heran. "Pakai jaket? Memang jauh?"
Caca menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kita jalan kaki aja ya, sekalian olahraga malam. Ini cardigan, Mas. Bukan jaket. Gunanya nutupin tanktop aku, atau aku pakai tanktop aja nih?"
"Jangan macam-macam! Ayo pergi sekarang!"
Azhar dan Caca pun berjalan keluar apartemen. Berdua mereka berjalan menuju arah perkampungan yang terletak di belakang apartemen. "Kamu tau daerah sini?" tanya Azhar.
"Tau. Aku suka lari pagi muter-muter apartemen. Karena itu juga aku tahu ada kedai es krim di dekat sini." lagi-lagi Caca berbohong. Semoga Caca tak terjebak dengan kebohongannya sendiri.
"Oh... Pantas saja."
"Mas, aku boleh gandeng tangan Mas?" tanya Caca malu-malu.
Azhar jadi ikutan grogi dibuatnya. "Boleh... aja."
Tanpa sungkan Caca menggandeng tangan Azhar. "Langitnya bagus ya Mas malam ini. Banyak bintang bertebaran. Mas tau enggak, waktu aku kecil aku mikirnya bulan itu selalu mengikuti aku kemanapun aku pergi."
Azhar menahan senyumnya mendengar cerita Caca. "Kok bisa mikir kayak gitu?"
"Karena aku merasa diri aku adalah Sailormoon. Dengan kekuatan bulan akan menghukummu!" Caca mempraktekkan gerakan Sailormoon memegang tongkat. Kini Azhar tak kuat lagi untuk tertawa.
"Ha...ha...ha... Kamu hidup di dunia imajinasi ya? Mana ada Sailormoon di dunia ini?! Itu tuh khayalan para anak perempuan!" ujar Azhar sambil geleng-geleng kepala mendengar cerita Caca.
"Beneran, Mas. Kalau Mas kecil, suka berkhayal jadi apa? Jadi Unyil? Pak Usro? Atau Pak Raden?" goda Caca.
"Enak aja! Aku kumisan dong kalau jadi Pak Raden?!"
"Ya terus jadi apa? Pasti ada dong yang dikhayalkan?!" Caca kembali menggandeng lengan Azhar.
"Hmm... Jadi Power Ranger."
"Power Ranger? Pasti Ranger merah deh!"
"Kok tahu?"
"Iyalah. Pak, bagaimana kalau aku kabulkan khayalan Bapak."
"Dengan cara apa?" tanya Azhar penasaran.
"Aku beliin kostum Power Ranger. Nanti Bapak pakai. Pasti seksi ha...ha...ha...." Caca puas menertawai Azhar yang lagi-lagi kena dikerjainya.
"Dasar nakal!" Azhar mencubit pipi Caca sambil tertawa dengan ulah Caca. Hatinya terasa terhibur berada di dekat Caca. Tak lagi dihantui oleh rasa curiga.
"Tuh, kita udah sampai!" Caca menunjuk kedai es krim yang lumayan ramai pembeli. Caca melihat Handy sedang asyik bermain Hp. Pasti sedang mengambil gambar dirinya. "Aku mau beli rasa cokelat dan vanila. Lalu mau pakai toping Kitkat dan cokelat lumer."
"Enak kayaknya tuh! Aku juga sama deh!" ujar Azhar.
"Oke!"
Mereka memesan cokelat dan makan bersama sambil berhadapan. Beberapa kali Caca membuat lelucon sampai Azhar tertawa mendengarnya. Azhar terlihat begitu bahagia selama di dekat Caca. Azhar juga menyadari itu. Caca adalah istri sekaligus temannya. Ia nyaman berada di dekat Caca.
****
Pagi hari, Azhar dan Caca berangkat bersama ke kantor. Sebelum berangkat, Caca sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Azhar. Lagi-lagi Caca memanjalan Azhar dengan menyuapinya.
"Lama-lama aku lupa makan sendiri loh kalau kamu suapin aku terus, Ca!" ujar Azhar tapi tetap saja memakan apa yang Caca suapi.
"Ya, aku cuma mau melakukan tugasku saja selama Mas bersamaku. Aku 'kan tak tahu sampai kapan Mas bisa bersama aku terus." ujar Caca sambil berpura-pura sedih.
"Maaf ya, aku belum bisa berlaku adil. Aku janji, aku akan membagi waktu sama kamu. Setuju?"
Caca mengangguk sambil tersenyum. Setelah sarapan, mereka pun berangkat bersama. Caca kembali minta diturunkan di dekat kantor. Caca pikir aman, namun ada sepasang mata yang melihatnya.
Caca tak langsung naik ke atas, ia mampir sebentar untuk membeli dua buah es kopi untuk dirinya dan Azhar. Caca juga membeli dua buah croissant sebagai teman ngopi.
Pagi ini ia dan Azhar akan membahas bahan presentasi untuk meeting. Butuh es kopi agar segar dan tetap fokus mendengarkan apa yang Azhar katakan. Azhar adalah bos yang tegas kalau masalah pekerjaan.
Caca tersenyum saat para lelaki yang tergoda kecantikannya menyapa dengan ramah seraya menggodanya.
"Next time ngopi bareng sama aku aja ya, Ca!"
"Mau dong jadi croissant, biar bisa digigit sama Caca."
"Mau dibawain enggak, Ca? Siapa tau kamu juga mau aku bawa ke pelaminan."
Caca membalas godaan dengan senyum, tak menanggapi lebih lanjut. Memaintain fans itu penting juga loh, selama mereka masih tahap wajar ya Caca senyumin saja.
Caca pun naik lift dan pergi ke ruangan Azhar. Ia mengetuk pintu ruangan Azhar dan masuk tanpa permisi. "Kopi time!" ujarnya seraya mengangkat kopi dan cemilan yang ia bawa.
"Pintar! Aku butuh kopi! Sini! Kita meeting sekalian!" Azhar memanggilnya.
Caca menutup pintu dan berjalan mendekati Azhar. Caca menaruh kopi yang dibawanya di meja Azhar, lalu dengan jahilnya Caca malah duduk di pangkuan Azhar.
"Meetingnya di sini?" goda Caca sambil tersenyum. Niatnya mengajak Azhar becanda, namun Azhar malah tergoda. Apalagi harum parfum Caca sudah menjadi candu untuknya.
Caca sadar, suasana mereka berdua sudah berbeda. Azhar menatapnya dengan lekat dan tergoda dengan bibir Caca yang sejak beberapa hari ini terus memenuhi pikirannya.
Azhar memegang dagu Caca dan memajukan dirinya. Diciumnya Caca dengan lembut. Caca yang semula kaget dengan cepat belajar membalas ciuman Azhar. Kesempatan ini tak akan Caca lewatkan.
Bak gayung bersambut, Azhar makin tak mau melepaskan Caca. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Caca. Ciuman menjadi semakin panas, sampai sebuah ketukan di pintu mengagetkan keduanya.
Mereka melepaskan ciuman mereka dengan terpaksa. Caca cepat-cepat berdiri dan merapihkan dandanannya.
"Pagi, Zha!" ujar suara yang baru Caca dengar.
Perempuan berparas cantik yang usianya tak muda lagi berjalan dengan anggun mendekati Azhar. "Kamu tidak menyambut kedatangan Mommy?"
Perempuan itu menatap Azhar dan Caca bergantian. Ia sadar, kalau ia sudah mengganggu dua sejoli yang bermesraan. Bekas lipstik di ujung bibir Azhar menjadi buktinya.
"Ada apa Mommy datang?"
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Nanda Lelo
siapa tuh yg ngeliat??
2023-05-15
1
Wanda Revano
apa tadi mommynya Azhar y yg liat.dih kak mizzz mah suka bgt ngegantungin jadi penasaran kan
2023-04-07
0
Ernadina 86
siapa?
belum apa2 udah ketauan aja
2022-12-18
0