Kurang lebih sepekan Sean di rawat di rumah sakit. ya, ibu Cellya hanya ingin Sean di pantau sampai benar-benar sehat. ia khawatir kejadian seperti kemarin terulang kembali.
Sean nampak sudah segar. ia menatap taman rumah sakit dari balik jendela kamarnya.
Infus nya telah di lepas, dan kini ia sedang menunggu proses administrasi selesai, setelah itu langsung pulang.
Hari ini sepulang dari rumah sakit, ibu Cellya meminta Sean untuk istirahat lebih dulu.
Ia meyakinkan menantunya dengan kabar pencarian Cellya.
"Sudah siap untuk pulang?!.", tanya ibu Cellya yang baru saja masuk ke ruangan, membuat pria yang berdiri di dekat jendela itu menoleh.
"Mama, datang?!.", tanyanya. ibu Cellya mengangguk. tidak lama kemudian, ibu Sean yang selesai bertemu dengan dokter sudah kembali bergabung bersama mereka.
Asisten ibu Cellya segera mengambil barang-barang milik Sean dan membawa nya ke mobil.
"Mama tidak ada pekerjaan hari ini?!.", tanya Sean, pada mertuanya.
"Mama ada janji dengan orang, sekitar setengah jam lagi.", ucapnya sembari melihat jam merek Cartier yang melingkar di tangan nya.
"Dekat dengan rumah sakit?!.", tanya Sean. ia menanyakan tempat janjian ibu mertua nya.
"Ya.", jawab ibu Cellya singkat.
"Baiklah. ayo kita pulang sekarang!.", ajak ibu Sean. mereka segera melangkah menyusuri lorong dan keluar dari rumah sakit.
"Besan. kita berpisah disini, ya?!.",
"Aku harus menemui seseorang.", pamit ibu Cellya, membuat ibu Sean tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih untuk semuanya, besan.", ucap ibu Sean, membuat besannya tersenyum.
"Untuk apa berterima kasih?!.",
"Sean adalah putraku. sudah sewajarnya, aku selalu mensupport dan membantunya.", jawab ibu Cellya.
"Baiklah. sepertinya aku harus segera pergi.",
"Jaga kesehatan mu baik-baik, ya?!.",
"Karena dengan sehat kita bisa menemukan istrimu.", ucap ibu Cellya. ia pamit dan memeluk menantu serta besannya bergantian.
"Dengar kan, mama!.",
"Begitu sampai rumah, langsung istirahat. dengarkan semua perkataan mama mu.",
"Mama janji akan membawa kabar baik untuk mu.", ucap ibu Cellya sebelum berlalu pergi meninggalkan menantu dan besannya.
Sean tersenyum dan mengangguk. "Bye..", ucap ibu Cellya melambaikan tangan dan beranjak pergi.
CEO di perusahaan milik almarhum suaminya itu segera masuk ke mobil Porsche nya.
Tidak lama kemudian, mobil sebuah mobil merk Bentley mendekat. seseorang segera membukakan pintu untuk Sean dan ibunya.
Ya, hari ini mereka di jemput sopir ibu Sean. Sean tidak di izinkan mengendarai mobil sendiri untuk sementara waktu.
POV ibu Cellya.
Ia baru saja sampai dan mulai memasuki sebuah cafe. nampak ibu Cellya berjalan menghampiri meja yang sudah ia pesan.
"Selamat siang, nyonya.", sapa gadis yang segera berdiri dari kursi yang telah di pesan oleh ibu Cellya. mereka nampak membungkuk kan badannya dan memberi hormat.
Ibu Cellya tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk kembali, setelah ibu Cellya duduk.
"Kalian sudah pesan?!.", tanya ibu Cellya.
"Tidak usah repot-repot, nyonya.", jawab pria di sebelah nya, yang tidak lain adalah kekasih si gadis. ibu Cellya tersenyum lagi.
"Tidak perlu sungkan, tidak enak ataupun takut.",
"Aku hanya ingin tau, seberapa dekat kalian dengan putriku?!.", ucapnya. ibu Cellya lantas memanggil pelayan cafe.
"Ada yang bisa di bantu, nyonya?!.", tanya pelayan tersebut begitu berdiri di samping meja mereka.
"Berikan kami beberapa camilan dan minuman untuk menemani waktu ngobrol santai kami.", jawab ibu Cellya, yang segera di angguki, sebelum pelayan itu pergi.
......................
"Jadi, kami mengantar nya.", ucap Tresya mengakhiri ceritanya.
"Kalian mengantar sampai masuk bandara?.", tanya ibu Cellya. mereka menggeleng. nampak raut wajah penuh penyesalan pada Tresya.
"Lalu?!.", ibu Cellya menyelidik.
"Kami hanya mengantar sampai pintu masuk bandara, nyonya.",
"Itupun, atas permintaan Cellya.",
"Tapi kami yakin, dia sudah masuk ke dalam setelah kami pergi.", sahut Juan.
"Bagaimana kalian bisa yakin?!.", tanya ibu Cellya tidak percaya.
"Sebelum kami pergi, kami sudah meminta petugas untuk membantu membawa barang-barangnya.",
"Kami melihat sendiri petugas itu membantu Cellya.", ucap Juan.
"Selanjutnya, kami segera pergi karena permintaan nya.",
"Bahkan, kami sempat menoleh dan melihat nya mulai masuk dan mengikuti petugas itu.", tambah Tresya, mengenang saat-saat terakhir melihat Cellya.
"Nyonya, jika nyonya mengizinkan. kami bisa membantu.", ucap Tresya. ia sangat merasa bersalah tidak memastikan sahabat nya pulang dengan selamat.
"Terimakasih.", jawab ibu Cellya sembari mengangguk, setelah cukup lama terdiam dalam pikirannya.
Wanita paruh baya itu, nampak meminum seteguk teh susu di depannya.
"Aku rasa, pertemuan kali ini cukup sampai disini.",
"Aku masih ada janji dengan seseorang.",
"Kalian nikmatilah dulu.", ucapnya setelah meletakkan cangkir di meja.
Ibu Cellya berdiri, tak lupa memberikan hormat pada kedua teman Cellya.
"Terimakasih.", ucapnya, sembari membungkuk kan badannya. kedua teman putrinya pun, membalas dengan hal yang sama.
"Jika mendengar kabar dari Cellya, atau jika dia sudah bisa di hubungi, tolong beritahu kami.", ucapnya terakhir kali.
"Tentu, nyonya.", ucap Tresya dan Juan bergantian. ibu Cellya tersenyum sebelum pergi.
Nampak seorang sopir sudah membukakan pintu mobil untuk majikannya yang sedang berjalan keluar dari cafe.
Ia membungkuk kan badannya penuh hormat. begitu ibu Cellya masuk dan duduk di jok belakang, mobil Porsche itu segera melaju meninggalkan cafe itu.
"Suruh anak buah mu ke bandara. pastikan mereka mendapatkan informasi tentang putriku.", ucapnya pada asisten yang sedang melajukan kemudi mobilnya.
"Baik, nyonya.", jawabnya singkat.
Pikiran nya semakin berkecamuk. entah bagaimana ia akan mengatakan pada menantunya bahwa, istrinya benar-benar sudah di pastikan pulang naik pesawat sesuai jadwal tiket yang di perlihatkan oleh Tresya.
Tapi, bagaimana ia menjawab pertanyaan menantunya saat bertanya, kenapa putrinya tidak pulang ke rumah jika memang dia sudah menaiki pesawat itu?!.
Apakah Cellya menyerah karena Sean tidak juga mengingat nya lagi?!.
Tentu itu adalah hal yang mustahil. Dia mengenal betul bagaimana watak, pemikiran, pendirian dan seberapa besar cinta putrinya pada Sean.
Lalu, adakah opsi lain?!. Cellya tertinggal pesawat mungkin?. ah, entahlah. mungkin akan terjawab nanti saat orang suruhannya sudah membawa kabar berita dari bandara.
"Nyonya, sekertaris Queen mengirim pesan.",
"Mengingatkan, ada rapat pemegang saham siang ini.", ucap asisten nya.
"Mm..", jawab ibu Cellya singkat. ia masih setia memandang pemandangan sekitar dari balik jendela mobilnya.
"Nyonya, akan hadir?!.", tanya asisten nya, memastikan.
"Tentu.", jawab ibu Cellya.
"Suruh sekertaris Queen, menyiapkan semuanya.", sambungnya setelah beberapa saat.
"Baik, nyonya.",
Mobil itu akhirnya, berhenti di depan kantor milik ibu Cellya. asisten Han, segera membuka pintu untuk majikan nya.
"Pastikan anak buah mu, melakukan pekerjaannya dengan benar.", ucap ibu Cellya sebelum memasuki gedung perkantoran nya.
"Mengerti, nyonya.", jawab asisten Han.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments