Setelah beberapa jam di sana, Jihan dan suaminya harus pulang. Mereka akan kembali besok pagi. Jihan belum bisa menemani menantunya di rumah sakit, mereka ada janji malam ini mengenai bisnis yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.
"Sebaiknya kita pulang, biarkan Sahara istirahat," ajak Jihan pada suaminya. "Ra, Mama sama Papa pulang dulu ya," pamit Jihan.
"Iya, Ma," jawab Sahara.
Ardinata dan istrinya pun keluar, kini tinggal menyisakan Sahara dan Juan di dalam sana. Keduanya saling terdiam karena bingung harus berbuat apa.
"Mmm," ucap mereka bersamaan.
"Kamu saja," kata Sahara pada Juan, lelaki yang kini telah menjadi suaminya sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan padanya.
"Kamu saja," sahut Juan. Kata dokter, wanita hamil itu sensitif, ia takut salah bicara apa lagi mengenai soal kandungannya.
Sahara menarik napas sebelum bicara, ia tahu ini bukan salah suaminya. Semuanya terjadi karena Sonia, ia juga tahu bahwa wanita yang dicintai suaminya bukan dirinya.
"Setelah aku hamil, apa kamu akan tetap memperjuangkan kekasihmu?" tanya Sahara.
Juan menoleh, dan menatap wajah Sahara. Terdiam sesaat, lalu mengusap wajah karena frustrasi. Sahara istrinya, dan Nadien wanita yang dicintainya selama ini, tidak mudah bagianya kepada siapa harus memilih. Cinta itu terlalu kuat, dan Sahara pun ikut kuat dalam hal ini, menyandang status istri dan ada calon anaknya dalam perut wanita itu. Bahkan nadien, Sudah banyak kenangan yang ia lewati bersama model cantik itu. Selama menjadi model Nadien selalu bersikap baik dan profesional. Selalu mengutamakan dirinya, karena mereka selalu berandai akan hidup bersama sampai ajal memisahkan. Tapi pada kenyataanya, takdir berpihak lain.
"Itu urusanku, urusan kita cuma satu. Kamu hamil dan aku harus bertanggung jawab."
Kalau sudah berkata seperti itu, Sahara tahu bagaimana harus bersikap. Pernikahan ini memang tak diinginkan, Juan menikahinya karena harga diri. Juan sangat marah saat tahu bahwa dirinya dikata lelaki brengsek. Tak terima dengan hal itu, Juan menikahi Sahara karena ingin membuktikan bahwa ia bukan pria brengsek, terlebih, Juan sudah tidur bersama Sahara dan sebagai lelaki ia harus bertanggung jawab.
"Jadi, jangan salahkan aku jika sikapku kurang baik padamu. Kamu tahu bahwa aku mencintai kekasihku," tutur Juan. "Jangan bahas masalah pribadiku, aku tidak suka!" Juan bangkit lalu menyuruh Sahara istirahat. "Aku ada urusan, kamu istirahat saja."
"Aku mau pulang, aku mau bertemu nenek-ku. Dia marah padaku," lirih Sahara.
"Jangan bandel, ingat, kamu tidak hidup sendiri. Ada anak-ku yang kamu kandung." Setelah mengatakan itu, Juan pun keluar dari ruangan.
* * *
Sudah beberapa jam Juan tak kembali, hari sudah sore. Entah kemana pria itu pergi. Sahara sudah merasa bosan berada di ruangan itu, aroma dari obat sangat menyengat di penciumannya. Rasa mual itu kembali. Sahara beranjak lalu menuju kamar mandi dalam keadaan membawa botol infus. Setibanya di kamar mandi, ia mengeluarkan semua isi dalam perut. Benar-benar melelahkan.
Tiba-tiba saja, ia rindu akan sosok wanita tua yang selama ini menemaninya. Jika ia sedang sakit, Sahida-lah yang merawatnya. Sahida sangat kecewa, tapi Sahara lakukan ini semua demi neneknya. Setelah merasa baikan, Sahara kembali merebahkan diri di tempat tidur. Meringkuk bagai anak kucing yang kehilangan induknya.
Bosan, ia pun merubahkan posisi dengan membolak-balikkan tubuhnya. Mencari posisi nyaman di sana. Sendiri, jadi lebih cepat bosan. Akhirnya, ia pun keluar untuk mencari angin segar.
Saat ia berjalan sendiri, ada beberapa perawat yang terlihat panik. Ia pun melihat suster tengah mendorong brankar dan terdapat pasien di sana. Takut menghalangi jalan, ia pun melipir ke pinggir untuk memberi jalan.
Yang menajadi pusat perhatiannya adalah, sosok pria yang berlari mengejar pasien yang tengah di dorong oleh suster itu. Wajahnya terlihat begitu panik, siapa yang tak panik jika melihat kekasihnya masuk rumah sakit.
Diam-diam, Sahara mengikutinya dari arah belakang.
"Selamatkan Nadien, Dok," ucap lelaki itu yang tak lain adalah Juan.
Sahara ingin sekali menghampirinya, tapi ingat akan ucapan Juan. Ia tak boleh ikut campur mengenai wanita itu. Tapi apa yang terjadi dengan model cantik itu? Sahara sangat penasaran. Ia harus menemui suaminya, yang orang tahu, Juan adalah suaminya. Ia berhak berada di samping lelaki itu. Ini tempat umum, Juan tak akan curiga bahwa ia tengah mengikutinya.
Pelan-pelan, Sahara berjalan ke arah suaminya. Berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi barusan. Kini, Juan pun melihat keberadaan istrinya. Sahara tak bertanya saat pandangan mereka beradu.
"Kamu mau kemana?" tanya Juan. "Kenapa tidak istirahat? Wajahmu masih pucat, kembalilah ke ruanganmu," titahnya.
"Bosan sendirian di sana, aku mau pulang saja Lagian, aku tidak apa-apa," jawab Sahara. "Aku mau pulang ke rumah nenek," sambungnya.
"Tidak ingat kalau nenek-mu sudah mengusirmu? Untuk sementara diamkan saja dulu. Aku antar kamu ke ruangan." Juan hendak merangkul Sahara, namun tiba-tiba ...
"Keluarga pasien," panggil suster.
Juan menoleh, lalu melepaskan tangan dari bahu sahara. "Ya, Sus?" jawab Juan.
"Anda saudaranya?" tanya suster.
"Teman," jawab Sahara cepat. Ia takut suaminya akan mengaku sebagai kekasih, bagaimana pun Juan sudah menikah, bahkan hampir semua orang tahu. Sahara harus bisa menjaga nama baik suaminya.
"Kami mau ada keluarganya, keadaan pasien cukup parah," terang suster.
"Lakukan yang terbaik, saya akan tanggung jawab," kata Juan.
"Baiklah kalau begitu, Anda ke bagian administrasi."
Setelah urusannya selelai, Juan kembali dan menunggu di depan ruang IGD, yang di mana, ada Nadien di dalam sana. Juan tak menyangka bahwa ini akan terjadi, yang Juan tahu, sikap Nadien tak seperti ini.
Kejadian ini, Sahara menyimpulkan. Ternyata, ini yang katanya ada urusan.
Diam-diam, Juan menemui Nadien di apartemen miliknya. Ia menemui Nadien karena ingin menjelaskan semuanya. Kenapa ia bisa menikah dengan sahara, Juan akan jelaskan itu semua. Tapi setibanya di apartemen, Juan melihat Nadien sudah jatuh pingsan dalam keadaan mulut berbusa. Tidak tahu apa yang terjadi dengan model cantik itu, Juan langsung membawanya ke rumah sakit.
Sahara duduk di kursi tunggu, ia melihat suaminya terus mondar-mondir di depannya. Takut akan kehilangan, mungkin itu yang dirasakan suaminya saat ini. Ia tahu, cinta suaminya sangat besar kepada kekasihnya.
Namun tiba-tiba ...
Hoek ...
Juan langsung menoleh dan menghampiri Sahara. "Sudah kubilang istirahat." Juan mengajak Sahara untuk kembali ke ruangannya. Karena, kata dokter Sahara memang harus banyak istirahat, bila perlu, wanita itu harus dirawat untuk beberapa hari karena lambungnya yang belum stabil.
* * *
"Untuk kali ini nurut padaku, setidaknya kamu ingat bahwa kamu tengah hamil," kata Juan.
"Aku mau pulang."
Mendengar itu, mata Juan langsung menyorot dengan tajam. "Dia anak-ku, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak-ku! Rasa tanggung jawabku lebih besar, Sahara."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
bguslah kalau juan sayang banget sm anaknya..nanti lama2 sayang sm sahara..dian gpp meninggal thor
2022-08-20
0
Ivonovi
aduh mau bunuh diri ya si nadine
2022-08-04
0
Yati Rosmiyati
lanjut Thor
2022-08-04
0