Dokter keluar dari ruangan dan segera menghampiri ibu Sean dan ibu Cellya.
"Operasi nya, berjalan dengan baik.", ucap dokter yang membuat wajah kedua orang tua itu tenang seketika. mereka berpelukan sesaat untuk meluapkan rasa bahagia.
"Tinggal di pindahkan ke ruang pulih sadar dan lanjut ke ruang perawatan untuk di pantau perkembangan nya.",
"Sementara ini, tuan muda belum bisa di kunjungi.", sambung dokter.
"Terimakasih.", jawab ibu Sean yang segera di angguki oleh dokter.
POV of Cellya
"Serius?!.", tanya Tresya, meyakinkan. dan Cellya hanya mengangguk.
"Pulang nya habis tanda tangan kontrak aja deh.", bujuknya. dan itu membuat Cellya hanya menghela nafas dalam.
"Iya Cell. kan, tinggal kurang sedikit aja.",
"Tinggal tanda tangan kontrak. serah terima, dan semuanya selesai.",
"Apa salahnya sih, nunggu setelah selesai tanda tangan dan penyerahan.", timpal Juan.
"Kan, ulang tahun nya Sean masih empat hari lagi. jadi masih sempat.",
"Besok setelah tanda tangan, kita bantu cari hadiah buat Sean deh.", bujuk Tresya. membuat Cellya terdiam dan berpikir.
Ya, menunggu sampai selesai tugas juga tidak masalah kan?!. bukankah, hanya tinggal tanda tangan dan penyerahan?!. setelah semua selesai, dia bisa segera pulang.
"Ok.", jawab Cellya setelah cukup lama berpikir. membuat kedua temannya tersenyum sumringah dan bahagia seketika.
POV of Sean
Sean sudah di pindahkan ke ruang perawatan. kondisinya membaik lebih cepat dari perkiraan dokter. hanya tinggal menunggu Sean siuman saja.
Ibu Cellya mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya setelah keluar dari ruang perawatan Sean.
"Ma.", panggil suara di seberang.
"Iya, sayang.", jawabnya.
"Dari kemarin, Cellya telfon mama nggak bisa. padahal penting.",
"Oh ya?!.",
"Mama, minta maaf sayang. Mama, sibuk dari kemarin.", jawab ibu Cellya.
"Ma. empat hari lagi ulang tahunnya Sean, kan?!. tapi aku masih di Singapura.",
"Bisa minta tolong nggak?!.",
"Tolong atur pesta untuk Sean. aku baru bisa terbang besok siang, sekitar jam dua, ma.", ucap Cellya, menjelaskan maksudnya menelfon.
"Apakah pekerjaan mu sudah selesai?!.", tanya ibunya.
"Mm.", jawabnya singkat.
"Berjalan dengan baik kah?!.", tanya ibu nya lagi.
"Iya.", jawab Cellya lagi.
Ibunya nampak tersenyum. "Bagus, Mama bangga.", ucap ibu Cellya yang membuat bibir tipis miliknya berkembang.
"Mm..., Mama, bisa bantu kan?!.", tanyanya kemudian.
"Tenang saja. Mama, pasti bantu.", jawab ibunya.
"Baiklah. terimakasih, ma.", ucapnya sebelum sambungan telepon itu berakhir.
Keesokan pagi, Cellya sudah berkemas menata semua bajunya di koper, sebelum bertemu dengan kliennya.
Ia bermaksud segera bertolak ke bendara setelah proses tanda tangan kontrak dan serah terima selesai.
"Yakin?!. enggak ikut kita liburan dulu di sini?.", tanya Tresya yang baru saja masuk ke kamar Cellya, dan membantunya beberes.
"Mumpung di kasih cuti sama pak bos.", sambung nya. Cellya hanya tersenyum dan menggeleng.
"Nikmatilah waktu kalian berdua.", jawab Cellya.
"Aku tidak ingin jadi pengganggu atau pun jadi nyamuk disini.",
"Lebih baik aku pulang, menemui suamiku sehingga, aku juga bisa merasakan seperti yang kalian rasakan.", sambungnya. membuat Tresya tersenyum.
"Ya,ya .. nikmatilah, waktu kalian sebelum baby lahir.",
"Karena setelah baby lahir, di khawatir kan tuan Sean akan lebih perhatian pada baby, dari pada dirimu.", gurau Tresya membuat Cellya tersenyum getir.
Akankah ia dan Sean sampai pada masa itu?!. ia tidak yakin, tapi juga tidak ingin menyerah.
...----------------...
Ellyana nampak sedang duduk di sofa sebuah kamar perawatan VVIP, bersama David calon suaminya. sesekali ia memperhatikan Sean.
"Sayang, tangan Sean seperti bergerak tadi.", ucap David yang membuat sang kekasih segera mendekati ranjang Sean untuk memastikan.
Saat David sedang memperhatikan Sean dengan seksama, Sean membuka matanya perlahan. David segera menekan tombol emergency, dan tidak lama kemudian dokter serta perawat segera datang.
Mereka segera memeriksa Sean, sementara Ellyana dan calon suaminya menunggu di depan ruangan.
"Bagaimana?.", tanya ibu Sean yang baru saja datang. wajah nya nampak cemas.
"Tante, Sean sedang di periksa oleh dokter. kita tunggu saja di sini.", jawab Ellyana sembari meraih lengan ibu Sean dan mengusapnya untuk menenangkan.
Hari ini, ibu Cellya ada pertemuan penting. itu sebabnya, Ellyana menyempatkan diri untuk menjenguk Sean sekaligus bergantian menjaga, agar ibu Sean bisa istirahat dan keluar sebentar.
Pintu terbuka. dokter yang memeriksa keluar, senyumnya menggambarkan bagaimana kondisi Sean.
"Silahkan masuk, nyonya. kondisi tuan muda sudah mulai stabil.", ucapnya membuat wanita itu tersenyum.
"Terimakasih.", ucap ibu Sean yang segera masuk kemudian. ia segera menghampiri putranya yang masih terbaring.
Ellyana dan David pun mengikuti ibu Sean masuk. tapi, David berhenti di dekat pintu. bukan tanpa alasan, ia tidak ingin Sean tersulut emosi saat melihatnya bersama Ellyana.
"Ma.", panggil Sean. suaranya masih terdengar lemah, ibu Sean hanya mengangguk menjawab panggilan putranya.
"Mana istriku?.", tanyanya kemudian. ibu Sean terdiam, ia melirik Ellyana sekilas yang masih berdiri di depan David.
"Siapa?.", tanya ibu Sean, ragu.
"Ma, jangan bercanda. anakmu cuma satu, menantu mu juga satu.", ucap Sean.
"Dimana dia?.", tanya Sean lagi. ia menoleh ke samping, membuat Ellyana mematung seketika.
"Nona. dimana saudarimu?!.",
"Bukankah seharusnya dia ada disini menunggu suaminya?!.", ucap Sean pada Ellyana, yang membuat gadis itu tersenyum sumringah.
"Cellya?!.", tanya Ellyana bersemangat.
"Tentu saja. dimana dia?!.", jawab Sean.
"Kau mengingat semuanya?!.", tanya Ellyana girang.
"Apa maksudnya?!. ma, apa aku terlihat seperti orang yang hilang ingatan?.", ujar Sean.
"Jangan dengarkan Ellyana. dia hanya ingin bercanda denganmu.", ucap ibu Sean. yang membuat Ellyana seketika faham dan sadar.
Ellyana dan David pergi keluar untuk mencari camilan. sementara di ruang Sean, ibunya sedang menjelaskan bahwa, Cellya sedang ada kerjaan di Singapura, dan berjanji akan segera pulang.
POV of Cellya
"Kapan kau akan pulang?.", tanya Ellyana begitu bersemangat, ketika panggilan telepon nya tersambung.
"Hari ini. aku terbang jam dua siang.", jawab Cellya.
"Apakah Sean menelfon mu?.",
"Tidak.", jawab Cellya. suatu keajaiban bila Sean melakukan itu. mengingat selama Sean hilang ingatan ponselnya telah di ganti demi tidak memancing emosinya yang bisa berdampak buruk pada kesehatan nya. dan kontak yang tersimpan hanya kedua orang tua Sean.
Ponsel lama nya di bawa ibunya. semua nomor relasinya, langsung terhubung ke ponsel John. Sean hanya perlu ikut dan hadir di acara meeting dan pertemuan mewakili perusahaan.
"Jika dia menghubungi mu, angkatlah.", ucap Ellyana.
"Baik.", jawab Cellya.
"Baiklah. nanti di sambung lagi, aku sedang menikmati camilan dengan David.",
"Bye!.", ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.
"Bye.", jawab Cellya. ia tersenyum menatap ponsel, entah kenapa semangat Ellyana membuatnya senang.
Baru saja Cellya meletakkan ponselnya. satu panggilan masuk, terpampang jelas nama si pemanggil "my husband".
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments