setelah si Mbok sadar. saya memutuskan untuk berpamitan pulang. karena malam semakin larut.
"Mala. saya permisi dulu ya. mau pulang." ucapku kepada mala yang masih tersisa raut wajah sedih.
"iya. buk Sri. terimakasih atas segalanya.." ucapnya lirih.
"iya. sama-sama. jangan lupa obat yang dari saya diminum ya?" jangan terlalu banyak fikiran. agar kondisi kesehatanmu segera pulih." ucapku mengingatkannya.
"iya. bu." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
aku tahu hatinya saat ini sedang hancur. memiliki keturunan adalah harapan setiap pasangan yang sudah menikah.
namun sekian lama menikah, janin yang dikandungnya selalu saja mengalami keguguran.
padahal Mala rajin kontrol setiap bulannya. bahkan aku memberikannya obat penguat janin. berharap agar janinnya bertahan. dan lahir kedunia dengan sehat, selamat dan berumur panjang.
namun, takdir berpihak lain. kita hanyalah manusia yang bisa berencana. namun Allah sebagai penentunya.
mungkin Allah memiliki rencana yang lebih indah kedepannya buat Mala. siapa yang tahu rahasia milik Allah.
****
ku pacu laju sepeda motorku dengan kecepatan sedang. melewati jalanan desa yang berbatu. karena jalan belum pengaspalan. jalanan yang hanya berupa pengerasan tanah merah dan batuan cadas. karena sudah terlalu lama tidak ada perbaikan, maka batu-batu cadas itu menyembul keluar beberapa centimeter kepermukaan jalan.
bagi yang tidak waspada dan tidak hafal kondisi jalanan, maka dipastikan akan tergelincir dan membahayakan si pengemudi sepeda motor.
berjarak dua ratus meter dari rumah Mala, aku harus melewati Tempat Pemakaman Umum. disekitar pemakaman sangat sepi. tidak ada rumah penduduk.
berjarak lima puluh meter dari Pemakaman Umum, terdapat pos ronda. setiap malam akan ada petugas yang bertugas. dimana masyarakat bergotong royong membayar iuran perbulan untuk gaji petugas ronda.
saat akan melintasi pemakaman umum. seketika bulu kudukku meremang. dipunggungku serasa seperti ada sesuatu mengikuti.
kutepis semua prasangka buruk yang melintas difikiranku. mungkin karena hawa dingin malam. membuatku merinding. lubang pori-pori dikulitku yang putih membesar, begitu kontras.
sesaat, ku lihat didepan jalan yang akan kulintasi, sesosok wanita bergaun serba putih panjang. berjalan disisi kanan jalan. Ia menundukkan kepalanya, rambutnya panjang tergerai.
"siapa wanita itu? mengapa ia berjalan sendirian di tengah malam yang larut ini?" aku berguman sendiri.
"mungkin saja Ia ada keperluan mendadak, sehingga harus keluar rumah. toh aku juga wanita, tengah malam baru pulang. hehe." Aku berbicara sendiri.
"aku sapa saja, mungkin dia memerlukan bantuan." aku berkata dalam hatiku.
saat akan berpapasan. ku bunyikan klakson untuk menyapanya.
tiiin..tintiiin..suara klakson sebagai bahasa verbal untuk menyapa seseorang yang sedang berada dijalan menggunakan kendaraan.
"mau kemana mbak?" ucapku kepada wanita itu. seraya menghentikan motorku.
yang ditanya membisu. seketia Ia menengadahkan wajahnya.
tampak olehku wajah wanita itu hancur. dari wajahnya tampak mengalir darah yang keluar dari bekas luka. mulutnya berlumuran darah seolah-olah sehabis memakan daging mentah. matanya merah menyala. gigi bertaring tajam, ia mentapku dengan mata yang tajam disertai seringai yang menyeramkan.
seketika aku terkejut. tali gas motor tanpa sengaja tertarikku, dan aku menabrak batu cadas yang menyembul. lalu aku terjatuh dan pingsan.
****
bang Joni dan Bimo yang malam itu sedang berpatroli bernyanyi untuk menghilangkan kantuk.
namun, tiba-tiba mereka menghentikan langkah dan nyanyiannya.
"Bim, itu apaan yang berbaring dijalan?" ucap Joni kepada Bimo, sembari memgarahkan jari telunjuknya. hatinya merasa dag dig dug, karena ditengah malam ada tampak sesuatu yang terbaring ditengah jalan.
"manalah ku tau bang." jawab Bimo seenak jidatnya. Ia mengarahkan matanya kearah jari telunjuk Joni.
"kita check yuk." mungkin saja orang. ucap Joni kepada Bimo yang masih berumur sembilan belas tahun. rasa penasaran juga rasa takut datang bersamaan.
mereka berdua bersitegang, tidak ada yang mau terlebih dahulu melangkah maju.
"abang sajalah. aku tunggu disini. kan abang yang lebih tua" jawab Bimo menyarankan. sebenarnya hatinya ciut juga jika disuruh lebih dulu melangkah.
karena Bimo tak mau juga mengalah, Joni beralibi untuk mengelabui Bimo. Ia mencari alasan untuk pembenaran, meski sebenarnya Ia juga ketakutan.
"eh..dasar bocah. dimana-mana itu yang lebih muda duluan maju. bukan yang lebih tua." ucap Joni kesal. menutupi rasa takutnya.
"tapi itu warna putih pakaiannya bang. kalau setan gimana?" ucap Bimo merinding. matanya masih tertuju pada sosok yang terbaring di tengah jalan.
"yang namanya setan tu, gak ada pakai acara rebahan segala. apalagi dtengah jalan. setan tu hobinya nongkrong didahan pohon." ucap Joni ketus.
perasaan Joni tak menentu, ingin melangkah maju, namun rasa takut lebih dominan.
Bimo menanggapi ucapan Joni. meski takut namun mencoba bercanda "terus, kalau yang suka nongkrong dipinggir jalan, apaan dong bang?" ucap Bimo dengan nada polosnya.
"setan Alas. seperti kamu." ucap Joni bertambah kesal.
"yeeee. si abang jutek." jawab Bimo dengan memanyunkan bibirnya.
lalu mereka bersitegang kembali siapa yang akan menge-check duluan. minimnya penerangan dijalan membuat mereka hanya mampu melihat warna putih saja.
"sudah, buruan sono. lihat siapa yang berbaring." ucap Joni memerintahkan. Ia mengarahkan lampu senternya kearah sosok yang terbaring dijalan.
"iiih..gak mau.. ah..." abang ajalah yang nge-check." balas Bimo.
"ya sudah, kita check bareng-bareng." ucap Joni memutuskan perdebatan mereka.
merekapun berjalan menuju kearah orang yang berpakaian putih, yang tengah berbaring ditengah jalan.
Bimo berjalan seraya memegangi baju dilengan Joni. Ia tak ingin jauh dari Joni. karena Ia juga merasa tubuhnya gemetar.
"bang, ada sepeda motor didekatnya." ucap Bimo memberitahu Joni. tiba-tiba saja, lampu senternya menangkap sebuah benda yang diduga sepeda motor.
"manaa..? tanya Joni. penasaran. matanya mengarah ketempat yang ditunjuk oleh Bimo.
"itu, didekat jalan sisi sebelah kanan." ucap Bimo memberi petunjuk.
"oh..iya. aku sudah lihat." jawab Joni. mereka semakin merapatkan tubuhnya satu sama lain, saling berpegangan seolah untuk saling melindungi.
Bimo merasa semakin ciut, "bang, kira-kira, ini setan apa manusia ya? ucap Bimo yang mulai ketakutan.
"huuus..ngomong apaan sih. mana ada setan bisa nyetir motor." jawab Joni kesal.
"ya, bisa ajalah bang. setan jaman now." ucap Bimo bergurau.
"ah, sudah..sudah.. jangan bercanda mulu. ayo kita check." ucap Joni menegaskan.
dengan menggunakan lampu senter sebagai pencahayaan, Bimo menyenteri sepeda motor disisi kanan jalan. Bimo mengenali pemilik sepeda motor tersebut.
"bang, itu motor milik bu bidan Sri." ucap Bimo memberikan informasi.
"apa jangan-jangan ini bidan Sri ya." jawab Joni penasaran.
Joni melangkah mendekati sosok yang terbaring menelungkup. dengan sisa keberaniannya, Joni membalikkan sosok yang tertelungkup tersebut.
"astaghfirullah.! ucap Joni terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Bimo yang sedari tadi baru selesai menegakkan sepeda motor. seketika melompat kaget, karena mendengar teriakan bang Joni.
"apaan sih bang, ngagetin saja." ucap Bimo seraya memegangi dadanya yang masih dalam suasana terkejut.
"Bim. buruan bawa sepeda motornya kemari." perintah Jonin kepada Bimo. seraya membopong tubuh sang bidan.
"memangnya siapa bang?" tanya Bimo seraya membawa sepeda motor yang baru Ia tegakkan.
"Bener dugaan kita. bidan Sri yang pingsan." ucap Joni kepada Bimo.
hati dan fikiran mereka masih menerka-nerka, apa yang sedang terjadi dengan bidan Sri. jika bidan Sri dirampok atau dibegal, pasti sepeda motornya raib, atau setidaknya bidan Sri luka-luka. namun bidan Sri tanpa ada luka senjata tajam sedikitpun. hanya luka lecet bekas gesekan bebatuan yang menyembul dijalan.
"ayo kita tolong dia bang. kasihan sekali dia." jawab Bimo.
Bimo menggeserkakan sepeda motor milik bidan Sri mendekat dengan posisi Joni, agar memudahkan Joni menaikkan tubuh bidan Sri keatas jok sepeda motor.
"ayo bantu saya. kamu yang setir. saya yang gendong dibelakang." ucap Joni.
"yeee.. giliran yang enak sama dia." ucap Bimo kesal.
"enak kepalamu peyang." ucap Joni ketus.
"iya..iya.." jawab Bimo dengan kesal.
"ya. udah buruan. apalagi."perintah Joni kepada Bimo.
Bimo menstater mesin sepeda motor milik bidan Sri, sedangkan Joni membopong tubuh bidan Sri yang masih tak sadarkan diri. ternyata berat badan Bidan Sri membuatnya sedikit sempoyongan.
"lama banget si Bim." ucap Joni dengan kesal. karena Ia sudah tak sanggup menahan berat badannya.
"sabarlah napa bang. marah mulu. habis makan apaan sih tadi? emosi saja bawaannya." ucap Bimo.
karena mesin starter tidak hidup juga. maka Bimo mencoba mengengkolnya. dengan sekuat tenaga Ia mencoba mengengkolnya.
dreeen..dreeen...suara mesin motor hidup. lalu Bimo menarik gas-nya.
"kita bawa kemana ini bang?" tanya Bimo yang masih menyetir sepeda motor dengan benar. agar mereka bertiga tidak jatuh.
"ke pos ronda saja dulu yang lebih dekat."ucap Joni memerintahkan.
"jangan diapa-apain ya bang. dia bidan idolaku." ucap Bimo nyerocos.
"fikiran lu, mesum terus. masa iya kita menodai Sri. Dia satu-satunya tenaga kesehatan di desa ini. kalau dia gimana-mana kan kita juga yang repot." ucap Joni berang.
"emang repot kenapa bang" ucap Bimo dengan nada bego-nya.
"ya kalau dia sampai tidak ada lagi didesa ini. mau kemana kita berobat saat sakit? Puskesmas atau Rumah sakit sangat jauh dari desa. bego amat sih lu." ucap bang joni panjang lebar.
"iya bang..iya.." maafin saya. ucap Bimo menyesali perkataannya.
Bimo menghentikan motornya. menjaga keseimbangan tubuhnya. "bang, kita sudah sampai" ucap Bimo memberi informasi, sembari memberi kesempatan untuk Joni terlebih dahulu turun.
"dimana Parjo" ucap Joni kepada Bimo.
Joni membopong tubuh bidan Sri kedalam pos ronda dengan sempoyongan.
"tu. lagi molor." jawab bimo seraya mengarahkan jari telunjukkanya ke pos Ronda. sembari menegakkan sepeda motor dengan benar.
"ne anak molor terus. disuruh jagain pos malah molor. bangunin tu Bim." ucap Joni kepada Bimo. seraya meletakkan tubuh bidan Sri ke dipan pos ronda.
Bimo beranjak dari sepeda motor, menaiki dipan pos ronda. lalu membangunkan Paijo yang tertidur lelap dengan dengkuran yang bersahut-sahutan. "mas paijo. bangun.."ucap Bimo seraya mengguncang-guncang tubuh paijo.
paijo yang baru merajut mimpinya, harus terpaksa bangun. dengan mengucek-ngucek matanya. Ia kaget karena ada wanita berada di pos Ronda.
"siapa ini?" ucap paijo kaget. nyawanya masih belum kumpul. tapi karena kaget jadi bugar.
"bidan Sri. tadi kami temukan pingsan ditengah jalan."
"koq. bisa?" tanya Paijo penasaran.
"ya mana kami tau. orang bu bidan saja masih pingsan." ucap Bimo menimpali.
"ya sudah. kita cari tau kalau bu bidan sudah siuman." ucapa Joni menyarankan.
Paijo dan Bimo menganngguk setuju. lalu mereka menatapi wajah bidan Sri yang tak sadarkan diri.
"ambil air minum di botol itu." ucap Joni kepada paijo. seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah botol minum air mineral.
Paijo mengiyakan. lalu mengambil botol minum air mineral. lalu menyerahkannya pada Joni.
Joni meraih botol air mineral pemberian Paijo, lalu memercikkannya ke wajah bidan Sri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Ronati Pertiwi
lanjut thor
2025-03-07
0
Yuli Eka Puji R
baru 3bln emang udh berapa kali kontrol sih kok rajin kontrol😁
2022-12-24
2
Hiatus
hm jadi curiga...
2022-12-12
2