Bukti yang tak terelakkan

Azhar terbangun keesokan harinya. Kepalanya terasa sakit sekali karena terlalu banyak minum. Ia bahkan lupa apa yang sudah terjadi semalam.

Berat sekali untuk membuka matanya. Rasanya masih ingin tidur lebih lama lagi. "Sayang! Selamat ulang tahun!"

Azhar memeluk wanita yang sejak semalam memeluk tubuh polosnya dengan erat. Azhar mengecup rambutnya dan kembali memeluk wanita yang ia pikir adalah istrinya dengan erat. Sampai....

Azhar menyadari kalau parfum yang ia cium bukanlah yang biasa istrinya pakai. Azhar pun melepas pelukannya dan memperhatikan wanita yang berada di pelukannya.

Caca mulai terbangun saat pelukan hangat Azhar tak lagi ia rasakan. Saat Caca mengangkat wajahnya, ia dan Azhar sama-sama terkejut.

"Caca?!" Azhar melihat tubuh Caca yang polos tanpa busana lalu memalingkan pandangannya. Sayang, Azhar sempat melihat sebentar dan tau kalau tubuh Caca ada bekas kepemilikan.

Dalam hati Azhar terus bertanya-tanya, apakah dirinya yang sudah membuat bekas kepemilikan di tubuh Caca?!

Caca cepat-cepat menutupi tubuhnya dan berakting. "Kenapa... Kenapa bisa... Kenapa kita?" Caca pun menangis. "Huaaa...."

Azhar yang semula membuang pandangannya kini menatap ke arah Caca. Sekretaris dan juga temannya yang selama ini selalu menghibur dan perhatian dengan dirinya kini menangis terisak, dan itu karena dirinya.

"Ca!"

Caca tak menggubris dan terus menangis.

"Ca! Sumpah aku juga enggak tau bagaimana kita bisa menghabiskan malam ini berdua! Aku... Mabuk, Ca!" Azhar berusaha menenangkan Caca namun tangis Caca malah semakin memilukan lagi.

Azhar mengusap wajahnya dan berusaha mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Tetap saja tak ada yang ia ingat sama sekali.

Azhar melihat baju milik Caca dan dirinya bertebaran di lantai. Ia tadi juga sempat melihat tubuh Caca yang ada bekas kepemilikan, tak hanya satu namun beberapa. Artinya apa? Artinya semalam memang terjadi sesuatu.

Caca melirik ke arah Azhar yang terlihat kebingungan karena tak mengingat apapun yang terjadi semalam. Caca masih berpura-pura menangis, saat Azhar tak melihat ke arahnya seulas senyum pun berhasil lolos dari wajah Caca.

"Ca." Caca kembali berakting dan menyembunyikan wajahnya. Jangan sampai Azhar melihatnya berbohong. "Tenangkan diri kamu dan kita bicarakan baik-baik."

Caca mengangkat wajahnya. Matanya sembab sehabis menangis, membuat Azhar makin di dera rasa bersalah yang mendalam.

"Maafin aku, Ca!" ujar Azhar dengan sepenuh hati. "Aku enggak berniat menyakiti kamu! Aku enggak ingat apa yang terjadi semalam. Yang aku ingat hanya aku banyak minum saja. Apa kamu ingat apa yang terjadi semalam?"

Caca menghapus air matanya. "Saya juga mabuk, sama seperti Bapak. Saya tak ingat apa yang sudah terjadi." Caca sengaja berbohong. Kenyataannya memang tak ada yang terjadi, kalau ia mengatakan sesuatu dan malah memperburuk keadaan bisa-bisa rencananya gagal. Lebih baik ia ikut berkata tidak ingat saja.

Azhar kembali mengusap wajahnya. Wajahnya di pagi hari justru terlihat lebih tampan dan maskulin menurut Caca. Tak ada bulu halus di dagunya karena kemarin ia habis bercukur. Ingin sekali Caca menyentuh wajah tampan itu sekali lagi dan merasakan ciuman membara yang semalam sangat memabukkannya tersebut.

Wajah Caca memerah. Tanpa disadari ia sudah jatuh dalam pesona Azhar. Pesona lelaki tampan dan baik hati yang terlalu sulit ditolak.

"Lalu kita harus apa?" tanya Azhar putus aja.

Caca menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Pak. Saya tak ingat semalam kita melakukan apa."

Azhar menghela nafas dalam. Wanita di depannya terlalu polos dan lugu. Tak tahu kalau semalam sudah terjadi sesuatu, begitu pikir Azhar.

"Sudahlah, Pak. Jika Bapak lupa apa yang terjadi semalam, anggap saja tak pernah terjadi!" dengan kesal Caca menarik selimut dan memunguti pakaian miliknya.

"Bukan begitu, Ca. Aku hanya-" Caca tak mendengarkan Azhar dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Caca berpura-pura baru melihat tubuh polosnya yang ada bekas kissmark. Caca kembali berpura-pura menangis. Sengaja tangisnya ia kencangkan agar Azhar mendengarnya.

Tentu Azhar mendengarnya. Ia sibuk bolak balik di dalam kamar, seperti yang semalam Caca lakukan. Bedanya adalah ia memikirkan masa depan Caca. Bukan berencana jahat seperti yang Caca lakukan.

Azhar mencuci wajahnya di washtafel dan saat melihat dirinya di cermin ia tak bisa mengelak. Tubuhnya sama seperti Caca. Ada bekas kissmark, bukti kalau memang sudah terjadi sesuatu semalam.

Azhar menunduk dengan tangannya yang mengepal kencang. Ia merasa sudah melakukan hal yang jahat pada gadis lugu seperti Caca. Ingin rasanya Azhar berteriak melampiaskan rasa yang menghimpit dadanya, namun Azhar hanya bisa menahannya saja.

Azhar masih mendengar suara tangis Caca dari dalam kamar mandi. Terasa memilukan. Ia putuskan untuk cepat-cepat memakai pakaian yang semalam ia kenakan saat ulang tahun Julie. Nampak ada bekas lipstik milik Caca yang menempel. Membuat ia semakin yakin kalau semalam memang ada yang telah terjadi. Buktinya sangat jelas.

Azhar mengambil air mineral yang ada di atas meja dan meminumnya sampai habis. Ia sadar sudah berbuat bodoh. Andai saja semalam ia tidak terlalu larut dalam suasana pesta dan menenggak minuman keras....

Ceklek....

Pintu kamar mandi dibuka. Nampak Caca keluar dari kamar mandi dengan mata sembab dan kini sudah memakai bathrobe.

Azhar merasa tak enak hati.

"Ca!"

"Bapak pulang saja! Sudah siang! Nanti Bu Julie mencari."

"Tapi, Ca-"

"Aku baik-baik saja, Pak. Kasihan Ibu Julie menunggu Bapak."

Caca memunguti pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Caca pikir saat ia keluar dari kamar mandi Azhar sudah pulang dan meninggalkannya, ternyata tidak.

Lelaki baik itu masih menunggu dirinya dengan tatapan bersalah. Caca jadi tak enak hati. Malah Caca yang merasa bersalah sudah menjadikan Azhar sebagai korban balas dendamnya terhadap Julie.

"Bapak... Belum pulang?" tanya Caca agak ragu.

"Aku mau antar kamu pulang!"

"Tapi-"

"Aku enggak mau kamu pulang sendirian. Biarkan aku mengantar kamu!"

Caca menyerah. Azhar memang lelaki baik. Ia tak mau terlalu kejam terhadap orang yang tak bersalah.

"Baiklah."

Caca pun akhirnya di antar pulang dengan Azhar. Sepanjang jalan, mereka hanya terdiam dan asyik dengan pikirannya masing-masing.

Azhar yang merasa bersalah karena sudah mengkhianati Julie dan menyakiti Caca karena perbuatannya semalam. Caca yang mulai merasa kasihan dan tak tega pada Azhar.

Keduanya terus membisu sampai akhirnya sampai di rumah Caca. Caca membuka seat belt miliknya lalu pamit pada Azhar. "Terima kasih sudah mengantar, Pak. Aku pulang dulu."

"Iya."

Azhar hanya menatap kepergian Caca penuh rasa sesal. Azhar menyalahkan dirinya karena dianggap sudah menyakiti wanita sebaik Caca.

Azhar pun kembali mengemudikan mobilnya pulang ke rumah. Bekas jejak di tubuhnya membuatnya harus menyembunyikannya dari Julie untuk sementara.

****

Terpopuler

Comments

Wanda Revano

Wanda Revano

ntar Lo bnran jatuh cinta sama Azhar ca tkutnya begitu sih

2023-04-07

1

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

sejak bangun dan melihat Caca, sama sekali g ingat istrinya lagi..😂

2022-10-15

1

Trinity Trinityelf

Trinity Trinityelf

trnyata Azhar kek polos jg ya org nya..gampang di pengaruhin 😂

2022-09-26

0

lihat semua
Episodes
1 Cinta Ini Membunuhku
2 My Name is Caca
3 Red Lipstick
4 Friends
5 Birthday Party Planning
6 Teror Party
7 Sebuah Misi Balas Dendam
8 Bukti yang tak terelakkan
9 Menangis Semalam
10 Perasaan Bersalah
11 Pernikahan Siri Dadakan
12 Memercik Api Pertengkaran
13 Pizza Time
14 Mulai Bersikap Acuh
15 Telepon Palsu
16 Membuat Kobaran Api Semakin Besar
17 Sailormoon dan Power Ranger
18 Berkata Jujur
19 Membuat Jejak Kehadiran Si Pelakor
20 Bekas Lipstik
21 Sama-sama Berbohong
22 Tergoda
23 Cerita di Masa Lalu
24 Flashback-01
25 Flashback 02
26 Flashback 03
27 Flashback 04
28 Flashback 05
29 Flashback Off
30 Silahkan, Mas!
31 Jangan Gila deh Kamu, Mas!
32 Tetangga Baru
33 Rencana Azhar
34 Honeymoon atau Kerja?
35 Bertemu Sahabat Lama
36 Pesan dari Julie
37 Pengaruh Si Nakal
38 Bertemu Tetangga Lagi
39 Honeymoon
40 Mulai Membandingkan
41 Hati yang Tergerak Untuk Sholat
42 Kemana Hati Ini Berada
43 Boom Pertama Diledakkan
44 Pertengkaran Sengit
45 Bom Kedua
46 Mengatakan Kejujuran
47 Mommy
48 Tangisan Mama
49 Aksi Saling Jambak
50 Apa yang disembunyikan Caca?
51 Mengakhiri Segalanya
52 Kisah Eza
53 Sebuah Surat
54 Masih Saja Bodoh
55 Membawa Caca Pulang
56 Berbicara Berdua
57 Menemui Julie
58 Aku Tak Bisa Menerimanya
59 Sidang Cerai
60 Keluarga Bahagia
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Cinta Ini Membunuhku
2
My Name is Caca
3
Red Lipstick
4
Friends
5
Birthday Party Planning
6
Teror Party
7
Sebuah Misi Balas Dendam
8
Bukti yang tak terelakkan
9
Menangis Semalam
10
Perasaan Bersalah
11
Pernikahan Siri Dadakan
12
Memercik Api Pertengkaran
13
Pizza Time
14
Mulai Bersikap Acuh
15
Telepon Palsu
16
Membuat Kobaran Api Semakin Besar
17
Sailormoon dan Power Ranger
18
Berkata Jujur
19
Membuat Jejak Kehadiran Si Pelakor
20
Bekas Lipstik
21
Sama-sama Berbohong
22
Tergoda
23
Cerita di Masa Lalu
24
Flashback-01
25
Flashback 02
26
Flashback 03
27
Flashback 04
28
Flashback 05
29
Flashback Off
30
Silahkan, Mas!
31
Jangan Gila deh Kamu, Mas!
32
Tetangga Baru
33
Rencana Azhar
34
Honeymoon atau Kerja?
35
Bertemu Sahabat Lama
36
Pesan dari Julie
37
Pengaruh Si Nakal
38
Bertemu Tetangga Lagi
39
Honeymoon
40
Mulai Membandingkan
41
Hati yang Tergerak Untuk Sholat
42
Kemana Hati Ini Berada
43
Boom Pertama Diledakkan
44
Pertengkaran Sengit
45
Bom Kedua
46
Mengatakan Kejujuran
47
Mommy
48
Tangisan Mama
49
Aksi Saling Jambak
50
Apa yang disembunyikan Caca?
51
Mengakhiri Segalanya
52
Kisah Eza
53
Sebuah Surat
54
Masih Saja Bodoh
55
Membawa Caca Pulang
56
Berbicara Berdua
57
Menemui Julie
58
Aku Tak Bisa Menerimanya
59
Sidang Cerai
60
Keluarga Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!