Wajah Azhar memerah menerima perlakuan manis dari Caca. "Em, Ca. Ini di kantor!" katanya memperingatkan Caca.
"Oh maaf, Mas. Aku hanya terlalu bahagia saja mendapat hadiah dari kamu! Anggap saja sebagai tanda terima kasih atas hadiah yang kamu berikan." Caca merutuki kebodohannya yang terlalu bersikap agresif.
"Inget, Ca! Inget! Jadi pelakor yang elegan dan berkelas!" batin Caca.
"It's okey. Aku hanya enggak mau kamu dilihat oleh yang lain. Ya... You know, tembok saja bisa bicara. Jangan sampai berita hubungan kita menyebar. Ingat, belum ada tiga bulan aku menikahi Julie dan aku sudah menikahi wanita lain. Apa penilaian mereka nanti tentang aku?! Kamu juga pasti akan terseret nantinya. Aku tak mau itu."
Caca mengangguk. "Aku mengerti. Kapan aku bisa pindah ke apartemen ini?"
"Secepatnya! Hari ini pun kamu bisa pindah. Cukup bawa keperluan kamu saja, semua fasilitas sudah ada di sana." jawab Azhar.
"Terima kasih, Mas. Aku balik ke meja aku dulu dan melanjutkan pekerjaanku." baru selangkah Caca berjalan, ia berbalik dan mengambil tisu. Caca mendekatkan dirinya pada Azhar dan mengusap pipi Azhar dengan tisu di tangannya. "Ternyata ada bekas lipstik aku! Nah, sekarang sudah bersih!"
Caca pun meninggalkan Azhar yang sibuk menetralisir detak jantungnya yang bertalu dengan kencang. Berada di dekat Caca membuatnya takut. Takut jantungnya melompat keluar karena sikapnya yang tak bisa diprediksi. Untunglah sekarang Caca sudah menjadi istrinya, setidaknya dosa yang ia miliki sedikit berkurang.
****
Weekend ini Caca memindahkan barang-barang miliknya ke apartemen baru. Meski agak sedih ditinggal Caca, Papa dan Mama mengijinkan Caca pindah.
Sebelum pergi, Caca meminta Mama dan Papa hidup bahagia seperti dahulu. Caca berjanji akan baik-baik saja.
Ternyata setelah menikah dan kini tinggal di apartemen pemberian Azhar, sang pemilik apartemen tak juga datang. Azhar lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Julie, istri yang dicintainya.
Weekend ini contohnya. Azhar berjanji akan main ke apartemen Caca namun Azhar pula yang mengingkari janjinya. Padahal Caca sudah berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan Azhar.
Caca kesal. Caca marah. Caca merasa kalah saing dari Julie.
"Enggak bisa! Azhar harus terus dekat denganku kalau aku mau merebut hatinya!" batin Caca.
Caca pun memasang wajah kecewa dan marah saat hari senin tiba. Ia menyapa Azhar tanpa seulas senyum di wajah.
Caca mengikuti Azhar masuk ke dalam ruangan dan membukakan jas Azhar seperti biasa. Bedanya adalah kali ini tak ada senyum yang menghiasi wajahnya.
Azhar menyadari perubahan wajah Caca. Biasanya senyum ramah menyambut kedatangannya kini malah wajah masam dan tak banyak bicara.
"Maaf ya aku enggak bisa datang ke apartemen kamu! Julie mengajakku makan malam di pinggir pantai. Katanya mengingatkan memori saat kami berpacaran dulu. Mana mungkin aku bisa mengecewakannya? Kamu mau mengerti keadaanku 'kan?" pinta Azhar.
"Jujur aku kecewa kamu tak datang, Mas. Semenjak aku pindah ke apartemen, tak pernah sekalipun kamu datang. Sekedar mengunjungi teman kamu saja, kamu tak mau." ujar Caca sambil menunduk sedih. "Padahal aku kesepian di sana. Biasanya aku tinggal bersama kedua orang tuaku, sekarang hanya seorang diri dan berharap kamu datang menemani. Nyatanya... nihil."
"Maaf, aku... Kamu tahu 'kan Julie belum tahu hubungan kita? Aku masih sulit berbohong pada Julie. Please..."
"Iya. Aku mengerti. Sulit memang menjadi orang ketiga seperti aku. Maafin aku ya yang tidak sabaran menjadi istri kamu. Seharusnya aku harus lebih banyak mengalah. Aku akan tetap menunggu kamu kok, kapan pun kamu mau datang aku selalu menunggu kedatangan kamu!" Caca kembali menjadi teman yang Azhar kenal, begitu pikir Azhar.
Namun bukan Caca namanya kalau tak ada siasat untuk menghancurkan rumah tangga Julie dan Azhar. Caca meminta Handi mengirimkan buket bunga ke alamat kantor. Caca meminta Handi memakai jaket dan topi milik Kak Baim untuk berjaga-jaga, serta masker untuk menutupi wajahnya.
Siang ini, akan terjadi awal pertengkaran Azhar dan Julie...
Sebuah buket bunga datang saat Caca dan Azhar baru selesai meeting. Buket besar nan cantik itu ditujukan kepada Julie, istri Azhar.
Azhar yang baru saja datang tentu saja heran. Kenapa ada buket bunga untuk istrinya? Lalu siapa yang mengirim? Kenapa hanya ada huruf 'B' di nama pengirim?
"Kamu enggak nanya dari mana?" tanya Azhar mencecar security yang menerima buket bunga tersebut.
"Maaf, Pak. Tidak. Kurir itu cuma bilang ada buket untuk Ibu Julie Abraham, ya sudah saya terima saja!" jawab security dengan jujurnya.
"Baiklah!" dengan kesal Azhar membawa buket bunga tersebut dan menaruhnya di meja tamu. Ia memfoto buket tersebut dan mengirimkan pada Julie.
Caca berpura-pura sibuk bekerja padahal ia terus memperhatikan Azhar dan Julie yang bertengkar. Caca semakin senang melihatnya.
Keesokan harinya Caca kembali menyuruh Handi mengirim buket cokelat untuk Julie ke kantor. Lagi-lagi Azhar membawa buket tersebut pulang ke rumah dan kembali bertengkar dengan Julie.
"Siapa B? Kenapa dia terus mengirimi kamu hadiah? Ada hubungan apa kamu?" cecar Azhar pada Julie.
"Aku enggak tau! Beneran! Masa sih kamu enggak percaya sama aku?!" bujuk Julie.
"Jangan bohong kamu! Buktinya sudah dua kali dia mengirimkan kamu buket bunga! Aku enggak suka ya kamu bohongin aku kayak gini!" Azhar lalu pergi mencari udara segar. Meninggalkan Julie yang gagal memenuhi rasa ingin tahunya.
Beberapa kali memutari jalanan ibukota, akhirnya Azhar memutuskan untuk pergi ke apartemen Caca. Sejak Caca tinggal di sana belum sekalipun ia datang mengunjungi.
Caca yang sedang membeli makanan melihat mobil Azhar dari kejauhan. Cepat-cepat ia berlari dan bersiap-siap menyambut kedatangan Azhar. Caca mengganti bajunya dengan hot pants dan tanktop serta memakai body lotion ke seluruh tubuhnya. Tak ada salahnya menyambut suami pulang toh?
Caca berpura-pura sedang menonton TV sambil makan cemilan ketika bel pintunya berbunyi. Caca membukakan pintu dan agak terkejut melihat kedatangan Azhar.
"Mas?" senyum di wajah Caca mengembang.
Sama seperti Caca, Azhar pun agak terkejut melihat penampilan Caca yang seksi dan menggoda iman kaum Adam. "Kamu lagi apa? Boleh aku masuk?"
"Oh tentu! Silahkan masuk, Mas!" Caca mengikuti langkah Azhar setelah menutup pintu. "Aku lagi nonton TV. Mas udah makan belum?"
"Belum. Kamu ada makanan?" tanya Azhar yang duduk di sofa.
"Ada dong! Baru aja aku pesan makan. Kita makan berdua ya! Aku enggak akan habis makan sendiri!" Caca pergi ke dapur dan hendak membuatkan Azhar minum. "Mas mau minum apa?"
"Apa saja asal dingin!"
"Oke!" Caca membuatkan sirup dan datang sambil membawa makanan yang tadi ia beli. Ia menghidangkan sirup di atas meja dan duduk di samping Azhar.
"Karena aku belinya satu, kita makan berdua aja ya. Aku suapin ya, Mas pasti capek dan lapar." Azhar agak sungkan saat dimanjakan Caca seperti ini, tapi siapa sih yang bisa menolak Caca?
Dengan patuh Azhar memakan setiap suapan yang disuapi Caca seraya sesekali matanya melihat aset Caca yang terlihat menggoda. Seperti imannya yang sudah tergoda si nakal Caca Cantika.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
ani surani
the Real Pelakor 😅😅😅
2024-11-17
0
Safa Almira
haha
2024-07-20
0
anonim
Caca beraksi neeehhh...
siap2 terjerat aksi Caca kau masseeeehhhh
2023-12-27
0