Sean masuk dan segera duduk di samping ibunya.
"Kesini dengan John?!.", tanya ibunya membuka pembicaraan.
"Aku kesini sendiri, ma.",
"John biar fokus membantu papa di perusahaan dulu.", jawabnya.
"Sayang, kondisi kamu kan belum sepenuhnya sehat.", ucap ibunya.
"Aku merasa lebih baik.", ucapnya tersenyum. Sean tidak ingin ibunya khawatir dengan kesehatan nya.
"Ma, aku baru dari kantor Cellya.", ucapnya. seketika ibu Sean menoleh menatap putra nya.
"Aku bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Cellya.",
"Dia bilang, Cellya sedang bertugas di Singapura dan kemungkinan akan kembali hari ini bila memang, pekerjaan nya sudah selesai.", cerita nya.
"Menurut mama, apakah aku harus menunggu nya atau menyusulnya?!.", tanya Sean, kemudian.
"Mama rasa, kamu harus menunggu nya.",
"Bayangkan kalau Cellya pulang, tapi kamu malah pergi ke Singapura?!. bukankah itu sama saja?. kalian tetap tidak bisa bertemu.",
"Berbeda kalau, kamu menunggu nya. artinya, saat dia pulang kalian bisa langsung bertemu.",
"Lagi pula, kamu sedang dalam masa pemulihan. pikirkan tentang kesehatan mu.",
"Cellya juga pasti tidak suka dan sedih melihat mu sakit.", ucap ibu Sean.
Sean terdiam mendengar ucapan ibunya. ya, ucapan ibunya benar. tapi entah mengapa perasaan nya tidak enak sedari kemarin.
Sedari Cellya tidak bisa di hubungi, dan sejak Cellya berjanji akan pulang saat ulang tahun nya, tapi wanita yang di cintai nya itu tidak juga datang.
t
Ingin rasanya ia segera menyusul istrinya, memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. tapi ia juga sadar, ibu dan ayahnya, juga mertua nya pasti tidak mengizinkan dengan alasan kesehatan nya yang belum sepenuhnya pulih.
"Ma, sebenarnya perasaanku tidak tenang sejak kemarin.",
"Sejak Cellya tidak bisa di hubungi.",
"Dia bilang, akan pulang tepat di hari ulang tahunku tapi nyatanya, dia tidak datang.",
"Aku ingin menyusul nya, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. hanya itu.", ucap Sean. ia mencurahkan isi hati dan ke khawatiran nya pada ibunya.
Berharap ibunya paham dan mengizinkan nya berangkat ke Singapura.
"Mama mengerti.",
"Sebenarnya, mama dan besan juga merasakan hal yang sama. tapi, besan berpesan pada mama untuk lebih fokus pada kesehatan mu.",
"Kau tau nak?!. besan diam-diam mengirim orang untuk mencari tahu istrimu.",
"Kami juga khawatir. tapi, untuk sementara ini sebaiknya kita tunggu kabar dari orang kepercayaan mertuamu.",
"Berharap dan berdoa saja, agar prasangka dan firasat buruk itu tidak benar.", ucap ibu Sean, menenangkan putranya. Sean mengangguk, menyetujui ucapan ibunya.
Pada akhirnya, Sean memilih pamit untuk pulang dan beristirahat. di setiap kesempatan, ia terus berusaha menghubungi Cellya, walau tetap tidak tersambung.
Kali ini, untuk mengobati rasa rindu pada istrinya. Sean memilih tidur di kamar Cellya.
Pintu kamar terbuka lebar. nampak tempat tidur yang masih rapi. kamar dengan dominan warna putih pada dinding nya, memang mencerminkan kepribadian penghuni nya yang suka dengan kebersihan.
Di kamar Cellya, nampak beberapa foto pernikahan dan foto-foto mereka berdua tergantung dan tersusun rapi di dinding.
Sean berkeliling, menatap setiap foto dengan senyum bahagia. momen yang tidak terlupakan seumur hidupnya.
Momen saat mereka mengucap janji suci di altar. saling bersumpah dan bersedia di hadapan tuhan untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Untuk bersumpah janji sehidup semati, dan saling menyempurnakan kekurangan.
......................
Dalam foto itu, terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar dari kedua nya.
Sean segera beranjak menaiki ranjang. ia menarik selimut dan menghadap ke bantal lain di sampingnya.
Tak lama kemudian, ia berganti posisi. memutar badannya beberapa kali, dan berganti terlentang menatap langit-langit kamar.
Ia nampak resah, pikiran nya bercabang kemana-mana. sampai malam semakin larut pun, Sean belum juga tertidur. pikiran nya, pasti tertuju pada istrinya yang belum juga bisa di hubungi.
Namun tiba-tiba, bayangan istrinya muncul. seolah-olah Cellya datang menghampiri nya, naik ke ranjang dan menemani nya berbaring saat ini.
Sean merasakan sentuhan Cellya di puncak kepalanya. membuat nya merasakan rileks, nyaman dan hatinya pun menghangat.
Perlahan Sean terlelap setelah bergelut dengan imajinasi nya.
Pagi datang, Sean sudah rapi dan bersiap. ia mau ke kantor istrinya hari ini.
Siapa tahu, ada kabar kepulangan istrinya. jadi, ia bisa segera melepas rindu.
"Selamat pagi, semua.", sapa nya dengan wajah berseri.
"Pagi.", jawab ibu dan ayahnya bersahutan.
"Ma, hari ini aku akan ke kantor Cellya.", ucap Sean sembari menerima piring berisi menu sarapannya pagi ini dari sang ibu.
"Apa besan belum mendapatkan kabar Cellya dari utusannya?!.", tanya ayah Sean. ibu Sean hanya menggeleng mendapat tatapan dari suaminya.
"Masalah nya, kenapa sampai ponselnya tidak bisa di hubungi?!.", ucap ayah Sean.
"Berpikir positif saja. mungkin ponselnya jatuh dan rusak, atau mungkin hilang.", jawab ibu Sean. sebisa mungkin, ibu Sean mengalihkan perhatian putranya agar tidak banyak berpikir hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi kesehatan mentalnya.
Ya, mengingat Sean baru saja sembuh dari amnesia akibat cedera dan penyumbatan pembuluh darah di otak nya.
Sekarang satu-satunya cara adalah membuat nya tetap berpikir positif agar Sean tidak mengalami serangan panik berlebihan yang dapat membangkitkan serangan cedera dan penyumbatan pembuluh darah di otak nya lagi.
"Ayo sayang, habiskan makanan nya.", ucap ibu Sean, mengalihkan pembicaraan.
Selesai makan, dengan sigap ibu Sean mengambil kan obat dan vitamin untuk putranya.
"Minum ini sebelum pergi.", ucap ibu Sean sembari menyerahkan beberapa butir obat pada putranya.
"Aku berangkat.", ucap ayah Sean. ibunya segera memakai kan jas dan berlanjut mengantarkan suaminya ke teras sebelum mobil suaminya berlalu dari halaman rumah Sean.
Ya, selama Cellya pergi. ia meminta mertuanya untuk tinggal di rumahnya dan rumah Sean.
Bukan tanpa sebab Cellya meminta mertuanya untuk tinggal. ia tidak ingin suaminya kesepian dan tidak ada yang mengurus.
Sebenarnya ada pembantu, hanya saja Cellya merasa lebih tenang bila, suaminya di temani ibu mertuanya.
"Ma, aku berangkat.", ucap Sean yang berjalan menghampiri ibunya di teras rumah.
Wanita itu langsung beralih menoleh, menatap putranya setelah mobil suaminya menghilang di balik pagar rumah.
"Hati-hati ya?!.",
"Ingat?!. jangan terlalu capek.", pesan ibunya, mengingatkan putranya sesuai petunjuk dokter. Sean tersenyum dan mengangguk.
Ia lantas meraih tangan ibunya, mencium tangan lembut itu dan beralih mencium kedua pipi ibunya bergantian.
"Hati-hati, ya?!.", ucap ibu Sean yang kini melambaikan tangan pada putranya, saat Sean hendak masuk ke dalam mobil.
Sean segera masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi setelah membalas lambaian tangan ibunya.
Ia menarik nafas dan mencoba berpikir positif, berharap mendapatkan kabar baik hari ini.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments