Ia sengaja duduk di sofa yang lurus dengan pintu rumah utama agar bisa melihat sekitar dengan leluasa.
Ia khawatir kalau tertidur dan tidak melihat kedatangan istrinya.
Sesekali Sean melihat jam besar yang ada di ruang tamu rumah nya. ya, sebentar lagi tepat pukul 12 malam dan belum nampak terlihat tanda-tanda kedatangan Cellya.
Pikiran dan perasaan nya mulai resah. ia mulai beranjak dari kursi dan berjalan keluar masuk rumah, berusaha untuk menenangkan diri dan pikirannya sendiri.
Pagi datang. maid nampak membersihkan rumah setelah acara semalam, dan mereka menjumpai Sean sedang tertidur di sofa ruang tamu.
Nampaknya, semalam suntuk ia tidak beranjak dari sana dan tetap menunggu istrinya pulang.
"Nani, apa Sean sudah bangun?!.", tanya ibu Cellya yang baru saja menuruni tangga. Nani hanya diam dan melihat ke arah sofa, membuat wanita itu mengikuti arah mata pelayan nya.
"Semalam dia tidur di sini?!.", tanya ibu Cellya yang melihat Sean tengah terlelap di sofa.
"Seperti nya begitu, nyonya.", jawab Nani. suara langkah mendekat, ibu Cellya menoleh dan menjumpai besannya mendekat.
"Ada apa?!.", tanyanya begitu berada di dekat besannya.
"Lihatlah!.", ucapnya pelan, menunjuk Sean. ibu Sean melihat putranya.
"Apa semalam dia tidur di sini?!.", tanya ibu Sean.
"Sepertinya begitu.",
"Aku rasa dia menunggu Cellya pulang.", jawab ibu Cellya.
"Apa Cellya belum bisa di hubungi?!.", tanya ibu Sean. besannya hanya menggeleng pelan.
Ya, sudah dari semalam ibu Cellya mencoba menghubungi putrinya, tapi tidak tersambung begitu juga dengan Ellyana.
"Apakah besan yakin dia baik-baik saja?!.", tanya ibu Sean pada ibu Cellya.
Ya, jika memang Cellya berniat memberi kejutan atau mengerjai suaminya, bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Sean khawatir.
Apalagi ponselnya mati, tidak bisa di hubungi oleh siapapun.
"Aku baru saja mengutus ajudan untuk ke kantor tempat Cellya bekerja.",
"Kita akan segera tahu, sebentar lagi.", jawab ibu Cellya.
Ibu Sean mendekati putranya. "Sayang, bangunlah!.", ucap ibu Sean, seraya mengusap lengan putranya lembut.
Sean yang merasakan sebuah sentuhan segera membuka matanya dan bangun.
"Mm, sudah pagi kah?!.",
"Apa Cellya sudah datang?.", tanyanya dengan suara berat nya, perlahan ia mendudukkan dirinya. ibu nya hanya tersenyum.
"Bersihkan dan Rapikan dirimu dulu.",
"Segera mandi dan kita sarapan bersama.", hanya itu yang mampu di ucapkan oleh ibunya.
"Ma.", ucapnya. menanti jawaban dari kedua ibu yang sedang berdiri di depannya.
"Mama akan mengatakannya nanti.", jawab ibu Cellya.
"Apa ini bagian dari kejutan?!.", tanya Sean. ibu mertua nya hanya tersenyum.
"Baiklah, cepat mandi dan bersiap. kami menunggumu di meja makan.", ucap ibu Cellya. membantu Sean berdiri dan mendorong menantunya pelan. membuat pria itu tersenyum sekilas dan segera pergi meninggalkan kedua wanita paruh baya itu.
"Besan. jujur saja, sebenarnya perasaanku tidak enak.", ucap ibu Sean, membuat ibu Cellya menoleh dan terdiam.
Sebenarnya, bukan hanya ibu Sean. ibu Cellya pun juga merasakan hal yang sama. hanya, ia tidak ingin memperkeruh suasana. apalagi, Sean baru saja sembuh dari amnesia nya.
Ia memilih menyimpan perasaan khawatir dan prasangka nya karena ia tahu betul, itu akan berdampak buruk pada kesehatan menantunya.
"Tolong jangan katakan apapun, tentang semua prasangka dan ke khawatiran kita.",
"Itu akan berakibat buruk pada Sean.", ucap ibu Cellya, yang hanya di angguki oleh besannya.
......................
Sesudah sarapan, ibu Cellya lebih dulu pamit berangkat ke perusahaan. tidak lama, ayah Sean menyusul dan terakhir ibu Sean pamit melihat butik nya.
Tinggal Sean sendiri. ia memainkan ponselnya, mencari kontak istrinya, lalu mencoba menghubunginya.
Nihil. ya, tentu saja nihil. tas nya saja sudah di ambil orang, bagaimana bisa Cellya menjawab telepon nya.
Sean terdiam menatap layar ponselnya. ia berpikir bahwa, istrinya sedang mengajaknya bermain.
"Ok. karena kejutan mu terlalu lama maka, sebaiknya aku saja yang datang kesana untuk mengejutkan nya.", gumamnya.
Ia tersenyum tipis. bergegas, ia keluar rumah memasuki garasi dan segera keluar menyusuri jalan dengan mobil sport Lamborghini Aventador nya.
Tempat tujuannya adalah, kantor tempat istrinya bekerja. ya, ia harus tahu lebih dulu istrinya sedang berada dimana?!.
Sean berpikir untuk memberikan kejutan pada istrinya. ya, karena Cellya sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa pulang.
Akan lebih baik bila dia yang datang memberi kejutan pada istrinya agar Cellya lebih bersemangat, sehingga istrinya bisa cepat pulang bersama nya.
Sean melajukan mobilnya dengan senang hati. sepanjang jalan senyum di bibirnya terus berkembang.
Ia nampak bersemangat menuju kantor tempat Cellya bekerja.
Setelah beberapa menit mengendarai mobilnya, kini Sean sudah turun dari mobil begitu sampai di depan gedung kantor Future brand, tempat istrinya bekerja.
Sean segera melangkah masuk gedung setelah memarkirkan mobilnya.
Dengan raut wajah bahagia, ia berjalan menghampiri resepsionis.
"Selamat pagi, nona.", sapa nya pada seorang wanita yang sedang bertugas di meja resepsionis.
"Selamat pagi, tuan.", balasnya ramah dengan senyum nya.
"Ada yang bisa kami bantu?!.", tanyanya lagi.
"Ahh, aku mencari nona Cellya, ketua desain grafis di perusahaan ini.", jawab Sean.
"Oh, nona Cellya?!.", tanya wanita itu meyakinkan. Sean mengangguk.
"Nona Cellya masih bertugas di Singapura. apa ada pesan yang ingin di titipkan?!. biar kami sampaikan.", ucap resepsionis itu, menawarkan bantuan.
"Mm, kira-kira kapan mereka akan kembali?!.", tanya Sean.
"Jadwal pulang nya, seharusnya hari ini bila semua tugas sudah selesai.", jawabnya. Sean terdiam, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami ucapan resepsionis itu.
"Baiklah, terimakasih.", hanya itu yang di ucapkan Sean sebelum ia pergi.
Ia segera melangkah keluar menuju tempat mobil nya terparkir.
Awalnya, dia ingin mengetahui dimana istrinya bertugas dan akan menyusul nya. tapi, mendengar resepsionis itu bilang, bahwa Cellya dan kedua temannya akan pulang hari ini, ia menjadi sedikit bingung.
Ya, haruskah ia menyusul istrinya atau menunggu Cellya pulang?!.
Sean memasuki mobilnya dan duduk di belakang kemudi. ia mulai melaju kan mobilnya.
Haish dia bingung sekarang. namun tiba-tiba, dia ingin mampir ke butik ibunya.
Sean segera memacu mobilnya menuju butik. ia segera memarkirkan mobilnya di pelataran butik, sebelum turun dan melangkah masuk ke toko ibunya.
Begitu melihat Sean, semua karyawan membungkuk kan badannya, memberi hormat.
"Apa mama disini?!.", tanyanya pada asisten kepercayaan ibunya.
"Iya, tuan. nyonya, sedang menemui klien di ruangan nya.", jawabnya.
Sean melangkah menuju ruangan ibunya. ia mengetuk pintu sebelum masuk.
"Tok...",
"Tok...",
"Tok...",
Sean membuka pintu. "Ma, apa aku mengganggu?!.", tanyanya.
"Tidak, sayang. Mama, baru selesai.", jawab ibunya.
"Baiklah, nyonya kalau begitu kami pamit dulu.",
"Kami tunggu hasil akhir nya.", ucap klien itu, lalu menjabat tangan ibu Sean dan berpamitan.
"Asisten Ami, tolong antar tamu kita keluar.", ucap ibu Sean yang segera di laksanakan oleh asisten nya.
"Mari tuan, nona. silahkan ikuti saya.", ucapnya yang segera di ikuti oleh pasangan klien itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments