Cellya menerima jus itu, ia nampak tersenyum tipis. entah kenapa, perasaannya tidak nyaman sedari mereka berada di pesawat.
Mood nya naik turun. tapi untungnya, kedua temannya memahami dirinya dengan baik.
"Mau makan?.", tawar Tresya pada Cellya yang di jawab dengan gelengan kepala.
"Bolehkah aku istirahat sebentar?.", tanya Cellya.
"Tentu... tentu. istirahatlah!.", jawab Tresya.
"Ya, istirahatlah!. istirahat penting untuk ibu hamil.", sahut Juan.
"Terimakasih. aku ke kamar dulu ya?!.", pamitnya. dan di jawab anggukan oleh kedua sahabatnya.
Cellya memainkan ponselnya. ia nampak menghubungi seseorang.
"Hai..., aku baru selesai bertemu klien. ada apa?.", tanya gadis di seberang yang menjadi lawan video call Cellya.
"Apa Sean menghubungimu hari ini?.", tanya Cellya pada saudari kembarnya.
"Tidak.", jawabnya. Cellya terdiam, wajahnya jelas terlihat sangat khawatir.
"Kenapa?.", tanya Ellyana.
"Entahlah. perasaanku tidak enak.", jawabnya.
"Mungkin, kau hanya lelah karena perjalanan. lebih baik segera istirahat.",
"Kau akan merasa lebih baik setelahnya.", ucap Ellyana yang hanya di angguki Cellya.
"Baiklah. kalau ada sesuatu tentang Sean, tolong hubungi aku secepatnya.", pesan Cellya pada saudarinya.
"Mm...", sahut Ellyana di sertai anggukan.
Sambungan video call itu berakhir. Cellya merebahkan tubuhnya di bed.
Entahlah, walau sudah beberapa kali ganti posisi dan mengatur bantal serta tempat nya tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman.
Pikiran nya hanya di penuhi oleh suaminya. ia meraih ponselnya lagi. mencoba melakukan sambungan telepon tapi tidak mendapat respon.
Fikiran dan hatinya semakin tidak tenang. ia mencoba menghubungi ibunya, tapi tidak juga di angkat.
Pada akhirnya, Cellya tertidur dengan segala perasaan resahnya.
POV of Sean.
Tiga hari berlalu. Sean belum juga sadar, sementara pemeriksaan tetap di lakukan untuk mengetahui tindakan selanjutnya yang harus di ambil.
Ibu Sean sudah berada di ruang kerja dokter. mereka saling duduk berhadapan.
Dokter Demian mengeluarkan hasil CT scan tiga hari lalu, dan membaca hasilnya.
"Ada penyumbatan di sini.", ucapnya sembari menunjuk foto CT scan yang masih tergantung di papan.
"Kita harus segera melakukan tindakan operasi karena ini dekat dengan batang otak.", lanjut nya.
"Apakah ada efek samping nya?.",tanya ibu Sean, menyela. bagaimanapun, ia harus memastikan bahwa operasi kali ini berhasil. sehingga, tidak berpengaruh pada saraf lainnya.
Seperti kemarin, saat Sean baru mengalami kecelakaan. ia harus menjalani operasi karena ada penyumbatan pada pembuluh darah di otaknya, yang mengakibatkan ia kehilangan ingatannya.
Belum lagi, setelah operasi pengelihatan nya sedikit bermasalah.
"Kami tidak bisa menjamin, nyonya.",
"Yang jelas, kalau operasi tidak segera dilakukan. kami khawatir tuan Sean tidak terselamatkan. karena batang otak adalah perantara yang menghubungkan antara otak besar, tulang belakang dan organ tubuh lainnya.", jelas dokter.
Ibu Sean terdiam mendengar penjelasan dokter. ia harus mengambil keputusan cepat dan tepat untuk putranya.
Ia mengambil ponsel dari tas mewahnya, dan mulai menghubungi suami, besan dan yang terakhir menghubungi Cellya.
Suami dan besannya setuju untuk melakukan operasi. apapun hasilnya, yang penting Sean bisa selamat.
POV of Cellya
"Nice to meet you.", ucap Cellya berjabatan tangan dengan para kolega perusahaan nya, yang mengakhiri pembahasan kerja sama mereka.
Raut wajahnya nampak berseri karena ia berhasil memenangkan tender kali ini. tidak hanya mendapatkan relasi, bahkan mereka bersedia menanam saham dan modal di perusahaan tempat Cellya bekerja.
...****************...
"Wah, tidak menyangka mereka akan dengan mudah menerima tawaran kita.", ucap Juan. selepas relasinya pamit undur diri. ia nampak begitu senang, karena semuanya berjalan mulus tanpa hambatan.
"Kau terbaik.", ucap Tresya, memeluk erat Cellya dari arah belakang. mereka nampak tersenyum puas.
"Esok, tinggal penyerahan surat kontrak. kalian bisa menanganinya, kan?!.", tanya Cellya.
"Tentu saja harus bersamamu.", seloroh Juan.
"Iya. kita memulainya bersama. mencapai finis nya juga harus bersama.", timpal Tresya.
Cellya terdiam. entahlah dari kemarin pikiran nya tidak tenang. bahkan semalam dia bermimpi Sean datang menjemput nya, dan menurut nya itu bukan hal biasa.
Ibu juga saudaranya susah di hubungi. mertuanya hanya mengatakan kalau ibu dan saudaranya sedang sibuk. bahkan ibu Sean meyakinkan bahwa mereka baru saja bertemu kemarin dan tidak ada masalah apa-apa.
"Kenapa diam?!. apa kau kurang sehat?.", tanya Tresya. membuyarkan argumen-argumen yang memenuhi kepalanya.
"Apa baby, sakit?.", tanya Juan, menimpali. Cellya tersenyum ragu.
"Tidak.", jawabnya singkat.
"Baiklah. kalau begitu, mari kita rayakan dengan makan-makan.", ajak Juan bersemangat.
"Aku dengar, ada restoran enak di sekitar sini.", tambahnya.
Juan berjalan lebih dulu, sementara Tresya segera menggamit tangan Cellya untuk mengikuti Juan.
Begitu sampai di restoran, mereka segera memesan berbagai menu dan masakan. sambil menunggu pesanan datang, tak lupa Juan dan Tresya mengajak Cellya untuk berfoto.
Tapi saat sedang asyik berfoto, tiba-tiba ponsel Cellya berdering. Cellya yang melihat ada panggilan masuk, segera pergi ke toilet dan mengangkatnya.
"Ellyana?!.", panggilnya saat telfon sudah mulai tersambung.
"Kenapa dari kemarin tidak bisa di hubungi?.", tanya Cellya.
"Maaf. dari kemarin aku ada pertemuan dengan beberapa relasi.",
"Kau tau sendiri, kan?!. sejak dirimu berkata tidak mau repot mengurus perusahaan setelah menikah, aku dan mama jadi sangat sibuk?!.", jelasnya.
"Ahh, aku minta maaf.", jawab Cellya.
"Kenapa kemarin menelfon?. ada yang penting kah?!.", tanya Ellyana.
"Aku baru saja sampai di rumah dan selesai mandi.", tambahnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah?!.", tanya Cellya.
"Apa yang kau pikirkan?.", Ellyana balik bertanya.
"Entahlah. perasaanku tidak enak.",
"Bahkan semalam aku bermimpi Sean datang menjemput ku di bandara.", cerita Cellya.
"Eoh.", jawab Ellyana singkat.
"Apakah pekerjaan mu sudah selesai?.", tanya Ellyana setelah beberapa saat diam.
"Ya. tinggal penyerahan surat kontrak dan kerjasama, setelah nya aku akan segera pulang.", jawabnya.
"Kalau begitu, cepatlah pulang!.",
"Ingat!. ulang tahun Sean hanya beberapa hari lagi.", ucap Ellyana, mengingatkan.
"Mm.", jawab Cellya.
"Baiklah. aku mau makan dulu, sambung nanti lagi ya?!.", ucap Ellyana. dan panggilan itupun berakhir.
Cellya diam menatap ponselnya. ia nampak memikirkan sesuatu.
"Apa sudah selesai?!.",
"Kenapa lama sekali?.", tanya Tresya yang menyusul masuk ke toilet perempuan.
"Ah, Ellyana menelfon. aku pikir, ada berita tentang Sean. tapi, ia malah menceritakan proyek barunya.", jawab Cellya.
"Itu bagus. berarti tidak ada hal-hal yang perlu di khawatir kan.", ucap Tresya. membuat Cellya tersenyum.
"Baiklah. ayo kita makan!.",
"Juan sudah menunggu. dia tidak sabar untuk menyantap semua makanan lezat itu.", ajak Tresya. mereka pun berjalan beriringan menuju meja yang penuh hidangan itu.
POV of Sean
Sudah satu jam operasi di lakukan. dengan setia, ibu Cellya dan ibu Sean menunggu di depan ruang operasi, tentunya dengan penjagaan beberapa bodyguard.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments