Cellya pulang setelah seharian bekerja. seperti biasa, begitu sampai rumah ia langsung berganti baju dan menuju dapur.
"Ada yang perlu saya bantu, nona?!.", tanya wanita paruh baya yang biasa bekerja membersihkan rumah nya.
Cellya tersenyum.
"Tidak.", jawabnya lembut.
"Saya bantu bersihkan sayur dan kupas kan bumbu dapurnya.", sahut asisten rumah tangga yang biasa ia panggil Nani, itu.
"Mm..., terimakasih.", sahutnya di sertai senyuman manis khas miliknya.
"Nona, terlihat bahagia hari ini. apa ada hal baik?!.", tanya Nani.
"Apa ingatan tuan, sudah mulai kembali?", sambung nya.
Cellya tersenyum getir. namun, dengan cepat ia merubah ekspresi wajah nya.
"Setiap hariku adalah hari bahagia. Nani, tidak pernah melihat ku bersedih kan?!.", ucapnya balik bertanya. membuat asisten rumah tangga itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Baiklah. tolong bersih kan ikannya, hari ini aku mau masak sup ikan.", ucapnya meminta tolong dengan nada bersemangat. membuat wanita tua itu pun bersemangat dan segera menyambar ikan segar.
Kurang lebih satu jam, Cellya dan Nani berkutat memasak di dapur. mereka terlihat kompak. Cellya sendiri nampak piawai dan cekatan.
"Selesai....!!!", serunya, ketika sup ikan nya matang dengan sempurna.
Ia sudah memindahkan sup ikan itu ke dalam wadah saji. selanjutnya, ia mulai menata makan malam di meja agar, ketika suaminya datang, Sean bisa segera makan.
Nampak Cellya kembali ke dapur. ia hendak membereskan dan membersihkan wadah, piring dan peralatan lainnya yang kotor.
"Biar Nani, saja. nona, cepat mandi. tuan, akan segera datang.", Cellya tersenyum mendengar ucapan asisten rumah tangga nya. ia selalu tulus kepada Cellya, bahkan menganggap Cellya seperti putri nya sendiri.
"Baiklah. terimakasih, Nani.", Cellya mengecup pipi Nani nya sebelum pergi. dan seperti biasa, itu membuat Nani tersenyum bahagia dengan tingkah Cellya.
Ia segera berlari dengan riang menuju kamarnya, yang berada tak jauh dari ruang keluarga.
Ya, sudah menjadi rahasia umum di rumah ini jika, mereka tidak tidur dalam satu kamar, meski sudah resmi menikah.
Sean menolak mentah-mentah sekamar dengan Cellya sebelum ingatan nya benar-benar pulih. dan Cellya menghormati bahkan menyetujui keputusan itu.
Cellya menutup pintu kamar nya. ia segera menuju walk in closed untuk mengambil handuk serta baju ganti.
Wajahnya masih riang, ketika ia meletakkan baju ganti di ranjangnya. selanjutnya, ia pun mulai melangkah menuju kamar mandi.
Namun tiba-tiba ia merasa pusing, di susul rasa sakit yang teramat sangat di kepala nya. ia memejamkan mata, berusaha tenang dan rileks agar tidak berpengaruh pada janin nya.
Sekuat nya, Cellya berbalik. tujuannya adalah ranjang kamarnya. ia nampak sempoyongan sebelum akhirnya terjatuh.
Ia masih berusaha untuk mencapai ranjangnya. dengan merangkak sembari menahan sakit di kepala nya, Cellya akhirnya bisa naik perlahan di ranjang, walau beberapa kali sempat terjatuh.
Obat ... ia nampak membuka tasnya yang berada di atas meja samping ranjang.
Begitu menemukan botol plastik berisi obat yang di carinya. ia segera membuka dan menuangkan isinya. tapi... ia urungkan saat ingat ada, malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahimnya.
Cellya memilih memasukkan obat itu lagi ke dalam tas, dan segera mendekap kedua sisi kepala nya dengan kedua tangannya, berharap sedikit mengurangi rasa sakit yang sedang menyerang nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean pulang, ia nampak kurang sehat. tapi begitu melewati meja makan, ia merasa lapar. apalagi melihat sup ikan menu favorit nya.
"Nani, masak sup ikan hari ini?!.", tanyanya, pada wanita paruh baya yang menjadi asisten rumah tangga nya.
"Oh, tuan. baru datang?.",
"Maaf, Nani tidak tau.", jawab nya yang sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran sang majikan karena sedang fokus mencuci semua peralatan dapur yang di gunakan masak tadi.
"Ambilkan nasi, Nani. aku mau cuci tangan dulu dan segera makan.", perintah nya.
"Baik.",
Nani segera mengambil kan nasi di piring untuk Sean. tak lama kemudian, Sean sudah kembali. ia segera duduk dan bersiap melahap makan malam nya.
"Hmm..., masakan Nani, memang yang terbaik.", pujinya begitu lidah nya merasakan sup ikan itu.
Seperti biasa, Nani hanya tersenyum. sesuai permintaan dan perintah Cellya.
Sean terdiam. ada sebuah gambaran melintas lagi di otak nya. ia nampak menikmati makan sup ikan, di temani seorang gadis. dari postur tubuhnya, itu bukan Ellyana. tapi wajah gadis yang melintas di gambaran itu, juga tidak jelas.
Mereka nampak bahagia. sesekali Sean berlaku manja, meminta untuk di suapi.
Kembali ia merasakan pusing di kepala nya.
"Tuan, baik-baik saja?!.", tanya Nani. ia nampak khawatir melihat Sean.
"Pusing, Nani.", jawabnya.
"Mau di ambilkan obat?.",
"Ambilkan segelas air saja.", jawab nya. yang segera membuat Nani mengambil gelas, menuangkan air putih dan memberikan nya pada Sean.
Sean nampak lebih tenang. pusing nya, juga berangsur mereda.
"Apa tuan, waktunya check dokter?.", tanya Nani.
"Tidak. belum waktunya, Nani.",
"Lebih baik, besok tuan periksa ke dokter. jangan di sepelekan.",
"Sebenarnya, tadi pagi. aku hanya terjatuh di kamar mandi. mungkin karena lantai nya sedikit licin. kepala ku sedikit terbentur, dan anehnya setelah itu penglihatan ku terkadang sedikit kabur. lalu, muncul gambaran-gambaran yang tidak jelas.", ucapnya menceritakan.
"Apa ingatan tuan, kembali?.", tanya Nani dengan raut sumringah nya. Sean menggeleng.
"Aku tidak tahu. hanya tadi pagi, perutku terasa mual.",
"Aku lalu buru-buru ke kamar mandi yang akhirnya membuat ku terjatuh.", jawab Sean. Nani terdiam mendengar penjelasan itu.
"Baiklah, Nani. aku akan ke atas untuk mandi dan istirahat.", ucapnya, berpamitan.
Sean menggeser kursinya lalu berdiri meninggalkan meja makan.
Tepat saat melintasi kamar Cellya. entah kenapa, ia ingin sekali masuk dan melihat istrinya.
Sean membuka pintu kamar, nampak Cellya sudah berbaring di ranjang. ia berjalan pelan-pelan. karena hanya lampu tidur yang di nyalakan, membuat Sean tidak sadar bahwa, istrinya tengah pingsan dengan wajah yang penuh keringat dan bibir memucat.
Sean mengira Cellya tidur biasa. jadi, ia segera keluar dari kamar Cellya dan menutup pintu kamar itu.
Setelah nya, ia segera berjalan menaiki tangga. entah kenapa ia mulai mengkhawatirkan Cellya. mungkinkah ia mulai menyukai istrinya?!.", pikir Sean.
................... ...
Pagi datang...
Nani menyiapkan sendiri makan pagi untuk Cellya dan Sean hari ini.
Sebenarnya, Nani ingin membangunkan Cellya. namun, ia urungkan karena, mungkin Cellya kelelahan setelah lembur. ya, Nani tau betul alasan nya jika Cellya bangun terlambat.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. nampak Sean sudah menuruni tangga dan segera duduk di kursi meja makan. tapi tidak dengan Cellya. ia belum terlihat sedari pagi, membuat Nani khawatir.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments