malam menunjukkan pukul 19..00 wib. Roni pulang sedikit cepat dari biasanya. jalanan berbatu membuatnya harus jeli, agar tidak tergelincir oleh bebatuan yang menyembul di permukaan jalan.
malam ini terlihat sepi, Roni tidak mengetahui jika ada acara kenduri di rumah bu Dewi, karena Ia sedang bekerja. saat melewati perkuburan, Roni melihat seseorang sedang berjalan tergesah-gesah. pria berbadan kekar, Ia seperti mengenalinya, namun karena suasana gelap dan keadaan letih, Roni mencoba abai. pria itu menggunakan hoodie dengan menutup kepalanya. Roni menyapa pria itu dengan membunyikan klakson. namun pria itu hanya menunduk saja.
"siapa kira-kira pria itu?" sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?" ucap Roni berguman sendiri.
Pria itu semakin mempercepat langkahnya, membelah kesunyian malam.
Roni melintasi rumah bu Dewi, terlihat orang-orang sedang membaca doa dalam tasyakuran tersebut. Roni mengurangi laju kecepatannya, agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang berdoa.
sesampainya didepan rumah, Roni mengetuk pintu. [tok...tok..tok..] "dik..dik..Mala, buka pintunya..dik" ucap Roni dengan nada lemah, karena lelah yang mendera sehabis bekerja.
tidak ada sahutan dari Mala. Roni penasaran, mengapa Mala lamban membuka pintu untuknya, biasanya Ia dengan cepat membuka pintu untuknya.
Roni mengetuk pintu untuk yang kedua kalinya, namun tidak ada juga sahutan. Roni mulai curiga, Ia menarik handle pintu, dan.. [kreeeeek....] pintu terbuka. "mengapa dik Mala tidak mengunci pintu? tidak biasanya." ucap Roni semakin penasaran.
dan ketika Ia masuk kedalam rumah, Ia dikejutkan saat melihat Mala tergeletak di diatas lantai. "astaghfirullah, dik Mala" ucap Roni dengan panik. Ia begitu khawatir dengan kondisi istrinya. rasa lelah yang tadi mendera tubuhnya, seketika menghilang.
Ia dengan sigap membopong tubuh istrinya kekamar, membaringkannya diranjang. darah yang telah merembes Ia bersihkan, mengganti handuk dan menyalin pakaiannya. lalu dengan cepat Ia menghubungi bidan Sri.
"hallo, ada apa pak? ada yang bisa saya bantu?" ucap Bidan Sri dari seberang telefon.
"hallo, bu bidan, bisa datang kerumah saya?"ucap Roni panik, saat telefonnya tersambung.
" Iya pak, bisa. emangnya ada apa ya pak?" ucap bidan Sri penasaran.
"istri saya pendarahan bu, bidan." ucap Roni dengan gugup, sembari menatap istrinya dengan harap-harap cemas.
"iya pak, saya akan segera kesana." ucap bidan Sri singkat.
"tapi kinta tolong singgahkan sekalian si Mbok ya bu? tolong bawakan kemari." ucap Roni memohon.
"iya pak." jawab bidan Sri. Ia segera menutup telefonnya, mengemasi barang-barang keperluan medisnya. lalu berangkat menuju kerumah si Mbok, untuk sekalian ikut kerumah Mala.
****
suara deru mesin motor matic terdengar di depan pintu. Roni yang sedari tadi duduk ditepian ranjang untuk menemani Mala, dengan penuh kegelisahan, membelai rambut istrinya yang belum juga sadar.
"assalammulaikum" suara dua orang wanita dari luar pintu, mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam." jawab Roni, sembari beranjak bangkit dari tepian ranjang, untuk melihat siapa yang datang.
[kreeeeek....] suara pintu dibuka, lalu tampak dua orang wanita yang sedang ditunggu kedatangannya oleh Roni, sudah tiba.
"ada apa dengan Mala Ron? ucap si Mbok khawatir. Ia menerobos masuk untuk melihat kondisi anaknya. langkah itu diikuti oleh bidan Sri dan Roni.
sesampainya dikamar, si Mbok menamgis sesenggukan melihat putrinya yang yidak sadarkan diri. Ia merasa menyesal karena tidak menemani Mala hari ini.
Bidan Sri dengan segera memeriksa kondisi Mala, mengecheck tensi darah, serta meletakkan stetoskop didada Mala, untuk memeriksa kondisi detak jantungnya. semuanya normal.
Bidan Sri mendiagnosa bahwa Mala mengalami infeksi saluran rahim setelah pasca keguguran, yang disebabkan kelebihan hormon. lalu memberikan obat yang harus diminum Mala.
bidan Sri menyarankan, agar Mala tak terlalu melakukan pekerjaan berat. maka Roni harus membantu pekerjaan rumah untuk meringankan pekerjaannya.
Roni mengangguk mengerti. Ia berjanji akan membantu Mala mulai saat ini. Ia tidak ingin hal ini terulang lagi.
untuk memulihkan kesadarannya, Bidan Sri mengoleskan minyak kayu putih disekitar hidung mala.Tak lama setelah itu, Mala mulai mengerjapkan matanya. samar-samar Ia melihat Roni, suaminya sudah berada disisinya.
Mala melihat satu persatu orang berada disekitarnya. Ia sedikit merasa lega, karena ada suaminya yang berada disisinya.
Bidan Sri menyodorkan obat yang harus diminum Mala, bersamaan dengan itu, Roni mengambilkan air putih yang berada dimeja nakas. menyerahkannya kepada Mala. lalu Mala menerimanya, dan meminum obat pemberian bidan Sri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Ronati Pertiwi
lanjut
2025-03-09
0
FiaNasa
lagian Mala ada orang ketuk pintu g diintip dulu lewat jendela..asal buka aja
2023-02-25
1
Hiatus
ini flashback, tapi kok bisa gak ketahuan ya...kasian mala
2023-01-06
1