episode 5 Pov Bidan Sri

setelah si Mbok sadar. saya memutuskan untuk berpamitan pulang. karena malam semakin larut.

"Mala. saya permisi dulu ya. mau pulang." ucapku kepada mala yang masih tersisa raut wajah sedih.

"iya. buk Sri. terimakasih atas segalanya.." ucapnya lirih.

"iya. sama-sama. jangan lupa obat yang dari saya diminum ya?" jangan terlalu banyak fikiran. agar kondisi kesehatanmu segera pulih." ucapku mengingatkannya.

"iya. bu." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.

aku tahu hatinya saat ini sedang hancur. memiliki keturunan adalah harapan setiap pasangan yang sudah menikah.

namun sekian lama menikah, janin yang dikandungnya selalu saja mengalami keguguran.

padahal Mala rajin kontrol setiap bulannya. bahkan aku memberikannya obat penguat janin. berharap agar janinnya bertahan. dan lahir kedunia dengan sehat, selamat dan berumur panjang.

namun, takdir berpihak lain. kita hanyalah manusia yang bisa berencana. namun Allah sebagai penentunya.

mungkin Allah memiliki rencana yang lebih indah kedepannya buat Mala. siapa yang tahu rahasia milik Allah.

****

ku pacu laju sepeda motorku dengan kecepatan sedang. melewati jalanan desa yang berbatu. karena jalan belum pengaspalan. jalanan yang hanya berupa pengerasan tanah merah dan batuan cadas. karena sudah terlalu lama tidak ada perbaikan, maka batu-batu cadas itu menyembul keluar beberapa centimeter kepermukaan jalan.

bagi yang tidak waspada dan tidak hafal kondisi jalanan, maka dipastikan akan tergelincir dan membahayakan si pengemudi sepeda motor.

berjarak dua ratus meter dari rumah Mala, aku harus melewati Tempat Pemakaman Umum. disekitar pemakaman sangat sepi. tidak ada rumah penduduk.

berjarak lima puluh meter dari Pemakaman Umum, terdapat pos ronda. setiap malam akan ada petugas yang bertugas. dimana masyarakat bergotong royong membayar iuran perbulan untuk gaji petugas ronda.

saat akan melintasi pemakaman umum. seketika bulu kudukku meremang. dipunggungku serasa seperti ada sesuatu mengikuti.

kutepis semua prasangka buruk yang melintas difikiranku. mungkin karena hawa dingin malam. membuatku merinding. lubang pori-pori dikulitku yang putih membesar, begitu kontras.

sesaat, ku lihat didepan jalan yang akan kulintasi, sesosok wanita bergaun serba putih panjang. berjalan disisi kanan jalan. Ia menundukkan kepalanya, rambutnya panjang tergerai.

"siapa wanita itu? mengapa ia berjalan sendirian di tengah malam yang larut ini?" aku berguman sendiri.

"mungkin saja Ia ada keperluan mendadak, sehingga harus keluar rumah. toh aku juga wanita, tengah malam baru pulang. hehe." Aku berbicara sendiri.

"aku sapa saja, mungkin dia memerlukan bantuan." aku berkata dalam hatiku.

saat akan berpapasan. ku bunyikan klakson untuk menyapanya.

tiiin..tintiiin..suara klakson sebagai bahasa verbal untuk menyapa seseorang yang sedang berada dijalan menggunakan kendaraan.

"mau kemana mbak?" ucapku kepada wanita itu. seraya menghentikan motorku.

yang ditanya membisu. seketia Ia menengadahkan wajahnya.

tampak olehku wajah wanita itu hancur. dari wajahnya tampak mengalir darah yang keluar dari bekas luka. mulutnya berlumuran darah seolah-olah sehabis memakan daging mentah. matanya merah menyala. gigi bertaring tajam, ia mentapku dengan mata yang tajam disertai seringai yang menyeramkan.

seketika aku terkejut. tali gas motor tanpa sengaja tertarikku, dan aku menabrak batu cadas yang menyembul. lalu aku terjatuh dan pingsan.

****

bang Joni dan Bimo yang malam itu sedang berpatroli bernyanyi untuk menghilangkan kantuk.

namun, tiba-tiba mereka menghentikan langkah dan nyanyiannya.

"Bim, itu apaan yang berbaring dijalan?" ucap Joni kepada Bimo, sembari memgarahkan jari telunjuknya. hatinya merasa dag dig dug, karena ditengah malam ada tampak sesuatu yang terbaring ditengah jalan.

"manalah ku tau bang." jawab Bimo seenak jidatnya. Ia mengarahkan matanya kearah jari telunjuk Joni.

"kita check yuk." mungkin saja orang. ucap Joni kepada Bimo yang masih berumur sembilan belas tahun. rasa penasaran juga rasa takut datang bersamaan.

mereka berdua bersitegang, tidak ada yang mau terlebih dahulu melangkah maju.

"abang sajalah. aku tunggu disini. kan abang yang lebih tua" jawab Bimo menyarankan. sebenarnya hatinya ciut juga jika disuruh lebih dulu melangkah.

karena Bimo tak mau juga mengalah, Joni beralibi untuk mengelabui Bimo. Ia mencari alasan untuk pembenaran, meski sebenarnya Ia juga ketakutan.

"eh..dasar bocah. dimana-mana itu yang lebih muda duluan maju. bukan yang lebih tua." ucap Joni kesal. menutupi rasa takutnya.

"tapi itu warna putih pakaiannya bang. kalau setan gimana?" ucap Bimo merinding. matanya masih tertuju pada sosok yang terbaring di tengah jalan.

"yang namanya setan tu, gak ada pakai acara rebahan segala. apalagi dtengah jalan. setan tu hobinya nongkrong didahan pohon." ucap Joni ketus.

perasaan Joni tak menentu, ingin melangkah maju, namun rasa takut lebih dominan.

Bimo menanggapi ucapan Joni. meski takut namun mencoba bercanda "terus, kalau yang suka nongkrong dipinggir jalan, apaan dong bang?" ucap Bimo dengan nada polosnya.

"setan Alas. seperti kamu." ucap Joni bertambah kesal.

"yeeee. si abang jutek." jawab Bimo dengan memanyunkan bibirnya.

lalu mereka bersitegang kembali siapa yang akan menge-check duluan. minimnya penerangan dijalan membuat mereka hanya mampu melihat warna putih saja.

"sudah, buruan sono. lihat siapa yang berbaring." ucap Joni memerintahkan. Ia mengarahkan lampu senternya kearah sosok yang terbaring dijalan.

"iiih..gak mau.. ah..." abang ajalah yang nge-check." balas Bimo.

"ya sudah, kita check bareng-bareng." ucap Joni memutuskan perdebatan mereka.

merekapun berjalan menuju kearah orang yang berpakaian putih, yang tengah berbaring ditengah jalan.

Bimo berjalan seraya memegangi baju dilengan Joni. Ia tak ingin jauh dari Joni. karena Ia juga merasa tubuhnya gemetar.

"bang, ada sepeda motor didekatnya." ucap Bimo memberitahu Joni. tiba-tiba saja, lampu senternya menangkap sebuah benda yang diduga sepeda motor.

"manaa..? tanya Joni. penasaran. matanya mengarah ketempat yang ditunjuk oleh Bimo.

"itu, didekat jalan sisi sebelah kanan." ucap Bimo memberi petunjuk.

"oh..iya. aku sudah lihat." jawab Joni. mereka semakin merapatkan tubuhnya satu sama lain, saling berpegangan seolah untuk saling melindungi.

Bimo merasa semakin ciut, "bang, kira-kira, ini setan apa manusia ya? ucap Bimo yang mulai ketakutan.

"huuus..ngomong apaan sih. mana ada setan bisa nyetir motor." jawab Joni kesal.

"ya, bisa ajalah bang. setan jaman now." ucap Bimo bergurau.

"ah, sudah..sudah.. jangan bercanda mulu. ayo kita check." ucap Joni menegaskan.

dengan menggunakan lampu senter sebagai pencahayaan, Bimo menyenteri sepeda motor disisi kanan jalan. Bimo mengenali pemilik sepeda motor tersebut.

"bang, itu motor milik bu bidan Sri." ucap Bimo memberikan informasi.

"apa jangan-jangan ini bidan Sri ya." jawab Joni penasaran.

Joni melangkah mendekati sosok yang terbaring menelungkup. dengan sisa keberaniannya, Joni membalikkan sosok yang tertelungkup tersebut.

"astaghfirullah.! ucap Joni terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Bimo yang sedari tadi baru selesai menegakkan sepeda motor. seketika melompat kaget, karena mendengar teriakan bang Joni.

"apaan sih bang, ngagetin saja." ucap Bimo seraya memegangi dadanya yang masih dalam suasana terkejut.

"Bim. buruan bawa sepeda motornya kemari." perintah Jonin kepada Bimo. seraya membopong tubuh sang bidan.

"memangnya siapa bang?" tanya Bimo seraya membawa sepeda motor yang baru Ia tegakkan.

"Bener dugaan kita. bidan Sri yang pingsan." ucap Joni kepada Bimo.

hati dan fikiran mereka masih menerka-nerka, apa yang sedang terjadi dengan bidan Sri. jika bidan Sri dirampok atau dibegal, pasti sepeda motornya raib, atau setidaknya bidan Sri luka-luka. namun bidan Sri tanpa ada luka senjata tajam sedikitpun. hanya luka lecet bekas gesekan bebatuan yang menyembul dijalan.

"ayo kita tolong dia bang. kasihan sekali dia." jawab Bimo.

Bimo menggeserkakan sepeda motor milik bidan Sri mendekat dengan posisi Joni, agar memudahkan Joni menaikkan tubuh bidan Sri keatas jok sepeda motor.

"ayo bantu saya. kamu yang setir. saya yang gendong dibelakang." ucap Joni.

"yeee.. giliran yang enak sama dia." ucap Bimo kesal.

"enak kepalamu peyang." ucap Joni ketus.

"iya..iya.." jawab Bimo dengan kesal.

"ya. udah buruan. apalagi."perintah Joni kepada Bimo.

Bimo menstater mesin sepeda motor milik bidan Sri, sedangkan Joni membopong tubuh bidan Sri yang masih tak sadarkan diri. ternyata berat badan Bidan Sri membuatnya sedikit sempoyongan.

"lama banget si Bim." ucap Joni dengan kesal. karena Ia sudah tak sanggup menahan berat badannya.

"sabarlah napa bang. marah mulu. habis makan apaan sih tadi? emosi saja bawaannya." ucap Bimo.

karena mesin starter tidak hidup juga. maka Bimo mencoba mengengkolnya. dengan sekuat tenaga Ia mencoba mengengkolnya.

dreeen..dreeen...suara mesin motor hidup. lalu Bimo menarik gas-nya.

"kita bawa kemana ini bang?" tanya Bimo yang masih menyetir sepeda motor dengan benar. agar mereka bertiga tidak jatuh.

"ke pos ronda saja dulu yang lebih dekat."ucap Joni memerintahkan.

"jangan diapa-apain ya bang. dia bidan idolaku." ucap Bimo nyerocos.

"fikiran lu, mesum terus. masa iya kita menodai Sri. Dia satu-satunya tenaga kesehatan di desa ini. kalau dia gimana-mana kan kita juga yang repot." ucap Joni berang.

"emang repot kenapa bang" ucap Bimo dengan nada bego-nya.

"ya kalau dia sampai tidak ada lagi didesa ini. mau kemana kita berobat saat sakit? Puskesmas atau Rumah sakit sangat jauh dari desa. bego amat sih lu." ucap bang joni panjang lebar.

"iya bang..iya.." maafin saya. ucap Bimo menyesali perkataannya.

Bimo menghentikan motornya. menjaga keseimbangan tubuhnya. "bang, kita sudah sampai" ucap Bimo memberi informasi, sembari memberi kesempatan untuk Joni terlebih dahulu turun.

"dimana Parjo" ucap Joni kepada Bimo.

Joni membopong tubuh bidan Sri kedalam pos ronda dengan sempoyongan.

"tu. lagi molor." jawab bimo seraya mengarahkan jari telunjukkanya ke pos Ronda. sembari menegakkan sepeda motor dengan benar.

"ne anak molor terus. disuruh jagain pos malah molor. bangunin tu Bim." ucap Joni kepada Bimo. seraya meletakkan tubuh bidan Sri ke dipan pos ronda.

Bimo beranjak dari sepeda motor, menaiki dipan pos ronda. lalu membangunkan Paijo yang tertidur lelap dengan dengkuran yang bersahut-sahutan. "mas paijo. bangun.."ucap Bimo seraya mengguncang-guncang tubuh paijo.

paijo yang baru merajut mimpinya, harus terpaksa bangun. dengan mengucek-ngucek matanya. Ia kaget karena ada wanita berada di pos Ronda.

"siapa ini?" ucap paijo kaget. nyawanya masih belum kumpul. tapi karena kaget jadi bugar.

"bidan Sri. tadi kami temukan pingsan ditengah jalan."

"koq. bisa?" tanya Paijo penasaran.

"ya mana kami tau. orang bu bidan saja masih pingsan." ucap Bimo menimpali.

"ya sudah. kita cari tau kalau bu bidan sudah siuman." ucapa Joni menyarankan.

Paijo dan Bimo menganngguk setuju. lalu mereka menatapi wajah bidan Sri yang tak sadarkan diri.

"ambil air minum di botol itu." ucap Joni kepada paijo. seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah botol minum air mineral.

Paijo mengiyakan. lalu mengambil botol minum air mineral. lalu menyerahkannya pada Joni.

Joni meraih botol air mineral pemberian Paijo, lalu memercikkannya ke wajah bidan Sri.

Terpopuler

Comments

Ronati Pertiwi

Ronati Pertiwi

lanjut thor

2025-03-07

0

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

baru 3bln emang udh berapa kali kontrol sih kok rajin kontrol😁

2022-12-24

2

Hiatus

Hiatus

hm jadi curiga...

2022-12-12

2

lihat semua
Episodes
1 episode 1 keguguran
2 episode 2 si mbok
3 episode 3 gosip menyebar
4 episode 4 fitnah keji
5 episode 5 Pov Bidan Sri
6 episode 6 Kain Pembalut
7 episode 7 Teror
8 episode 8 mbah karso
9 episode 9 Garam
10 episode 10 Tulang dan Kopi
11 Penumpang Gelap
12 Mimpi Buruk
13 Bunga Kenanga
14 Bangkai Burung Gagak
15 Sumur Belakang Rumah
16 Noda
17 PoV Roni
18 Sesaji
19 ilmu pukau dan obat pencahar
20 Pov REZA Siasat
21 Garis dua
22 eksekusi terhadap Rianti
23 Pengalihan Tumbal
24 kontraksi
25 Menjadi yang Tertuduh
26 Kecemburuan Roni
27 Lumpuh dan Dendam
28 Kunjungan Reza dan Nini Maru
29 Rianti
30 Secarik Kertas Pov Roni
31 Mira
32 Gunjingan
33 Kedatangan Hamdan
34 Kecemburuan Rianti
35 Pipa Air Pecah
36 Pohon Mangga
37 Licik
38 Pencerahan
39 Teror Nini Maru untuk Hamdan
40 Perdebatan
41 Hilangnya Nyawa
42 Tanpa Dosa
43 jum'at kliwon 1 suro
44 perdebatan tentang bunga kenanga
45 Arwah Mira
46 Lahirnya anak silang pov Nini Maru
47 Rianti dan kamar rahasia
48 Arwah Mira menghantui bidan Sri
49 Musibah Beruntun
50 Hilangnya Janin Mala
51 Bram dan Jayanti
52 Perjanjian Rianti dan Nini Maru
53 Jalanan Setapak
54 21 Tahun Kemudian
55 Bermimpi
56 Rey Si Tampang Menyeramkan
57 Seperti Pernah Merasakan
58 Mati Atau Berlutut.
59 Berselisih Arah
60 Darah yang mengalir ditubuh Satria
61 Kebal Hukum Pov Rey
62 Rasa Itu
63 Cinta Yang Pernah Hilang
64 Bisnis Gelap
65 Usaha Jayanti untuk pencabutan Skorsing Satria
66 Siapa Menyangka
67 Bertemu tanpa mengenal
68 Hilang
69 Mirna
70 Pulang Kampung
71 Bram
72 Misteri Shinta
73 Menjadi Kanibalisme
74 Menghilangnya Satu Tawanan
75 Reza Mengejar Mala
76 Kesalahan
77 Rey semakin menggila
78 kerangkeng besi untuk Rey
79 Tersebarnya Video Rianti
80 Mengirim Rey Ke Hutan
81 Satria dan Hadi Meretas
82 Bram Tak Pernah Kembali
83 pov Jayanti
84 Tes DNA
85 Nini Maru Menyasar Warga
86 Genderuwo menghebohkan penjara
87 Pak Bayu
88 Rey Menangkap Warga
89 Sate Gagak
90 Shinta
91 Penemuan kaki Palsu
92 Pov Rey
93 Perhatian Bayu
94 Bertemu Dokter Fadly
95 Mencari Kebenaran
96 Hasil yang Mengejutkan
97 Hadi
98 Pengakuan Jayanti
99 Layu Sebelum Berkembang
100 Mencapai kemurnian
101 Setelah 40 hari dan perjalanan yang menyeramkan
102 Mencari Rianti
103 Roni Berhalusinasi
104 Kurang Peka
105 Kehadiranmu
106 Saling Bingung
107 pengakuan
108 Bayangan Hitam
109 Pemujaan Pov Nini Maru
110 Dendam Lama
111 Pertempuran Ghaib
112 Warisan Leluhur
113 Rianti Binasa Dalam Kesesatan
114 Pewaris Tahta dan Harta
115 Balada Cinta Suci Gadis Yang Ternoda
116 Luka parah Pov Nini Maru
117 Pertemuan
118 Kesesatan yang Nyata
119 Resign
120 Tentang Rasa
121 Salah Faham
122 Tuntutan
123 Jawaban Hati
124 Senandung Cinta Mirna
125 Pengajuan
126 Lamaran
127 Terpana
128 Undangan Makan Malam
129 Pernikahan dan keputusan
130 Awal Kehancuran
131 Sesaji Pertama.
132 Membuntuti.
133 Perjalanan
134 Awal
135 Merindukan masa itu
136 Dua Pria Tampan
137 Titisan Yang Menghilang
138 siluet
139 Draft
140 kehamilan Shinta
141 Draft
142 Pengintai
143 Sesaji
144 sesaji bag2
145 Tersenggol
146 Draft
147 Rumah itu
148 Foto itu
149 Paksaan
150 Mengorbankan
151 Aroma Daging Segar
152 Daging Merah
153 Draft
154 Draft
155 Petaka Memakan Ayam Bakar Sesaji
156 Pov Mala
157 Ketika Cinta Shinta di Uji
158 Draft
159 Harapan
160 Renovasi
161 Mencari
162 Dia
163 draft
164 Draft
165 Draft
166 Draft
167 draft
168 draft
169 draft
170 Draft
171 draft
172 Belenggu Rindu Terlarang
173 Pintu Yang Lain
174 Wasiat
175 Kebingungan
176 Hilang Arah
177 Amarah
178 Hilang
179 Simpati atau Kesempatan
180 Dua Karakter
181 Susuatu
182 Hamdan
183 pengobatan Shinta
184 Terseret
185 Sampai
186 Lemari Itu
187 Suasana saat kembali
188 Misteri Seikat Bunga
189 Berontak
190 Darah
191 Pertolongan
192 Mengalihkan
193 Tiba-Tiba.
194 Meminta Ijin
195 Perjalanan Ke Hutan Terlarang
196 Perjalanan Ke Hutan Larangan 2
197 Pernyataan
198 Rey
199 Kehampaan
200 Sebuah Tamparan
201 Berangkat Ke Kota
202 Pejalanan 3
203 Perjalanan 4 Gadis Cantik Mistetius
204 Misteri Bukket Lili Putih
205 Misteri Buket lili-2
206 Kegelisahan
207 Perjalanan ke Hutan larangan-5 Terjebak di Istana siluman Ular
208 Terjebak Di Istana Siluman Ular
209 Terjebak diIstana Siluman-2
210 Penantian Tak berujung
211 Bertemu Peri Bergaun Biru-2
212 Senandung Cinta Mirna Semakin Dekat
213 Merasakan
214 Keributan
215 Keributan-2
216 Keributan-3
217 Keributan-4
218 Keributan-5 Pov Nini Maru
219 Perjalanan ke hutan larangan-6
220 Perjalanan ke hutan Larangan-7
221 Goa
222 Goa-2
223 Goa-3
224 Goa-4
225 Goa-5
226 Goa-6
227 Konspirasi
228 Konspirasi-2
229 Pernikahan Tak Terduga
230 Terasa Kaku
231 kaku-2
232 Serba Salah
233 Serba Salah-2
234 Serbah Salah-3
235 Goa-7
236 Goa-8
237 Goa-9
238 Pertemuan
239 Pertemuan-2
240 Pertemuan-3
241 Kaget
242 Kaget-2
243 Kaget-3
244 Kaget-4
245 Kaget-5
246 Kaget-6
247 Kaget-7
248 Kaget-8
249 Goa-10
250 Goa-11
251 Goa-12
252 Perjalanan Pulang
253 Perjalanan Pulang-2
254 Masalah Besar
255 Masalah Besar-2
256 Kepulangan-3
257 Dilema-1
258 Dilema-2
259 Dilema-3
260 Dilema-4
261 Dilema-5
262 Dilema-6
263 Perbincangan Warga
264 Pindah Rumah
265 Janji Suci dan Petaka
266 The End
267 Kuntil season2
Episodes

Updated 267 Episodes

1
episode 1 keguguran
2
episode 2 si mbok
3
episode 3 gosip menyebar
4
episode 4 fitnah keji
5
episode 5 Pov Bidan Sri
6
episode 6 Kain Pembalut
7
episode 7 Teror
8
episode 8 mbah karso
9
episode 9 Garam
10
episode 10 Tulang dan Kopi
11
Penumpang Gelap
12
Mimpi Buruk
13
Bunga Kenanga
14
Bangkai Burung Gagak
15
Sumur Belakang Rumah
16
Noda
17
PoV Roni
18
Sesaji
19
ilmu pukau dan obat pencahar
20
Pov REZA Siasat
21
Garis dua
22
eksekusi terhadap Rianti
23
Pengalihan Tumbal
24
kontraksi
25
Menjadi yang Tertuduh
26
Kecemburuan Roni
27
Lumpuh dan Dendam
28
Kunjungan Reza dan Nini Maru
29
Rianti
30
Secarik Kertas Pov Roni
31
Mira
32
Gunjingan
33
Kedatangan Hamdan
34
Kecemburuan Rianti
35
Pipa Air Pecah
36
Pohon Mangga
37
Licik
38
Pencerahan
39
Teror Nini Maru untuk Hamdan
40
Perdebatan
41
Hilangnya Nyawa
42
Tanpa Dosa
43
jum'at kliwon 1 suro
44
perdebatan tentang bunga kenanga
45
Arwah Mira
46
Lahirnya anak silang pov Nini Maru
47
Rianti dan kamar rahasia
48
Arwah Mira menghantui bidan Sri
49
Musibah Beruntun
50
Hilangnya Janin Mala
51
Bram dan Jayanti
52
Perjanjian Rianti dan Nini Maru
53
Jalanan Setapak
54
21 Tahun Kemudian
55
Bermimpi
56
Rey Si Tampang Menyeramkan
57
Seperti Pernah Merasakan
58
Mati Atau Berlutut.
59
Berselisih Arah
60
Darah yang mengalir ditubuh Satria
61
Kebal Hukum Pov Rey
62
Rasa Itu
63
Cinta Yang Pernah Hilang
64
Bisnis Gelap
65
Usaha Jayanti untuk pencabutan Skorsing Satria
66
Siapa Menyangka
67
Bertemu tanpa mengenal
68
Hilang
69
Mirna
70
Pulang Kampung
71
Bram
72
Misteri Shinta
73
Menjadi Kanibalisme
74
Menghilangnya Satu Tawanan
75
Reza Mengejar Mala
76
Kesalahan
77
Rey semakin menggila
78
kerangkeng besi untuk Rey
79
Tersebarnya Video Rianti
80
Mengirim Rey Ke Hutan
81
Satria dan Hadi Meretas
82
Bram Tak Pernah Kembali
83
pov Jayanti
84
Tes DNA
85
Nini Maru Menyasar Warga
86
Genderuwo menghebohkan penjara
87
Pak Bayu
88
Rey Menangkap Warga
89
Sate Gagak
90
Shinta
91
Penemuan kaki Palsu
92
Pov Rey
93
Perhatian Bayu
94
Bertemu Dokter Fadly
95
Mencari Kebenaran
96
Hasil yang Mengejutkan
97
Hadi
98
Pengakuan Jayanti
99
Layu Sebelum Berkembang
100
Mencapai kemurnian
101
Setelah 40 hari dan perjalanan yang menyeramkan
102
Mencari Rianti
103
Roni Berhalusinasi
104
Kurang Peka
105
Kehadiranmu
106
Saling Bingung
107
pengakuan
108
Bayangan Hitam
109
Pemujaan Pov Nini Maru
110
Dendam Lama
111
Pertempuran Ghaib
112
Warisan Leluhur
113
Rianti Binasa Dalam Kesesatan
114
Pewaris Tahta dan Harta
115
Balada Cinta Suci Gadis Yang Ternoda
116
Luka parah Pov Nini Maru
117
Pertemuan
118
Kesesatan yang Nyata
119
Resign
120
Tentang Rasa
121
Salah Faham
122
Tuntutan
123
Jawaban Hati
124
Senandung Cinta Mirna
125
Pengajuan
126
Lamaran
127
Terpana
128
Undangan Makan Malam
129
Pernikahan dan keputusan
130
Awal Kehancuran
131
Sesaji Pertama.
132
Membuntuti.
133
Perjalanan
134
Awal
135
Merindukan masa itu
136
Dua Pria Tampan
137
Titisan Yang Menghilang
138
siluet
139
Draft
140
kehamilan Shinta
141
Draft
142
Pengintai
143
Sesaji
144
sesaji bag2
145
Tersenggol
146
Draft
147
Rumah itu
148
Foto itu
149
Paksaan
150
Mengorbankan
151
Aroma Daging Segar
152
Daging Merah
153
Draft
154
Draft
155
Petaka Memakan Ayam Bakar Sesaji
156
Pov Mala
157
Ketika Cinta Shinta di Uji
158
Draft
159
Harapan
160
Renovasi
161
Mencari
162
Dia
163
draft
164
Draft
165
Draft
166
Draft
167
draft
168
draft
169
draft
170
Draft
171
draft
172
Belenggu Rindu Terlarang
173
Pintu Yang Lain
174
Wasiat
175
Kebingungan
176
Hilang Arah
177
Amarah
178
Hilang
179
Simpati atau Kesempatan
180
Dua Karakter
181
Susuatu
182
Hamdan
183
pengobatan Shinta
184
Terseret
185
Sampai
186
Lemari Itu
187
Suasana saat kembali
188
Misteri Seikat Bunga
189
Berontak
190
Darah
191
Pertolongan
192
Mengalihkan
193
Tiba-Tiba.
194
Meminta Ijin
195
Perjalanan Ke Hutan Terlarang
196
Perjalanan Ke Hutan Larangan 2
197
Pernyataan
198
Rey
199
Kehampaan
200
Sebuah Tamparan
201
Berangkat Ke Kota
202
Pejalanan 3
203
Perjalanan 4 Gadis Cantik Mistetius
204
Misteri Bukket Lili Putih
205
Misteri Buket lili-2
206
Kegelisahan
207
Perjalanan ke Hutan larangan-5 Terjebak di Istana siluman Ular
208
Terjebak Di Istana Siluman Ular
209
Terjebak diIstana Siluman-2
210
Penantian Tak berujung
211
Bertemu Peri Bergaun Biru-2
212
Senandung Cinta Mirna Semakin Dekat
213
Merasakan
214
Keributan
215
Keributan-2
216
Keributan-3
217
Keributan-4
218
Keributan-5 Pov Nini Maru
219
Perjalanan ke hutan larangan-6
220
Perjalanan ke hutan Larangan-7
221
Goa
222
Goa-2
223
Goa-3
224
Goa-4
225
Goa-5
226
Goa-6
227
Konspirasi
228
Konspirasi-2
229
Pernikahan Tak Terduga
230
Terasa Kaku
231
kaku-2
232
Serba Salah
233
Serba Salah-2
234
Serbah Salah-3
235
Goa-7
236
Goa-8
237
Goa-9
238
Pertemuan
239
Pertemuan-2
240
Pertemuan-3
241
Kaget
242
Kaget-2
243
Kaget-3
244
Kaget-4
245
Kaget-5
246
Kaget-6
247
Kaget-7
248
Kaget-8
249
Goa-10
250
Goa-11
251
Goa-12
252
Perjalanan Pulang
253
Perjalanan Pulang-2
254
Masalah Besar
255
Masalah Besar-2
256
Kepulangan-3
257
Dilema-1
258
Dilema-2
259
Dilema-3
260
Dilema-4
261
Dilema-5
262
Dilema-6
263
Perbincangan Warga
264
Pindah Rumah
265
Janji Suci dan Petaka
266
The End
267
Kuntil season2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!