Kurang lebih rapat para pemegang saham itu berlangsung selama tiga jam.
Begitu selesai, ibu Cellya segera pamit undur diri menuju ruangan nya.
Ada banyak pikiran yang mengganggunya hari ini, terutama fakta tentang putrinya yang belum di ketahui kabar nya sampai kini.
Apalagi dia baru saja bertemu dengan dua orang sahabat putrinya, yang jelas-jelas mengatakan mengantar putrinya ke bandara.
Bahkan, mereka juga mengatakan melihat dengan mata kepala sendiri kalau, barang-barang Cellya di bawa masuk oleh petugas bandara.
"Tok...",
"Tok...",
"Masuk.", sahut ibu Cellya dari dalam. ia nampak membenarkan baju dan merapikan rambutnya yang acak-acakan karena menahan beban pikirannya.
Nampak asisten Han masuk dengan seorang bawahan nya. pria itu nampak membawa koper berwarna ungu, yang ia kenali sebagai koper putrinya.
Ibu Cellya segera bangkit dari duduknya, saat tatapan nya terarah pada koper itu. ia menghampiri kedua pekerja nya.
"Dari mana kalian mendapatkan nya?!.", tanya ibu Cellya. ia segera duduk dan meraih koper itu. membuka nya dan melihat satu persatu barang-barang putrinya.
Ya, benar. semua milik putrinya. mulai dari beberapa baju, sepasang sepatu, sepasang sandal teplek dan beberapa aksesoris.
"Saya mengutus orang saya untuk ke bandara, sesuai perintah, nyonya.", ucap asisten Han, mulai menjelaskan. asisten Han memberi kode pada bawahannya untuk menceritakan apa yang dia dengar dari penjelasan para petugas bandara.
"Saya pergi ke bandara sesuai perintah.",
"Sampai di sana, saya menemui orang dalam.",
Pekerja itupun menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan koper itu hanya berbekal identitas Cellya, melalui orang dalam.
Ia juga mengatakan bahwa, memang benar Cellya terdaftar dalam penerbangan pada hari itu, tapi ketika ia dan orang kepercayaan nya mengecek cctv bandara, Cellya tidak nampak kehadirannya di sana.
"Jadi kemungkinan, nona masih berada di Singapura, nyonya.", ucap anak buah asisten Han, mengakhiri ceritanya.
Ibu Cellya terdiam mendengar penuturan anak buahnya. satu lagi yang mengganjal di hati dan pikiran nya. jika memang Cellya masih di Singapura, kenapa dia tidak bisa di hubungi?!.
Nomer nya tidak aktif, dan keberadaannya tidak di ketahui.
"Asisten Han. suruh Alex, mencari informasi lebih lanjut tentang Cellya.", perintah ibu Cellya.
Asisten Han mengangguk paham. ia segera pamit undur diri dari ruangan bersama anak buahnya.
Begitu sampai di luar ruangan ia segera menelfon orang kepercayaan majikannya, yang di sejak kemarin di tugaskan mencari info, di negeri tetangga.
"Nona, belum di temukan.",
"Kemungkinan, nona masih di sana.",
"Coba lacak, nona lewat IMEI ponselnya.", ucap asisten, sebelum menutup teleponnya.
Ia segera pergi dari depan pintu ruangan ibu Cellya dan memasuki lift.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. semua karyawan bersiap pulang. begitu juga dengan ibu Cellya.
Ia segera mengambil tas nya dan keluar di ikuti asisten pribadinya.
"Besok ada pertemuan dengan tuan Choi dari China, nyonya.",
"Tuan Choi, datang untuk membicarakan kerjasama dengan kita.", ucap sekertaris Queen, seraya terus mengikuti langkah bos nya, kemana saja bos nya melangkah. ibu Cellya hanya mengangguk sekilas.
"Lalu ada juga pertemuan dengan klien ....
"Aku akan menemui tuan Choi. untuk yang lainnya, bicarakan itu dengan Ellyana.",
"Aku sedang banyak pikiran.", ucap ibu Cellya memotong perkataan sekertaris Queen.
"Mengerti, nyonya.", ucapnya, lantas ia mengangguk.
Karena sudah sama-sama berada di lobi, ibu Cellya segera meninggalkan sekertaris Queen dan masuk ke mobilnya.
Baru setelah mobil bos nya berlalu, wanita berumur 33 tahun itu mendongak kan kepalanya.
......................
Ibu Cellya minta di antar ke rumah Sean. ia ingin memastikan menantunya baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, ibu Cellya hanya memandangi jalan sekitar. pikiran nya tidak bisa tenang.
Berpikir tentang pekerjaan, tentang menantunya, tentang putrinya yang tiba-tiba menghilang, dan tentang persiapan pernikahan putrinya dengan David, tentunya.
Mobil nya berhenti di sebuah bangunan mewah. ya, mansion tempat tinggal putri dan suaminya, Sean.
Ia turun setelah asisten Han membukakan pintu mobil untuk nya. sesaat, ia menatap bangunan mewah itu.
Nampak bayangan putrinya berlari menghambur ke pelukannya.
Ia memejamkan mata, merasakan sesak di dada hingga bulir bening membasahi bulu mata nya.
Sesaat ia merasa tenggelam dalam halusinasinya, lalu menyadarkan diri. menghapus air mata dan mulai memasang wajah penuh semangat sebelum memasuki mansion.
Asisten rumah tangga segera membuka pintu, begitu tahu ibu Cellya datang.
"Selamat sore, nyonya.", sapa nya penuh hormat pada ibu Cellya. wanita tangguh itu hanya tersenyum.
Pelayan segera mengambil tas dan jaket ibu Cellya, lalu meletakkan di tempatnya.
"Nyonya mau teh lemon madu?.", tanya pelayan itu, ibu Cellya hanya mengangguk.
"Mama.", panggil Ellyana dari dalam. ia nampak berlari kecil menghampiri ibunya, lalu memeluk wanita paruh baya itu.
"Kapan datang?.", tanya ibunya, setelah melepas pelukannya.
"Sekitar lima belas menit yang lalu.", jawabnya. lantas menggandeng tangan ibunya untuk bergabung bersama Sean, David serta besannya di ruang keluarga.
"Besan datang?!.",
"Kalau begitu, kita akan makan malam bersama kan?!.", ucap ibu Sean, yang hanya di jawab senyuman oleh besannya.
Ellyana segera mengajak ibunya untuk duduk. nampak mereka ngobrol dan bersenda gurau. benar-benar terlihat hangat.
"Aku ke kamar mandi sebentar.", ucap ibu Cellya. ia lantas segera pergi meninggalkan mereka.
Tapi bukan ke kamar mandi, ibu Cellya pergi ke kamar putrinya.
Ya, melihat mereka tertawa, bergurau, mengobrol dan bercanda tanpa Cellya, membuat nya merasakan sesak di dada.
Terlebih sampai saat ini, terhitung sudah dua minggu belum ada kabar pasti tentang keberadaan Cellya.
Ia masuk lalu menutup pintu kamar. menatap sekeliling dan mulai melangkah.
Matanya tertuju pada beberapa boneka kesukaan Cellya. dan bahkan, semenjak ia pisah kamar dari Sean ia baru bisa tidur dengan memeluk bonek gajah yang berukuran besar itu.
Ibu Cellya membuka walk in closet, nampak baju putrinya tertata rapi.
Ada juga baju pernikahannya dengan Sean yang ia pasang di manekin.
Berlanjut koleksi tas dan sepatu. kebanyakan adalah hadiah dari ibu, saudara, mertua dan juga suaminya.
Cellya bukanlah tipe wanita yang suka berbelanja dan menghabiskan uang untuk fashion. dia lebih suka membeli bahan dapur dan memasak atau membuat makanan dan camilan untuk suami dan keluarganya.
Setelah puas berkeliling di kamar putrinya, melihat barang-barang putrinya dan beberapa foto yang menggantung di dinding.
Ibu Cellya akhirnya duduk di tepi ranjang. perlahan ia mengusap lembut tempat putrinya biasa di berbaring istirahat.
Mengambil bantal Cellya, memeluk lalu mencium nya. aroma rambut dan tubuhnya masih ada.
Tak terasa air mata nya mengalir. dadanya sesak menahan rindu. dan pikirannya kalut karena keberadaan putri nya belum di ketahui.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments