pukul 1.00 wib. dini hari. Mala merasa sesak pipis. Ia bergegas beranjak dari ranjangnya. Ia mendapati Roni, suaminya sedang mendengkur. lelah seharian bekerja, membuatnya tidur pulas. Mala keluar kamar untk buang air.
kamar mandi yang berada didapur, membuatnya harus berjalan melewati ruangan tamu. Ia berjalan sedkit tergesa-gesa. setelah sampai dikamar mandi, Ia menunaikan hajatnya. setelah selesai Ia ber-Istinja' (bersuci dari buang air) dan membaca doa Istinja'. saat itu, Ia seperti mencium aroma busuk, sepertinya aroma itu sangat familiar di indra penciumannya.
Mala berjalan keluar kamar mandi, saat menutup pintu kamar mandi, seeerrrr.... sesuatu seperti melintas dibelakangnya, dengan cepat Ia menoleh kebelakang, namun tak menemui sesuatu. sesaat bulu kuduknya meremang, namun Mala berusaha mengabaikannya.
Mala menuju kamarnya, berniat hendak tidur kembali. Ia melihat suaminya sudah terlelap, dengan dengkuran yang kian nyaring. Mala kembali ke ranjangnya, menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya. tak lama matanya diserang rasa kantuk, dan tertidur.
"bunda...bunda... terdengar suara tangisan bayi. ada yang berumur 11 tahun, umur 10 tahun, umur 9 tahun, umur 2 tahun, umur 1.5 tahun, umur 1 tahun, dan umur 3 bulan. semuanya terkurung dalam sebuah kerangkeng besi. para anak, balita, bayi serta janin tersebut menangis pilu. kondisi mereka seperti begitu sangat memprihatinkan dan mengenaskan.
Mala mengamati kesekelilingnya, seperti sebuah goa, dengan dinding-dinding batu yang berwarna hitam gelap, gemericik air yang menetesi dari celah-celah langit goa. suasana begitu gelap dan pengap karena minimnya oksigen. di sudut dinding goa yang licin, terdapat suluh bambu, ada 4 buah suluh bambu sebagai penerangan. entah siapa yang menyalakan suluh bambu tersebut.
api suluh tersebut, bergoyang-goyang seperti tertiup angin, arah angin dari sebelah barat. "berarti ada pintu keluar dari sebelah barat, jika mengikut arah angin."ucap Mala seorang diri.
"lalu mengapa aku dan anak-anak ini dapat berada disini? siapa yang membawa kami kemari?" ucap Mala lirih.
Mala melihat satu persatu para anak-anak yang menjadi tawanan, Ia begitu sangat prihatin melihat keadaan para anak-anak, balita, bayi serta janin tersebut. seorang anak laki-laki yang berusia 11 tahun, matanya hilang, dengan berdarah-darah. lain lagi dengan kondisi anak yang berusia 10 tahun, wajahnya hancur, balita yang berumur 9 tahun yang juga laki-laki dalam kondisi kepala berlubang, darah mengalir terus menerus. begitu juga dengan yang lainnya, semuanya berjenis kelamin laki, kecuali janin yang berupa seonggok daging, belum terlihat jenis kelaminnya, kondisinya juga tak kalah mengenasakan.
Mala ingin meraih ke tujuh anak tersebut, meski mengerikan dan menyeramkan, namun rasa kasih sayang lebih kuat. entah perasaan yang datangnya darimana, Mala begitu ingin menyelamatkan semuanya. mengeluarkannya dari kerangkeng besi tersebut.
disamping kerangkeng besi yang berisi 6 orang anak dan satu janin, ada terdapat 3 kerangkeng besi lainnya yang juga dihuni oleh 2 orang anak setiap kerangkeng. maka jumlah anak dalam kerangkeng keseluruhannya ada 15 anak dan 1 janin. "anak-anak siapa saja mereka? mengapa mereka berada disini? apakah mereka korban penculikan?" ucap Mala lirih.
semua anak itu menangis ada jeritan kesakitan, meraung-raung seperti menahan rasa sakit yang sangat teramat sakit. anak-anak itu menjulurkan tangannya yang keluar dari celah-celah kerangkeng. mereka seakan meminta untuk dilepaskan.
Mala berjalan kesudut ruangan, Ia terpeleset, "aaawh..sial." umpat Mala, sembari mengelus bokongnya yang sakit saat terjatuh. rasa nyeri dibokongnya membuatnya meringis menahan sakit.
Mala berusaha bangkit, dengan sangat hati-hati, Mala meraih suluh bambu untuk digunakan sebagai penerangan. setelah mendapatkan suluh bambu, Ia berjalan dengan sangat hati-hati, karena lantai yang terbuat dari batuan cadas, dengan pahatan alami dari alam, bukan buatan manusia. lantai itu kasar, karena ada banyak batu yang menyembul dan tajam.
Mala mendekati kerangkeng itu, ingin membuka palang penguncinya yang juga terbuat dari besi. saat Mala berusaha mendekatinya, tiba- tiba saja mumcul makhluk menyeramkan. makhluk itu sepertinya pernah dilihat oleh Mala, namu ingatan Mala tidak sempurnah untuk mengingatnya.
[grrrrrrrrh.. ] suara erangan makhluk itu. matanya yang bulat besar dan merah, wajah hancur dengan darah yang terus menetes dari luka dikulitnya, serta aroma busuk yang menyengat. makhluk itu menatap Mala penuh kebencian, menyeringai menampakkan taringnya yang panjang dan tajam, seakan hendak menerkam Mala.
anak-anak yang terdapat didalam kerangkeng, menjerit histeris, mereka semakin meraung-raung ketakutan. makhluk itu merangkak mendekati Mala, kuku-kukunya yang tajam bergesekan dengan lantai yang terbuat dari batuan alam yang sudah berlumut dan licin.
Mala berdiri mematung, namun Ia berusaha untuk menjaga kesadarannya, makhluk berambut panjang itu semakin mendekati Mala, sontak Mala mengeluarkan keberaniannya menjulurkan suluh bambu tersebut kepada makhluk itu. suluh bambu yang dipegang Mala hampir mengenai makhluk menyeramkan itu, dan Ia melompat dengan secepat kilat, menghindari api yang berasal dari suluh bambu.
dengan menggeram, makhluk itu menempel didinding layaknya seperti seekor cicak, merayap dengan cepat didinding goa yang gelap. Mala mengikuti gerakan makhluk itu kesetiap arah dengan penerangan suluh bambu.
[wuuussssh....] tiba-tiba saja makhluk itu menghilang dari pandangan Mala, lalu terdengar suara desisan seperti ular, Mala memfokuskan pendengarannya, mencoba menemukan asal sumber suara, dan tiba-tiba dari arah belakang..
[grrrrrrghhh]...suara erangan itu dengan kelebatan bayangan ingin menerkam Mala, namun dengan cekatan Mala mengayunkan suluh bambu yang dipegangnya debgan gerakan memutar dan...
[aaaarrrghh]...suara lengkingan kesakitan terdengar menggema diseluruh ruangan goa. Mala bergidik merinding. Mala semakin waspada, memfokuskan pendengarannya untuk melihat keberadaan lawannya yang tiba-tiba saja menghilang bersama lengkingan yang memekakkan telinga.
"dimana makhluk itu? keluarlah...keluaaarlah kau pengecuuut.." teriak Mala, dan tiba-tiba saja dari arah depan, 'buuuuugh.....' "aaaakh" Mala berteriak, Ia terlempar, jatuh tersungkur. suluh bambu yang dipegangnya terlempar beberapa meter dari tempatnya terjatuh. Makhluk itu telah menendangnya dengan keras.
Darah mengucur dari sudut bibir Mala, wanita berusia 32 tahun itu merasakan sakit ditubuhnya, seperti terkena hantaman benda keras. luka robek dibagian siku lengan kanannya dan dibagian kedua lututnya, menambah rasa nyeri yang teramat sangat. Mala berusaha bangkit, meraih batuan cadas yang menyembul, mengumpulkan kekuatannya.
makhluk menyeramkan itu merayap didinding, matanya terfokus melihat Mala yang sedang meringis kesakitan. sesaat Ia terbang melayang ke arah Mala yang sedang berusaha untuk bangkit, dan "aaaagkkhh....." suara Mala menjerit dengan sangat keras.
"dik....dik..dik..Mala.. bangun dik.." suara Roni, suaminya membangunkan Mala, sembari mengguncang-gumcang tubuh Mala yang berteriak-teriak histeris. Roni yang kebingungan segera meraih air putih yang ada didalam gelas didatas meja nakas, lalu memercikkannya ke wajah Mala. sesaat Mala tergagap dan bangun.
Mala menjerit melihat wajah suaminya, Ia mengira suaminya adalah makhluk memyeramkan itu. Mala menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "ini abang dik, suamimu." ucap Roni kepada Mala. lalu Mala mengintip dari jemarinya memastikan bahwa yang dihadapanya adalah suaminya. lalu membuka kedua tangannya dan menangis.
Roni memeluk Istrinya, memberikan ketenangan, membelai rambut istrinya " kamu mimpi buruk ya? cobalah beristighfar, dan meludah ke kiri, karena itu datangnya dari syetan" ucap Roni kepada Mala. lalu Mala mengucapkan istighfar.
Mala masih tidak mengerti dengan mimpinya barusan, Ia menenggelamkan wajahnua dalam pelukan suaminya, mencari rasa aman dan berlindung. Mala masih trauma dengan apa yang baru saja dialaminya. mimpi itu terasa nyata baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Ronati Pertiwi
lanjut
2025-03-08
0
Bunda Silvia
mungkin lebih baik jika di katakan anak2 ya bukan balita 😅😂🙈 karena usia 11 ,10, 9, itu sudah besar bukan balita 5 tahun ke bawah ✌🏻
2024-08-31
0
Ni Putu Citra Dewi
memang, bila janin yg gugur di bawah 4 Bulan kandungan, di alam kematian, mereka bisa tumbuh dewasa, dan energi mereka bisa di salah gunakan untuk keperluan jenis pesugihan,
dan bila keguguran tidak ketahuan, sering setelah beberapa tahun, energi mereka mengganggu keluarga nya, karena minta disempurnakan,
sedikit berbagi pengalaman pribadi,
salam
2024-02-27
0