Belum sampai Cellya mengangkat nya. panggilan itu sudah mati.
Ia berpikir, mungkin mertuanya melakukan panggilan memakai ponsel Sean. karena tidak ada panggilan lagi, Cellya pun segera melanjutkan bersiap untuk pergi ke bandara.
POV of Sean
Sean menatap ponselnya. ia sedikit merasa jengkel karena belum sempat tersambung ponselnya sudah mati.
"Ma.", panggilnya. membuat wanita yang sedang sibuk menata makanan di meja kamar rumah sakit segera menoleh dan menghampiri putranya.
"Baterai nya lowbat. aku bahkan belum sempat berbicara dengan Cellya.", ucapnya. Sean menyerahkan ponselnya untuk di charger. wajah nya sedikit kesal.
"Jangan khawatir. dia akan segera terbang.",
"Lagi pula, dia sudah berjanji akan pulang sebelum hari ulang tahun mu.", sahut ibu Cellya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sembari meletakkan tas di kursi, melepaskan jas nya, dan segera membantu beberapa pelayan menyiapkan makanan.
Begitu selesai, ibu Cellya segera menghampiri Sean.
"Bagaimana keadaan mu, nak?!.",
"Kau merasa lebih baik?.", tanyanya. membuat Sean tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berpelukan.
"Mama senang kau sudah siuman.", ucap ibu Cellya setelah melepaskan pelukannya.
"Besan. terimakasih untuk kiriman makanan nya, ini terlalu banyak.", ucap ibu Sean.
Ya, ibu Cellya mengirim makanan ke rumah sakit ketika mendengar kabar Sean sudah siuman dan ingatan nya kembali dari Ellyana.
"Tentu saja tidak. besan harus makan banyak setelah cukup kelelahan akhir-akhir ini.",
"Lagi pula, hari ini kita akan makan bersama.", sambungnya.
"Makan bersama?!.", tanya ibu Sean, tidak mengerti.
"Iya, kita akan makan bersama keluarga disini.",
"Anggap saja, sebagai rasa syukur karena putra kita telah sehat kembali.", jawab ibu Cellya, yang membuat ibu Sean tersenyum.
"Nak.", panggil ayah Sean, sembari membuka pintu dan masuk ke ruang perawatan Sean.
Pria paruh baya itu nampak bahagia. ia segera menghampiri Sean yang masih terbaring dan memeluknya.
"Ayah langsung kesini begitu mendengar dirimu siuman.",
"Ayah merasa bahagia dan sangat bersyukur.", ucapnya, kemudian melepas pelukannya.
"Ahh..., ayah dan mama berlebihan. seperti aku baru mati dan hidup lagi saja.", candanya di sertai gummy smile nya. membuat ketiga orang tua itu tersenyum tipis dan saling melirik. yang membuat wajah Sean mendadak terlihat sedikit bingung dengan respon ketiga nya.
"Apapun yang terjadi padamu. yang jelas, kami sangat bersyukur dan bahagia kau sudah lebih baik.", ucap ibu Sean mengalihkan pembicaraan.
"Ma, kami datang.", ucap Ellyana yang langsung masuk bersama David.
"Apa kau membawanya?.", tanya ibu Cellya yang langsung di jawab dengan senyuman serta kedipan Ellyana.
Ia menyerahkan pesanan ibunya, yang tidak lain adalah bubur kesukaan Sean dan Cellya.
"Tolong siapkan bubur untuk tuan muda.", perintah ibu Cellya pada pelayan nya, dan Ellyana segera menyerahkan paper bag berisi bubur favorit dari resto langganan mereka.
POV of Cellya
"Yakin, tidak ingin ikut liburan dulu bersama kami?!.", tanya Tresya, meyakinkan. membuat Cellya menggeleng dan tersenyum.
"Jarang-jarang loh... dapet bonus jalan-jalan karena berhasil dapet proyek gede.", ucap Tresya lagi.
"Kalian nikmati saja.",
"Bukankah kalian butuh waktu berdua lebih banyak?!.", jawab Cellya.
"Iya sih. tapi kan, sepi kalau kamu enggak ikut.", ucap Tresya, menyayangkan.
Cellya tersenyum. "Aku harus segera kembali, sebentar lagi Sean ulang tahun.",
"Percaya deh!. yang suaminya selalu bucin.", goda Tresya dan Juan bergantian, membuat Cellya tersenyum manis.
Ya, meskipun Sean kehilangan ingatan. tapi, diluar rumah mereka selalu sukses memainkan drama pasutri yang romantis dan saling pengertian.
......................
"Terimakasih. sampai disini saja.", ucap Cellya. ia segera mengambil alih troli dari tangan Juan begitu sampai di bandara.
"Mau di antar masuk?!.", tanya Juan, membuat Cellya menggeleng.
"Sampai sini saja. kalian segeralah pergi dan nikmati waktu berdua.", jawab Cellya.
Juan nampak melambaikan tangannya pada salah satu petugas bandara. dan segera saja orang yang di maksud itu datang menghampiri.
"Excuse me, can you help my friend carry the stuff?.",
"She is pregnant.", sambung Juan.
"Ofcourse.", jawabnya ramah, dan segera meraih troli itu. pria itu berlalu terlebih dulu, membawa barang ke tempat pemeriksaan sebelum masuk ke bagasi pesawat.
Tresya memeluk Cellya sebelum ia dan Juan benar-benar meninggalkan nya di bandara.
"Begitu sampai, jangan lupa telpon.", pesan Tresya setelah melepas pelukannya. Cellya tersenyum dan mengangguk.
"Sehat-sehat bumil. sampai ketemu tiga hari lagi.", sambung Juan, sembari mengusap pundak mu.
"Baiklah. sekarang, kalian harus pergi.", ucap Cellya. dan membuat kedua temannya mengangguk lalu perlahan melangkah pergi, meninggalkan nya.
Gadis itu tersenyum menatap temannya yang kian menjauh. masih nampak terlihat, sesekali Tresya berbalik dan melambaikan tangan. Cellya senang melihat kedua sejoli itu bisa menikmati waktu berdua.
Ponsel Cellya berdering. ia segera membuka tas dan mengambilnya.
Nampak jelas di layar tertulis "my husband". ya, itu nomer ponsel Sean yang lama, sebelum kecelakaan itu terjadi.
Ia nampak mengerutkan dahinya. sejak sang suami lupa ingatan, ponsel itu di simpan oleh ibu mertua nya dan tidak pernah di gunakan.
Sean di beri ponsel baru yang hanya berisi nomor kedua orangtuanya dan nomor nya. itupun, Sean tidak pernah menghubungi nya dengan ponsel baru.
Cellya tidak keberatan, karena itu juga demi kebaikan suaminya.
Dokter khawatir, terlalu cepat merangsang kerja otaknya bisa membawa dampak buruk bagi Sean, kala itu.
Siapa kira-kira yang menghubungi nya. dengan ragu ia mengangkat telfon itu.
"Sayang, kenapa lama sekali mengangkat telfon?!.", suara ini, panggilan ini, ia tau jelas siapa pemiliknya.
"By?!.", panggil seseorang di seberang.
"Are you ok?.", sambung nya. Cellya masih terdiam, ia terharu. sekian lama akhirnya dia mendengar panggilan ini lagi.
"Do you still there?.", tanya Sean lagi.
"Hello!!..., By?!.", panggil Sean memastikan.
"Ya.", jawab Cellya singkat setelah berusaha menguasai dirinya. nampak bulu mata nya basah. ia menangis haru dan bahagia.
"I miss so bad.", ucap Sean.
"Miss you to.", jawab Sean.
"Jadi, kapan kau akan pulang?!.", tanya Sean.
"Mama bilang, aku masuk rumah sakit saat kau sudah berangkat ke Singapura. itu sebabnya kau tidak menjaga ku disini.",
"Kau tau, by?!. itu membuatku sedih.", sambung Sean.
"Masuk rumah sakit?!.",
"Benarkah?. tapi, mama tidak mengatakan apapun.", ucap Cellya khawatir.
"Dia mengalami pusing yang menyebabkan pingsan. John, yang membawanya ke rumah sakit.",
"Mama, memang sengaja tidak memberi mu kabar. Mama, khawatir kamu tidak tenang di sana.",
"Jangan marah kepada mama mu juga. itu mama juga yang melarangnya mengatakan padamu.",
"Kami berencana memberitahu mu saat keadaan Sean sudah membaik.",
"Dia juga baru siuman beberapa jam yang lalu, dan langsung menanyakan mu, itu sebabnya mama meminta nya untuk menghubungi mu.", ucap ibu Sean yang segera mengambil ponsel dari tangan Sean dan menjelaskan semua pada Cellya.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments