Sean telah di pindahkan ke ruang perawatan. ibunya masih setia menunggu nya untuk siuman.
Dokter bilang dia baik-baik saja, tidak ada masalah dengan operasi nya kemarin. mungkin, memang dia sedikit emosional sehingga mempengaruhi kesehatan nya.
Pintu terbuka, nampak asisten pribadi ibu Cellya berdiri di sana. tidak lama kemudian, ibu Cellya segera menyusul masuk.
"Aku kesini, begitu pekerjaan ku selesai.",
"Bagaimana keadaannya sekarang?!.", tanya ibu Cellya pada besannya yang masih setia duduk di kursi samping brankar.
"Kata dokter tidak masalah. mungkin dia hanya sedikit emosional, sehingga membuat nya drop.", jawab ibu Sean.
Asisten ibu Cellya masuk kembali. kali ini, ia membawa beberapa paper bag berisi makanan.
"Pesanan nyonya sudah siap.", ucapnya. ibu Cellya memberi isyarat untuk meletakkan semuanya di meja, sebelum asisten itu pergi.
"Besan makanlah sebentar, biar aku yang menjaganya. ini sudah jam makan malam. bagaimanapun, kita harus memperhatikan kesehatan kita juga.", ucap ibu Cellya.
Ibu Sean menyetujui ucapan besannya. ia segera beranjak dari duduk nya dan beralih ke sofa. mengambil makanan dalam paper bag yang sudah di bawakan oleh asisten besannya.
Selesai makan, sembari menunggu dokter memeriksa keadaan Sean, ibu Sean bercerita tentang pertemuan Sean dengan sahabat Cellya ketika mencari istrinya di kantor.
Dengan seksama, ibu Cellya mendengar kan penuturan besannya.
Ia nampak tidak terkejut. ya, karena ibu Cellya sendiri sudah terlebih dulu meminta asistennya mencari tau informasi tentang Cellya.
Bahkan sekarang, orang kepercayaan nya terbang ke Singapura untuk mencari informasi Cellya di sana.
"Sebenarnya, aku sudah mengetahui semuanya.",
"Kenapa Cellya bisa lepas kontak?!.",
"Aku menyadari nya lebih dulu. itu sebabnya aku menyuruh orang untuk mencari informasi.",
"Bahkan sekarang, aku menyuruh orang ku untuk mencari keberadaan nya di sana.",
"Aku tidak ingin mengatakan apapun pada Sean dan kalian karena, aku ingin untuk saat ini kita fokus pada pemulihan kesehatan nya.",
"Seharusnya, besan tidak mengizinkan dia ke kantor Cellya.", ucap ibu Cellya panjang lebar.
"Aku tidak memiliki alasan untuk mencegah nya.", ucap ibu Sean lirih.
Dokter keluar ruangan. ibu Sean dan ibu Cellya segera berdiri menyambut dokter dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaannya?!.", tanya ibu Sean.
"Keadaan tuan jauh lebih baik. tinggal menunggu siuman saja.", jawab dokter itu di sertai senyuman. membuat perasaan kedua ibu itu tenang dan menghangat.
Mereka segera masuk ke kamar perawatan Sean setelah dokter itu berlalu pergi.
Ibu Sean kembali menghampiri putranya dan duduk di kursi lagi. sementara ibu Cellya duduk di sofa dan membuka laptopnya.
Ia menerima pesan dari orang kepercayaan nya yang dikirim ke Singapura lewat email.
Ya, laporan nya berupa dimana Cellya tinggal selama tugas kantor, kemana saja dia pergi, siapa saja yang di temui nya, sampai, kapan ia meninggalkan apartemen untuk pulang.
Ya, hanya itu saja laporan yang diterima ibu Cellya. belum ada titik terang dimana putrinya kini berada.
"Ma.", suara serak itu membuat kedua ibu yang berada di ruang perawatan Sean menoleh ke arah sosok yang tengah terlelap sejak tadi pagi.
"Sayang. kau sadar?!.", ucap ibu Sean haru. ia segera berdiri dari kursi dan memeluk anaknya. sementara ibu Cellya segera menghampiri menantunya dan tidak lupa menekan tombol nurse call.
"Apa ada yang sakit?!.", tanya ibu Cellya pada menantunya. membuat pria yang masih terbaring itu, tiba-tiba meneteskan air mata dari sudut matanya.
......................
Sesaat kemudian dokter dan perawat sudah datang memasuki ruangan.
Sejenak ibu Sean dan ibu Cellya bergeser, memberi ruang pada kedua ahli medis itu, untuk memeriksa putranya.
Mereka nampak memperhatikan dengan seksama. begitu pemeriksaan selesai, kedua sosok ibu itu segera mendekat pada ranjang putra nya lagi.
"Kondisi tuan sangat baik.",
"Malam ini, tuan bisa istirahat dulu.",
"Bila besok memungkinkan, tuan bisa segera di bawa pulang.", ucap dokter, setelah memeriksa Sean membuat kedua ibunya lega. dokter pun segera pamit untuk keluar ruangan.
"Ma.", panggil nya, yang membuat ibu Sean dan ibu Cellya segera mendekat.
"Apa Cellya sudah pulang?!.", tanyanya. membuat ibu Sean seketika mengalihkan pandangannya, menatap besannya yang berdiri di seberangnya.
"Cellya belum pulang.",
"Mama, juga sudah mengerahkan semua orang kepercayaan mama, untuk mencarinya.", jawab ibu Cellya.
"Apa dia pergi karena marah dan kecewa padaku?!.", tanyanya.
"Apa yang kau pikirkan?!.",
"Dia adalah istri mu, tidak mungkin menantuku bersikap seperti itu.", ucap ibu Sean, menepis pemikiran buruk putranya.
"Aku tadi ke kantor Cellya, ma.", ucapnya. pandangan nya terarah pada mertuanya.
"Aku bertemu temannya.",
"Dia mengatakan, Cellya sudah pulang lebih dulu untuk mempersiapkan ulang tahun ku. tapi, kenapa sampai sekarang dia tidak datang?!.", ucapnya. kedua orang tua itu hanya bisa diam mendengar cerita Sean.
"Mama tau?!. apa yang terlintas di kepala ku saat aku kesakitan tadi?!.",
"Aku melihat gambaran-gambaran betapa kejamnya aku kepada istriku.",
"Kenapa aku bersikap seperti itu?!.", ucapnya. air matanya menetes di sudut netra nya.
Ibu Sean yang mendengar ucapan putranya merasa sesak dan hanya bisa memalingkan wajah agar putranya tak melihat ia menangis.
Ibu Cellya menghela nafas. berusaha menetralkan sesak di dadanya. bagaimanapun, ia tidak boleh lemah.
Ya, kedua orang tua itu tau bagaimana perlakuan Sean kepada Cellya selama hilang ingatan.
Tapi Cellya melarang kedua ibunya untuk menegur atau memarahi Sean. ia beralasan bahwa, Sean bersikap demikian bukan dari hatinya. itu semua karena dia sedang amnesia dan tidak mengenali pribadi nya.
"Tapi dia tidak berpikir demikian.", ucap ibu Cellya.
"Dia tahu itu bukan dirimu. itu sebabnya dia tidak pernah menyerah atau meninggalkan mu.",
"Jika sekarang dia belum kembali, itu bukan berarti dia ingin pergi darimu.",
"Ibu mengenal putri ibu dengan baik. ibu mengenal kepribadian nya, ibu mengenal semangat nya dan cara berpikirnya.",
"Bukankah kau juga sangat mengenal nya?!.", ucap ibu Cellya, wanita itu menatap menantunya yang masih terbaring di ranjang, lekat.
"Jika dia tidak kembali, pasti ada sesuatu yang terjadi.", sambung ibu Sean.
Sean menghela nafas mengeluarkan sesak di dadanya.
"Lekas lah sehat dan membaik.",
"Setelah itu, kita cari Cellya bersama-sama.",
"Dengar!.. ,kita mempunyai kekuasaan dan kemampuan. kita pasti bisa menemukan nya.", ucap ibu Cellya.
"Jadi, putraku harus terus bersemangat. ok?!.", ucap ibu Cellya, yang di angguki oleh Sean.
Pria itu menangis, sementara tangannya memeluk leher mertuanya. begitu juga dengan ibu Sean yang ikut larut dalam kesedihan putra nya.
Malam itu, ibu Cellya memutuskan untuk tidur di rumah sakit menemani besannya, sekaligus bentuk dukungan ibu Cellya kepada menantunya.
Ya, ia berjanji akan membantu Sean mencari Cellya sampai ketemu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments