Sean berjalan terburu-buru menjauh dari ruangan ibu mertuanya.
Ya, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mertua dan asisten nya, ketika akan menemui orang tua istrinya.
Sean terus melangkah. berhenti di depan lift, menunggu pintu lift terbuka dan segera masuk.
Ia terdiam di dalam lift. ucapan mertuanya kembali berputar dalam pikiran dan telinga nya.
Wajahnya penuh dengan emosional, antara sedih, kecewa dan ingin menangis.
Jika tuhan memberinya pilihan, tentu ia tidak mau semua itu terjadi padanya. tentang lupa ingatan, tentang perlakuan nya pada Cellya, dan tentang menghilang nya sang istri.
Apalagi memorinya saat ia menyakiti istrinya, akhir-akhir ini terus berputar di ingatannya semenjak keadaan nya di nyatakan semakin membaik.
Sean keluar dari lift begitu pintu terbuka. ia segera berjalan keluar, terus melewati meja resepsionis dan berakhir di lobi kantor.
John yang melihat sang majikan datang segera membuka pintu mobil, mempersilahkan Sean masuk.
Tanpa kata, pria itu segera masuk dan duduk di jok belakang.
John segera menutup pintu dan langsung masuk mobil, duduk di belakang kemudi.
Melihat raut wajah sang tuan yang berbeda, John tidak berani bertanya dan segera melajukan mobil menuju kediaman Sean.
Sepanjang perjalanan, pria itu hanya diam. ia menatap jalanan sekitar lewat jendela mobil. tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Begitu mobil berhenti di depan mansion nya, Sean segera keluar mobil tanpa menunggu John membuka pintu.
Bahkan, ia mengabaikan para pelayan yang menyambut nya. langkahnya cepat menuju kamar istrinya.
Begitu masuk, Sean segera menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
Matanya terpejam, nafasnya memburu mengingat ucapan mertuanya. mengingat tangisan istrinya, saat ia bersikap kasar pada gadis itu.
Sean terduduk lemas. ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut nya.
Air matanya tak terbendung, membuat nya semakin tak berdaya dan terbaring di lantai, hingga membuat nya tertidur.
Sore datang mengantarkan senja. sinar matahari berwarna oranye memperindah penampakan langit sore.
Semua anggota keluarga mulai pulang dari rutinitas nya. ayah Sean, pulang dari kantor dan ibu Sean pulang dari butik nya.
Para pelayan nampak sibuk dengan pekerjaan rumah nya. mereka menyiapkan makan malam untuk keluarga Xavier.
"Selamat datang, tuan besar.", sapa para maid saat melihat ayah Sean datang.
"Nyonya, sudah datang?!.", tanyanya.
"Sudah, tuan.", jawab kepala pelayan.
Ayah Sean nampak memberikan tas kerjanya, dan pelayan itu segera menerima serta menyimpan nya.
"Baru datang?!.", sapa ibu Sean, menuruni tangga dan segera menghampiri suaminya.
Ia membantu sang suami melepaskan jas nya. lalu melipat dan meletakkan di lengannya.
"Mandilah!.",
"Aku sudah menyiapkan airnya.", perintah nya pada sang suami, yang hanya di angguki oleh suaminya.
"Sean sudah pulang?!.", tanya ayahnya.
"Hai, dad.", sapa pria itu, keluar dari kamar Cellya.
"Tadi jadi pergi ke kantor mertua mu?!.", tanya ayahnya. yang hanya di angguki oleh Sean.
"Baiklah, aku akan segera mandi. sehingga kita bisa segera makan malam.", ucap ayah Sean, berlalu menaiki tangga meninggalkan Sean dan ibunya.
......................
Semua menyelesaikan makan malam nya. nampak ibu Sean menuangkan air putih ke gelas Sean dan suaminya.
"Mau ku kupas kan buah?!.", tawar ibu Sean pada suaminya.
"Aku ingin pisang saja.", jawab ayah Sean.
"Aku sudah kenyang, ma.", sahut Sean.
"Baiklah.",
"Nani, tolong cuci kan pisang untuk tuan!.", perintah nya pada pelayan.
Begitu pisang datang, ibu Sean segera mengupas dan memberikan nya pada suami.
"Ma, dad", ucap Sean setelah lama diam di meja makan. membuat kedua orangtuanya menatap ke arah nya seketika.
"Tender di perusahaan cabang Singapura, izinkan aku yang ambil alih.", ucapnya, seketika kedua orang tua yang duduk di meja makan bersama nya terkejut dengan permintaan Sean.
"Sayang, kenapa mendadak ingin ke perusahaan cabang?!.",tanya ibunya.
"Fokus saja pada kesehatan mu dulu.", sambung ayah Sean.
"Aku sudah merasa lebih baik, dad.",
"Sekalian, aku mau mencari Cellya di sana.", jawab Sean.
"Sayang, untuk mencari nya kita harus tahu pasti dulu keberadaan nya.",
"Mama hanya takut, kau tidak mendapatkan hasil seperti yang di inginkan, dan membuat kesehatan mu memburuk lagi.", ucap ibu Sean lembut. ia tidak ingin putranya kecewa dengan hasil akhir yang belum pasti.
"Mama mu, benar. biarkan orang kepercayaan kita yang mencari tahu dulu. kau bisa menyusul kesana saat ia sudah mendapatkan informasi detail.", sahut ayahnya, menimpali.
"Lalu harus berapa lama lagi?!.",
"Berapa lama lagi, harus menunggu?!.",
"Ini sudah hampir 2bulan, dan Cellya belum juga di temukan.",
"Aku, sebagai suami hanya diam. bukankah, Dady dan mama selalu mengajariku untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab?!.",
"Sekarang, apakah aku bisa di sebut sebagai seorang suami yang baik dan bertanggung jawab?!.",
Papa dan mama nya terdiam mendengar amarah dan kekecewaan Sean.
Memang benar, seharusnya mereka mengizinkan. toh, yang di cari adalah istrinya sendiri, tanggung jawabnya sendiri.
Apalagi sekarang keadaan Sean sudah lebih baik. harusnya, itu bukan menjadi alasan bagi mereka untuk menahan Sean tetap di zona nyaman, sementara Cellya belum di ketahui jelas keberadaan dan keadaan nya.
"Aku, hanya ingin memastikan bahwa dia masih hidup.",
"Memastikan bahwa dia sehat, tidak kekurangan satu hal apapun.",
"Kalaupun dia kecewa pada perlakuan ku selama aku hilang ingatan, dan ingin pergi dariku. aku tidak masalah, dad. asal kita akhiri dengan baik.",
"Jadi dia bisa kembali pada keluarganya. bukan menghilang seperti ini.", ucapnya sendu, mengakhiri semua ungkapan hatinya.
"Mama, paham. tapi, kita belum tahu pasti dimana Cellya. asisten dan orang kepercayaan kita juga belum mendapatkan kabar pasti, selain Cellya ....
"Pergilah!.", sahut ayahnya, yang sedari tadi diam mencerna ucapan putranya.
"Sayang...?!.", seru ibu Sean, pada suaminya. dari pengucapannya, seperti mengutarakan sedikit rasa kecewa.
"Jika itu terjadi pada dirimu, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti putraku.",
"Dia hanya ingin memastikan keberadaan dan keadaan istrinya.",
"Toh, jika semua baik-baik saja. tidak akan ada yang perlu di khawatir kan.", ucap ayah Sean, berusaha memberi istrinya pengertian.
"Thanks, dad.", ucap Sean, girang. ia segera beranjak dari duduknya dan memeluk ayahnya.
"Berusahalah sebaik mungkin di sana.",
"Berjanjilah pada kami, kau akan menyelesaikan semua yang kau mulai dengan baik.", ucap ayahnya, sebelum melepas pelukan putranya. Sean mengangguk kuat, ia tersenyum bahagia.
"Dady, akan meminta John dan Alex untuk mengurus semua berkas-berkas nya.", sambung nya.
"Aku sangat berterimakasih padamu, dad. kau terbaik.", ucapnya.
"Baiklah, aku akan istirahat lebih dulu.", ucap Sean, yang segera berlalu meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments