Sean menarik tubuh Cellya hingga, akhirnya mereka Cellya benar-benar jatuh dalam pelukan Sean.
Ia merangkup wajah istrinya, menatap matanya dalam dan mulai mendekatkan wajahnya pada Cellya.
"Tidak!. jangan Sean, jangan!!...", ucap Cellya pelan. ia berusaha menolak karena, ia tau esoknya pasti ada perdebatan dan perseteruan seperti yang sudah-sudah.
"Aku mencintaimu.", hanya itu yang terucap dari bibir Sean yang terus berusaha dekat dengan Cellya. bahkan kini, pelukan pada pinggang Cellya yang berada di atas tubuhnya semakin mengerat.
"Sean, tidak ak.....
"Mmph...., kalimat nya urung selesai. Sean telah berhasil menyambar bibir tipis milik istrinya.
"Hahh!!...", seru Cellya ketika berhasil melepaskan ciuman Sean. ia nampak sedikit lega dan mengambil nafas dalam.
Namun tak berlangsung lama. Sean, berhasil memindahkan posisi mereka. kali ini, ganti dia yang berada di atas, menindih tubuh Cellya.
"Sean, ini tidak benar. ok?!.",
"Aku mohon jangan lakukan ini.", sambungnya.
"Aku sangat mencintaimu, Cellya.", ucapnya. sebelum akhirnya, berlanjut mencumbu istrinya.
Malam itu, seperti biasa saat Sean mabuk. sekuat apapun Cellya berontak tidak akan bisa lolos dari cumbuan suaminya.
Sebenarnya tidak masalah untuk melakukan hal itu, karena mereka memang suami istri. tapi, setiap kali percumbuan itu terjadi. setiap itu juga, akan ada amarah Sean yang harus ia terima.
Ya, itu di lakukan saat Sean mabuk. dan ia selalu mengira bahwa Cellya, mencari kesempatan melakukan hubungan intim saat ia mabuk agar mereka tidak bisa bercerai.
Percumbuan panas itu baru saja selesai setelah Sean, mengeluarkan semua hasrat nya. ia nampak lemas menindih tubuh Cellya.
Nafasnya yang terdengar tidak beraturan tadi, perlahan mereda. ia nampak masih menggeletakkan kepalanya di dada Cellya, sebelum akhirnya mengecup kening Cellya untuk sesaat dan beralih merebahkan tubuhnya di samping Cellya.
Sean nampak kelelahan, matanya terpejam. nampak tau wajah nya terlihat lega dan bahagia.
Cellya beringsut perlahan dari ranjang. ia tidak ingin membuat Sean terbangun. untuk sejenak, dia duduk di tepi ranjang sambil memunguti bajunya yang berserakan dimana-mana. namun ketika ia hendak berdiri, ia merasakan ada yang menarik tangan nya.
"Mau kemana?!.", tanya Sean. membuat ia sedikit terkejut.
"Ahh..., mandi.", jawab Cellya.
"Temani aku sebentar lagi.", pinta Sean. tangannya masih menggenggam tangan Cellya.
"Aku mohon!.', pintanya sekali lagi, yang membuat Cellya akhirnya luluh, dengan permintaan suami dan segera mendudukkan dirinya di ranjang.
Sean tersenyum manis. ia meraih pinggang Cellya agar lebih dekat dengan nya. Sean juga menarik selimut dan menyelimuti kaki Cellya. sementara ia, tidur di pangkuan istrinya, dan Cellya bersandar pada dinding ranjang.
"Sayang, kapan di perutmu ada baby kita?!.", tanyanya. Cellya tau, itu pertanyaan ngelantur seorang laki-laki yang sedang mabuk. jadi, ia hanya diam tak menjawabnya.
"Aku ingin baby.", sambung Sean.
"Baby yang cantik seperti kamu, dan tampan seperti aku.",
Sekali lagi Cellya hanya diam. ia nampak bingung dan takut mendengar ucapan Sean barusan.
"Berjanjilah!..., kita akan punya banyak baby agar rumah kita ramai, seperti janji kita dulu.", sambungnya lagi, namun kali ini matanya mulai terpejam, dan suaranya mulai berat.
Ya, Sean mulai tertidur akibat mabuk dan kelelahan. diam-diam Cellya menghapus bulir bening yang mulai jatuh di kedua pipinya.
Pikiran nya berkelana, bagaimana kalau ada baby, tapi Sean tidak mau mengakui?!. mengingat bagaimana marahnya Sean, setiap kali mereka selesai berhubungan karena Sean mabuk.
Atau, bagaimana kalau ada baby tapi Sean belum juga pulih ingatannya?!. bahkan ingatannya tidak pernah kembali lagi. apa ia mau menerima kenyataan yang ada?!. mau menerima baby yang lahir dari rahim nya?!.
Entahlah, pertanyaan dan kekhawatiran itu membuat Cellya cepat-cepat menghapus air yang menggenang di pelupuk matanya.
...----------------...
Cellya memastikan Sean tertidur pulas sebelum memindahkan kepala suaminya. ia memastikan Sean nyaman sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Sean, dan segera turun ke lantai bawah menuju kamar nya.
Cellya segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. bekas kecupan, tanda kepemilikan dari suaminya tersebar di beberapa bagian tubuh nya. sangat kontras, sehingga sangat nampak di kulit nya yang putih bersih.
Ia terduduk di bawah guyuran shower. tak ada yang tau apa yang dia pikirkan saat ini. begitu selesai, Cellya hanya keluar dari kamar mandi, mengganti pakaian dengan piyama dan naik ke ranjang nya.
Pagi menyambut.
hanya beberapa jam saja dia tertidur, sebelum akhirnya terbangun karena alarm jam yang terus berbunyi. ia segera bangun, mencuci muka dan bersiap ke dapur.
Sebagai seorang istri, salah satu tugasnya sehari-hari adalah memasak untuk suami. meskipun, terkadang Sean tak menyentuh makanan yang ia buat.
Tangan Cellya, nampak begitu terampil. mengupas bawang, memotong kentang dan bahan-bahan dapur lainnya.
Ia juga nampak lihai memasak, sebelum akhirnya semua hidangan itu berhasil tersaji semua di meja makan.
"Kau melakukan nya lagi?!.", sebuah suara yang khas berhasil menarik perhatiannya. membuat Cellya menoleh ke arah tangga.
Nampak suaminya sudah berdiri di tangga dengan piyamanya. Cellya terdiam mendengar nya. percuma di jelaskan, berulang kali pun akan tetap sama.
"Harus aku katakan berapa kali, nona Amira Cellya Christian bahwa, sebanyak apapun kau melakukan hal itu padaku. aku, tetap pada pendirian ku. kita akan tetap bercerai nanti.", ucapnya tegas. membuat Cellya hanya diam. ia nampak menghela nafas dalam.
"Cara kotor mu ini, tidak akan pernah mempengaruhi keputusan ku untuk menggugat cerai dirimu secepatnya.", sambung nya sebelum ia berbalik menaiki tangga. membuat Cellya menatap punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Oh ya!. satu lagi.", ucap Sean, yang menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Cellya, sehingga membuat gadis itu, dengan cepat bereaksi mengalihkan pandangannya pada semua sajian di atas meja.
"Dengarkan ini baik-baik!.", sambung Sean. langkah nya menuruni tangga dan berhenti di samping istrinya.
Ia meraih wajah Cellya, menekan jari-jari tangannya pada kedua sisi pipi istrinya untuk memastikan, Cellya mendengar perkataan nya dengan jelas.
"Jangan lupa untuk meminum obat penunda kehamilan. karena jika sampai kau hamil, aku tidak akan pernah sudi mengakui keberadaannya.",
"Aku tidak peduli dengan status ku yang akan di coret dari daftar nama keluarga, hanya karena menceraikan mu. karena percuma juga aku memiliki segalanya tapi, harus hidup bersama mu selama nya. hidup seperti ini, melihat mu dengan tipu daya dan sandiwara mu ini, rasanya lebih baik jika aku hidup di neraka.", sambung nya. ia menghempaskan wajah Cellya kasar.
Sean berjalan menaiki tangga menuju kamar nya tanpa menoleh lagi, setelah nya. membuat Cellya yang di tinggal kan segera menghapus air mata yang sedari tadi di tahannya agar tidak jatuh di hadapan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments