malam semakin larut, suasana malam yang sepi menambah kegelisahan Mala. "mengapa bang Roni belum juga balik? mana handphonenya ditinggal lagi. dah hampir pukul dua belas malam lagi." ucap Mala lirih.
Mala yang berbaring di kursi tamu, menghilangkan rasa bosan dengan menikmati acara televisi kesukaannya. biasanya Ia lebih suka menonton didalam kamar, namun karena suaminya belum juga pulang, Ia berniat menunggunya, dan jika berada diruang tengah, lebih memudahkannya mendengar ketukan pintu saat suaminya pulang bekerja.
"mungkin berselancar di dunia maya lebih asyik" ucap Mala. meraih phonsel androidnya, lalu membuka berbagai aplikasi media sosial.
"heeemm..ternyata masih banyak yang online selarut ini." ucap Mala, memperhatikan setiap akun yang terhubung dengannya.
terdengar suara mesin motor suaminya menderu dari kejauhan, lalu semakin mendekat, dan berhenti didepan pintu.
tok...tok..tok.. suara ketukan pintu.
"dik...dik..Mala, ini abang.. sudah pulang.
mendengar suara suaminya mengetuk pintu, Rena beranjak dari kursi tamu, berjalan menuju pintu.
kreeeeek...suara pintu dibuka, tampak Roni, suaminya sedang berdiri dengan wajah lelah. Roni masuk sembari mendorong sepeda motornya untuk masuk kerumah. karena sudah larut malam.
bersamaan dengan masuknya Roni kedalam rumah, ada hawa dingin yang juga ikut masuk, hawa dingin itu membuat bulu kuduk Mala merinding. punggung belakangnya seolah ada sesuatu yang mengikutinya. namun Ia mengabaikannya.
Roni, suaminya. duduk menyandarkan tubuhnya di kursi tamu, wajah lelahnya tampak begitu kertara. Mala tidak berani mengusiknya.
Mala memberikan sejenak waktu buat suaminya menghilangkan penat ditubuhnya. setelah itu Ia akan menanyakan hal, mengapa sampai pulang selarut ini.
saat Mala memandangi wajah suaminya, Ia mendengar suara berisik didapur. Mala mencoba memeriksanya. Mala mengendus aroma busuk, aroma yang seperti Ia kenal, berasal dari arah dapur.
Mala berdiri diambang pintu dapur, dibawah, temaramnya pencahayaan, Mala melihat samar-samar bayangan putih sedang menyesap sisa minuman yang terletak diatas meja.. Makhluk itu membelakangi Mala, saat Mala akan melihatnya lebih dekat, tiba-tiba Roni, suaminya memanggilnya.
"dik, tolong masakkan air untuk anamg, buatkan abang kopi ginseng ya? abang capek banget. ucap Roni dengan nada memohon.
Mala memoleh kearah suaminya. "iya bang, bentar adik masakin." jawab Mala, lalu mengalihkan pandangannya ke meja makan, dimana Ia melihat makhluk misterius itu. namun saat ini, makhluk itu telah menghilang dari pandangan Mala.
Mala bergidik merinding, sebenarnya ada rasa takut untuk melanjutkan memasak air, namun Ia tak tega melihat suaminya.
setelah air matang, Mala menuangkan satu sachet kopi ginseng kedalam gelas keramik. memberinya sedikit gula, agar lebih terasa manis. karena suaminya menyukai kopi yang manis.
Mala menyuguhkan kopi ginseng permintaan suaminya. meletakkannya di atas meja. lalu menepuk pelan pundak suaminya.
"bang, kopinya sudah siap, silahkan diminum. ntar keburu dingin gak enak." ucap Mala dengan lembut.
Roni, membuka matanya, menghirup aroma kopi yang mengusik indra penciumannya. aromanya begitu melegakan. Roni tak sabar menyesap kopinya. begitu memanjakan lidahnya.
"terimakasih ya dik" ucap Roni kepada istrinya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi tamu.
"abang sudah makan apa belum? kalau belum biar adik ambilkan. ada dua potong ayam goreng kalasan buatan si mbok. tadi si mbok datang sama bapak."ucap Mala dengan tenang.
"a..apaa..? bapqk kemari? " ucap Roni lalu mengubah posisi duduknya dari menyandar menjadi duduk tegak.
"iya.. emangnya kenapa bang? bapak gak boleh datang kemari? diakan bapakku.."ucap Mala tak senang. karena pertanyaan suaminya, seolah-olah yidak menyukai bapaknya datang menjenguknya.
"bu..bukan begitu maksud abang.. maafin abang menyinggung perasaanmu." ucap Roni dengan melemahkan suaranya. "aku harus menyelidikinya dahulu, aku tidak bisa terburu-buru menuding bapak mertuaku, sebagai pelaku yang menumbalkan setiap anak yang ada didalam janin istriku. aku harus mengumpulkan bukti-buktinya terlebih dahulu." Roni berguman dalam hatinya.
****
Roni sudah selesai mandi. Ia menyalin pakaiannya untuk segera tidur. Ia menyusul istrinya yang sudah lebih diranjang.
"dik, masa nifasmu berapa hari lagi? ucap Roni kepada istrinya.
"untuk keguguran sih biasanya dua sampai tiga minggu. tapi kalau untuk lebih baiknya biarkan sampai empat puluh lima hari. agar kondisi rahim adik lebih pulih." ucap Mala menjelaskan.
oh, iya bang, bisa tolong ambilkan jamu buatan si mbok yang adik letakkan di meja nakas sebelah abang?" ucap Mala dengan lembut.
"lama juga ya dik." ucap Roni
Mala menjawab dengan anggukan kepala.
Roni memoleh kearah yang dikatakan istrinya, meraih gelas berisi jamu, lalu memberikannya kepada istrinya. berharap istri tercintanya segera pulih.
"obat dari bidan Sri sudah kamu minum juga kan dik?" ucap Roni mengingatkan.
"sudah bang, tadi saat habis makan malam." jawab Mala, sembari meminum jamunya sampai kandas. lalu memberikan gelasnya kepada suaminya untuk diletakkan kembali keatas meja nakas. dan Roni meraihnya. lalu meletakkan ke tempat semula.
"abang kenapa selarut ini baru pulang? "tanya Mala dengan hati-hati.
"tadi banyak barang masuk ke gudang. banyak permintaan. jadi barang harus di stok, agar permintaan tidak terputus. "lalu ditengah jalan tadi, tiba-tiba mesin motor abang mogok. jadi abang sempat jauh berjalan kaki mendorong motor untuk mencari bengkel. yang abang heran, motor abang terasa berat banget, seperti ada yang menumpang di jok boncengan. padahal tidak ada sesiapa." ucap Roni menjelaskan.
Mala dengan setia mendengarkan cerita suaminya. saat itu, bulu kuduk Mala meremang, punggungnya terasa merinding. Ia memeluk lengan suaminya seperti guling.
tak selang beberapa lama, terdengar suara dentingan benda pecah dari arah dapur.
pruaaaaaaaank...suara benda kaca pecah itu mengagetkan Mala dan suaminya.
"abang periksa ke dapur dulu ya, ucap Roni, sembari melepaskan pelukan Rena dilengannya. Mala mengangguk menuetujui.
Roni beranjak dari ranjangnya, melangkah menuju arah dapur. saat berada diambang pintu dapur, Roni melihat pecahan gelas kaca berserakan dilantai. sepertinya bekas kopi hitam. Roni tak menemukan sesiapapun. "siapa yang melakukannya? apakah kucingnatau tikus?" ucap Roni lirih.
saat itu, sebuah tangan yang sangat dingin terasa menyentuh pundaknya, Roni mencoba memalingkan wajahnya kearah belakang, melihat siapa yang menyentuhnya.
"astaghfirullah haladzhim..ngagetin saja sih dik" ucap Roni yang tersentak saat melihat istrinya berada dibelakangnya. namun istrinya hanya diam, dengan tatapan dingin.
lalu Roni mengambil penyapu, berniat menyapu lantai untuk membersihkan pecahan gelas kaca, agar istrinya tidak terluka saat kedapur nanti. setelah selesai, Roni melihat istrinya sudah tak berada di ambang pintu. "mungkin Mala sudah kembali lagi kekamar" Roni berusah berfikir positif.
setelah selesai membersihkan pecahan gelas kaca, Ia memasukkannya kedalam keranjang sampah. Ia melihat tulang bekas daging ayam berserakan disekitar keranjang sampah. "siapa kira-kira yang menyerakinya? mungkin saja kucing atau tikus" ucap Ronin, sembari memasukkan pecahan kaca kedalam keranjang sampah.
Roni juga mengepel bekas noda kopi yang ikut berserakan dilantai. setelah selesai, Roni masuk kedalam kamar, dan mendapatinistrinya sedang tertidur pulas. mengapa secepat itu Mala tertidur? bukannya tadi baru dari dapur?" tanya Roni dalam hatinya.
namun, rasa kantuk membuatnya mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia pun menuju ranjangnya, berbaring menghadap istrinya, lalu memeluknya, dan tertidur merajut mimpinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Ronati Pertiwi
bikin merinding
2025-03-08
0
Bunda Silvia
Hp dah android masa pembalut masih pake kain 🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️😅😅😅
2024-08-31
0
ارلناجوليحه
ini ad Android??kok stelah niFas gk pke pmblut??kok pke kain????🤔
2023-06-04
1