"Beralih lah ke video call. lihat lah, suamimu baik-baik saja sekarang.", sambung ibu Sean.
Tanpa pikir panjang, Cellya segera beralih ke panggilan video.
Dalam hitungan detik, layarnya sudah di penuhi oleh gambar mertuanya, saudaranya dan calon suami saudaranya, ibunya, ayah mertua dan yang terakhir suaminya. mereka nampak sedang menikmati waktu makan bersama sembari melambaikan tangan ke arah kamera.
"Hai, jangan menangis.", ucap Sean setelah menerima ponsel dari ibunya.
"I'm ok.", sambungnya.
Cellya tersenyum getir, ia menghapus air mata nya.
"Maaf.", ucap Cellya pelan.
"Jangan menangis. it hurts my heart.", sambung Sean. ia memegangi dadanya, berusaha menggoda istrinya dan benar saja, itu membuat Cellya tersenyum.
"Maaf, tidak di samping mu saat ini. kau pasti kecewa.", ucap Cellya.
"Jadi apakah ada kompensasi?.", tanya Sean di sertai gummy smile nya.
"Ulang tahun mu sebentar lagi. aku pasti akan ada di sana. jadi, segera lah sehat dan pulih. sehingga,kita bisa merayakan ulang tahun mu.", ucap Cellya.
"Promise?!.", tanya Sean. ia ingin istrinya berjanji untuk segera pulang saat ulang tahunnya. Cellya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. semua sedang makan, kau juga harus makan dengan benar agar segera sembuh dan keluar dari rumah sakit.",
"Aku juga harus pergi.", sambung nya. dan perkataannya, sukses membuat raut wajah Sean berubah.
"Ooh.", ucap Sean singkat. ia nampak menundukkan wajahnya.
"Hai, jangan sedih. aku akan segera menelfon mu lagi nanti.",
"Atau mungkin, aku akan segera datang menemui mu dan memeluk mu, by.", sambung Cellya berusaha menghibur suaminya.
Ucapannya seketika membuat Sean mendongak dengan wajah sumringah.
"It's true?!.", tanyanya. Cellya mengangguk, membuat Sean tersenyum bahagia.
"Baiklah. aku akan menuruti semua perintah mu, tuan putri.", ucap Sean bersemangat. Cellya hanya tersenyum lepas.
"Love you.", ucap Cellya
"Love you more.", sahut Sean. dan panggilan pun berakhir.
Sean nampak begitu bahagia. ia bahkan meminta kepada ibunya untuk menyiapkan makanan dan obat nya. ia ingin segera sembuh dan keluar dari rumah sakit, seperti permintaan istrinya.
POV of Cellya
Ia baru saja mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Perasaan nya bahagia tak terkira. penantian dan doanya tidak sia-sia.
Suaminya kini telah mengingatnya lagi. berulang kali, ia mengusap dadanya, berusaha menetralkan rasa bahagia dan haru yang membuncah di dada.
Air mata bahagia terus saja membasahi kedua bulu matanya. betapa indah dan sempurna hidupnya kini.
Ia mengusap perut nya. seolah menyampaikan pada janin di dalam sana bahwa, ia akan segera mengenalkan baby pada ayahnya.
Tapi tiba-tiba, tas Cellya di serobot orang. ya tas nya di jambret. Cellya yang panik berteriak minta tolong dan berusaha mengejar penjambret itu sembari memegangi perutnya.
Saat beberapa orang respect membantu nya. saat itu juga Cellya merasakan sakit luar biasa di kepalanya.
Ya, sakitnya kambuh. ia berhenti mengejar dan beralih memegangi kepalanya. sesaat kemudian, Cellya jatuh dan pingsan. membuat orang yang melihatnya, segera menolong gadis itu.
Beberapa petugas nampak cekatan mengeluarkan mobil dari area bandara dan membawa Cellya ke rumah sakit terdekat.
POV of Sean
Dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa, setelah acara makan keluarga itu selesai.
"Apakah aku sudah bisa keluar dari rumah sakit?!.", tanya Sean pada dokter yang baru saja selesai memeriksa nya.
"Kita lihat perkembangan nya dalam beberapa hari ke depan, tuan.", jawab dokter.
"Tidak bisakah aku keluar hari ini atau besok?!.",
"Aku janji akan melakukan pemeriksaan rutin.", ucap Sean.
"Aku ingin berobat jalan saja.", sambungnya lagi. membuat dokter itu tersenyum karena melihat Sean begitu antusias dan bersemangat.
"Kita lihat besok, tuan?!.", jawab dokter. begitu mereka selesai memeriksa, dan perawat selesai mencatat dokter dan perawat itu segera keluar dari ruang perawatan Sean.
...----------------...
Akhirnya tepat di hari ulangtahun nya Sean di izinkan pulang.
Tentu saja ia merasa begitu senang. selain pesta yang di siapkan orang tua dan mertuanya, Sean juga berharap segera bertemu dengan istrinya.
Ia tidak sabar, kejutan apa yang akan di berikan sang istri karena sejak dua hari yang lalu Cellya tidak bisa di hubungi.
Pikirnya, sang istri sedang menyiapkan kejutan untuk nya di hari spesial ini.
Karena pesta kali ini tidak hanya untuk perayaan ulang tahun Sean, tapi juga sebagai wujud rasa syukur kedua keluarga, karena Sean sudah sehat kembali.
Mobil Sean dan keluarga nya terparkir di depan rumah Sean. ya, di rumah yang sudah ia tempati bersama Cellya ini pesta akan di adakan.
Nampak semua pekerja sibuk menata, mendekorasi dan menghias setiap sudut rumah, sesuai arahan ibu Cellya.
"Ma.", panggil Sean pada ibu mertua nya yang sedang sibuk memberi arahan pada para pekerja. wanita paruh baya itu menoleh ke sumber suara dan tersenyum.
Ibu Cellya segera menghampiri Sean dan memeluknya.
"Nani, tolong ambilkan minum dan camilan serta beberapa buah.",
"Besan dan menantuku sudah datang.", teriak ibu Cellya sembari mengarah kan Sean dan ibunya untuk duduk di sofa.
"Besan terlalu sibuk.", ucap ibu Sean yang segera ikut duduk bersama mereka.
"Tentu harus sibuk. ini acara yang membahagiakan untuk kedua anak kita, bukan?!.", ucap ibu Cellya disertai senyuman.
"Ya, hari yang membahagiakan tentunya.", sahut ibu Sean.
"Ma, apa Cellya menghubungi mama?.", tanya Sean. ibu Cellya terdiam sejenak.
"Apakah dia tidak menghubungi mu?.", ibu Cellya berbalik bertanya.
"Dua hari ini, dia tidak bisa di hubungi.", jawab Sean, pelan.
"Mungkin dia sedang menyiapkan kejutan.", ucap ibu Sean mencoba membuat semua berpikir positif.
"Ya. mungkin saja, dia selalu begitu kan?!.", jawab ibu Cellya. mencoba menenangkan menantunya. Sean tersenyum tipis.
Entah kenapa, setelah ia bertanya pada ibu mertua nya dan mendapat jawaban demikian, perasaan nya merasa tidak nyaman.
"Ma, aku mau ke kamar dulu.", pamit Sean pada kedua orangtuanya.
"Mm.", jawab ibu Sean.
"Beristirahatlah, sayang.", ucap ibu Cellya. dan Sean pun segera berlalu meninggalkan mereka, menaiki tangga.
Ia membuka pintu kamarnya. sunyi sepi di kamar yang rapi itu. ia memandang sekitar, melihat setiap sudut dan menemukan sesuatu yang aneh.
Dari semua barang, baju hingga aksesoris di kamar ini tidak ada satupun yang menyangkut Cellya.
Bahkan foto yang menghiasi nakas pun hanya fotonya sendiri, bukan fotonya bersama Cellya.
"Nani.", panggil Sean dari lantai atas begitu keluar dari kamarnya.
Pelayan yang mendengar panggilan nya pun segera menaiki tangga dan menghampiri nya ke kamar.
"Ada yang bisa di bantu, tuan?!.", tanya Nani ketika sampai di kamar Sean.
"Dimana semua barang-barang istriku?!.", tanyanya, yang seketika membuat pelayan itu mematung seketika.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments