Cellya dan dokter Lin kembali ke ruangan pemeriksaan dokter Lin. dan kini mereka sudah duduk berhadapan.
"Nona. kemungkinan besar, ini yang jadi penyebab pengobatan kita terhambat selama sebulan ini.",
"Bagaimanapun, hormon kehamilan sangat berpengaruh.", sambungnya.
"Lalu bagaimana?!.", tanya Cellya.
"Saran saya, lebih baik di gugurkan.", jawab dokter Lin yang membuat Cellya mendelik seketika. ia terkejut dan tidak percaya dokter Lin mengatakan hal itu.
"Kenapa?!.", tanyanya emosional, namun masih berusaha tenang.
"Karena pengobatan ini sangat berpengaruh pada janinnya.",
"Janinnya akan sulit untuk berkembang karena efek obat dan terapi yang nona, jalani. tapi jika kita menghentikan pengobatan nya sekarang, dan memilih mempertahankan janinnya, maka yang kita lakukan beberapa bulan ini akan sia-sia.", sambung dokter Lin. mencoba memberi pengertian.
"Jika nona bersedia untuk melanjutkan pengobatan. saat nona, sembuh nona bisa hamil lagi.", dokter Lin masih berusaha membujuk dan memberi pengertian Cellya yang nampak shock dan terkejut dengan ucapan dokter.
Ia terdiam beberapa saat. ingat akan Sean yang sangat menginginkan bayi ini. ingat akan janji mereka, meramaikan rumah dengan suara-suara bayi mereka.
"Apakah aku sudah pasti akan hidup?.",
"Apakah sudah pasti akan berumur panjang?!.",
"Apakah sudah pasti aku bisa hamil lagi?.", tanya Cellya beruntun, setelah lama terdiam. membuat dokter Lin sedikit terkejut.
"Dokter sendiri pernah bilang, hanya lima persen dari penderita penyakit ini, yang bisa hidup antara 12-15 tahun. selebihnya, mereka tidak bisa bertahan lebih dari satu tahun.", ucap Cellya.
"Saya tau akhirnya, seberapa keras saya berusaha. seberapa kuat saya melakukan pengobatan, hasilnya akan tetap sama.",
"Saya, tidak pernah berharap untuk sembuh ataupun berumur panjang. saya, hanya berharap penyakit ini tidak menganggu pikiran dan ingatan saya. itulah, tujuan pengobatan saya.",
"Jadi, kalau dokter menyarankan untuk menggugurkan bayi ini. mungkin, jawabannya adalah tidak. saya, tidak akan melakukan nya.",
"Tapi....",
"Setidaknya, saya masih bisa memperjuangkan satu nyawa, satu kehidupan yang mungkin akan menjadi penghibur bagi keluarga saya, ketika saya pergi.", jawabnya tegas, namun tenang. membuat dokter muda itu terdiam.
Cellya menggeser kursinya, ia berdiri dengan tegar dan tenang.
"Terimakasih untuk waktu nya hari ini, dokter. mungkin lain waktu jika saya membutuhkan dokter, saya akan berkunjung lagi. terimakasih.", ucap Cellya pamit. mengakhiri pertemuan pagi ini.
Ia membungkuk, memberi hormat pada dokter Lin sebelum pergi, dan dokter Lin pun membalas nya sama.
POV of Sean.
Ia menuruni tangga rumahnya sembari memegang keningnya. mungkin masih sedikit pusing efek mabuk berat semalam.
Langkah nya santai berjalan ke arah meja makan. ia meraih segelas jus dan meminumnya. bukan tidak melihat kertas yang di tinggalkan istrinya, tapi ia lebih memilih tak menghiraukannya.
Sarapan yang Cellya buat, lagi-lagi tidak di sentuh. setelah meminum jus ia pergi begitu saja.
"Selamat pagi, tuan.", sapa John. memberi salam, hormat dan segera membuka pintu mobil untuk tuannya.
Ia segera menutup pintu mobil, begitu Sean sudah masuk dan duduk dengan benar.
"Langsung ke kantor, tuan?!.",
"Hmm...", jawabnya.
Ia nampak memijit keningnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Tuan, sedang kurang sehat?!.", tanya John. berusaha mencairkan suasana di perjalanan menuju kantor.
"Ah.. tidak. hanya seperti nya ada masalah dengan mataku.", jawabnya.
"Perlu ke dokter, tuan?.", tanyanya lagi.
"Langsung ke kantor saja. aku ada pertemuan penting pagi ini.", jawab nya.
"Baik, tuan.",
Sean menyandarkan kepalanya di kursi mobil. ia memejamkan matanya, berharap saat sampai di kantor penglihatannya tidak kabur lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Begitu sampai, John segera membukakan pintu dan mempersilahkan tuannya turun.
Nampak Sean merapikan jas nya sebelum menuruni mobil. ia menarik nafas lega begitu sudah berdiri di samping mobilnya.
John segera memberi kunci mobil pada penjaga agar, mereka dapat memarkirkan mobil tuannya.
Sean berjalan memasuki gedung kantor nya. nampak semua karyawan yang berjumpa dengannya membungkuk memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi.
Ia terus berjalan, namun langkah nya terhenti ketika melewati ruang tunggu yang di desain seperti taman.
Sekejap mata, nampak ia melihat seorang gadis begitu sumringah saat ada seorang pria keluar dari lift dan menghampirinya. namun, wajah keduanya tidak jelas.
Sean merasa sedikit pusing, dan pandangan nya terganggu lagi. ia nampak mengerjapkan matanya lagi, namun saat ia melihat ke arah taman itu lagi, mereka tidak ada.
Ia nampak memegangi kepala lalu memijit pangkal hidung nya.
"Anda baik-baik saja, tuan?.", tanya John. ia khawatir melihat sang majikan.
"Sedikit pusing.", jawabnya. Sean membuka matanya lagi, lalu memandang ke sekitar tempat tunggu itu lagi.
"Kenapa, tuan?!.",
"Apakah kau, melihat sepasang kekasih tadi?!.",
"Sepasang kekasih?!.", tanya John, memastikan. Sean mengangguk.
"Tidak ada siapapun di tempat tunggu itu, tuan. dari tadi tidak ada orang di sana.", jawabnya. meyakinkan.
"Benarkah?!.",
"Mm....",
"Tuan merasa tidak enak badan?!.", sambungnya.
"Apa perlu ke dokter untuk medical check up?!.", tanya John lagi.
"Aku rasa, ini hanya efek alkohol semalam.",
"Bawa aku, keruang kerjaku agar aku, bisa istirahat sebentar sebelum bertemu dengan klien kita pagi ini.", perintah nya.
"Baik, tuan.",
John segera menemani Sean menaiki lift menuju ruangan nya. begitu sampai dan pintu lift terbuka, ia dengan cekatan mengarahkan sang majikan menuju ruangan nya.
Tak lupa, sebelum ia pergi ke ruang kerja miliknya. ia menelfon ruang OB untuk mengantarkan secangkir teh jasmine ke ruangan Sean.
Setidaknya, Sean akan lebih baik setelah meminum teh yang selalu bisa menenangkan saraf nya itu.
"Tuan. saya, permisi ke ruangan saya.", pamitnya. yang hanya di angguki Sean. setelah nya, ia nampak menyandarkan kepalanya di bahu kursi.
Kepala nya sedikit pusing dan berat, pandangan nya terkadang buram dan tidak jelas. belum lagi, banyak gambaran-gambaran yang tidak jelas bermunculan di pikiran nya.
Ia memutar kursi kerjanya, menatap taman dari jendela kaca lantai atas ruang kerjanya.
Terlihat seorang laki-laki dan perempuan tengah duduk di sebuah gazebo yang berada di taman itu.
Mereka nampak sumringah, tertawa dan bercanda bersama. gadis itu, nampak mengeluarkan bekal kotak makan yang sudah ia bawa dari rumah untuk di nikmati bersama.
Mereka nampak mengobrol seru, sesekali mereka nampak tertawa. namun, ada yang aneh.
Laki-laki itu, kenapa mirip dengan dirinya?!. Sean terdiam, matanya nampak menyipit. seolah-olah, ia bisa melihat lebih jelas dengan menyipitkan kedua matanya.
Hingga ia berjalan mendekat ke arah jendela, ia ingin lebih jelas melihat pasangan tadi. namun, lagi-lagi mereka menghilang.
Sean kebingungan. ia mengedarkan pandangannya ke sekitar taman yang berada di bawah luar ruangan nya.
Namun lagi-lagi, ia merasakan pusing di kepala nya.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments