"Tok...",
"Tok...",
"Tok...",
Nani mengetuk pintu kamar Cellya sebelum memasuki nya.
"Nona.", panggilnya lirih karena melihat majikan perempuannya masih terbaring di ranjang.
Wanita paruh baya itu mendekat perlahan dan duduk di tepi ranjang.
"Nona.", panggilnya lagi.
"Nona.", untuk kesekian kalinya ia memanggil Cellya, tapi kali ini sedikit mengeraskan suaranya. Nani tidak juga mendapat respon.
"Nona!.", kali ini, dengan suara yang keras dan di sertai guncangan pada tubuh Cellya. membuat gadis itu perlahan membuka matanya.
Nampak raut wajah lega dan ******* nafas lega dari Nani. ia nampak memegangi dadanya yang sedari tadi menahan sesak, tidak mendapati respon dari Cellya.
"Sudah pagi kah?.", tanya Cellya lemah, yang baru saja membuka matanya.
"Aku kesiangan ya?!.", tambahnya.
"Kenapa nona bangun kesiangan?. apakah semalam, nona lembur lagi?.", tanya Nani. ia masih belum bisa menenangkan dirinya seutuhnya. terbukti dari tangan nya yang masih mendekap erat dadanya. tangan renta itu, nampak gemetar.
Cellya mengingat kejadian semalam, dimana ia berusaha untuk tetap bertahan saat sakitnya kambuh tanpa meminum obat.
"Nona, terlihat pucat. apa nona sakit?!.", tanya Nani. Cellya yang tersadar hanya tersenyum dan menggeleng.
"Tapi tadi Nani panggil-panggil, Nona tidak merespon.",
"Bahkan, Nani.....
"Saya hanya terlalu lelah, Nani.", sahutnya. ia memotong ucapan bibi nya, karena tidak ingin wanita paruh baya itu semakin khawatir.
"Apa Sean sudah berangkat?.",
"Apa dia sudah sarapan?.", lanjut Cellya. mengalihkan pembahasan agar, Nani tidak terlalu fokus pada kejadian pagi ini.
"Sudah.",
"Tuan, sudah sarapan dan berangkat.",
"Karena tuan sudah berangkat, Nani baru menyadari kalau nona belum bangun.", jawabnya. Cellya tersenyum mendengar ucapan asisten rumah tangga yang selalu memperhatikan dia dan suaminya itu.
"Baiklah, Nani. aku akan bersiap sekarang.", ucapnya. ia kemudian beranjak dari tempat tidur nya.
"Tolong, buat kan segelas susu coklat hangat ya!.",
"Pagi ini, aku ingin meminum nya.", pinta Cellya, yang segera di angguki oleh Nani.
Nani segera keluar kamar, untuk menyiapkan sarapan pagi Cellya. sementara sang Nona segera bersiap-siap.
Karena jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Cellya, tidak berlama-lama untuk bersiap dan sarapan.
Seperlunya saja, setelah itu ia segera pamit pada Nani untuk berangkat ke kantor.
"Berangkat dulu, Nani.", pamitnya setelah meneguk habis susu hangat nya.
"Sarapan nya, non.", teriak Nani pada Cellya karena melihat sarapan milik Cellya masih utuh di meja.
"Sarapan di kantor saja, Nani.", jawabnya dari garasi mobil.
POV of Sean
Pagi ini sudah beberapa kali Sean melakukan kesalahan. baik saat bertemu dengan klien, ataupun saat memberi tugas pada sekertaris dan saat meeting.
Entah itu tiba-tiba karena melihat seseorang yang sama dengan gambaran-gambaran yang muncul di kepalanya atau tiba-tiba pandangan nya yang tidak fokus sehingga, terkadang saat menjawab dan menanggapi klien serta asisten nya keluar dari topik pembicaraan dan pembahasan.
"Tuan. apakah anda baik-baik saja?." , tanya John. ia nampak sedikit khawatir dengan kondisi tuannya.
"Aku merasa bingung dan tidak nyaman.", jawab Sean.
"Perlukah kita ke dokter, tuan?.", saya akan mengantar anda.", tawarnya.
"Selesai kan dulu pekerjaan mu!. setelah nya, antar aku.",
"Aku mau istirahat sebentar.",
Sean segera masuk ke ruang pribadinya. ia menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di sana.
Tatapannya menatap langit-langit kamar pribadinya. ia tidak tau ada apa dengan dirinya.
Seringkali bayangan dan gambaran tak jelas melintas di kepalanya, membuatnya tak bisa fokus pada pekerjaan dan nyaris mengacaukan beberapa pertemuan yang membahas kerjasama dengan relasi nya.
Sean mengambil ponselnya, ia nampak memainkannya. tidak jelas apa yang ingin dia lakukan dengan ponsel itu.
Sean hanya membuka galeri, video dan beberapa berkas yang tersimpan di ponselnya. dan saat membuka berkas, ia tidak sengaja menemukan sebuah pesan suara.
......................
"Hai by... aku tau, kamu pasti lagi sibuk dan gak bisa nerima telfon aku saat ini. but, aku cuma mau kasih tau kamu kalau aku .... di terima di perusahaan impian aku dong!.. akhirnya, aku bisa bergabung dengan desainer-desainer hebat. ouwh... i'm so happy!!... dan sebagai hadiah atas keberhasilan aku, pas kita ketemu nanti, aku mau nagih sesuatu ke kamu. ok, by?!."
Serasa ada yang berbicara langsung kepada nya, saat Sean memutar audio itu. ia mengenali suara itu dengan baik, bahkan bayangan orang yang berbicara itu nampak di pikiran nya. hanya saja, lagi-lagi Sean tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Kepala nya kembali berdenyut. ia benar-benar merasakan pusing dan sakit disaat bersamaan. nafasnya tiba-tiba sesak saat nampak bayangan itu berkelebat lagi di kepalanya.
Suara canda tawa yang khas. senyum sumringah yang terus terlintas di kepalanya dan terakhir, nampak wajah samar di balik kelambu yang menari-nari tertiup angin pantai.
Nampak juga gadis itu berputar mengekspresikan kebahagiaan nya sementara Sean terus mengikuti langkahnya.
Sean bangun. ia berusaha meredakan rasa panik yang menyelimuti nya saat melihat samar wajah gadis di kepalanya.
Tangan nya meraba ke atas nakas. berusaha meraih gelas lalu menuangkan air, namun rasa cemasnya membuat gelas dan teko kristal itu jatuh.
"Prang.....",
Suara itu berhasil membuat John yang sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang sang tuan segera berlari memasuki kamar pribadi sang majikan tanpa permisi.
"Tuan, anda baik-baik saja?.", ia segera menghampiri Sean yang nampak terduduk seraya memegangi kepalanya.
Bayangan-bayangan itu terus berputar di pikiran nya. membuat bulir-bulir keringat dingin keluar dari keningnya.
"Tuan. mari kita ke rumah sakit.", ajaknya. Dengan sigap ia meraih lengan Sean dan memapah pria yang sudah lemas itu keluar dari ruangan nya.
"Tolong bantuannya.", pintanya ketika bertemu dengan salah seorang office boy yang sedang bertugas.
Tanpa basa-basi office boy itu segera membantu John memapah Sean. mereka memasuki lift menuju lantai dasar.
Nampak Sean sudah tidak sadarkan diri. membuat John semakin khawatir dengan kondisi majikannya.
Begitu pintu lift terbuka, mereka segera membopong Sean menuju lobby untuk menunggu mobil.
Tidak berselang lama, mobil sudah terparkir di depan gedung kantor. seseorang nampak turun dan terburu-buru membuka pintu untuk John dan Sean.
Setelah nya, John mendudukkan Sean di jok belakang. memasang set belt, menutup pintu penumpang dan segera mengambil alih kemudi.
Dengan kecepatan penuh, ia melaju menuju rumah sakit terdekat.
Mobil terparkir di depan sebuah rumah sakit dan para perawat serta dokter segera menghampiri dengan mendorong brankar.
Sean segera di pindahkan dari mobil ke bed. selanjutnya para perawat dan dokter segera membawa Sean ke dalam untuk di lakukan tindakan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments