"dik, abang ke sumur belakang dulu ya, mau mengecek sprei yang terkena noda darah tadi malam." ucap Roni kepada Istrinya.
"iya bang. jangan. lama-lama ya? soalnya adik lapar dan mau minum obat resep dari Bidan Sri." jawab Mala menegaskan.
"iya deh." balas Roni dengan anggukan. seraya melangkah menuju sumur belakang.
Roni berjalan melalui pintu depan, memutar kesamping menuju belakang. saat akan ke sumur, Ia berpapasan dengan Reza.
"mas." sapa Reza kepada Roni dengan ramah.
"ya". sapa Roni datar. Ia begitu terburu-buru.
'
sesampainya dibilik sumur, Roni menemukan kain sprei dan pakaian Mala sudah tercabik-cabik, seperti bekas gigitan hewan bertaring.
"apa mungkin kucing yang melakukannya ya?" Roni bermonolog.
sisa darah di sprei dan pakaian Mala sudah tampak memudar, seperti terhisap sesuatu. lalat menghinggapinya.
Roni segera memungutnya, merendam dalam air dan membilasnya. lalu menguburkannya.
"dimana janinku?" apa sudah dimakan hewan carnivora?" Roni berguman lirih.
****
teeet..teeet..teeet..
"sayuuuuuur..yuuur..sayuuur..." teriak akang tukang sayur keliling, menjajakan dagangannya.
"kang, sayuur kang." teriak mbak Ratna memanggil akang tukang sayur keliling.
"iya mba." sahut si akang, wajahnya sumringah seraya mendatangi rumah mbak Ratna.
selang beberapa saat, datang ibu-ibu yang lainnya menuju rumah mbak Ratna, untuk ikut membeli sayur.
"kang, ada sayur lodeh?" ucap mbak Ratna kepada akang tukang sayur"
"ada mbak, mau berapa?" jawab si akang menawarkan dagangannya.
"satu saja kang, sekalian sama santannya satu bungkus ya." ucap mbak Ratna menegaskan.
tiba-tiba saja, bu Dewi yang baru saja datang nyeletuk."mbak Ratna, apa benar dirumahnya Mala ada kuntilanaknya?" ucap bu Dewi dengan nada penasaran.
mbak Ratna menoleh kearah buk Dewi "emmmmm.. kurang tau juga si bu Dewi." jawab mbak Ratnah.
bu Dewi yang merasa tidak puas dengan jawaban mbak Ratna sedikit kesal. "lha, kan situ tadi malam ada dirumah Mala, masa iya gak tau?" balas bu Dewi dengan nada keponya.
"memang saya kebetulan disitu tadi malam, tapikan saya gak lihat langsung kuntilanaknya." jawab mbak Ratna menegaskan.
Bu Dewi semakin kesal, Ia menganggap kalau mbak Ratna terkesan menutup-nutupi kejadian tadi malam. "alaaah, situ bohong ya."ucap bu Dewi ketus, diiringi wajah juteknya.
Mbak Dewi menanggapi dengan senyuman datar. "emang buk Dewi tau darimana berita ini?" ucap mbak Ratna penasaran.
bu Dewi mengernyitkan alisnya, "ya ampuun mbak, kabar ini sudah menyebar keseluruh desa." semua orang juga sudah tahu peristiwa ini. ucap buk Dewi dengan nada naik satu oktav.
Rumi yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka ikut nimbrung.
"bener mbak Ratna. seluruh desa sudah tau berita ini. soalnya Bidan Sri ditemukan pingsan di tengah jalan oleh petugas siskamling." ucap Rumi menjelaskan panjang lebar.
"iya, suami saya yang menemukannya tadi malam. karena suami saya yang tugas patroli" ucap mbak Lisa ikut menimpali.
suasana pagi itu jadi ajang ghibah berjamaah.
akang tukang sayur hanya menjadi pendengar ibu-ibu yang sedang bergosip.
"ini gimana belanjaanya bu..ibu?" ucap kang sayur kesal. karena Ia akan berkeliling desa lagi untuk menjajakan dagangannya.
"sabar atu kang." gak sabaran banget sih. ucap bu Dewi kesal.
"bukan gak sabaran bu..ibu. kalau saya kesiangan sayur saya keburu layu. ntar gak ada yang beli, kan saya yang rugi." jawab si akang menjelaskan.
ibu-ibupun mulai memilih bumbu dan sayur beserta lauk yang akan dimasak hari ini.
seraya memilih bahan untuk memasak menu, mereka melanjutkan ghibahannya.
"oh iya, saat bidan Sri ditemukan pingsan dijalanan, Ia terjatuh dari sepeda motornya, dan mengalami luka ringan. ucap Lisa kembali membuka ghibah yang terhenti.
Rumi yang sedang asyik memilih cabai rawit, menghentikan sejenak kegiatannya, " iya,bener. saat diinterogasi, katanya bidan Sri melihat seorang wanita berjalan menyeberang jalan yang akan dilintasi bu bidan" ucap Rumi menimpali.
akang sayur yang sedari tadi hanya jadi pendengar kini malah ikutan ngerumpi. "seperti apa rupa wanita itu?" ucap akang sayur penasaran. ternyata Ia tiba-tiba menjadi merinding.
"menurut pengakuan bu Bidan. katanya wanita itu berambut panjang, wajah putih pucat, mulut mengeluarkan darah, mata merah, gigi bertaring serta kuku-kuku tangan yang sangat panjang." ucap Rumi menjelaskan.
seketika mereka semua terdiam. bulu kuduk mereka meremang, mereka semua merasakan kehadiran makhluk yang mereka ghibahkan.
"tapi, memang mirip sih, dengan yang dilihat si Mbok tadi malam." ucap mbak Ratna tanpa sadar.
"tuuu..kan bener. jangan-jangan itu setan peliharaan keluarga si Mala. Ayahnya Mala kan mantan dukun." ucap bu Dewi menggebu-gebu.
"mungkin saja. soalnyakan Mala sudah enam kali keguguran selam dua belas tahun menikah. setiap usia kandungannya berumur tiga bulan, pasti keguguran." ucap Rumi memanasi ghibahan.
"iya, sepertinya begitu." ucap Rumi seolah-olah membenarkan asumsi bu Dewi dan Lisa.
"sudah..sudah.. jangan ngomong sembarangan, jika itu tidak benar, akan menjadi fitnah." ucap mbak Ratna menyela pembicaraan.
dari kejauhan, tampak Roni menuju kearah akang tukang sayur.
ibu-ibupun mulai lancar ghibahnya.
"liat tu, si Roni datang, mau ngapain dia." ucap bu Dewi sinis.
"mungkin mau belanja kali bu..ibu.." ucap akang sayur menimpali.
Roni pun sampai di didekat dagangan akang sayur. Ia berniat akan membeli sepaket sayur sop komplit.
"kang, sayur buat sop satu bungkus ya, garam satu bungkus, sekalian bumbu kaldunya dua bungkus." ucap Roni menjelaskan.
ibu-ibu yang tadi ghibah terdiam sesaat.
"ok. mas. ada lagi yang mau dipesan mas?" ucap akang sayur.
"tidak kang, itu saja." ucap Roni menegaskan.
"mbak Malanya kemana mas? koq mas Roninya yang belanja." ucap bu Dewi basa basi.
"lagi sakit. bu Dewi. makanya saya yang belanja. jawab Roni menjelaskan.
"keguguran lagi kan?" jawab Lisa menimpali.
"jangan-jangan, korban peliharaan mbah Karso. Ayahnya Mala. istilahnya senjata makan tuan." ucap Rumi dengan nada sinis.
"jangan menyebar fitnah ya mbak Lisa. saya bisa melaporkan mbak Lisa atas pencemaran nama baik." ucap Roni dengan nada geram.
mendengar akan dilaporkan, semuanya terdiam.
"saya sudah kang. berapa total belanjaan saya? " ucap Roni dengan nada jengkel. karena baru saja mendapatkan fitnahan keji dari para ibu-ibu.
"sebelas ribu mas." jawab akang sayur. menjelaskan.
"ini kang. uangnya." balas Roni seraya menyerahkan uang belanjaanya.
"yang sabar ya mas Roni, setiap kejadian, pasti ada hikmahnya."ucap mbak Ratna bersimpati.
mbak Ratna merasa sedih dengan rumah tangga Roni dan Mala, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"terimakasih mbak Ratna." ucap Roni dengan tulus, lalu berlalu seraya menatap tajam kepada ibu-ibu yang tadi menghakiminya.
ibu-ibupun bubar, setelah membayar semua belanjaan mereka.
sepasang mata misterius, menatap dikejauhan. tatapannya begitu tajam, dengan raut muka yang sulit diartikan.
ya, dia mbah Karso, ayah kandung Mala, yang disebut ibu-ibu dalam berghibah tadi.
***
Roni pulang kerumah dengan hati yang kesal dan jemgkel.
"bisa-bisanya ibu-ibu didesa ini mengatakan jika janinku dimakan peliharaan mertuaku." Roni berguman sendiri.
sejenak Ia menhentikan langkahnya. berfikir seraya mencari-cari tahu kebenaran apa yang diucapkan para ibu-ibu tadi.
"apa mungkin ucapan ibu-ibu itu benar ya? soalnyanya ayah mertuaku, dulunyakan mantan dukun, penganut ilmu hitam." Roni bermonolog.
"aku akan mencari tau." ucap Roni mantab.
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 267 Episodes
Comments
Al Fatih
dimana ad tukang sayur,, trus ad emak2 d situ,, siip lokasi yg strategis utk gibah nasional 🤭
2025-03-18
0
Ronati Pertiwi
kalo dukun kan
2025-03-07
0
Astiah Harjito
ibu2 gk pernah salah
2023-05-07
0