Ponsel Cellya berdering. membuat nya segera mengakhiri kesedihan nya.
Ia nampak menarik nafas dalam-dalam, dan berdehem beberapa kali untuk melegakan tenggorokan nya sebelum menyapa suara di seberang.
"Iya.", ucap nya pada seseorang di seberang telepon.
"Baiklah. aku akan ke sana sebelum ke kantor.",
"Iya, terimakasih.", ucapnya sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.
Ia segera berlari ke arah kamarnya. Cellya nampak berganti baju, merapikan rambutnya dan segera meraih tas.
Cellya menatap ke arah lantai atas, berharap suaminya segera turun sehingga ia bisa segera pamit untuk berangkat kerja. namun, cukup lama ia menunggu suaminya tidak kunjung turun.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menulis pesan pada sang suami.
Cellya membuka tasnya, mengambil bolpoin dan buku diary nya. ia menuliskan sesuatu dan setelah selesai ia merobek buku itu, sebelum menyelipkan pesannya di bawah gelas jus yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
Bergegas ia memasukkan buku dan bolpoin nya dan segera berjalan dengan cepat keluar rumah menuju garasi mobil rumah mereka.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan perlahan mulai melakukan kendaraan nya keluar garasi, melewati taman rumah dan keluar gerbang setelah seorang penjaga rumah membuka kan pintu gerbang nya.
Cellya melajukan mobilnya cepat di jalan raya, ia tidak ingin terjebak macet, mengingat ini adalah jam nya para pekerja kantoran berangkat. dan lagi, sebelum ke kantor ia harus mampir dahulu ke sebuah tempat.
Mobil Mercedez Benz - GLA 200 itu, nampak mulus memasuki pelataran parkiran sebuah rumah sakit.
Cellya segera keluar setelah memarkirkan mobilnya. ia nampak mengunci pintu mobil, dan berjalan sedikit cepat memasuki rumah sakit.
Ia melangkah pasti, sesekali membalas sapaan atau menyapa beberapa orang, perawat dan dokter yang kebetulan ia jumpai saat berjalan menuju ruang dokter yang menangani nya.
"Tok...
"Tok...
"Tok ...
Cellya segera masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu sebuah ruangan.
"Selamat pagi.", sapa nya pada seorang wanita yang duduk di kursi depan meja dalam ruangan itu.
"Selamat pagi, nona. silahkan duduk.", sapa nya kembali yang membuat Cellya, segera mengambil duduk berseberangan dengan dokter.
"Bagaimana akhir-akhir ini, nona?!.", tanya dokter itu.
"Masih sering pusing kah?!.",
"Obat nya tidak bereaksi lagi?!.", sambung dokter Lin. dokter yang menangani Cellya selama kurang lebih enam bulan ini.
Cellya nampak menghela nafas dalam sebelum menjawab.
"Iya. masih sama, apa perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut?!. atau harus mengganti obat dan metode terapi nya?!.", jawab Cellya yang kembali bertanya pada dokter Lin.
"Sebaiknya, kita melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. karena, ada hal yang mengganjal dari pemeriksaan darah, nona kemarin.", jawab dokter muda itu.
Cellya nampak berpikir sejenak. ia, ada pertemuan dan rapat pagi ini. tapi, tidak mungkin ia melewatkan pemeriksaan kesehatan nya begitu saja. bagaimana pun, ia masih memiliki keinginan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama Sean.
"Apa lama?!.", tanyanya, setelah cukup lama terdiam.
"Tidak sampai satu jam, nona. mulai pendaftaran sampe pelayanan.", jawab dokter Lin.
"Pendaftaran?!.", tanyanya, tidak mengerti. bukankah ia sudah terdaftar sebagai pasien tetap rawat jalan lebih kurang enam bulan ini?!.
"Iya. kita perlu berkunjung ke poli kandungan untuk USG.", jawabnya. membuta Cellya mengerutkan kening hingga kedua alis mata nya hampir menyatu. raut wajahnya, nampak belum mengerti kemana arah pembicaraan dokter Lin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cellya nampak duduk di kursi ruang tunggu. ia mengantri dengan pasien lain yang datang untuk memeriksakan kandungannya.
Ia melihat sekeliling. nampak mereka begitu bahagia, periksa di antar oleh suami, orang tua, mertua atau kerabatnya.
Nampak juga beberapa orang dari suami mereka atau orang tua mereka yang datang, nampak mengusap-usap perut dan berbicara dengan calon anak atau calon cucu mereka yang tentu saja masih di dalam perut ibunya. wajah para ibu hamil itu, nampak sumringah dan bahagia, tida seperti dirinya.
Cellya tersenyum getir melihat hal itu.
"Nona, mari masuk!.", ajak dokter Lin, yang berhasil membuyarkan pikiran nya. ya, ia hanya di temani dokter muda itu saja.
Cellya mengangguk. ia berdiri dan berjalan perlahan mengikuti langkah dokter Lin.
"Selamat pagi.", sapa asisten dokter kandungan itu, ramah.
"Pagi.", jawab Cellya, di sertai senyuman manisnya.
"Silahkan duduk, bunda. kita periksa tekanan darah dulu.", ucapnya. yang membuat Cellya segera duduk, sementara dokter Lin berbicara dengan dokter Ben, dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu.
Setelah nya, Cellya di minta berbaring di bed rumah sakit. ia merasakan cairan dingin berupa gel yang di teteskan di atas perutnya.
Dokter nampak memakai sarung tangan elastis nya sembari masuk dari balik tirai.
"Sehat, bunda?!.", sapa dokter ramah sembari tersenyum, sebelum menaikkan masker yang berada di bawah bibir untuk menutupi mulut dan hidung nya, sesuai standar operasional prosedur di rumah sakit. Cellya hanya menjawab dengan senyuman.
Mulai lah pemeriksaan itu di lakukan. di layar monitor mulai nampak kantung rahim Cellya.
"Lihat bunda!.",
"Rahimnya sehat. janin nya juga sehat.", Cellya nampak menatap layar monitor yang berada jauh di atasnya.
"Baby nya berukuran 6-7cm, bunda. namun, organ tubuh sudah terbentuk dengan sempurna.", lanjut dokter itu menjelaskan.
"6-7 cm?!.", tanyanya. masih dengan rasa tidak percaya. memang ia sudah telat hampir sebulan. tapi, menurut nya itu wajar karena, selama fokus pengobatan ini siklus haidnya berantakan dan bermasalah.
Dalam sebulan kadang ia bisa haid sampai dua kali. atau bahkan tidak haid sama sekali. jadi, ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia sedang hamil.
"Paru-paru, ginjal berfungsi dengan baik.", sambung dokter yang masih terus memutar alat di atas perut Cellya, sembari terus fokus memandang monitor yang hanya berwarna hitam putih itu.
"Kita dengar detak jantungnya ya!.", ucap dokter.
Begitu suara detak jantung milik bayi kecil itu terdengar. air mata Cellya mulai menggenang.
"Sangat sehat ya, bunda.",
"Detak jantung nya jelas dan beraturan.", sambungnya.
"Bisakah kalian merekam nya?!.", tanya Cellya tiba-tiba. matanya yang basah tidak lepas dari monitor yang menunjukkan pergerakan bayi kecil di perutnya. membuat perawat mengangguk dan segera merekam.
Perawat merekam monitor yang menunjukkan pergerakan bayi dan tidak lupa juga merekam suara detak jantung bayinya.
Pemeriksaan selesai. Cellya di bantu asisten dokter segera merapikan baju sebelum akhirnya turun dari bed.
"Pelan-pelan, bunda.", ucap perawat, mengingatkan.
"Terimakasih.", jawab Cellya, lalu tersenyum.
Ia segera bergabung dengan dokter Lin Dan dokter kandungan yang sudah duduk untuk mencatat hasil pemeriksaan.
"Mari ikut saya, nona.", ajak dokter Lin, setelah dokter kandungan itu memberikan laporan pemeriksaan pada dokter Lin.
"Terimakasih atas bantuannya, kami permisi.", ucap dokter Lin,
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments