Azhar masih menatap Julie dengan tatapan marah. "Siapa Baim?!"
Julie keluar dari kolong meja Azhar. Rambutnya nampak sedikit berantakan. Wajahnya pucat dan langsung berpikir cepat mencari alasan.
"A-aku enggak kenal! Beneran!" ujar Julie dengan tergagap.
"Bohong kamu! Aku tahu kamu mengenal Baim!" ujar Azhar dengan nada suara yang dinaikkan satu oktaf.
"Eng- Enggak kok! Aku enggak bohong. Kamu 'kan yang berbicara di telepon. Tanya saja siapa dia!" tantang balik Julie.
Azhar mengepal tangannya kesal. Ia tahu istrinya berbohong namun tak ada bukti kalau istrinya selingkuh. "Sial!" batin Azhar.
Azhar lalu menelepon ext Caca. Tentu saja Caca yang sedang duduk manis seraya menguping pertengkaran di dalam ruangan Azhar terkejut. Sengaja tadi Caca membuka sedikit pintu ruangan Azhar agar dapat mendengar pertengkaran suami istri tersebut.
"I-iya, Pak!" jawab Caca.
"Ke ruangan saya sekarang!" perintah Azhar.
"Baik, Pak."
Caca bergegas masuk ke dalam ruangan Azhar. Nampak wajah Julie agak pucat, sementara Azhar terlihat sangat emosi.
"Permisi, Pak!" ujar Caca.
"Masuk!" perintah Azhar. Caca pun menurut. "Tadi siapa yang menelepon? Apa yang dikatakannya?"
"Tadi? Maksudnya Pak Baim eh apa Ibrahim ya?" Caca mulai berakting menjadi sekretaris lugu.
"Iya, itu. Apa yang dia katakan?" tanya Azhar.
"Em... Bapak Baim cuma ingin bicara dengan Ibu Julie... " Caca sengaja menggantung kalimatnya agar Azhar dan Julie makin penasaran.
"Lalu?" tanya Azhar tak sabaran.
"Lalu saya tanya, ada keperluan apa? Saya bilang Ibu Julie sedang di ruangan Bapak. Pak Baim bilang katanya Pak Baim kenal dekat dengan Ibu Julie dan...."
Julie menatap tajam penuh ancaman pada Caca, membuat Caca menundukkan wajahnya berpura-pura takut. Azhar menangkap gelagat Caca yang sedang ketakutan, lalu melihat ke arah Julie.
"Kamu jangan takut! Katakan saja sejujurnya! Kamu itu karyawan saya, tak perlu takut meski Julie adalah istri saya!" ucap Azhar membuat Caca memberanikan diri mengangkat wajahnya dan berbicara lagi.
"Pak Baim bilang... Pak Baim yang mengirim buket bunga dan cokelat untuk Ibu Julie." ucap Caca.
Caca sengaja melirik ke arah Julie. Nampak Julie menatapnya penuh permusuhan. Ya, genderang perang mulai Caca bunyikan. Julie pasti mulai sekarang makin tidak menyukainya. Caca tak peduli, toh Caca juga tak ingin disukai Julie.
"Ck... Kamu masih menyangkal tidak mengenal B? Ternyata benar ya, B adalah Baim. Orang yang telah mengirimkan buket bunga dan cokelat buat kamu. Pintar sekali kamu berbohong! Aku tak menyangka, kalau hal ini saja kamu tutupi dari aku bagaimana dengan yang lainnya?" Azhar berbicara tanpa mau melihat ke arah Julie. Ia sangat marah sampai tak mau menatap Julie.
"Heh, jangan sembarangan bicara kamu!" Julie mulai melampiaskan kemarahannya pada Caca. "Kamu pasti mengarang ini semua bukan?"
Julie berjalan mendekati Caca. "Apa tujuan kamu mengarang cerita seperti itu?! Kamu mau merusak rumah tangga aku? Mau merebut suamiku?!"
Julie mengangkat tangannya hendak menampar Caca. Azhar yang sudah berdiri segera menahan tangan Julie. Ia menghempaskan tangan Julie begitu saja.
"Jangan menyalahkan Caca hanya untuk menutupi kebohongan yang kamu buat!" ujar Azhar dengan kemarahan yang menggelegak.
Caca baru kali ini melihat sisi Azhar yang menyeramkan kala marah. Biasanya Azhar selalu baik dan ramah, namun saat marah ternyata sangat seram.
"Kamu jangan langsung percaya dong apa yang dia katakan! Dia tuh cuma ngarang cerita saja!" masih saja Julie melemparkan kesalahan pada Caca.
Caca menggelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Azhar kalau dirinya sama sekali tidak tahu.
"Lantas, aku harus percaya sama kamu gitu? Sekarang aku tanya sama kamu, siapa Baim? Kenapa dia sampai mengirim bunga untuk kamu? Apa hubungan kalian?" cecar Azhar.
"Aku beneran enggak kenal!" Julie pun mulai menggunakan senjata andalan kaum perempuan, menangis. "Aku enggak kenal! Aku enggak tau siapa Baim! Kenapa sih kamu susah sekali percaya sama aku?!"
Azhar mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu keluar dulu, Ca!"
Caca mengangguk, "Baik, Pak."
Caca keluar dan kembali memutar otak. Senjata air mata Julie jangan sampai membuat Azhar lemah.
Caca membuka Hp miliknya dan terkejut saat bala bantuan datang. Yudi membalas pesan yang Caca kirimkan. Sepupunya bisa membantu.
Cepat-cepat Caca mengetikkan pesan, mengatur skenario apa saja yang harus Yudi katakan. Suara pertengkaran Azhar dan Julie sudah tak terdengar, Caca pun kembali masuk ke ruangan Azhar.
"Maaf, Pak. Pak Baim kembali menelepon." Julie mengangkat wajahnya, nampak dirinya sangat panik. "Saya sambungkan atau tolak saja ya, Pak?"
"Sambungkan!" perintah Azhar dengan tegas.
"Baik."
Caca lalu menyambungkan telepon dari Yudi. Azhar menekan loud speaker agar pembicaraan di telepon dapat didengar juga oleh Julie.
"Hallo, Lie. Apa kabar kamu?" tanya Yudi.
Sengaja Azhar tak berbicara. Ia mau mendengar apa yang Baim katakan pada Julie.
Julie berjalan mendekati telepon dengan kesal. "Heh, siapa kamu?! Kenapa kamu bertindak seolah kita saling kenal?!"
"Bukankah... Kita memang saling mengenal? Bagaimana buket bunga dan cokelat pemberian aku? Kamu pasti suka bukan?" ujar Yudi membuat Julie semakin panik.
"Aku enggak kenal sama kamu! Salah sambung! Kalau kamu masih menghubungi aku, aku pastikan akan melaporkan ke kantor polisi!" ancam Julie yang langsung mematikan telepon. Takut kebohongannya yang lain akan terbongkar.
Julie menatap Azhar. "Aku enggak kenal! Itu orang gila! Mungkin penggemar aku! Aku enggak kenal. Kamu percaya sama aku 'kan?" Julie meraih tangan Azhar namun langsung dihempaskan oleh Azhar.
"Pulanglah! Aku tak mau pulang sebelum kamu jujur! Kirimkan pakaian aku ke kantor!" perintah Azhar tegas.
****
"Mas mau makan masakan Caca?" tanya Caca saat Azhar kembali pulang ke apartemennya.
Sejak tadi Azhar hanya diam. Ia masih kesal dengan kejadian tadi siang. Ia merasa dibohongi oleh Julie.
"Kalau makan mie ramen super pedas gimana? Katanya bagus buat melampiaskan kekesalan!" sindir Caca.
Azhar kini menatap Caca. "Kamu nyindir aku?"
"Iya sih." jawab Caca sambil tersenyum. "Jangan marah lagi kayak tadi ya, Mas. Caca takut. Mas tuh biasanya baik dan ramah. Kalau kayak tadi, Caca seakan enggak kenal sama Mas."
"Iya. Yaudah buatkan yang super pedas buat aku!"
Caca tersenyum, "Siap, Mas!"
Azhar pun ikut tersenyum. Setidaknya sekarang ia ada tempat pulang dikala istri yang sangat dicintainya membohonginya. Entah apa lagi yang Julie sembunyikan darinya. Namun kekecewaannya hari ini sangat besar. Tak mudah untuk disembuhkan.
"Huh... hah... Gila ya kamu, Ca! Ini beneran super pedas!" ujar Azhar seraya meminum air dari gelas kedua.
"Tapi... Enak 'kan?"
Azhar mengangguk, "Kalau besok aku enggak masuk kerja, kamu tanggung jawab ya!"
"Yaudah kita bolos bareng aja ha...ha...ha..."
Azhar mencubit hidung Caca, "Dasar nakal!"
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Wanda Revano
ca jgn kebnyakan manfaatin Abang Lo deh.kasian gue lama2.udh mati juga masih aja msih aja Lo mintain tolong kan kasian ca dia mesti bolak balik ke alam yg berbeda
2023-04-07
2
Novianti Ratnasari
aku tuh pengen tau kisah nya Baim am Julir sampai ga jd nikah.dn bikin Baim bunuh diri.
2022-09-28
1
Sherly Ly
loh kok tau jul? peka sekali kamu ini
2022-09-23
0