braaaak.. suara pintu di dobrak paksa. Roni masuk menerobos pintu dengan nafas tersengal-sengal. wajahnya pucat pasi. keringat dingin mengucur deras disekujur tubuhnya. detak jantungnya memburu.
"ada apa toh Ron? koq kamu seperti orang yang dikejar syetan." tanyà si Mbok penasaran.
"emmmm.. gak ada apa-apa koq Mbok. tadi cuma terpeleset saja. jawab Roni. Ia sengaja tidak menceritakan kejadian sebenarnya, karena tidak ingin membuat ke dua wanita bertambah takut.
Roni melihat si Mbok sedang telaten merawat Mala istrinya. si Mbok mengambil kain lalu melipatnya menjadi ukuran kecil dan tebal lalu menambalkannya diselangkangan mala. bertujuan agar darah nifas Mala tidar berceceran kemana-mana.
"Ron. tolong gendongkan istrimu dulu, Mbok mau memasangkan sprei. agar Ratna lebih nyaman beristirahat." ucap si Mbok kepada Roni. menantunya.
Roni memandang kearah istrinya, wajahnya pucat karena banyak mengeluarkan darah. lalu Ia dengan sigap Ia membopong tubuh istri yang dicintainya.
"kasihan istriku." hatinya pasti hancur, karena Ia kehilangan calon buah hati kami."
Mala yang sedang berbaring lemah, masih terdengar terisak. meratapi kepergian calon buah hatinya, Ia pasrah saja saat Roni membopongnya.
sembari membopong tubuh Mala, Roni mencoba menenangkan perasaan istrinya. Ia mengecup kening istrinya.
"sabarlah sayang, Tuhan belum mengijinkan kita memiliki anak, jika Tuhan sudah berkata 'jadi, maka terjadilah' ". ucap Roni menenangkan perasaan istrinya yang terguncang.
si mbok segera memasangkan sprei, dan menata bantal yang ditumpuk menjadi dua agar Mala bisa duduk bersandar.
"Ron. letakkan istrimu disini, duduk menyandar saja, karena mbok ingin menyuapinya makan" titah si mbok kepada menantunya.
"baik mbok." jawab Roni dengan sopan.
mata Mala sembab, karena banyaknya air mata yang keluar.
suara tangisan Mala, ternyata didengar oleh salah satu tetangga yang tak sengaja sedang melintas didepan rumah mereka. si tetangga yang merasa penasaran, mencoba ingin mengetahui apa yang terjadi pada keluarga ini.
"Mala...kamu kenapa?." terdengar suara seseorang dari luar sedang bertanya.
si Mbok yang mendengarnya, mencoba keluar untuk mengeceknya.
Ia melihat mbak Ratna berdiri diambang pintu. "ehh.. mbak Ratna. mari masuk mbak." ucap si Mbok kepada Ratna.
Mbak Ratna tersenyum. "saya kebetulan lewat Mbok, lalu mendengar suara Mala menangis. Malanya kenapa ya Mbok?" tanya Ratna yang penasaran.
"Mala keguguran lagi mbak Ratna." ucap si Mbok dengan raut penuh kesedihan.
mbak Mala terperangah, Ia sudah belasan tahun menjadi tetangga Mala, maka Ia mengetahui bahwa Mala sudah beberapa kali mengalami keguguran. "ya Allah. Mala. kasihan sekali anak itu. saya permisi lihat kondisi Mala. boleh ya Mbok?" ucap mbak Sri.
"boleh mbak. mari masuk." balas si Mbok, mempersilahkan.
"Assalammu'alaikum." ucap mbak Ratna saat memasuki rumah Mala.
"wa'alaikum salam." jawab si Mbok.
mbak Ratna mengikuti si Mbok yang berjalan didepan.
sesampai dikamar, Ratna melihat Mala sedang menangis, tubuhnya bergetar karena menahan sesaknya ujian hidup.
"saya tinggal dulu ya Mbak Ratna, saya ingin mengambil makanan buat Mala." ucap si Mbok seraya berlalu menuju dapur.
mbak Ratna menjawab dengan anggukan.
"eh, ada mbak Ratna." mari masuk mbak." ucap Roni dengan nada datar. karena suasana hatinya sedang kacau.
mbak Ratna datang mendekati mereka, lalu duduk ditepian ranjang.
"saya sudah mendengar ceritanya dari si mbok. yang sabar ya Mala. suatu saat nanti, bila Allah menghendaki kamu memiliki anak, maka bukan hal yang tidak mungkin. hanya waktunya saja yang belum tepat." ucap mbak Ratna memberikan nasehat.
Mala yang mendengar ucapan mbak Ratna, menurunkan ritme tangisannya.
"Mala.. "suara seorang wanita dari luar sana.
Roni bergegas keluar memeriksa siapa yang datang.
"maaf mas Roni, saya terlambat datang. tadi saat mau kemari ada pasien yang datang membawa anaknya demam tinggi. sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan saya." ucap wanita itu, yang tak lain adalah bidan Sri.
wanita memakai setelan baju daster , ditambah dengan blazer berwarna putih, sebagai penanda bahwa mereka adalah petugas kesehatan.
"iya, tidak apa-apa buk bidan." balas Roni.
"boleh saya mengecek kondisi mala?" ucap bidan Sri.
"boleh bu, silahkan masuk." balas Roni.
Roni mengantarkan bidan Sri kekamar mereka.
"eh, ada mbak Ratna juga ya?" ucap bidan Sri kepada Ratna.
"iya bu Bidan, tadi kebetulan lewat, dengar suara Mala menangis, maka pengen jenguk." ucap mbak Ratna menimpali. lalu bangkit bergeser dari tempat duduknya, memberikan ruang kepada Bidan tersebut untuk memeriksa kondisi Mala.
petugas kesehatan itu lalu datang mendekati Mala. mengeluarkan semua peralatan kesehatan yang akan digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan Mala.
Ia mengeluarkan stetoskop, memeriksa detak jantung dan tekanan darah Mala.
lalu Ia memberikan beberapa obat untuk diminum Mala.
bidan Sri memanggil Roni.
"mas, ini obatnya diminumkan ke mbak Mala ya, ada yang sebelum makan dan ada yang sesudah makan. semuanya sudah saya tulis diplastik pembungkus obatnya. semoga mbak Mala segera pulih." ucap bidan Sri, menjelaskan panjang lebar.
Roni mengangguk tanda mengerti, tentang apa yang dijelaskan petugas kesehatan itu.
mendengar kata makan, Roni teringat kepada si mbok yang dari tadi belum muncul.
"si mbok kemana ya? bukannya tadi mau kedapur ambilin makan buat Mala? kenapa sampai sekarang belum muncul juga?" Roni membatin.
Roni ingin mengecek kondisi si mbok didapur.
"bu bidan dan mbak Ratna, saya nitip Mala sebentar bisa? soalnya mau mengecek si mbok, kenapa dari tadi ambil makanan kok lama banget." ucap Roni kepada bidan Sri dan mbak Ratna.
keduanya menganggukkan kepala. menyetujui permintaan Roni.
Roni bergegas menuju dapur, ingin melihat kondisi si Mbok yang dari tadi belum muncul juga.
"masa iya sih, kedapur lama sekali?" jika si Mbok memasak lauk pasti terdengar orang sedang memasak, dan pastinya aroma harum masakan akan tercium. tetapi ini tidak ada sama sekali." ucap Roni bermonolog.
suasana dapur sepi. tak ada tanda-orang sedang beraktifitas.
"mbok..mbok." suara Roni memanggil si Mbok.
sepi tak ada sahutan. Roni memeriksa seisi dapur yang hanya berukuran tiga kali lima meter. saat akan mendekati meja kompor, kakinya tanpa sengaja menyentuh sesuatu. lalu Roni melihat kebawah kakinya, untuk mengetahui apa yang sedang menyentuh kakinya.
matanya terbelalak, melihat si mbok jatuh pingsan dekat dengan lemari pendingin.
"mbok..mbok..bangun mbok." suara Roni sangat keras, seraya mengguncang-guncang tubuh si mbok, agar sadar dari pingsannya.
suara keras Roni terdengar sampai kekamar. membuat ketiga wanita yang berada didalam kamar penasaran. dan saling pandang.
"saya akan pergi memeriksa kedapur. mbak Ratna disini ya, temani Mala." ucap bidan Sri menegaskan.
"iya bu bidan." balas mbak Ratna menyetujui.
bidan Sri bergegas menuju dapur, Ia ingin memeriksa apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Sri melihat Roni sedang berjongkok, disisinya ada si mbok yang tergeletak pingsan dilantai.
"bawa kekamar saja mas Roni. biar saya periksa." ucap bidan Sri kepada Roni.
"tapi bu bidan bisa bantu saya kan, soalnya saya gak kuat mengangkat sendirian." balas Roni.
bidan Sri mengangguk menyetujui.
Roni mengangkat tubuh tambun mertuanya, Roni memegang kedua ketiak mertuanya, sedangkan bidan Sri mengangkat bagian kakinya.
mereka membawa kekamar Mala. mbak Ratna dan Mala saling pandang penuh tanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada si mbok.
"si mbok kenapa bang?" tanya Mala dengan suara parau dan lemah, kini tangisnya sudah mereda, meski matanya masih terlihat sembab.
"tidak tahu dik, abang menemukannya tergeletak pingsan dilantai dapur." balas Roni menjelaskan. seraya membaringkan tubuh si mbok ditepi ranjang sisi sebelah kanan.
setelah membaringkan tubuh si mbok, bidan Sri bergegas ke koper kecil miliknya, koper tempat meletakkan semua peralatan kesehatannya.
Sri mengambil botol minyak kayu putih. lalu menyerahkannya kepada Roni.
"ini mas, letakkan disekitar hidung si mbok." titah bidan Sri.
Roni meraih botol minyak kayu putih pemberian bidan Sri. lalu menempelkan dan mengoleskan disekitar lubang hidung si mbok.
tak lama si mbok tersadar, membuka matanya perlahan, lalu refleks menjerit.
"kun..tilanak." teriak si mbok, yang mengira Roni adalah makhluk halus yang disebutnya.
"mbok.. sadar mbok, ini aku Roni." ucap Roni menyadarkan si mbok. kedua telapak tangannya dikatupkan kewajah, tidak ingin melihat apa yang didepannya.
mendengar suara Roni, Ia pun perlahan berani membuka kedua telapak tangannya, memastikan bahwa itu Roni menantunya.
Mala, mbak Ratna dan bidan Sri seketika meremang bulu kuduknya, mendengar si mbok menyebut nama salah satu makhluk halus yang diyakini sangat mengerikan.
"sebenarnya apa yang terjadi mbok?" ucap Mala penasaran dengan nada bergetar.
si mbok masih terdiam, ternyata kejadian didapur tadi membuatnya sangat syok.
perlahan Ia mengatur nafasnya, menetralkan detak jantungnya. setelah merasa cukup tenang, Ia mulai bercerita.
"tadi waktu kedapur, si mbok ingin mengambilkan makanan buat Mala. namun lauk habis, jadi Mbok niat mau gorengkan ayam yang masih ada tersisa dilemari es." ucap si mbok menjelaskan.
lalu ia melanjutkan ceritanya.
"tapi waktu Mbok ingin membuka pintu lemari es, mbok melihat.." ucapannya terhenti sesaat. sepertinya Ia sedang membayang sesuatu.
"melihat apa mbok?" ucap mbak Ratna penasaran.
"mbok melihat kuntilanak yang keluar dari arah kolong meja dapur, wajahnya menyeramkan, matanya merah. dimulutnya ada bekas banyak darah, seperti sedang habis memakan sesuatu. giginya tajam menyeringai. serta rambutnya yang panjang menjuntai." ucap si mbok dengan nada bergetar, karena ketakutan.
semua yang berada disitu saling pandang dan berkelana dengan fikirannya masing-masing..
si mbok melanjutkan kembali ceritanya.
" karena mbok, terkejut dan takut, akhirnya mbok pingsan." ucap si mbok dengan raut wajah pucat pasi.
saat si mbok selesai bercerita, terdengar suara dentuman di atas seng, namun tidak ada benda yang jatuh.
semua seperti ketakutan. diam tanpa kata.
esok paginya, desas desus penampakan kuntilanak dirumah Mala dan Roni, menjadi gosip yang kian menyebar dan menjadi viral.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Ronati Pertiwi
seru lanjut
2025-03-07
0
Bunda Silvia
jangan2 anak2nya di jadikan tumbal sama seseorang
2024-08-31
0
Mary Bella
seram juga ni.baca mlm2 baru ada feel nya
2024-03-24
0